Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Terimakasih



Hasan mengetuk pintu kamar orangtuanya dimana Nadine berada. Hasan tercengang saat pintu terbuka karena melihat Nadine memakai baju hijab milik ibunya yang sangat pas dibadan Nadine.


"Tuan..." Nadine mendadahkan tanganya dihadapan wajah Hasan.


Hasan tersadar lalu beristigfhar "Ayo kita makan." ajak Hasan.


"Tuan...aku merasa tidak pantas memakai pakaian ini." Nadine menunduk.


Hasan berbalik badan "Memang kenapa?" tanya Hasan.


"Dosaku sangat banyak Tuan." Hasan terdiam dan tertegun.


Hasan melangkahkan kakiknya beberapa langkah kearah Nadine "Dan pakaian ini yang akan menutupi dosamu," Nadine mendongak dan melihat Hasan sudah berada didepannya.


Untuk sesaat pandangan mereka bertemu, namun setelah sadar Hasan segera berpaling dan membalikan badannya setelah menyuruh Nadine untuk turun kebawah.


Nadine duduk dihadapan Hasan "Dimana supir Tuan tadi? apa tidak ikut makan bersama?" tanya Nadine.


"Nanti kalau lapar dia pasti makan." jawab Hasan.


"Lelaki ini aneh! dingin tapi baik." batin Nadine.


"Siapa namamu Tuan?" tanya Nadine ingin tahu.


"Panggil saja Hasan." jawab Hasan sambil terus makan.


Nadine tersenyum dan menganggukan kepalanya "Baik Tuan Hasan."


"Hasan saja. tidak usah pakai Tuan." kata Hasan.


"Kau adalah Tuanku karena kau telah menolongku." ucap Nadine memaksa.


"Yang menolongmu itu Allah bukan aku, maka berterimakasihlah kepada-Nya." tutur Hasan.


Nadine semakin merasa kagum dengan kepribadian Hasan "Orangtuamu mana Tuan." tanya Nadine lagi.


Hasan mendongak dan melihat Nadine "Mereka sudah disurga." jawab Hasan.


Nadine terkejut dengan jawaban Hasan "Maafkan aku Tuan." Nadine menunduk merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. kamu masih sekolah?" tanya Hasan.


Nadine menggelengkan kepalanya "Tidak Tuan. aku sudah bekerja." jawab Nadine.


Hasan berhenti mengunyah lalu melihat Nadine "Kenapa tidak sekolah lagi? lalu bekerja dimana?" tanya Hasan merasa kasihan.


"Kata ayah tidak mempunyai biaya. aku bekerja di HJ.GRUP Tuan sebagai OB." jawab Nadine.


"HJ.GRUP? OB?" tanya Hasan memastikan, Nadine menganggukan kepalanya.


Hasan terdiam lalu melanjutkan makannya kembali tanpa memberikan komentar atas jawaban Nadine.


^


"Dek..." Panggil Zaki kepada Melati.


"Iya Mas..." jawab Melati lembut.


Zaki menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Melati "Apa Mas boleh memelukmu?" ijin Zaki, Melati dengan malu-malu menganggukan kepalanya.


Zaki merasa senang dan langsung memeluk melati "Makasih Dek...Mas tahu kamu belum bisa mencintai Mas, tapi Mas akan berusaha untuk selalu membuatmu agar bisa mencintai Mas." ucapan Zaki membuat airmata Melati mengalir.


Melati membalas pelukan suaminya "Melati akan berusaha Mas..." gumaman Melati membuat hati Zaki terasa sejuk.


Zaki merasa sejuk hatinya ketika bisa menikahi wanita yang shalehah seperti Melati walaupun semua terjadi karena keadaan tetapi dengan keshalehannya Melati bisa menerima dan saling mengerti bukan saling membenci.


Mereka berdua tertidur sambil memeluk satu sama lain, dan saat Zaki terbangun dengan posisi yang masih memeluk Melati membuat senyum dibibirnya mengembang "Mas akan menunggumu mencintai Mas Dek." gumam Zaki sambil menyibakan rambut yang menutupi wajah istrinya.


Melihat istrinya tertidur pulas membuat Zaki puas memandang wajah cantik istrinya, jari telunjuk Zaki mengusap pipi Melati dengan lembut.


Karena usapan Zaki yang tidak berhenti membuat Melati mengerjapkan matanya "Mas..." ucap Melati saat melihat mata Zaki masih terbuka.


Zaki tersenyum "Tidurlah. Mas hanya ingin memandang wajahmu yang sangat cantik ketika tidur." gombal Zaki.


Wajah Melati bersemu merah mendengar gombalan suaminya "Mas ini..." Melati membenamkan wajahnya didada suaminya karena malu.


