Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Kalian pacaran?



Pagi itu Hasan berangkat ke kampus bersama Nadine dan seperti biasa diantar oleh Jefry, saat sampai di kampus, Hasan dan Nadine bingung karena suasana kampus saat itu cukup ramai, "Ada apa? kok tumben rame?" tanya Nadine yang entah kepada siapa karena Hasan pun tidak tahu.


Dari kejauhan seorang wanita menunjuk Hasan, "Itu dia, Kak!" teriak wanita itu yang tak lain adalah Gina.


Seorang lelaki tampan mengikuti arah tunjuk Gina, "Hasan?" Gina melongo mendengar gumaman kakaknya.


"Kakak kenal?" tanya Gina.


"Jelas kenal lah, Dek. itu bos Kakak diperusahaan!" ucap seorang lelaki yang bernama Sony kakak Gina.


Gina begitu terkejut mendengarnya bukan hanya Gina, Ayu dan Sasa juga terkejut, "Kakak bercanda nih! masa Hasan itu bos diperusahaan Kakak?" sergah Gina tak percaya.


Ramainya kampus itu karena para mahasiswi sedang melihat kakak Gina yang ketampanannya memukau penglihatan mereka.


Hasan berhenti didepan Gina dan yang lainnya, Sony terdiam menatap wanita yang ada disamping Hasan sampai Gina sang adik menyadarkannya, "Masya Allah..wanita shalehah." gumam Sony matanya tak berkedip memandang Nadine, mendengar gumaman Sony, Nadine bersembunyi dibalik punggung Hasan.


"Ehm..." Hasan bergumam untuk menyadarkan Sony.


"Eh...Tuan, maaf." Sony tersenyum kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Hasan memperhatikan lelaki yang berada didepannya, Sony sadar sedang diperhatikan oleh Hasan yang ternyata bosnya diperusahaan, "Maaf Tuan, Aku ijin sebentar karena tadi adik saya ini bikin ulah, jadi Aku harus menyelesaikannya Tuan." gumam Sony sambil menundukkan kepalanya.


Hasan memandang Gina, Gina menjadi salah tingkah karena rencananya yang ingin Hasan dimarahi oleh kakaknya justru malah dirinya yang mendapatkan kejutan yang sangat tidak masuk diakal Gina.


"Pergilah ke kantor dan kerjakan pekerjaanmu dengan baik." perintah Hasan, Sony langsung menganggukan kepalanya. Sony adalah manager diperusahaan HJ.GRUP milik Hasan.


Setelah berucap Hasan langsung masuk kedalam kelasnya tak lupa mengajak Nadine, Sony memandang Nadine dengan kagum saat Nadine berjalan melewatinya.


Setelah melihat Hasan sudah jauh, Sony menatap adiknya dengan tajam, "Maaf Kak, Gina gak tahu kalau dia itu bos Kakak." Gina melirik jejak Hasan.


"Awas jangan bikin ulah sama Tuan Hasan." Sony menunjuk Gina untuk memberikan peringatan.


"Iya iya!" kesal Gina lalu memalingkan wajahnya kearah lain, Gina begitu kesal apalagi melihat mahasiswi masih heboh melihat kakaknya.


"Kakak! sudah sana pergi! lihat tuh, mahasiswi disini kaya gak pernah lihat orang tampan saja!" ucapan adiknya membuat Sony melihat sekelilingnya, Sony tersenyum bangga karena dirinya memiliki ketampanam diatas rata-rata sehingga dimanapun dia berada selalu menjadi pusat perhatian para wanita.


"Dek, wanita yang tadi disamping Tuan Hasan siapa?" lirih Sony didekat telinga Gina.


"Gina gak tahu!" kesal Gina lalu pergi meninggalkan kakaknya begitu saja, Ayu dan Sasa langsung mengikuti Gina pergi.


"Huffffff adik menyebalkan! Aku penasaran!" Sony tersenyum membuat para mahasiswi berteriak, Sony menggelengkan kepalanya lalu pergi dari kampus adiknya, para mahasiswi melihat kepergian Sony dengan gumaman-gumaman memuji ketampanan Sony, Sony cuek dan berjalan cool melewati mereka.


^


Ellois sangat geram ketika mendengar cerita suaminya, ingin rasanya Ellois menghukum langsung Panji karena ulahnya. Tapi mendengar kedewasaan Hasan membuat amarahnya sedikit mereda walah kesedihan kini semakin menyelimuti hati Ellois.


Ellois pergi kekamar Hasan untuk melihat foto-foto Jacson dan Fatimah, rasa rindu dan bersalahnya semakin terasa saat mengetahui kebenaran bahwa anak dan menantunya meninggal bukan murni kecelakaan tapi rencana Panji.


