Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Kegundahan Hati Mawar



Gina menatap langit-langit kamar Putra, airmatanya mengalir begitu saja teringat akan perkataan kakaknya yang begitu menyesakkan dada, bagaimana mungkin dirinya bukan adiknya? sedangkan dari dulu kakaknya lah yang paling perhatian kepadanya, Gina menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin." lirih Gina.


"Apa yang tidak mungkin?" Gina terkejut dan langsung menghapus airmatanya saat mendengar suara Putra.


Putra duduk disisi ranjang, Gina pun duduk dan menyender dikepala ranjang, "Bukan apa-apa." sahut Gina dengan senyum paksanya.


"Jangan berbohong." tegas Putra.


"Aku hanya memikirkan perkataan Kak Sony yang mengatakan bahwa Aku bukanlah adiknya, Aku bingung apa yang membuatnya berbicara seperti itu, padahal dulu dia yang paling sayang dan perhatian, tapi sekarang..." Gina menatap kosong kearah depan.


"Bukan Kakakmu?" Gina menatap Putra dengan sendu lalu menganggukan kepalanya.


Putra terdiam sambil melihat kesedihan diwajah Gina, Putra yakin jika ada sesuatu yang membuat Sony berubah karena tidak ada asap jika tidak ada api.


"Sudahlah, lebih baik sekarang Kamu istirahat. Aku akan mencari tahu tentang kakakmu, sekarang tidurlah." tutur Putra.


"Terimakasih Putra." lirih Gina tapi masih terdengar ditelinga Putra, entah mengapa Putra senang ucapan terimakasih dari Gina, namun Putra tetaplah Putra yang jual mahal.


"Hem." sahut Putra.



"Mas, Melati seneng banget mereka mau memaafkan Mamah." Melati berucap dengan senang.


"Mas juga seneng, Dek." Zaki membuka pintu rumahnya dan menuntun istrinya untuk masuk kedalam.


"Assalamualaikum." salam Zaki dan Melati bersamaan.


"Wa'alaikum salam." sahut Ayu yang muncul dari arah dapur.


"Mamah habis ngapain kok pakai celemek begini?" tanya Melati mendekat kearah ibunya disusul dengan Zaki.


"Iya Mah, kok Mamah pakai itu." Zaki melirik celemek yang dipakai ibunya.


Ayu tersenyum, "Mamah hanya masak." jawab Ayu.


"Ya Allah Mah, kenapa Mamah repot-repot masak, kan ada bi Darmi?" Melati menuntun mertuanya duduk diruang keluarga.


"Iya Mah, Mamah jangan repot-repot masak atau membersihkan rumah atau apapun Mah, sudah ada yang mengerjakan itu semua, Zaki tidak ingin Mamah kelelahan atau apa." nasehat Zaki.


Ayu tersenyum, "Makasih kalian sudah perhatian sama Mamah, Mamah seneng banget bisa berkumpul seperti ini lagi, Mamah hanya memasak kok jadi jangan khawatir." Ayu memeluk anak dan menantunya dengan masing-masing tangannya karena Ayu kini berada ditengah antara Melati dan Zaki.


"Melati juga seneng Mah." Melati membalas pelukan mertuanya, Zaki tersenyum bahagia karena bisa melihat ibu dan istrinya seperti sekarang.


"Mah." Ayu menoleh kearah anaknya.


"Ada apa sayang."


"Mereka mau memaafkan Mamah dan Mamah sekarang tidak dipenjara lagi." Ayu menutup mulutnya karena terkejut.


"Benarkah?" Ayu melihat anak dan menantunya bergantian, Zaki dan Melati mengangguk sambil tersenyum.


Ayu sangat bahagia mendapat kabar yang Zaki katakan, "Makasih Sayang." Ayu kembali memeluk Zaki dan Melati.



Hasan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya diatas meja, wajahnya terlihat bingung memikirkan permintaan Pak Kyai, "Aku harus bagaimana Jef?" Jefry mendongak kearah Hasan lalu menatap jam ditangannya.


"Kita masih punya banyak waktu jika Tuan Muda ingin menjenguknya." Hasan melihat jam ditangannya dan benar saja apa yang dikatakan Jefry karena jam baru menunjukkan jam 15.00 WIB.


