Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
hanya karena Dendam, cinta dan harta.



Setelah Jefry mengantar Hasan pulang, Jefry pamit kepada Hasan untuk keluar sebentar dan Hasan pun mengijinkannya tanpa banyak bertanya.


Jefry segera masuk kedalam mobil dan pergi dari rumah Hasan, Jefry melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera sampai ditempat tujuannya.


Jefry memberhentikan mobilnya tepat digedung yang sudah sangat kosong, gedung itu konon kata Arman dulu, gedung itu milik perusahaan AC.GRUP yang saat ini sudah bangkrut, dan pada akhirnya gedung ini terbengkalai begitu saja.


Jefry membeli gedung itu dan menjadikannya markas untuk dirinya dan anak buahnya berkumpul dan meting jika ada sesuatu yang mengancam tuan mudanya.


Jefry mendengar keributan dari dalam gedung, Jefry langsung berlari dan memasuki gedung itu, tanpa sopan-santun Jefry langsung membuka pintu dan dirinya melihat seorang lelaki paruh baya tengah memberontak dari ikatan tangannya.


Lelaki itu menatap Jefry dan terkejut bukan main, jika yang menculiknya adalah Jefry. Jefry menatap balik mata lelaki itu dengan tatapan membunuh.


"Kenapa Kau menculikku? aku akan melaporkanmu kepada Hasan! biar nanti Kau dipecat! brengsek! lepaskan aku!" teriak lelaki itu dengan wajah yang sudah tidak ada keteduhan yang ada hanya kemarahan yang memuncak.


Jefry berkacak pinggang dan meju selangkah untuk lebih dekat dengan lelaki itu, "Tuan Panji Atmawijaya! masih bisa Anda menyebut nama keponakan Anda? setelah apa yang Anda lakukan kepadanya selama ini? sudah berapa tahun Anda membodohi tuan mudaku!"


"Mulai dari sekarang jangan pernah berpikir bahwa rencana Anda akan berhasil! karena Aku takkan pernah membiarkan siapapun menyakitinya! termasuk Anda!" Jefry menunjuk wajah Panji dengan jari telunjuknya.


"Apa yang sudah Kau katakan! memang apa yang sudah Aku lakukan ha! Aku yang membesarkannya hingga dia dewasa! kenapa Kau malah menyiksa dan menuduhku begini!" teriak Panji tidak terima dengan apa yang Jefry katakan.


Jefry geram karena Panji tidak bisa mengakui kesalahannya, rahang Jefry sudah mengeras ingin sekali rasanya Jefry memberi pelajaran langsung kepada lelaki itu. Namun bayangan Hasan terlintas dibenaknya membuat Jefry menahan dirinya untuk memukul lelaki itu yang tak lain adalah paman dari Hasan.


"He! supir! cepat lepaskan aku!" teriak Panji lagi.


Jefry tersenyum simpul mendengar teriakan Panji, "Anda memang sangat licik Tuan. Mungkin Anda bisa membodohi dan membohongi semua orang! tapi tidak denganku." Jefry mengeluarkan bukti-bukti kejahatan Panji didepan mata Panji.


Panji membelalakan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, "Sial! kenapa bisa ada bukti-bukti itu! apa yang harus Aku katakan sama si supir ini! brengsek!" Panji tak henti-hentinya mengumpat didalam hati.


Bukti-bukti yang Jefry keluarkan itu adalah milik Panji yang mungkin Panji tidak menyadarinya jika ada sesuatu yang akan membuatnya jadi tersangka.


Banda-benda itu adalah Foto keluarga Hasan yang semua dicoreng oleh spidol hitam, dan sebuah jepitan dasi milik Arman yang harganya sangat fantastis, "Apa Anda masih mengelak?"


"Lalu ini?" Jefry memutar video anak buah Panji yang sedang disekap.


"Masih mengelak juga!" Jefry mengeluarkan foto ibu Hasan yang masih sangat bagus walaupun sudah disimpan bertahun-tahun oleh Panji, anak buah Jefry menemukan foto itu dimobil Panji bagian garansi belakang namun sangat tersimpan, Panji begitu lihai menyimpannya.


"Saat Anda menyuruh orang untuk mencelakakan mobil Tuan Jacson, Anda pikir saat itu Nyonya tidak akan ikut dengan Tuan Jacson bukan?"