Ellois duduk disisi ranjang yang dekat dengan meja kecil dikamar Hasan, Ellois membuka lemari kecil yang berisi album foto-foto anak dan menantunya bahkan cucunya saat masih kecil.


Ellois mengusap wajah anaknya difoto, "Maafkan Mammy Jacson, harusnya Mammy mengikut kemauanmu." lagi-lagi Ellois bersedih.


Grissam menyusul istrinya dan duduk disamping Ellois, "El...Jacson sudah bahagia bersama Fatimah juga Arman." lirih Grissam.


"Aku hanya merindukannya, Sam. mengapa kita menjadi orangtua yang sangat bodoh saat itu." kata Ellois.


"Sudahlah El..." sergah Grissam.


Barang itu adalah kalung liontin milik Nadine yang saat itu diberikan kepada Hasan sebagai tanda terimakasih, dan Hasan menyimpannya disamping tumpukan album foto miliknya.


"Sam..." panggil Ellois.


"Ada apa El?" Grissam melihat benda yang berada ditangan istrinya, "Ini kan?" Grissam mengambil kalung itu dari tangan istrinya.


"Itu bukannya kalung Arman yang dia beli di toko berlian kita Sam?" Grissam memperhatikan kalung itu dengan sangat teliti, Grissam lalu membuka liontin itu dan matanya membelalak saat melihat gambar didalam liontin itu.


"Iya El, ini tidak salah lagi, ini kalung Arman yang dia beli untuk anak-anaknya." seru Grissam.


Grissam berpikir sejenak, "Tapi kok ada dicucu kita ya El?" tanya Grissam.


"Kita harus minta penjelasan sama Hasan, darimana dia mendapatkan kalung ini, ini petunjuk untuk menemukan anak sulung Arman yang hilang El!" teriak Grissam dengan semangat.


"Kau benar Sam, lebih baik kita kerumah Rumi sekarang dan beritahu cucu kita untuk pergi kerumah Rumi saat pulang kampus nanti." tutur Rumi dan diangguki oleh Grissam.


^


"San." panggil Adi dan Rio bebarengan.


"Ada apa?" tanya Hasan dan mempersilahkan Adi dan Rio untuk duduk, Hasan juga memesankan minuman dan makanan untuk mereka.


"Putra mana?" tanya Hasan yang tidak melihat Putra bersama mereka, walaupun saat dikelas Hasan melihat Putra.


"Itu dia San, hari ini Putra tidak seperti biasanya, dia tidak mau diajak kekantin dan jarang bicara hari ini." jelas Rio.


Hasan menghembuskan nafasnya, Hasan tahu penyebab Putra menjadi seperti itu, Hasan tersenyum kepada Rio dan Adi, "Biarkan dia sendiri dulu, nanti dia pasti kembali seperti dulu lagi." tutur Hasan.


"Apa Putra ada masalah?" tanya Rio yang sudah hapal dengan sikap Putra.


Hasan melihat teman-teman Putra yang sudah menjadi temannya, "Dia baik-baik saja." jawab Hasan tidak mau memberitahu yang sebenarnya, Hasan tidak ingin melihat Putra terpukul lagi saat semua orang tahu kebenaran tentang ayahnya.


"Kalian pacaran?" tanya Adi tiba-tiba, karena melihat Hasan selalu bersama Nadine.


Hasan dan Nadine saling pandang mendengar pertanyaan Adi, "Tidak Tuan, Aku hanya wanita yang ditolong oleh Tuan Hasan saat itu." saut Nadine.


"Oh kirain pacaran." Adi terkekeh, "Kalau Aku yang menolongnya Aku akan meminta imbalan agar Kau menjadi pacarku." tambah Adi yang mendapat tatapan tajam dari Rio.


"Aku hanya bercanda." Adi terkekeh kembali, "Tapi kalau beneran tidak apa-apa." Adi menatap Nadine dengan tatapan suka.


"Belajar! jangan mikirin wanita dulu!" tegas Hasan yang tidak suka saat melihat Adi menatap Nadine dengan tatapan suka.


"Kenapa? jangan-jangan Kamu cemburu ya?" goda Adi menunjuk Hasan sambil tersenyum meledek Hasan.


Hasan tersedak saat minum mendengar kata-kata Adi, wajah Nadine terlihat merah karena malu, didalam hatinya berharap juga Hasan cemburu kepadanya, ah mikir apalah Nadine.


#Dikit lagi 😡😡😡😡


*Yang penting rutin kakak-kakak Zeyeng 😄😄😄😄


#Lu mah nyebelin thor 😈😈😈


*Nyebelin tapi ngangenin kan ??😂😂😂😂😂


#PD banget lu thor 😕😕 Yang dikangenin tulisanmu thor bukan Kamunya! 😁😁😁😁