Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Maafkan Aku



Setelah sampai 2minggu Rumi dirawat dirumah sakit, kini dia sudah dibolehkan pulang, Mawar dan Melati begitu bahagia saat itu.


Hasan mengantar bibinya itu pulang ditemani Jefry tentunya, sedangkan mobil Zaki mengikuti mobil Jefry yang mengantar kepulangan Rumi.


Saat berada didalam mobil pelukan Mawar tak pernah lepas dari ibunya, Mawar sangat bahagia karena Allah mau mendengarkan doa-doanya untuk ibunya terus bertahan hidup setelah kejadian yang membuat hati Mawar ngilu mengingatnya.


"Jef, kealamat ini." Rumi menunjukkan alamat yang berada diponselnya, Jefry memperhatikan benar alamat itu lalu menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Mau kemana Mah?" tanya Mawar penasaran.


"Ada deh, mau tahu aja!" ledek Rumi.


"Kok Mamah gitu!" Mawar mengerucutkan bibirnya kesal.


Rumi terkekeh melihat wajah anaknya yang sedang kesal, Hasan menyunggingkan senyuman melihat wajah Mawar dispion.


"Mas, kayanya ini bukan arah kerumah?" Melati memperhatikan arah jalan yang sedang dilaluinya.


"Mungkin mereka mau mampir, Dek." tebak Zaki, Melati menganggukan kepalanya.


Mobil Jefry berhenti ditempat pembuatan undangan, tempat itu tentunya rekomendasi dari Grissam dan Ellois, saat kemarin membahas gedung mereka juga membahas undangan yang akan dibuat.


"Percetakan undangan?" gumam Mawar melihat kearah ibunya, Rumi menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Ayo kita keluar, Eyang sudah menunggu kita didalam." perintah Rumi.


"Eyang didalam, Bi?" tanya Hasan heran.


"Iya sayang." jawab Rumi.


"Hasan ingin yang memanggil itu Mawar, Bi." Hasan melirik kearah Mawar, sedangkan Mawar terbengong mendengar ucapan Hasan.


Rumi tertawa lalu menggandeng lengan Mawar dan Hasan, "Kalau sudah menikah cepatlah berikan Mamah cucu, agar Mamah tidak kesepian." oceh Rumi.


"Astagfirullah Mamah." Mawar sungguh sangat malu mendengar permintaan ibunya.


Hasan tersenyum simpul, "Hasan akan usahakan Bibi, Hasan akan berikan cucu yang banyak untuk Bibi." Mawar memelototkan matanya kearah Hasan, Hasan tertawa kecil karena berhasil menggoda Mawar.


"Kamu kira Aku kucing! menyebalkan!" kesal Mawar, Hasan dan Rumi langsung tertawa.


¤


Saat Melati dan Zaki turun dari mobil, tiba-tiba pandangan mata Melati menangkap sesuatu yang membuat dirinya sangat ingin memakannya, Melati diam mematung dan memandang penjual arumanis yang berada ditepi jalan.


Zaki melihat istrinya dan mengikuti arah matanya, "Adek mau?" tebak Zaki, Melati langsung menganggukan kepalanya dengan wajah yang sangat memelas karena ingin.


Zaki menggandeng tangan istrinya lalu menghampiri penjual arumanis itu, "Adek mau yang warna apa?" tanya Zaki saat sudah berada didepan penjual arumanis.


"Adek pingin semua warna, Mas." jawab Melati lalu menunduk takut bila suaminya marah.


Zaki tersenyum lalu menoleh kearah penjual arumanis, "Pak, ambilkan arumanis semua warna ya." pinta Zaki kepada penjual arumanis.


Sang penjual begitu senang karena dagangannya ada yang memborongnya, "Ini Tuan, istri Tuan sedang hamil?" tanya sang penjual dengan wajah sumringah karena dagangannya laku banyak.


"Iya Pak, doakan istri Saya ya, Pak." ucap Zaki sambil memberikan uang duaratus ribu kepada sang penjual.


Sang penjual itu tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Semoga bayi dan ibunya sehat selalu ya Tuan." sang penjual memberikan kembalian kepada Zaki namun Zaki menolaknya.


"Ambil saja kembaliannya, Pak." sang penjual senang bukan main karena hari itu dia mendapatkan rejeki yang lumayan banyak dari Zaki.