"Anda memang manusia serakah, sudah dikasih hati tapi minta jantung! Anda pikir rencana Anda itu akan mulus sekarang? seperti rencana-rencana Anda yang lalu? mulai sekarang jangan berpikir seperti itu lagi!" ucap Jefry dengan tegas.


"Anda ingin harta tuan besarku tapi Anda juga ingin istri tuan besarku. Sungguh manusia tidak pandai bersyukur Anda!"


"Setelah apa yang tuan besarku lakukan kepada Anda, begini balasannya? Engkau tahu bukan, Tuan. Jika tuan besarku itu adalah orang yang sangat-sangat baik kepada Anda? lalu ini balasan Anda?" Panji terdiam seribu bahasa, tidak tahu lagi dirinya mau berkata apa, semua sudah ketahuan dan tidak ada gunanya dirinya membala diri lagi, karena Jefry pasti tidak akan percaya.


"Anda mengurus tuan mudaku hanya untuk imbalan uang bukan? dengan mengatakan perusahaan Anda bangkrut dan mengusir tuan mudaku tanpa berniat mencarinya?"


"Dan bagaimana juga kalau anak dan istri Anda tahu tentang rahasia yang selama ini tersimpan rapi? Anda menjadikan anak sulung Anda untuk mewujudkan harapan Anda bukan? untuk mengambil 1/2 dari perusahaan tuan mudaku melewati kematian dan pernikahan yang sudah Anda rencanakan? dengan pernikahan anak Anda, Anda bisa mencari tahu kelemahan perusahaan HJ.GRUP bukan? selamat kematian dan pernikahan itu sudah berhasil, tetapi yang lain? tidak akan! Anda dengar, Tuan Panji?" ucap Jefry menggertak Panji.


"Brengsek!" teriak Panji.


"Kenapa Anda berteriak seperti itu? Anda pikir Aku ini supir yang bodoh hem?" Jefry tersenyum sinis.


"Anda lupa siapa Tuan Jacson itu? Apa perlu aku ingatkan tentang Tuan Jacson kepada Anda?"


"Apa maksudmu?" Panji tidak mengerti apa yang Jefry katakan.


"Tuan Grissam adalah ketua Mafia di Inggris. Apa perlu Aku kenalkan dia kepadamu, Tuan?" Panji membelakakan matanya tidak percaya tentanh informasi yang masuk kedalam telinganya.


Panji menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak mungkin!" Panji sangat syok tubuhnya terasa lemas sekarang.


Jefry tertawa kecil, "Anda bisa bayangkan bukan? jika Tuan Grissam kembali dan mengetahui Andalah yang menyebabkan anak dan menantunya meninggal?" ucapan Jefry membuat Panji tambh tidak berdaya.


Panji menggelengkan kepalanya saat membayangkan hal buruk terjadi kepadanya, "Aku mohon ampuni Aku. Beri aku kesempatan untuk bertobat, Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Aku mohon." ucap Panji ketakutan.


"Tidak semudah itu, Tuan."


"Tolong ampuni Aku, Jef, Aku mohon." Panji sudah tidak berdaya lagi.


"Tuan Mudaku yang akan memutuskan nanti." ucap Jefry.


"Jangan beritahu Hasan soal ini, Jef. Aku mohon!" pinta Panji dengan wajah yang memelas.


Jefry tidak menghiraukan permohonan Panji, dirinya saat itu langsung keluar dan meninggalkan Panji yang berteriak-teriak memanggil namanya.


Jefry masuk kedalam mobil dengan perasaan kacau, bagaimana tidak? ini sangat sulit untuk Jefry mengerti, kenapa harus Panji yang jadi tersangka? kenapa tidak yang lain. Pikiran Jefry berperang begitu saja.


Jefry mengambil ponselnya disaku celananya yang berdering menandakan ada panggilan masuk, "Hallo Tuan Besar." ucap Jefry ketika mengangkat telepon tersebut.


"Bagaimana Jef? apa Kau sudah menemukan pelakunya," tanya Grissam dibalik telepon.


#Maaf ya sedikit 😂😂😂


*memang kenapa sedikit thor??


#karena author mangantuk 😂😂😂😂


* Sial lu thor 😠😠😠


Jaangan lupa bahagia kaka 😊😊😊