
Putra maju kedepan dan berhenti disamping kakaknya, "Jangan macam-macam, Tuan. Aku akan melaporkan Tuan kepolisi!" ancam Putra yang tidak tahu siapa Grissam itu dan kenapa sampai menyandra ayahnya.
Grissam memasukkan tangannya kedalam saku celananya sambil tersenyum mengejek kepada Putra, "Lapor saja! Saya jutru sangat senang!" ucap Grissam santai.
"Lepaskan Papahku, Tuan." Grissam beralih memandang Zaki.
"Aku tidak akan melepaskan ayahmu semudah itu anak muda! setelah apa yang sudah dia perbuat kepada anak dan menantuku!" Grissam menunjuk Panji dengan sangat geram.
Grissam sangat menyesal mengapa tak bisa menjaga anaknya, harusnya dia mengirim orang-orangnya untuk menjaga anaknya walau mereka berjauhan, Grissam pikir Jacson kelak akan kembali namun pada kenyataannya dia takkan kembali untuk selama-lamanya dan Grissam sangat menyesali kekuasaannya yang tidak bisa menjaga anak dan menantunya.
Wajah Panji sudah terlihat sangat pucat, dia takut bila Grissam mengatakan yang sebenarnya kepada anak-anaknya, Zaki dan Putra juga merasakan ketakukan melihat wajah Grissam yang sangat tidak ramah.
"Maksud Tuan apa?" tanya Zaki meminta jawaban.
"Kalian dengar baik-baik Zaki Atmawijaya dan Putra Atmawijaya! kalian itu adalah anak seorang... Pembunuh!" Grissam menatap Zaki dan Putra dengan tajam.
Zaki dan Putra memelototkan matanya karena terkejut dengan pernyataan Grissam, sedangkan Panji menunduk menyesal, entah apa yang harus dia jelaskan kepada anak-anaknya.
"Bahkan! kecelakaan mertuamu juga disebabkan oleh...Papahmu!" Grissam melirik Panji yang sedang menunduk karena merasa sudah tidak punya harga diri lagi.
Putra menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin!" teriak Putra, Putra ingin memukul Grisaam namun Jefry menghalanginya dengan cara memegang tangan Putra yang sudah ingin memukul wajah Grissam.
"Jangan bertindak bodoh!" tekan Jefry.
Putra melepaskan tangannya dari cengkraman Jefry, Putra mendelikkan matanya kepada Jefry karena kesal sudah menggagalkan rencananya yang ingin memukul Grissam.
"Itu tidak mungkin! Papahku orang yang baik, Tuan." kata Zaki yang sebenarnya tubuhnya kini terasa sangat lemas karena pernyataan yang disampaikan oleh Grissam.
"Tunjukan barang buktinya, Jef!" perintah Grissam.
Jefry segera mengambil barang bukti dan menunjukkannya kepada Zaki dan Putran Zaki menerima barang bukti itu dengan tangan yang bergetar, rasanya sulit sekali percaya bila semua ini adalah rencana ayahnya, ayah yang selama ini menjadi kebanggaannya, melakukan semua ini? tidak masuk akal bukan? tapi kenyataannya sekarang membuat hati Zaki merasa hancur, bukan hanya Zaki tapi Putra pun tidak menyangka bila ayahnya bisa melakukan itu semua.
Zaki bersimpuh didepan ayahnya, "Pah, katakan kalau ini semua tidak benar, Pah." Zaki sangat berharap jika ini adalah mimpi buruk.
Panji menunduk tidak berani melihat sang anak, kini semua sudah hancur, harga dirinya sudah tidak ada lagi didepan mereka, rahasia yang selama ini dia pendam kini sudah terbongkar dengan cara yang tidak pernah Panji bayangkan.
"Pah! jawab Zaki, Pah!" teriak Zaki yang melihat ayahnya hanya menunduk diam.
"Pernikahanmu! juga akan dia jadikan sebagai alat mencari kelemahan perusahaan anak saya! dan satu lagi. ayahmu ini mencintai menantu saya hingga tega menghabisi nyawa anak saya!"
"Menurutmu! balasan apa yang pantas untuk ayah kalian ini? tiga nyawa sudah dia korbankan? dan mungkin ada korban lagi yang belum Aku temukan!" ucap Grissam membuat Panji bergetar, bukan hanya Panji, Zaki dan Putra pun tidak tahu harus bagaimana, harus membela dengan cara seperti apa?
"Jika nyawa harus dibalas dengan nyawa, maka nyawa kalian juga harus akan menjadi taruhannya!" Panji langsung mendongak menatap Grissam.
Panji menggelengkan kepalanya, "Ini salahku Tuan, bukan mereka, tolong jangan lakukan apapun kepada anak saya, Tuan." Panji meminta permohonan kepada Grissam.
"Lalu apa menurutmu anak Aku itu bersalah! Ha!" teriak Grissam.
"Kamu tahu Panji! Aku pulang ke Indonesia dan berharap bisa menebus penyesalanku dan bertemu dengan anakku, tapi Kamu! membuat Aku tidak bisa bertemu dengannya selama-lamanya! apa kebaikan anakku kepadamu tidak merubah hatimu untuk berpikir? tidak kan? dan itu akan Aku lakukan juga kepada anak-anakmu! agar kita impas bukan!" ucap Grissam penuh penekanan.
"Tolong, Tuan. jangan lakukan apapun kepada anak Saya, Aku mohon! hukum Aku saja, Tuan." mohon Panji.
"Nyawamu tidak cukup untuk menggantikan nyawa yang sudah Kamu hilangkan, Panji Atmawijaya!" teriak Grissam.