"Terimakasih Tuan!" ucap sang penjual bersemangat, Zaki mengangguk dan tersenyum sebelum pergi.


Wajah Melati begitu sumringah setelah mendapatkan arumanis dengan ukuran besar dan berbagai warna itu, coba dihitung berapa kira-kira arumanis yang sedang dipegang oleh Melati, Merah, kuning, hijau, biru, ping, dan Orange dengan harga arumanis duapuluh ribu perbungkus, Zaki menggelengkan kepalanya melihat wajah istrinya yang terlihat sangat bahagia mendapatkan arumanis berbagai warna itu, Zaki berpikir apa istrinya bisa memakan semua arumanis itu? Zaki tersenyum geli membayangkannya.


¤


"Hasan, coba Kamu lihat desain undangan ini, sepertinya unik." Ellois menunjukkan undangan dari bambu yang didalamnya ada sebuah kertas undangannya, terlihat sangat unik sekali.


"Hasan terserah Eyang saja." ucap Hasan pasrah, entah mengapa Hasan begitu pening karena sedari tadi mereka menunjukan berbagai desain undangan kepadanya dan membuat kepalanya pusing.


"Mau menikah saja ribet sekali Ya Allah." batin Hasan.


"Mawar, Kamu mau undangan seperti apa Sayang?" tanya Rumi kepada anaknya.


"Terserah Mamah dan Eyang sajalah." Mawar pun merasakan hal yang sama dengan Hasan.


"Yang mau menikah siapa dan yang heboh siapa? pusing Aku." batin Mawar.


Mawar memandang sekitar, "Mah, Melati mana? tadi ikut kita kan, Mah?" pertanyaan Mawar membuat Rumi tersentak karena baru ingat dirinya tidak melihat Melati sekarang.


"Iya, tadi ikut!" ucap Rumi dengan suara agak panik.


Hasan melihat sekeliling mencari Melati dan Zaki namun pandangannya tidak melihat keberadaan Melati dan Zaki.


"Biar Hasan cari dulu, Bi." Hasan beranjak berdiri, Mawar memperhatikan tingkah Hasan yang langsung mencari Melati.


"Apa Kamu masih mempunyai rasa kepadanya?" batin Mawar, wajahnya terlihat tidak bersemangat lagi.


Jefry memperhatikan wajah Mawar yang langsung berubah menyedihkan dengan sikap Hasan, Jefry mengerti dengan perasaan Mawar dan langsung menyusul tuan mudanya.


Jefry menghembuskan nafasnya, "Apa Tuan masih mempunyai perasaan kepadanya?" Hasan berhenti berjalan karena mendengar pertanyaan Jefry.


Hasan menoleh kearah Jefry, "Apa maksudmu bicara seperti itu?" Hasan menatap Jefry dengan tajam.


"Perilaku Tuan Muda barusan itu membuat prasangka bahwa Tuan Muda masih menyimpan perasaan? itu juga yang mungkin calon istri Anda pikirkan sekarang." penuturan Jefry membuat jantung Hasan seketika berhenti berdetak.


Hasan menoleh kearah Mawar dan melihat wajah Mawar seperti bersedih, "Astagfirullah, apa yang sudah Aku lakukan, Jef. Dia pasti berpikir macam-macam."


"Cepat kembalilah." perintah Jefry, seketika Hasan langsung kembali ketempat Mawar berada, dalam hatinya Hasan merutuki sikapnya tadi, niatnya hanya ingin membantu mencari Melati namun apa yang dikatakan Jefry membuka mata dan hatinya kalau ada perasaan seseorang yang terluka dengan sikapnya.


¤


Putra, Rio dan Adi sampai diclub milik Herri sepupu dari Adi.


Baru selangkah masuk mereka sudah disuguhkan pemandangan wanita-wanita yang sangat cantik-cantik sedang berjoget mengikuti irama dj yang sedang dimainkan.


"Kita ketempat biasa." ucap Adi diangguki oleh Putra dan Rio.


Mereka berjalan memasuki ruangan yang biasa mereka singgahi saat berada diclub, sejak lulus kuliah mereka bertiga sering datang keclub itu hanya untuk mengkosongkan pikiran yang sedang kacau, walaupun sering datang namun mereka bertiga tidak melakukan apapun seperti minum-minuman apalagi bermain wanita, tidak sama sekali, mereka hanya menghisap rokok saat berada diruangan mereka.


