
Tiba-tiba Azka datang dan berdiri disamping Mawar, "Mawar, dari Syam." Azka menyodorkan sebuah kotak lumayan besar kepada Mawar.
Mawar melihat kotak berwarna cokelat itu dengan tatapan bingung, "Dulu dia ingin memberikan ini kepadamu sebelum memutuskan untuk memutuskan hubungan denganmu." tutur Azka.
"Kembalikan saja kepada Syam, Bang. Aku tidak ingin menerima apapun." acuh Mawar.
Azka menghembuskan nafasnya kesal, "Terima saja dulu, jika setelah ini Kau membuangnya, itu terserah." ucap Azka sekenanya.
Mawar melihat kearah Hasan untuk meminta persetujuannya, walaupun Mawar bingung kenapa dirinya harus meminta persetujuannya, Hasan memalingkan wajahnya ketika Mawar melihat kearahnya.
Mawar mengerucutkan bibirnya, "Oke Bang Azka, terimakasih." Azka tersenyum karena Mawar mau menerimanya.
"Selamat ya, ternyata Kamu anak dari milyader." ucap Azka yang menyaksikan kebenaran Mawar walau sedikit terlambat.
Mawar hanya memajukan bibir bawahnya kearah Azka, Azka sangat senang karena sahabatnya kini hidup jauh lebih baik ketimbang hidup ketika bersama dengan ayah yang ternyata bukan orangtua kandungnya.
"Aku permisi dulu." hormat Azka kepada Mawar dan yang lain.
"Itu siapa Kak, kayanya akrab banget?" tanya Melati ingin tahu.
"Sahabat Kakak dulu." jawab Mawar.
Melati membulatkan bibirnya, tiba-tiba ponsel Mawar berbunyi, Mawar langsung mengangkatnya karena yang menghubunginya adalah bibi yang bekerja dirumahnya.
"Nona..." ucap Bi Ijah sambil menangis.
"Bibi ada apa? kenapa Bibi menangis? Bibi tolong bicaralah!" seru Mawar seketika hatinya menjadi panik, Hasan langsung melihat kearah Mawar karena mendengar kecemasan dari suaranya.
"Nyonya, Nona..." ucap lirih Bi Ijah.
"Mamah? ada apa dengan Mamah, Bi?" Mawar sangat cemas ketika Bi Ijah menyebut ibunya.
"Sedang dianiaya oleh seseorang, Nona. cepatlah pulang Nona, Bibi mohon." seketika ponsel Mawar jatuh membuat Hasan dan yang lain merasakan kecemasan yang luar biasa.
"Mamah..." lirih Mawar, airmatanya tidak terbendung lagi.
"Ada apa dengan Bibi?" tanya Hasan.
"Kak ada apa dengan Mamah?" tanya Melati yang merasa tidak enak lagi.
"Ayo kita pulang! Mamah dalam bahaya!" seru Mawar, kecemasannya sudah sangat besar, hingga dirinya langsung berlari kearah keluar.
Para tamu melihat kepergian Mawar dan yang lain dengan bertanya-tanya, mereka menerka-nerka apa yang sedang terjadi.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Laila.
"Sepertinya mereka sedang dalam masalah." saut Gio.
"Sepertinya juga begitu, Dad." Laila membenarkan tebakan suaminya.
Wajah Syam seketika langsung berubah sedih ketika melihat Mawar pergi, Syam sungguh menyesal, harusnya dirinya saat itu bisa mempertahankan Mawar, tapi kenyataannya kini Syam menjadi lelaki pengecut yang tidak bisa berjuang untuk orang yang dicintainya.
Hasan dan yang lain segera menyusul Mawar, Jefry menghubungi anak buah Grissam untuk kerumah Rumi, ada sedikit rasa bersalah dalam hati Jefry karena lengah untuk menjaga keluarga Arman.
Didalam mobil Hasan melihat Mawar yang sedang menangis karena cemas memikirkan ibunya, "Semoga Allah melindungi Bibi, berdoalah." ucap Hasan menenangkan Mawar, Mawar menganggukan kepalanya dan mengaminkan doa Hasan.
"Mas cepat sedikit, Melati takut Mamah kenapa-napa." Melati tak kalah cemasnya dengan Mawar.
"Sabar Dek, kita berdoa sama Allah agar Mamah baik-baik saja." ucap Zaki.
"Ini pasti ulah Papah, Kak!" seru Putra dari jok belakang.
"Jangan berpikir macam-macam dulu Putra kalau belum ada buktinya." sergah Zaki.
Putra terdiam namun dalam hatinya merasa yakin bahwa itu ulah papahnya, tidak mungkin bila hanya kebetulan saja kejadian ini.
Sampai didepan rumah, Jefry memberhentikan mobilnya, Jefry merasa lega karena para anak buah Grissam sudah datang terlihat dari mobil-mobil yang terparkir dihalaman rumah Arman.
Mawar langsung berlari masuk kedalam rumah, betapa terkejutnya Mawar ketika melihat keadaan rumahnya yang berantakan seperti habis terkena bencana gempa itu.
Hasan dan Jefry tidak kalah tercengangnya melihat keadaan rumah Arman yang sangat berantakan itu.
terlihat anak buah Grissam sedang memukuli orang-orang yang sudah membuat rumah Arman berantakan.
Orang-orang itu berjumlah 6orang sedangkan anak buah Grissam lebih banyak sehingga mereka dapat dilumpuhkan dalam sekejab.
