
Saat itu Putra pergi kekafe tempat tongkrongan teman-temannya, dia pergi dengan hati yang sangat kesal "Aku harus membuatnya pergi dari rumahku" batin Putra, Putra mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi tak peduli umpatan orang terhadapnya, Putra terus saja mengendarai motornya sampai ditempat tongkrongan yang biasa dia dan teman-temannya habiskan waktu bersama.
Putra berjalan menghampiri teman-temannya yang sedang bercanda ria, Krekkk Putra menarik kursi dan duduk dengan wajah yang kesal.
"Kamu kenapa? muka di lipat begitu?" tanya Rio.
"Aku lagi kesal dengan semua orang dirumah! selalu saja bela si Hasan itu!" ucap Putra dengan kesal.
"Mereka pasti ada alasan membela Hasan Put!" saut Adi.
"Kalian tuh sebenarnya temannya aku apa Hasan sih! bikin aku tambah kesal aja deh!" marah Putra.
Rio menepuk pundak Putra "Bro.. coba kamu fikir deh, emangnya Hasan buat apa sih ke kamu sampe kamu sebegitu bencinya? aku rasa Hasan anak yang baik dan selalu nurut sama kamu, tapi kamu malah begini terus sama Hasan, Hasan juga selalu ngalah kan sama kamu!" ucap Rio mencoba menasehati.
"Karna memang aku benci sama dia! dia selalu mendapatkan kasih sayang orang-orang yang aku sayang! mereka selalu melihat Hasan, saat Hasan belum dirumahku pun mereka selalu membanggakan Hasan! apalagi sekarang dia dirumahku!" Putra semakin marah.
"Aku kesini itu mau minta bantuan sama kalian biar Hasan itu pergi dari rumahku itu! tapi kalian malah belain Hasan terus! bikin males punya teman kaya kalian ini! biar aku urus sendiri!" Putra bangkit dan ingin pergi dari tempat itu.
"Jangan gila kamu Put, masa kamu mau mengusir saudaramu sendiri! dia sudah gak punya siapa-siap Put didunia ini!" Rio menarik tangan Putra untuk mencegahnya pergi.
"Lepasin tanganku! gara-gara dia ada dirumahku sekarang Papahku terancam bangkrut! dia itu pembawa sial tau gak!" Putra melepaskan cengkraman Rio dan berlalu pergi dari kafe "Kamu itu benar-benar membuat kesabaranku habis San, bukan hanya orangtuaku tapi juga teman-temanku juga kau rebut perhatiannya, kali ini aku akan membuatmu menyesal, kamu harus pergi dari rumahku!" Putra pergi dengan keadaan yang sangat marah karna kini semua membela Hasan, bahkan teman-temannya yang harusnya ada dibelakangnya ikut membela Hasan, membuat Putra sangat muak.
Putra pulang dengan keadaan yanv sangat marah, dia masuk kedalam rumah tanpa salam "San! keluar kamu!" teriak Putra saat masuk kedalam rumah.
Putra yang berada dikamar habis melaksakan Shalat kaget dengan teriakan Putra, Hasan langsung berlari dan menghampiri Putra "Ada apa kamu memanggilku?" Hasan masih bersikap biasa.
"Sudah cukup kamu menumpang dirumahku San, sekarang lebih baik kamu pergi, aku sangat muak melihatmu yang sok baik itu!" ucap Putra.
"Kamu itu apa-apaan sih Put!" teriak Panji dari atas tangga. Panji sangat marah ketika Putra anaknya mengusir Hasan terlihat dari raut wajahnya yang kini memerah.
"Pah! kenapa sih kalian itu selalu belain anak pembawa sial ini! biarin dia pergi Pah, dia sudah besar! sudah cukup kita ngasih makan selama ini!" balas Putra.
Plakkkk "Sejak kapan kamu jadi orang yang tidak punya hati seperti ini!" Panji menampar Putra dengan tangannya karna sangat kesal dengan ucapan anaknya.
"Papah!" teriak Ayu dan Zaki langsung turun kebawah.
"Paman..." Hasan membujuk Pamannya agar tidak marah.
Wajah Putra merah padam karna ditampar sang ibu "Papah tampar Putra Pah?" ucap Putra dengan lirih.
"Karna kamu keterlaluan!" jawab Panji
"Oke sekarang Pamah pilih Hasan yang pergi dari rumah ini atau aku Pah!" Putra memberikan pilihan yang sulit kepada Panji, membuat rahang Panji mengeras karna ucapan anaknya yang membuatnya sangat marah.
"Paman..biar Hasan yang pergi dari rumah ini Paman," ucap Hasan mengalah
Panji menggelengkan kepalanya menandakan tidak kesetujuannya dengan keputusan Hasan.