Saat didepan pintu Putra kejutkan dengan seorang wanita yang menabraknya, "He! kalau jalan pakai mata!" teriak Putra kesal.


Wanita itu tertawa karena sedang mabuk, "Jangan marah-marah Tuan, nanti cepat tua." wanita itu kembali tertawa setelah berucap.


"Gina!" teriak Adi yang melihat wajah Gina.


Putra langsung memperhatikan wajah wanita itu dan benar saja, wanita itu adalah Gina.


Saat Putra ingin marah kepada Gina, tiba-tiba tubuh Gina ambruk dan Putra berhasil menangkapnya agar tidak terjatuh dilantai, "Astaga! menyusahkan saja!" gerutu Putra.


"Bawa kekamar atas saja, Put!" perintah Adi.


Dengan hati yang kesal Putra membawa Gina kekamar atas diikuti oleh Adi dan Rio.


Adi membuka kamar yang masih kosong sesuai arah petunjuk pelayan yang bertugas, Putra membaringkan Gina dikasur, saat Putra ingin pergi tiba-tiba Gina merangkul leher Putra sambil terus mengoceh membuat Putra pusing mendengarnya apalagi bau alkohol yang tercipta dari mulut Gina, sungguh memuakkan bagi Putra.


"He! kenapa kalian diam saja!" teriak Putra kepada kedua temannya.


Adi dan Rio saling pandang lalu segera menghampiri Putra san berusaha menolongnya, namun cengkraman Gina sangat kuat.


"Jangan tinggalkan Aku Tuan." oceh Gina yang masih dipengaruhi oleh minuman keras.


"Shit! wanita menyabalkan! lepaskan Aku!" teriak Putra.


"Sudah nikmati saja, siapa tahu ini rejekimu." bisik Adi ditelinga Putra.


Putra mendelikkan matanya kearah Adi, "Brengsek Kau!" kesal Putra.


Adi tertawa lalu menggeret Rio, "He! bagaimana dengan Putra!" teriak Rio.


"Sudah biarkan saja." Adi menutup pintunya lalu menguncinya dari luar, Rio memelototkan matanya kearah Adi.


¤


Setelah menemukan desain undangan dan Melati pun telah sampai dengan membawa arumanis banyak membuat Rumi tertawa bahagia karena anaknya sedang dalam proses mengidam, Rumi tidak menyangka bila anaknya mengidam arumanis begitu banyak.


Hasan memperhatikan wajah Mawar yang menampakan senyum paksaan, Hasan merasa bersalah karena sudah membuat Mawar berpikir bahwa dirinya masih menyimpan perasaan kepada adiknya.


Saat pulang, Hasan meminta agar dirinya pulang bersama Mawar saja dengan alasan ingin memberikan kejutan kepada Mawar. Grissam dan yang lain sangat setuju dan mengijinkan mereka pulang berdua.


Hasan mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu, setelah sudah lumayan jauh Hasan melirik kearah Mawar yang masih terdiam dan melihat kearah jendela mobil, "Mawar." panggil Hasan.


"Hem." entah mengapa tiba-tiba airmata Mawar jatuh dari tempatnya, Mawar tidak tahu mengapa dirinya bisa sensitif ini, Mawar segera menghapus airmata itu, "Harusnya Aku tidak merasakan sesakit ini." batin Mawar.


Hasan menyadari bila Mawar menangis menambah rasa bersalah kepadanya, Hasan menepikan mobilnya, "Mawar, lihat Aku." pinta Hasan, Mawar tidak bergeming dirinya masih setia memandang kearah jendela.


"Aku minta maaf."



#Maafkan Aku juga ya 😭😭


*😈😈😈😈😈😈😈


#Jangan marah-marah kakak zeyeng, kata babang Hasan nanti cepat tua 😂😂


*Kata Mawar semua pasti tua thor 😑😑😑😑


#Hahahhahah, Aku lagi sibuk didunia nyata sampai hari selasa mungkin, maafkan Aku 😢😢😢


*Kok gitu sih thor 😣😣😣


#Maaf ya kakak-kaka zeyeng, mau bagaimana pun pekerjaan didunia nyata harus Aku pentingkan 😧😧😧


*Gak asyik lu thor 😤😤


"Diasyikin aja pakai tiktok wkwkwkwkw 😂😂😂😂