
Melati pulang dengan keadaan lesu dan tidak bersemangat karena masih memikirkan apa yang dia lihat dikampus tadi, melihat Hasan dekat dengan orang lain rasanya hatinya begitu perih, namun Melati berusaha untuk menutupi kenyataan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
Zaki menggandeng tangan Melati untuk masuk kedalam rumahnya, "Assalamualaikum." salam Zaki dan Melati bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." jawab Rumi yang langsung menoleh kearah Zaki dan Melati.
Melati terkejut saat melihat pecahan gelas yang berserakan dilantai, "Ya Allah Mah. Kok ada gelas pecah Mah?" tanya Melati berhati-hati untuk melewati pecahan gelas itu.
"Mamah tidak sengaja menjatuhkan gelas itu Mel...entah mengapa hati Mamah merasa tidak enak sejak tadi." ucap Rumi sambil menunjuk pecahan gelas kepada ART yang membersihkannya.
Melati mendekati ibunya dan memegang bahunya, "Mamah terlalu banyak pikiran Mah." Rumi terdiam dan masih setia memandangi pecahan gelan yang sedang dibersihkan, hati Rumi tiba-tiba merasa ngilu yang teramat sangat, perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan, namun apa yang harus dipikirkan bila anak dam suaminya tidak perlu dikhawatirkan, tapi entahlah mengapa hati itu merasakan tidak enak sekali.
Rumi memegang keningnya karena sedikit merasa pusing, Melati menjadi khawatir melihat keadaan ibunya yang sekarang, "Mah...Mamah baik-baik saja kan?" Melati begitu khawatir.
Melihat ibu mertuanya memegangi keningnya Zaki dengan sigap menawarkan bantuan, "Apa kita perlu kedokter Mah?" tanya Zaki yang menyuruh ibu mertuanya untuk duduk disofa ruang tamu.
"Iya Mah. kita kedokter aja ya?" saut Melati.
Rumi menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Nak, Mamah baik-baik saja." ucap Rumi lemas.
Melati pergi kedapur untuk membuatkan ibunya teh hijau agar keadaanya membaik, "Mah minum teh ya?" ucap Melati sambil memberikan teh itu kepada ibunya.
"Apa Mamah perlu sesuatu? apa dokternya saja yang suruh kesini Mah? Zaki takut terjadi apa-apa sama Mamah, wajah Mamah kelihatan pucat Mah." Zaki merasa khawatir dengan ibu mertuanya.
"Tidak Nak, terimakasih, Mamah hanya perlu istirahat." ucap Rumi yakin.
"Kalau begitu kita anterin Mamah kekamar ya?" ajak Melati siap untuk membantu ibunya dengan menaruh tangan ibunya dipundak Melati.
Rumi menuruti perintah Melati, Rumi keatas dibantu oleh anak dan memantunya, sampai dikamar Melati menyuruh ibunya untuk berbaring, Melati duduk disisi ranjang dan memandang ibunya dengan kasihan, ""Kasihan Mamah. coba Papah masih ada." batin sedih Melati.
Setelah melihat ibunya tertidur, Melati dan Zaki keluar dari kamar ibunya dan masuk kedalam kamarnya, "Mas yang mandi dulu apa kamu Dek?" tanya Zaki yang sudah sangat gerah.
"Mas dulu aja." ucap Melati tanpa menoleh kearah Zaki.
Zaki berjalan melewati Melati yang sedang sibuk menata tas kerja Zaki dan tas dirinya, "Hem." gumam Melati.
Zaki masuk kedalam mandi, sedangkan Melati duduk dihadapan cermin meja riasnya, "Ingat kata-kata Hasan dulu Mel, kamu harus jadi istri yang baik buat Zaki. tidak pantas bagimu masih menyimpan perasaan terhadap orang lain." gumam Melati melihat pantulan dirinya dicermin.
^
Hasan berjalan mondar-mandir didepan pi tu ruangan ICU karena dokter belum juga keluar membuat Hasan begitu khawatir, "Ya Allah lindungi Nadine Ya Allah, selamatkan dia." doa Hasan didalam hati.
Pintu terbuka dan kelurlah dokter Nis yang menangani Nadine, Hasan langsung berhenti dan bertanya, "Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Hasan berharap.
Dokter itu memasang wajah sedih, "Kondisinya masih sangat kritis Tuan, karena lukanya sangat dalam. untung dia masih bisa diselamatkan." ujar dokter Nisa.
Hasan merasakan lemas pada tubuhnya karena mendenger penjelasan dokter Nisa, "Aku boleh menjenguknya Dok?" tanya Hasan.
