
Nadine melihat kearah Jefry "Aku hanya punya ini." wajah Nadine begitu memelas.
"Simpan saja." Melati langsung menoleh kearah Hasan.
"Tolong terimalah Tuan, sebagai ucapan terimakasihku." pinta Nadine.
Hasan memandang Nadine lalu berganti memandang liontin yang masih ditangan Nadine, Hasan terpesona dengan kalung liontin milik Nadine. Hasan mengambil kalung liontin milik Nadine membuat sang pemilik kalung tersebut tersenyum senang.
Hasan memerhatikan kalung itu, menurut Hasan kalung itu unik karena liontin yang berukuran kecil tidak seperti liontin kebanyakan, Hasan membuka liontin itu "Unik sekali kalaungmu." puji Hasan.
"Benarkah? aku tidak merasa demikian." ucap Nadine biasa.
"Menurutku unik. karena didalam liontin ini bukan gambar foto seperti biasanya tapi gambar bunga," Hasan memerhatikan gambar bunga yang ada didalam liontin.
"Aku juga bingung kenapa liontin itu bergambar bunga Mawar dan Melati." Hasan langsung menoleh kearah Nadine.
"Memang orangtuamu tidak memberitahu alasannya kepadamu?" tanya Hasan.
Nadine menggelengkan kepalanya sedih "Entahlah...yang aku tahu ayahku tak pernah peduli denganku." Nadine menoleh kearah jendela karena airmatanya kini membasahi pipinya lagi namun kali ini Nadine langsung menghapusnya.
Hasan merasa iba dengan Nadine, mengingat dirinya selalu mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya walaupun dulu saat Hasan kecil hidup sederhana.
"Kamu tahu alasannya kenapa ayahmu tidak menyayangimu?" Nadine menggelengkan kepalanya.
"Mungkin karena kamu susah diatur mungkin?" terka Hasan.
Nadine menoleh kearah Hasan "Aku bahkan selalu berkorban untuk ayah, dari kecil aku sudah bekerja sambil belajar bertahan hidup, tapi kenyataannya ayah memang tak pernah menyayangiku, tidak seperti dirimu Tuan, yang kelihatannya hidup melimpah dan bahagia." Nadine membandingkan hidupnya dengan hidup Hasan.
Hasan menunduk dan tersenyum simpul, Hasan melihat keluar jendela "Kamu tidak tahu seberapa usaha seseorang untuk terlihat bahagia karena terkadang mereka itu adalah orang yang paling menderita. Bahagia itu bukan dari melimpahnya banyak harta tapi dari sini." Hasan menoleh kearah Nadine dan menunjuk hatinya dengan jari telunjuknya.
Nadine tersentuh dengan kata-kata Hasan, kedewasaannya yang membuat Nadine terbius, saat tengah asyik memandang Hasan tiba-tiba Nadine tersungkur dan keningnya menabrak jok mobil yang ada didepannya "Aduh!" Nadine menyentuh keningnya yang terasa sakit.
Hasan dan Jefry terkekeh "Maaf Nona." ucap Jefry merasa bersalah.
Bibir Hasan mengembang saat turun dari mobil "Ayo turun!" perintah Hasan sambil menahan tawanya merasa lucu dengan kejadian Nadine tadi.
Nadine merasa malu dengan tingkahnya barusan, Nadine mengikuti perintah Hasan untuk turun "Ini rumahmu Tuan." tanya Nadine saat melihat rumah Hasan yang begitu besar.
"Masuklah." ucap Hasan saat pintu rumahnya terbuka.
Nadine takjub dengan pelayan-pelayan yang sedang berjejer untuk menyambut Hasan, Nadine tersenyum kepada pelayan-pelayan dirumah Hasan yang sedang berbasis.
Nadine mengikuti Hasan yang menaiki tangga, sedangkan Jefry pergi kekamarnya untuk membersihkan dirinya.
"Istirahatlah disini." Hasan membuka pintu kamar kedua orangtuanya.
Nadine masuk dan melihat sekeliling kamar orangtua Hasan dengan takjub "Besar sekali kamarnya." batin Nadine.
"Maaf Tuan. lebih baik aku istirahat dikamar para pelayan saja, aku merasa tidak enak bila harus disini." ucap Nadine merasa tidak pantas.
"Istirahat saja, bersihkan dirimu dan bukalah lemari itu, pakailah baju yang ada didalamnya." setelah berucap Hasan pergi meninggalkan Nadine yang masih diam mematung didalam kamar orangtua Hasan.
Nadine memandang punggung Hasan hingga Hasan tidak terlihat lagi karena masuk kedalam kamarnya.
Nadine terbengong melihat baju yang sedang dia pegang sekarang, hatinya merasa ragu untuk memakainya karena menurut Nadine dirinya merasa belum pantas untuk memakainya.