Hasan ingin membatunya namun dihalang oleh Jefry karena anak buah Grissam berhasil melumpuhkan lawan, anak buah Grissam membekuk orang-orang yang sudah membuat kekacauan dirumah Mawar, "Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini! dimana Nyonya Rumi!" teriak Jefry dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
Mereka terdiam tidak mau menjawab pertanyaan Jefry membuat Jefry naik pitam, Jefry melayangkan pukulan kepada salah satu orang, "Cepat katakan! atau kalian akan mati sia-sia!" Jefry mengangkat kerah orang itu dengan sangat kencang.
Mawar melihat sekeliling tapi tidak melihat ibunya, "Mah! Mamah!" teriak Mawar sambil menangis.
"Jatuhkan mereka kebawah, kalau mereka tidak mau berbicara dimana Bibi!" tegas Hasan, seketika para anak buah Grissam langsung menggiring orang-orang itu kebatas besi.
Orang-orang itu ketakutan dan memohon ampun kepada Hasan, "Maafkan kami, Tuan. Nyonya berada dilantai 3, Tuan." mereka akhirnya mau memberitahu.
"Bawa mereka kemarkas!" perintah Jefry.
Mawar, Hasan dan Jefry berlari keatas lagi untuk mencari keberadaan Rumi, "Ya Allah, Bibi?" teriak Mawar melihat para pembantunya yang berjumlah 6 diikat menjadi satu.
"Nona tolong selamatkan Nyonya terlebih dahulu, Nona. cepat!" teriak Bi Ijah sambil menangis.
"Dimana Bibi?" tanya Hasan dengan cemas.
"Ada dikamar itu, Tuan." mata Bi Ijah mengarah kepada kamar yang berada tidak jauh dari tempatnya disekap.
"Cepat pergi, Tuan. cepat!" teriak Bi Ijah lagi membuat Mawar, Hasan dan Jefry panik lalu langsunh berlari kearah kamar yang ditunjuk Bi Ijah.
Pintu terkunci, Hasan berusaha mendobrak pintu itu sekuat tenaganya dibantu dengan Jefry, dalam tiga pukulan Hasan dan Jefry berhasil membuka pintu itu dan apa yang terjadi? sungguh membuat hati Hasan dan Mawar sangat terpukul.
"Paman!" teriak Hasan, Hasan langsung menggiring Panji yang ingin memperkosa Rumi kelantai.
Hasan kalab hingga memukul Panji berkali-kali, bibir panji justru menyunggingkan senyuman kemenangan, "Aku sudah merasakan tubuh Bibimu, San." ucap Panji merasa tidak berdosa sama sekali.
"Paman keterlaluan! harusnya Hasan tidak membiarkan Paman hidup saat itu!" teriak Hasan, Jefry langsung memukul Panji tanpa ampunan.
Tubuh Mawar terasa lemas melihat keadaan ibunya saat ini, "Mah...bangun Mah, ini Mawar Mah." Mawar menyelimuti tubuh ibunya dengan selimut tebal.
Mawar memeluk ibunya sambil menangis sejadi-jadinya, berusaha membangunkan ibunya, "Mamah bangun!" teriak Mawar dengan tangisan yang sangat memilukan.
"Kakak! Mamah!" Melati berlari naik keranjang, Melati ikut memeluk ibunya yang sedang tidak sadarkan diri.
"Papah!" teriak Zaki dan Putra bersamaan.
Zaki dan Putra melihat ayahnya yang sedang dipukuli oleh Jefry dan Hasan, "Apa Hasan harus membunuhmu Paman!" teriak Hasan, airmatanya mengalir karena tidak percaya bila Pamannya tidak belajar dari kesalahannya justru sekarang membuat kesalahan yang lebih besar lagi.
"Hasan! bawa Mamah kerumah sakit, Mamah masih hidup!" teriak Mawar menghentikan Hasan yang ingin memukul Panji lagi.
"Tuan bawa Nyonya kerumah sakit, orang ini biar Aku yang urus!" timpal Jefry.
"Bawa dia keluar Jef!" teriak Hasan.
Zaki dan Putra sangat syok dengan apa yang mereka lihat saat ini, "Aku tidak akan memaafkanmu, Pah." gumam Zaki.
"Tolong keluarlah sebentar, Aku akan memakaikan pakaian Mamah." perintah Mawar kepada Hasan, Zaki dan Putra.
Mereka bertiga keluar dari kamar Rumi menunggu Mawar dan Melati siap, setelah beberapa menit Melati keluar, "Kak..bawa Mamah!" ucap Melati tanpa melihat suaminya.
Hasan langsung masuk kedalam dan menggendong Rumi, Melati merasakan tubuhnya sangat lemas karena syok dan akhirnya, "BUUUUGGHHH." tubuh Melati terjatuh kelantai.
"Ya Allah, Kak Melati!" teriak Putra melihat Melati tergeletak dilantai.
Zaki panik dan langsung menggendong istrinya, airmata Zaki tidak tertahankan lagi, haruskah dia menanggung dosa-dosa ayahnya? pikiran Zaki kalut saat ini, rasa benci kepada ayahnya semakin membuncah didalam hatinya dan bersumpah jika terjadi apa-apa dengan istri dan mertuanya, dia yang akan menghukumnya sendiri! sumpah Zaki.
^
#Besok lagi ya 😂😂😂
Jangan luoa bahagia dan bersyukur 😚😚😚😚