Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Pertengkaran Suami-Istri Yang Tak Muda Lagi



Saat Rumi berada dirumah sakit, Mawar, Hasan dan yang lain silih berganti menjenguk keadaan Rumi, Putra pun sering menjenguk mertua kakaknya tersebut.


Siang itu Hasan datang bersama kedua eyangnya, mereka ingin sekali menjenguk orang yang sudah sangat setia menemani kehidupan anak dan cucunya.


"Assalamualaikum." salam Hasan saat membuka pintu ruangan Rumi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mawar dan Rumi bersamaan.


"Bagaimana keadaanmu, apa sudah merasa lebih baik?" tanya Ellois setelah memeluk Rumi.


Rumi mengangguk sambil tersenyum tipis, "Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, Tante." Ellois dan Grissam saling pandang dengan senyuman mendengar jawaban Rumi.


"Kamu harus lekas sembuh, agar segera menikahkan mereka." Grissam melirik Mawar dan Hasan bergantian, Mawar menunduk malu sedangkan Hasan tersenyum simpul.


"Tentu, Om." kedua tangan Rumi membelai kepala Mawar dan Hasan bersamaan.


"Semangat Bibi." Hasan mengepalkan tangan dan mengangkatnya, Mawar terbengong melihat kelakuan Hasan yang seperti anak kecil.


Grissam dan Ellois tertawa, "Sepertinya cucu Eyang ini sudah tidak sabar untuk menikah!" seru Ellois mengundang tawa Grissam dan Rumi.


Hasan tersenyum simpul dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Pesta cucuku harus mewah Rum, Aku tidak mau kehilangan momen seperti Aku kehilangan momen Jacson saat menikah dengan Fatimah." tutur Ellois yang masih merasa menyesali semuanya.


"Tidak usah berlebihan Eyang, sederhana saja, iya kan Mawar?" Hasan melirik Mawar meminta persetujuan.


"Ha! apa?" jawab Mawar yang gugup karena Hasan tiba-tiba bertanya kepadanya.


"Eyang tidak mau! kalau pernikahan kalian sederhana, kalian tidak usah menikah kalau begitu!" kesal Ellois, Grissam mengusap punggung istrinya agar bisa sabar berbicara.


Hasan menghembuskan nafasnya, "Terserah Eyang lah!" pasrah Hasan.


Ellois tersenyum lalu mengecup pucuk kepala cucunya, "Cucu pintar!" seru Ellois, Mawar meledek Hasan dengan menjulurkan lidahnya, Hasan memicingkan matanya kearah Mawar karena sudah berani meledeknya.


Mawar memalingkan wajahnya dengan angkuh, Hasan semakin dibuat kesal dengan Mawar, "Lucu sekali wajahnya." dalam hati Hasan ingin tertawa melihat wajah Mawar yang sangat menggemaskan.


^


"Dek, Mas berangkat ke kantor dulu ya? nanti sore kita kerumah sakit lagi." pamit Zaki lalu mencium kening istrinya.


"Mas..." panggil Melati dengan manja, Zaki sangat senang sekali jika istrinya memanggilnya dengan suara manja, semenjak hamil Melati selalu mengeluarkan suara manjanya dan karena itu Zaki merasakan jatuh cinta setiap hari kepada istrinya.


"Adek minta apa?" tanya Zaki yang sudah tahu apa maksud dari suara manja istrinya.


"Melati... ingin ikut." jawab Melati menunduk karena malu dengan permintaannya sendiri.


Zaki tersenyum lalu memeluk istrinya, "Ayo! Mas sangat senang sekali bila Adek mau ikut Mas ke kantor." Melati tersenyum senang mendengar jawaban suaminya.


^


Putra sampai di kantor orangtuanya, ya sekarang Putra bekerja diperusahaan orangtuanya sebagai wakil directur perusahaan FP.GRUP milik orangtuanya.