"Ikat mereka!" suruh Panji kepada anak buahnya yang berada didalak ruangan itu, seketika anak buah Grissam langsung menjalankan perintahnya.
"Tuan." panggil Zaki, Zaki tak kuasa menahan airmatanya, apa? apa yang harus dia lakukan saat ini? mungkinkan dia harus mati dengan cara seperti ini? bagaimana caranya dia mengatakan kepada istri dan ibunya? Zaki berpikir keras untuk menemukan titik terang namun titik terang itu sungguh tidak bisa Zaki lihat saat ini.
"Bolehkah Aku meminta satu permintaan sebelum Tuan mengambil nyawaku." ucapan Zaki membuat hati Panji terenyuh, bagaimana bisa Zaki berkata seperti itu, ini bukanlah kesalahannya, ini kesalahan ayah yang tidak bertanggung jawab.
"Tolong beritahu istriku, Tuan. Kalau Aku sangat mencintainya. Sampaikan juga permintaan maafku kepadanya karena sudah mempunyai ayah yang tidak bermoral." permohonan Zaki membuat jantung Panji terasa berhenti berdetak, apa Zaki menyesal mempunyai ayah sepertinya? itu pasti! bukan hanya Zaki, Putra pun seperti itu.
^
Dibalik pintu Hasan begitu terpukul mengetahui kebenarannya, badan Hasam terasa lemas hingga dia menjatuhkan dirinya, duduk bersimpuh, airmatanya jatuh begitu saja, bayangan kedua orangtuanya terlintas jelas didalam pikirannya saat ini, Hasan tidak habis pikir kenapa orang yang selama ini dia sayangi tega melakukan ini kepadanya. Bisakah waktu terulang kembali? dan Hasan akan memberikan seluruh hartanya kepadanya dan menggantikannya dengan nyawa orangtuanya. Hasan tidak butuh harta ini karena kasih sayang kedua orangtuanya jauh lebih berharga dari apapun.
Nadine ikut merasakan apa yang Hasan rasakan, Nadine juga menyimpuhkan dirinya disamping Hasan, "Tuan." Nadine mengusap pundak Hasan, airmatanya juga ikut menjadi saksi betapa pilunya melihat lelaki yang saat ini berada disampingnya.
"Apa yang harus Aku lakukan, Nad." ucap Hasan dengan lirih namun masih terdengar ditelinga Nadine.
"Apa salah kedua orangtuaku hingga paman tega melakukan ini? mereka adalah harta berhargaku, Nad. Aku tidak peduli dengan harta yang kumiliki sekarang. Yang Aku butuhkan adalah kedua orangtuaku."
Nadine terdiam, perkataan yang keluar dari bibir Hasan terasa sakit juga dia rasakan, walaupun dia mempunyai orangtua yang tidak menyayanginya tapi Nadine sangat menyayanginya, airmata Nadine semakin deras jatuh dari tempatnya.
Hasan mengambil ponsel dan mencari nama disebuah kontak, saat menemukannya, Hasan menuliskan sesuatu kepadanya.
Hasan berdiri lalu menghembuskan nafasnya, Hasan harap ini semua mimpi buruk dan bukan kenyataan pahit yang harus dia terima, Hasan mengulurkan tangannya kepada Nadine agar dia juga berdiiri.
"Tuan yakin ingin masuk?" tanya Nadine yang sudah memegang knop pintu.
Hasan menganggukan kepalanya, Hasan terkejut ketika eyang tengah memegang sebuah pistol dan mengarahkannya kearah pamannya.
Hasan berlari dan menghadang eyang, Grissam sangat terkejut dengan kehadiran cucunya, Panji, Zaki dan Putra pun sangat terkejut dengan kedatanga Hasan yang kini tengah berhadapan dengan eyangnya.
"Apa Eyang juga akan menjadi seorang pembunuh? kalau begitu, bunuh Hasan juga Eyang, agar Hasan bisa bertemu dengan ayah dan ibu." pistol Grissam terjatuh kelantai, hatinya terenyuh mendengar ucapan Hasan.
Hasan berbalik badan dan menatap pamannya, dia langsung mendudukan dirinya dilantai dan lututnya menjadi penyangga tubuhnya.
Hasan menunduk menangis, apa? apa yang harus dia lakukan sekarang? ini sungguh kenyataan sulit baginya, disisi lain dirinya sangat terpukul bila pamannya lah yang membuat orangtuanya meninggal, dan itu tidak termaafkan baginya, "Kenapa? kenapa Paman melakukan ini? apa salah Hasan, Paman?"
"Jika harta yang Paman mau, ambil lah dan kembalikan kedua orangtuaku. Aku hanya ingin mereka kembali." mendengar perkataan cucunya membuat tubuh Grissam terasa lemas, dia pun bersimpuh dilantai seperti apa yang Hasan lakukan, airmata penyesalan juga mengalir dari mata seorang kakek, apa yang Hasan rasakan saat ini juga dirasakan olehnya, ingin menukar harta dengan nyawa anaknya yang tak mungkin kembali lagi.
"Ada apa ini?" suara seorang wanita membuat semua menatap kearah pintu.
*Ha...dibikin nanggung thor 😡😡😡
#biar tambah kangen 😄😄
*tapi kan kita penasaran 😑😑😑
#heheheh...author juga penasaran 😂😂
*Kan lu yang nulis thor, masa ikut penasaran juga 😯😯😯
#kalau author penasarannya ada yang kangen enggak dengan karya author yang receh ini 😂😂😂😂
*Lu kira ngamen thor, receh-receh 😡 udah buruan lanjutin 😈😈
#Kaburrrrrrrrrrrrrrrr 😜😜😜😜😜😜