^


Keesokan harinya


Nadine sudah terbangun saat adzan subuh berkumandan, Nadine melaksanakan Shalat, hal jarang Nadine lakukan namun kali ini karena Hasan, Nadine menjadi rajin untuk beribadah.


Nadine membantu masak untuk sarapan tuan mudanya.


Nadine juga membantu yang lain saat Hasan belum juga turun.


"Ayo kita sarapan." perintah Hasan.


Nadine mendekat kearah meja makan dan duduk ditempat biasa yaitu didepan Hasan "Setelah ini ikutlah denganku." perintah Hasan.


"Kemana?" tanya Nadine penasaran.


"Ikut saja!" tegas Hasan.


Setelah sarapan, sesuai perintah Hasan, Nadine akan ikut dengan Hasan hari ini.


Jefry sudah menunggu didalam mobil, setelah Hasan dan Nadien masuk kedalam mobil, Jefry segera malajukan mobilnya meninggalkan rumah Hasan.


Mobil Hasan sampai didepan kampus, Nadine membuka pintu mobilnya dan melihat kampus dengan takjub "Apa Tuan akan menyuruhku masuk juga?" tanya Nadine.


"Ikutlah." jawab Hasan lalu masuk kedalam kampus dan diikuti Nadine.


Saat Hasan masuk kedalam kampus anak-anak yang menganggumi Hasan terlihat saling berbisik karena Hasan datang bersama wanita.


"Siapa wanita itu?" bisik mahasiswa yang sedang berkumpul.


"Tidak tahu!" seru yang lain.


"Hilang kesempatan kita dong buat deketin Hasan." celoteh lagi yang lain membuat telingaku begitu panas saat mendengarnya.


Hasan masuk kedalam ruang dosen diikuti oleh Nadine "Permisi Pak." salam Hasan.


"Eh Hasan...silahkan duduk Nak." Dosen Alex mempersilahkan Hasan dan Nadine duduk.


Hasan dan Nadine duduk lalu Hasan mulai berbicara "Maaf Pak Dosen...aku kemari ingin mendaftarkan dia menjadi mahasiswa disini." Nadine membulatkan mulutnya karena terkejut.


"Aku?"


Hasan menganggukan kepalanya "Oke Nak Hasan...kita akan menerima dia sebagai mahasiswa baru." ucap dosen Alex


Hasan lalu berpamitan kepada dosen Alex dan pergi kekelasnya.


"Hasan!" teriak Putra lalu berlari agar segera sampai didepan Hasan.


Hasan berbalik badan "Tidak usah lari begitu!" marah Hasan.


Putra terkekeh "Biar sehat."


Putra merangkul pundak Hasan tanpa memperdulikan Nadine yang berada dibelakangnya.


"Apa aku dan teman-temanku boleh main kerumahmu?" tanya Putra.


"Datang saja." jawab Hasan.


^


Mobil Zaki sampai didepan kampus Melati "Dek..." Melati menoleh kearah suaminya.


"Belajar yang rajin." ucap Zaki gugup karena bukan itu sebenarnya yang ingin dia katakan.


Melati tersenyum lalu mengambil tangan Zaki untuk menyaliminya "Doakan Adek Mas." ucap Melati.


"Mas akan selalu mendoakanmu." ucap Zaki.


Melati akan turun namun panggilan Zaki mengurungkannya "Ada apa Mas?" tanya Melati bingung.


"Mas boleh mencium keningmu?"


Melati menunduk malu setelah itu mendongak dan menganggukan kepalanya, Zaki langsung mencium kening Melati "Makasih Dek." Zaki tersenyum.


"Itu sudah hakmu Mas." kata Melati.


Melati turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada suaminya, setelah istrinya turun Zaki menjalankan mobilnya dan meninggalkan kampus istrinya.


Melati masuk kedalam kampus, sampai diruangannya Melati duduk ditempat biasa Melati duduk. Melati melihat wanita yang belum pernah Melati lihat "Assalamualaikum." salam Melati kepada Nadine.


"Wa'alaikumsalam." jawab Nadine.


"Mba Mahasiswa baru?" tanya Melati


Nadine mengangguk lalu mengulurkan tangannya kepada Melati "Nadine."


"Melati."


Hasan melihat Melati dengan perasaan yang berpura-pura untuk kuat, Melati menoleh kebelakang "Kak Hasan..." panggil Melati, Hasan hanya tersenyum.


Nadine berpindah duduk disamping Hasan "Tuan terimkasih." ucap Nadine.


Ngantuk tapi tetep garap 😂😂 karena author sayang kalian 😄😄😄😄😄