Hasan berjalan dengan terburu-buru karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dengan cepat, sampai diruanganya Putra duduk dan melihat dokumen-dokumen yang sudah ada dimejanya.


Putra sedikit kewalahan karena Putra belum juga menemukan sekretaris untuk membantunya, seringkali Zaki menawarkan bantuan kepadanya membuat pekerjaan Putra sedikit berkurang padahal pekerjaan kakaknya jauh lebih banyak dari dirinya.


Seseorang mengetuk pintu ruangan Putra, Putra pun menyuruh masuk tanpa menoleh kearah pintu, "Maaf Tuan, ini ada Cv orang-orang yang ingin menjadi sekretaris, silahkan Tuan lihat, jika ada yang Tuan inginkan silahkan panggil saya." tutur Rahmat sambil menyodorkan Cv orang-orang yang ingin mendaftar sebagai sekretaris.


"Hem, Kamu boleh keluar sekarang." jawab Putra tanpa menoleh karena berkas yang berada dimeja menguras kefokusannya.


Rahmat keluar dari ruangan Putra dan kembali mengerjakan tugasnya, Putra tidak langsung melihat Cv orang-orang itu karena pekerjaan dimejanya sangat banyak.


Zaki masuk kedalam ruangan Putra tanpa permisi membuat Putra terkadang kesal dengan kakaknya itu, "Masih banyak? perlu Kakak bantu?" tanya Zaki yang menjadi rutinitas dirinya untuk menawarkan bantuan kepada adiknya.


Putra melihat kakaknya jengah lalu kembali mengerjakam tugasnya, "Lihatin Cv ini saja! siapa tahu ada yang bisa menjadi sekretarisku!" seru Putra sambil menyodorkan Cv nya.


Zaki mengambil Cv itu lalu berdiri, "Kakak lihat diruangan Kakak saja ya, soalnya ada istri Kakak, takut jika dia menunggu lama." ucap Zaki.


"Cih! apa semua wanita kalau sudah menikah harus menempel terus sama suami! menyebalkan!" Zaki tersenyum mendengar umpatan adiknya.


"Makanya nikah, biar ada yang mengikutimu setiap saat!" ledek Zaki sebelum menutup pintu ruangan adiknya.


"Sial!" umpat Putra saat kakaknya meledek.


^


Ellois dan Grissam menyuruh Hasan dan Mawar untuk pergi ke butiq gaun pengantin, tanpa banyak membantah Hasan mengajak Mawar untuk pergi, karena jika membantah pasti ujung-ujungnya Hasan juga yang kalah.


Didalam mobil mereka saling diam tak bersuara, Hasan memutar lagu yang menjadi kesukaannya yaitu lagu-lagu dari Kang Abay untuk mengusir kesunyian diantara mereka.


"Itu yang nyanyi siapa?" tanya Mawar tiba-tiba.


"Aku serius!" kesal Mawar.


"Aku juga." menambah kekesalan Mawar.


"Ih!" Mawar melipat kedua tangannya diatas perut lalu memalingkan wajahnya dari Hasan.


Hasan terkekeh, entah mengapa Hasan sangat senang sekali meledek Mawar akhir-akhir ini, wajahnya selalu menggemaskan jika sedang kesal.


"Jangan marah-marah nanti cepat tua." Hasan melirik Mawar sambil tersenyum.


"Semua pasti tua." acuh Mawar tanpa menoleh kearah Hasan.


"Mawar..." panggi Hasan dengan suara mendayu-dayu, sedangkan jantung Mawar terasa berlari maraton mendengar suara Hasan.


"Astagfirullah." ucap Mawar dalam hati.


"Dosa loh dipanggil suaminya tidak mau menjawab."


"Belum!" sergah Mawar yang reflek melihat kearah Hasan, bibir Hasan menyunggingkan senyumnya.


^


"Putra!" teriak Adi yang datang bersama Rio.


"Kamu kira kantorku hutan apa!" seru Putra.