"Bukan waktu yang Aku pikirkan, tapi istriku." Hasan menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya.


Jefry menghembuskan nafasnya, Jefry kembali lupa jika sekarang Hasan sudah beristri padahal baru kemarin dirinya dimarahi dan diberi peringatan oleh Mawar. Kalau sampai dirinya melakukan kesalahan lagi habislah riwayatnya untuk menjadi asisten Hasan.


"Kalau begitu ajak Nona saja Tuan Muda." Hasan berpikir sejenak lalu mengambil ponselnya yang ada dimeja kerjanya.


Hasan mencari nama istrinya dan saat menemukannya Hasan menarik nafasnya karena Hasan harus mempersiapkan kata-kata untuk berbicara dengan Mawar.


Hasan terdiam karena panggilannya tidak mendapat jawaban dari istrinya, Hasan mencobanya lagi dan lagi namun tetap saja tidak ada jawaban darinya.


Hasan cemas lalu mencoba menghubungi eyangnya yang berada dirumah, "Eyang, apa Mawar bersama Eyang?" tanya Hasan saat panggilannya diangkat oleh Ellois.


"Mawar? dia lagi pergi kesupermarket, katanya mau membeli bahan masakan dan yang lain." Hasan menghembuskan nafasnya merasa lega mendengar penjelasan neneknya.


"Oh begitu, perginya sama Mbak Lusi kan Eyang?" tanya Hasan memastikan.


"Iya cucu Eyang Sayang, posesif amat jadi suami." setelah berbicara Ellois tertawa meledek Hasan.


"Kan Hasan sayang sama Mawar Eyang." sahut Hasan.


"Iya..Iya." sambung Ellois sambil terkekeh.



Mbak Lusi tersenyum kepada Mawar, "Bayarannya lebih gede Non." Mawar mengernyitkan keninya, Lusi terkekeh.


"Bercanda Non, Justru Aku bersyukur Non bisa bekerja buat Tuan Muda." serius Lusi.


"Kenapa?" tanya Mawar penasaran.


"Orangtuanya dulu sudah membantu orangtuaku yang dulu sedang sakit kanker dan tidak ada biaya untuk berobat." Mawar begitu serius mendengarkan cerita Lusi.


"Jefry itu adalah temanku, teman lewat mungkin karena kita mulai kenal saat Aku membantu ibuku berjualan dan dia menjadi pelanggan setiaku, waktu itu Aku masih kecil."


"Saat itu Aku menangis sendirian ditaman yang biasa Aku jualan bersama ibuku dan Jefry waktu itu menghampiriku dan bertanya kepadaku kenapa Aku menangis dan Aku pun bercerita tentang masalahku kepadanya, setelah itu dia membawaku kerumah sederhana orangtua Tuan Muda dan Aku juga melihat Tuan Muda yang masih kecil saat itu." seketika Mawar membayangkan rumah sederhana yang dulu pernah dia tinggali saat Hasan menolongnya.


"Jefry meminta tolong kepada kedua orangtua Tuan Muda dan tanpa berpikir panjang mereka mau menolong ibuku Non, dan Non tahu perasaanku saat itu?" Lusi melirik Mawar yang sedang menggelengkan kepalanya merespon perkataan Lusi.


"Aku sangat bahagia dan bersyukur Non, hingga Aku memeluk Nyonya besar sambil menangis dan mereka hanya berkata "Jadilah teman setia anakku nanti." dan kata-kata itu masih teringang jelas dikepalaku hingga kini Non, walaupun Tuan Muda tidak tahu apapun, dan saat Tuan dan Nyonya meninggal Aku begitu terpukul dan berjanji akan membalas budi kepadanya dan ini lah caraku membalas budi kebaikan mereka Non, Aku dan Jefry sama-sama ingin melihat Tuan Muda bahagia." Mawar meneteskan airmatanya mendengar cerita Lusi yang jarang dia dengar.


"Jangan menangis Non, bahagialah bersama Tuan Muda." Lusi tersenyum kepada Mawar.


"Aku hanya terharu mendengar ceritamu." sahut Mawar.