^
Rumi meminta kepada Zaki agar bisa tinggal bersamanya karena Rumi tidak ingin tinggal sendiri apalagi kini hanya ada Melati yang dia punya, Zaki pun mengerti dengan alasan mertuanya dan menurutinya untuk tinggal dirumah mertuanya, Rumi merasa senang dengan kelegaan hati Zaki untuk tinggal bersama.
Rumi masuk kedalam kamarnya dan duduk disisi ranjang, Rumi menyentuh kasur yang kini sedang dia duduki sambil menangis karena mengingat Almarhum suaminya.
Rumi membuka lemarinya dan mengambil kotak kayu berukuran kecil, Rumi membuka kotak tersebut "Masih hidupkah dia Ya Allah? 17tahun dia menghilang dan bertahun-tahun aku mencarinya hingga polisi menyerah mencarinya, tapi kini suami hamba meminta hamba untuk mencarinya lagi Ya Allah." gumam Rumi.
Rumi mengambil sebuah foto anak kecil berumur 2tahun sedang tersenyum riang "Mawar...maafkan Mamah tidak bisa menjagamu saat itu sayang." Rumi menangis menyentuh foto anaknya yang hilang.
Melati masuk kedalam kamar ibunya karena melihat kamar ibunya tidak tertutup rapat "Foto siapa itu Mah?" tanya Melati yang sudah didepan ibunya.
Rumi kaget dan langsung menghapus airmatanya, Rumi langsung memasukan foto itu didalam kotak dan akan menutupnya namun dicegah oleh Melati "Mah..." Melati menatap ibunya ingin jawaban dari pertanyaannya.
Rumi menangis keras meluapkan perasaanya, Melati memeluk ibunya dan menenangkan ibunya "Cerita sama Melati Mah." pinta Melati.
"Sebenarnya kamu punya saudara Mel." suara Rumi lirih namun masih terdengar ditelinga Melati.
"Saudara? siap Mah? dan sekarang ada dimana?" tanya Melati antusias.
Rumi menggelengkan kepalanya "Mamah juga tidak tahu bagaimana kabar dia sekarang Mel...Mamah kehilangan kakak kamu saat usianya 2tahun." Rumi menunduk sedih mengingat kejadian yang sudah 17tahun berlalu.
Melati terkejut dengan ungkapan ibunya, airmata Melati terjatuh begitu saja mendengar kisah ibunya "Sampai sekarang belum ditemukan Mah?" tanya Melati serak.
Rumi menggelengkan kepalanya "Kemarin Papah menyuruh Mamah untuk mencarinya lagi Mel, Mamah bingung harus memulai mencarinya dari mana," keluh Rumi.
Melati menggelengkan kepalanya "Pasti ada jalan Mah, jika kakak Melati masih hidup pasti Allah memberikan jalan untuk bertemu selagi kita berusaha Mah." tutur Melati bersemangat.
"Mamah dan Papah sudah mencarinya selama bertahun-tahun Mel, bahkan saat Mamah hamil kamu, Mamah dan Papah tetap mencarinya walau Mamah dalam keadaan lemah saat hamil kamu Mel, bahkan polisi menyerah Mel." Rumi mengenang masa lalunya saat mencari Mawar.
Melati sedih mendengar penuturan ibunya "Kita coba lagi ya Mah, apa Mamah punya sesuatu yang bisa kasih petunjuk gitu Mah,"
Rumi terdiam sejenal dan berpikir tentang perkataan Melati, Rumi menoleh kearah Melati saat teringat sesuatu "Dia mempunyai kalung liontin yang sama persis seperti kamu Mel."
Melati menyentuh lehernya "Apa ini bisa dijadikan bukti Mah? yang mempunyai kalung seperti ini pasti banyak Mah." ucap Melati tidak yakin.
Rumi menggelengkan kepalanya "Tidak Mel...kalung liontin itu didesai langsung oleh ayahmu dan tidak ada yang mempunyai kalau liontin persis seperti kamu kecuali Mawar kakak kamu."
"Apa kamu tidak membuka liontin itu?" Melati menggelengkan kepalanya.
"Kalung itu tidak seperti liontin kebanyakan yang berisi foto Mel, tapi bunga Mawar dan Melati karena memang Papah kamu menyukai bunga-bunga itu dan Papah kamu membuat liontin pertama untuk Mawar dan saat kamu lahir Papah membuatnya lagi untukmu, Papahmu saat itu sangat senang sekali karena memiliki anak-anak perempuan dan bisa memberi nama bunga Mawar dan Melati sesuai dengan liontin yang Papah buat untuk kalian Mel."
Mendengar penjelasan ibunya, Melati langsung mencopot kalungnya dan membuka liontin itu dan benar apa yang dikatakan oleh ibunya, liontin itu bukan berisi gambar seperti kebanyakan tapi bunga Mawar dan Melati.
(besok lagi 😂😂)
Maafkan daku kaka-kakak karena kemarin tidak bisa mampir kekarya kaka-kaka karena sinyalnya kemarin sungguh susah sekali 😢😢 aku akan feedback dan like ketinggalannya insya Allah hari ini semoga sinyalnya tidak jelek lagi 😢😢😢