Dokter Nis mengangguk, "Silahkan. Tuan bisa menjenguknya diruangan Mawar ya, karena pasien akan dipindahkan diruangkan Mawar." Dokter Nisa menjelaskan.
Hasan dan Jefry mengerti dan pergi keruangan Mawar, "Aku tunggu disini Tuan Muda." ucap Jefry.
Hasan masuk kedalam ruangan Nadine, langkah kaki Hasan begitu berat menghampiri Nadine yang sekarang terbaring karena menyelamatkan dirinya. Hasan mendongakkan kepalanya karena tidak sanggup melihat keadaan Nadine yang sekarang.
"Mengapa kamu melakukan ini? harusnya aku yang berbaring disini." Hasan menundukkan kepalanya didekat tangan Nadine.
"Aku mohon bertahanlah, aku akan menebus kesalahanku." janji Hasan kepada Nadine.
Hasan mendongak dan melihat wajah orang yang telah menyelamatkannya tanpa berpaling, jika Hasan boleh memilih dan meminta biar dia saja yang terluka karena sungguh melihat orang lain terluka itu rasanya jauh lebih sakit daripada kita merasakan sakit itu sendiri.
Begitulah Hasan, selalu memikirkan perasaan orang lain sebelum dirinya karena Hasan pikir memberikan kebahagiaan kepada orang lain adalah kebahgiaannya.
Alat yang memantau keadaan Nadine berbunyi dan membuat Hasan panik, Dokter segera masuk kedalam karena mengetahui keadaan Nadine memburuk.
Hasan terpaku didepan pintu melihat Dokter dan para suster sedang bekerja menangani Nadine, "Beri aku kesempatan untuk membahgiakannya Ya Allah, Hasan mohon." doa Hasan.
"Dokter detak jantungnya?" Suster itu menunjukkan detak jantung Nadine yang semakin menghilang.
Dokter Nisa pun panik, "Ambilkan alat pemaju jantung Sus!" perintah Dokter Nisa.
Dokter Nisa berkali-kali untuk memacu jantung Nadine tapi hasilnya...
Dokter Nisa pun keluar dengan wajah yang sangat sedih, "Maafkan kami Tuan...Kami..." Dokter Nisa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Hasan menggelengkan kepalanya, "Tidak...tidak mungkin." Hasan langung berlari masuk kedalam ruangan.
Hasan syok ketika para suster akan mencabut alat-alat untuk membantu Nadine bertahan hidup, "Berhenti!" seru Hasan tidak sanggup menerima kenyataan yang ada didepannya.
"Maaf Tuan, Nyonya sudah..." Hasan menatap suster itu dengan tajam membuatnya langsung terdiam menunduk.
Hasan mendekati ranjang Nadine, "Keluar!" perintah Hasan kepada para suster.
Para suster itupun keluar karena takut dengan Hasan, Hasan bersimpuh disisi ranjang dengan airmata yang mengalir dari matanya, Jefry menyusul Hasan masuk kedalam untuk menenangkan tuan mudanya.
Hasan menangis, "Aku minta kamu bertahan, kenapa kamu justru meninggalkanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri bila terjadi sesuatu denganmu. Aku mohon bangunlah." Hasan menggoyang-goyangkan tangan Nadine.
Jefry berdiam diri didepan pintu melihat tuan mudanya merasakan kesedihan lagi dan lagi, "Maafkan aku Tuan Muda. tidak bisa menjagamu." gumam Jefry ikut sedih melihat tuan mudanya menangisi Nadine.
"Aku mohon bangunlah Nadine...aku janji akan membahagiakanmu...bangunlah." janji Hasan.
Para suster mendekat kearah Hasan, "Tuan...Nona sudah tidak ada." ucap suster itu dengan berani.
Hasan mendongak, "Diam!" ucap Hasan dengan dingin.
Hasan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Nadine, "Bangunlah. aku akan membahagiakan kamu, aku berjanji Nadine. bangunlah!" Hasan menunduk menangis.
Salah satu Suster berteriak memanggil Dokter Nisa karena monitor Nadine berbunyi, Dokter Nisa pun langsung berlari keruangan Nadine, Hasan pun terkejut dengan apa yang terjadi, "Bertahanlah aku mohon!" bisik Hasan ditelinga Nadine.
"Tuan tunggu diluar, berdoalah Tuan." ucap Dokter Nisa yang melihat keajaiban pada Nadine.
(besok lagi 😂😂)
jangan lupa bahagia kakak-kakak 😚😚😚