"Sabar Pah..." Ayu mengusap-usap lengan sang suami.
"Kamu kenapa sih Put?" Zaki menghadap Putra.
"Aku pingin dia pergi dari rumah ini Kak, aku gak suka dia ada disini!" Putra menunjuk Hasan dengan wajah marah.
"Aku akan pergi, jika itu membuatmu tenang," ucapan Hasan membuat semua mata memandangnya.
"Jangan nunggu lama lagi! lakukan! aku sudah muak melihat mu!" ucap Putra.
Tak menunggu lama lagi Hasan langsung lari keatas dan masuk kedalam kamarnya, teriakan dari Zaki tak dihiraukan Hasan.
Hasan langsung memasukan baju-bajunya kedalam tas. setelah selesai Hasan turun kebawah, semua orang menunggu Hasan, berharap Hasan tidak sungguh-sungguh akan ucapannya, Ayu menangis melihat Hasan menggendong tasnya "Jangan pergi Nak," bujuk Ayu.
"San... jangan ambil hati omongan Putra, mungkin dia syok karna kondisi Papah saat ini," Zaki ikut bicara.
"Tetap lah dirumah San," Panji pun ikut membujuk.
Hasan memandang mereka satu persatu, dan berakhir pada Ayu "Bibi..Paman..Kak Zaki, terimakasih sudah mau menampungku selama ini, semoga kebaikan kalian selama ini dibalas oleh Allah Yang Maha Pengasih, maaf Hasan belum bisa membalas kebaikan kalian, Hasan selalu membuat kalian repot, jika Hasan berhasil nanti, Hasan janji akan membalas kebaikan kalian," mendengar ucapan Hasan, Ayu langsung memeluk Hasan dan menangis tersedu-sedu.
Hasan membalas pelukan Bibinya itu dan mengusap-usap punggungnya, Hasan berusaha meyakinkan Bibinya bahwa Hasan akan baik-baik saja diluar sana "Hasan bersama Allah Bibi, Bibi jangan bersedih lagi, semoga Kak Zaki dan Putra menjadi anak Bibi yang Bibi banggakan," ucap Hasan menenangkan Bibinya.
Putra sangat kesal karna Hasan tak kunjung pergi, hingga Putra kembali memarahi Hasan lagi. Hasan pun berpamitan kepada seluruh anggota keluarga, kepada Putra pun Hasan pamit, namun Putra membalasnya dengan angkuhan.
Hasan berjalan keluar tanpa menengok lagi rumah Bibinya, teriakan Ayu dan Zaki tidak membuat Hasan menengok sedikitpun. karna Hasan sedang menyembunyikan matanya yang saat ini ingin menangis "Ya Allah kuatkanlah aku atas cobaan ini" doa Hasan dalam hati.
Hasan berjalan tanpa tujuan, dia hanya mengikuti langkah kakinya yang terus berjalan, sesekali Hasan berhenti untuk sekedar duduk dan membeli minum, panasnya matahari siang ini membuat Hasan merasa lelah, keringat bercucuran keluar sari tubuhnya, sesekali Hasan mengusap keringatnya dengan tangannya. Hasan tidak tau harus kemana, Hasan benar-benar tidak punya siapa-siapa disini.
^
"Assalamualaikum," salam seseorang mengetuk rumah Panji.
Pintu terbuka "Wa'alaikum salam," jawab Panji yang membuka pintu.
Panji melihat siapa yang datang dengan wajah pucat pasi, pasalnya yang datang adalah Pak Arman yang selalu menengok Hasan setiap tahunnya "Pak Arman?" ucapan Panji dijawab senyuman oleh Arman.
Arman tidak sendiri, kali ini dia mengajak anak dan istrinya untuk ikut dan melihat Hasan yang sekarang, karna Hasan yang sekarang sudah sangat dewasa dan tampan.
"Ya Allah bagaimana ini kalau mereka tau Hasan pergi dari rumah ini" batin Panji ketakutan.
(besok lagi 😁😁)
*Mohon maaf buat semuanya, akhir-akhir ini author idenya sedang lari kemana-mana dan juga author sedang merevisi novel author yang berjudul "Impian kehidupan" karna banyak tanda baca yang belum benar hehehe 😆 maklum author masih belajar 😊 terimakasih yang kemarin sudah memberi saran dan kritik, author sangat terbantu 😊😊 maaf bila aku belum bisa mampir tapi sesegera mungkin author akan usahakan biar cepet mampir 😊😊 jangan marh ya kakak-kakak😊😊 jangan bosan baca karya author yang receh ini 😄😄