Adi terkekeh, "Kita main yuk! sudah lama nih kita tidak main bareng!" seru Adi lagi.


Rio duduk dihadapan Putra, "Gak nyangka sekarang Kamu bisa serius ini." kagum Rio.


Putra hanya diam lalu membereskan berkas-berkas yang berserakan dimeja, "Mau main kemana?" tanya Putra tanpa menoleh kearah teman-temannya.


"Ke club Herri gimana?" usul Adi yang langsung dipelototi oleh Rio.


"He...ayolah! Aku mau menengok sepupuku itu." ajak Adi.


"Boleh juga tuh! Aku juga sedang suntuk sekali otakku!" seruan Putra langsung mendapatkan teriak kesenangan Adi.


"Kalian berdua ini!" Rio yang lebih dewasa pemikirannya hanya menggelengkan kepalanya.


^


Seorang pelayan butiq yang dipilih Ellois berjalan kearah Mawar dan Hasan dengan membawa gaun pengantin yang paling mewah di butiq itu, "Nona, silahkan coba gaun ini." Mawar terpesona dengan desain gaun yang akan dia coba, dirinya melihat gaun itu dari atas sampai bawah.


Mawar hanya tersenyum dan mengambil gaun itu dari tangan pelayan butiq, "Terimakasih, dimana tempatnya?" sang pelayan mengantar Mawar untuk keruang ganti.


"Tuan, coba tuxedo ini?" sang pelayan lain mengumbar senyum sambil memberikan tuxedo pasangan dari gaun pengantin milik Mawar.


"Hem, baiklah." Hasan menerima tuxedo itu dan meminta pelayan untuk memberitahu ruangan ganti pria.


Saat berada didepan cermin, Mawar mematung saat dirinya memakai gaun yang sangat indah itu, "Apa Aku benar akan menikah? dengan Hasan? Aku memang sangat bahagia, tapi Aku masih tidak tahu perasaannya kepadaku." gumam Mawar yang masih memikirkan perasaan Hasan kepadanya.


Hasan tersenyum memandang dirinya didepan cermin, "Ayah, Ibu..Hasan akan menikah, semoga dia seperti Ibu yang akan menemani Hasan hingga mau menjemput." gumam Hasan seakan meminta restu kepada kedua orangtuanya.


^


Grissam, Ellois dan Rumi sedang sibuk memilih gedung dan dekorasi yang sangat bagus, mereka memiliki selera yang berbeda-beda hingga mereka belum menemukan tema yang cocok untuk Hasan dan Mawar.


"Ha! kalau begini terus kita tidak akan berhasil sepakat, ayolah Sam, kamu mengalah saja. Ikuti seleraku dan Rumi." kesal Ellois kepada suaminya yang selalu protes dengan pilihannya dan Rumi.


"Tidak! tidak! dia kan cucuku juga, enak saja Kau ini!" sergah Grissam.


"Kau ini! dengan istri sendiri saja tidak mau mengalah, Kau itu tinggal duduk manis tidak usah ikut campur dengan beginian!" ini yang Ellois tidak suka oleh Grissam, dirinya selalu ikut campur dengan masalah desain walaupun dia akui selama ini pilihannya selalu bagus dan membuat kagum banyak orang, tapi kali ini Ellois tidak mau kalah karena yang akan menikah itu adalah cucunya sehingga dirinya ingin memilih sendiri.


Rumi menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran suami-istri yang sudah tidak muda lagi itu, namun raganya tidak perlu ditanyakan lagi, mereka masih sangat terlihat masih muda.



#Hayoloh...mau pilih tema apa nih?? ada yang mau usul?? 😄😄


*Coba nanti kita pikirkan thor 😊😊


#Ah pembaca yang baik hati 😚😚


*Lu lagi ngerayu ya karena telat Up 😑😑😑


#Hahahahha kok tau sih? kalian dukun ya wkwkwkwkkwk