"Kalau Kamu kenal Hasan dari kecil apa Kamu tahu juga teman perempuan Hasan yang dari pesantren yang bernama...Ir..."


"Irma maksud Non?" tebak Lusi.


Mawar menangguk semangat, "Iya Aku mengenalnya saat orangtua Tuan Muda pernah mengajakku kepesantren dan Aku juga bermain bersama mereka." jelas Lusi.


"Apa Non sudah tahu Irma?" Mawar mengangguk.


"Entah mengapa Aku merasa bahwa Irma menyukai Hasan, Mbak." curhat Mawar.


Lusi melihat wajah Mawar yang terlihat sedih, "Iya Aku tahu Non." Mawar langsung menoleh kearah Lusi.


"Jadi bener dugaanku?" tanya Mawar memastikkan.


Lusi menganggukan kepalanya, "3tahun lalu sebelum Aku pergi belajar bela diri Aku sering bertemu dengan Irma karena dia adalah temanku selain Jefry." Mawar terbengong tidak percaya.


"Jefry juga mengenalnya?" Lusi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tidak Non, Irma pernah bilang kalau dia menunggu Tuan Muda padahal sudah banyak lelaki yang mencoba melamarnya tapi tidak ada satupun yang diterimanya karena dia yakin kalau akan bertemu dengan Tuan Muda." wajah Mawar langsung pias mendengar pernyataan dari Lusi.


Lusi tersenyum kepada Mawar, "Tapi dari dulu Tuan Muda hanya menganggap dia adiknya karena Aku tahu Tuan Muda ingin memiliki adik perempuan. Jadi Non tenang saja, Aku yakin Tuan Muda sangat mencintai Non." Lusi mencoba menghibur Mawar.


Mawar terdiam dan mencoba menenangkan hatinya yang saat ini sedang gelisah karena dugaannya selama ini benar, bahkan dia rela menunggu selama ini dan yakin akan bertemu dengan Hasan kembali, perasaan Mawar menjadi tidak tenang, Lusi melihat kegelisahan diwajah Mawar, "Maafkan perkataanku Non jika itu membuat Non gelisah dan sedih." Lusi merasa bersalah.


Mawar tersenyum tipis, "Aku hanya takut Mbak bila Hasan..."


"Jangan berpikir macam-macam Non, Tuan Muda orang yang baik tidak mungkin menyakiti Non, dia di didik dari kecil dengan baik dan bijak oleh orantuanya, Aku yakin Tuan Muda tidak akan menyakiti Non." Mawar tersenyum merasa terhibur dengan perkataan Lusi.



Hasan akhirnya pergi bersama Jefry kepasantren, melihat mobil Hasan para santri mendekat dan melihat Hasan dan Jefry turun dari pesantren, Hasan berjabat tangan dengan mereka begitu juga dengan Jefry, "Pak Kyai ada?" tanya Hasan kepada Leo yang saat itu menjadi salah satu santri yang menolong Hasan dan yang lain.


"Ada Tuan, mari saya antar." Hasan dan Jefry mengikuti Leo dari belakang.


"Assalamualaikum Pak Kyai." salam Leo, Hasan dan Jefry.


"Wa'alaikumsalam." Pak Kyai tersenyum ketika melihat tamu yang datang.


"Silahkan masuk Nak Hasan, Leo tolong bawakan minuman ya." perintah Pak Kyai, Leo pun manut dan pergi mengambil minuman untuk Hasan dan Jefry.


"Makasih Nak, sudah mau datang kemari." suara Pak Kyai terdengar sedih.


"Dimana Irma Pak Kyai?" tanya Hasan.


Pak Kyai membuka pintu perawatan Irma, "Itu." Hasan masuk kedalam dan melihat kondisi Irma yang terlihat lemah hingga harus menggunakan infus.


"Assalamualaikum." salam Hasan, Pak Kyai dan Jefry duduk di ruangan Irma.


"Wa'alaikumsalam." Irma menoleh dan langsung tersenyum karena yang datang adalah Hasan.


"Mas..."



#Maaf ya kakak-kakak slow balesin komen dan mampir karena dari kemarin pekerjaan Ay bejibun 😑😑😑