Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Aku Akan Menikahinya



Putra berlari dirumah sakit karena ingin segera sampai diruang perawatan kakak iparnya, "Kak..." panggil Putra saat membuka pintu, namun Zaki dan Melati tidak ada diruangannya.


Putra mengambil ponselnya lalu menghubungi kakaknya, "Kakak dimana?" tanya Putra saat panggilanya diangkat.


"Diruang perawatan Mamah, dikamar Mawar no7." jawab Zaki, Putra langsung mematikkan teleponnya dan berjalan cepat kekamar yang sudah kakaknya kasih.


"Kakak!" teriak Putra saat membuka pintu, Zaki, Melati dan Mawar tersentak saat Putra berteriak.


"Astagfirullah, ini rumah sakit bukan hutan!" tegur Zaki.


"Mamah tidak ada dirumah, Kak!" seru Putra, Zako dan yang lain terkejut mendengar berita dari Putra.


"Aku sudah mencarinya kemana-mana Kak, ponsel Mamah juga gak bisa dihubungi Kak, bagaimana ini?" wajah Putra terlihat sangat khawatir.


"Bibi baik-baik saja." suara Hasan menggema diruangan itu, semua melihat kearah Hasan yang baru masuk.


"Maksud Kamu?" tanya Zaki penasaran.


"Kalau kalian ingin bertemu dengan ibu kalian, pergilah kegedung Erlangga, disana ada anak buah Jefry yang akan memberitahu kalian." penuturan Hasan membuat semuanya mengerutkan keningnya karena bingung.


Wajah Zaki dan Putra langsung pias karena merasakan firasat yang tidak enak, "Apa maksud Kamu, ibuku terlibat dengan kaburnya papah, San?" tanya Zaki memastikan firasatnya.


Hasan duduk disisi ranjang Rumi sambil menatap wajah teduh orang yang selama ini sayang kepadanya tanpa kepalsuan, Hasan menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Zaki tanpa menoleh kearah Zaki.


Tubuh Zaki dan Putra terasa sangat lemas, sungguh semua ini seperti mimpi buruk bagi mereka, bagaimana bisa ibunya sendiri membantu papahnya untuk kabur dan membuat masalah lebih besar lagi, sungguh mereka sekarang sudah tidak mempunyai muka lagi dihadapan Hasan dan keluarga Melati.


Putra mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan kedua orangtuanya, "Aku harus memberikan pelajaran kepada mereka, terutama dengan Papah!" Putra ingin pergi dari ruangan itu namun suara Hasan menghentikkannya.


"Paman sudah bersama kedua orangtuaku dan juga Paman Arman." ucap Hasan tanpa menoleh, matanya masih menatap wanita paruh baya yang belum sadarkan diri.


"Mak-sudmu?" lirih Zaki, Melati dan Mawar hnaya bisa diam dan mendengar pembicaraan mereka, namun jantung mereka serasa berhenti berdetak saat mendengar ucapan Hasan.


Hasan terdiam tidak menjawab pertanyaan Zaki, diamnya Hasan menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Tubuh Putra tiba-tiba luruh dilantai, lututnya menjadi penyangga tubuhnya yang sudah sangat lemas itu.


Mawar berdiri dan menghadap kearah Hasan," Jangan bilang kalau Kamu yang melakukan ini semua?" Hasan memandang Mawar yang kini berada didepannya.


"Eyang." jawaban Hasan membuat Mawar merasa lega karena bukan Hasan yang melakukannya.


"Dia pantas untuk mati." ucap Rumi membuat semua terkejut.


"Mamah!" teriak Mawar dan langsung memeluk ibunya, Melati berjalan kearah ranjang dan melakukan hal yang sama seperti Mawar.


"Bibi." lirih Hasan, Hasan bersyukur melihat bibinya bisa sadar.


Hasan berdiri dan memanggil dokter yang menangani Rumi, sang dokter pun masuk kedalam ruangan lalu memeriksa keadaan Rumi.


"Alhamdulillah...semoga ini awal yang baik, usahakan untuk tidak membuatnya mengingat kejadian yang membuatnya sampai seperti ini." tutur sang dokter kepada Hasan dan Mawar yang mengantar dokter itu keluar dari ruangan Rumi.


"Terimakasih dokter." ucap Hasan dan Mawar bersamaan.


Rumi memang sudah sadar, namun pandangannya kosong, saat diajak berbicara pun Rumi tidak mau menjawabnya, Melati bersedih melihat keadaan ibunya, sedangkan Zaki dan Putra menatapa Rumi merasa bersalah atas perilaku kedua orangtuanya.


Hasan kembali duduk lalu menggenggam tangan Rumi, "Bibi..." panggil Hasan dengam suara lirih.


"Hasan senang Bibi bisa cepat sadar, tapi Hasan juga sedih melihat Bibi seperti ini, tidak seperti Bibi yang Hasan kenal." ucap Hasan lembut.


"Bibi sudah kotor." airmata Rumi jatuh dari pelupuk matanya.


"Tidak ada manusia yang bersih didunia ini Bi, jangan mengingat itu lagi, paman juga sudah mendapatkan balasannya, jadi Bibi tidak perlu khawatir lagi." tutur Hasan mencoba membuat Rumi sedikit melupakan kejadian itu.


"Katakan sama Hasan, apa yang harus Hasan lakukan agar Bibi tidak bersedih lagi? Hasan akan lakukan apapun untuk Bibi, Hasan ingin melihat Bibi seperti Bibi yang Hasan kenal bukan Bibi yang seperti ini." Rumi menoleh kearah Hasan.


"Kamu mau melakukan apapun untuk Bibi?" Hasan tersenyum dan mengangguk.


Hasan menyeka airmata Rumi, "Maafkan Hasan, Bi." Rumi menggelengkan kepalanya.


"Kamu janji akan melakukan apapun untuk Bibi?" Hasan kembali mengangguk lalu bibirnya mengulas senyuman agar Rumi percaya bila dirinya bersungguh-sungguh.


"Bibi minta, menikahlah dengan Mawar, agar Bibi merasa tenang." Mawar mendongak melihat ibunya dengan degupan jantung yang kini semakin cepat berpacu karena mendengar permintaan ibunya.


"Mah..." Mawar ingin menegur ibunya namun jawaban Hasan membuat Mawar bungkam.


"Hasan akan melakukannya Bi." Rumi tersenyum dan memeluk Hasan sambil menangis, Hasan membalas pelukan Rumi, mungkin ini adalah cara dirinya balas budi atas apa yang sudah keluarga mereka lakukan untuk dirinya selama ini.


ยค


Mawar duduk berhadapan dengan Hasan disebuah restoran yang berada didepan rumah sakit, Mawar menatap Hasan dengan tajam karena dirinya begitu kesal karena Hasan menerima permintaan ibunya tanpa berpikir, memang dia pikir pernikahan itu main-main apa? memang Mawar akui kalau dirinya sangat mencintainya tapi Mawar sungguh tidak tahu isi hati Hasan yanh sebenarnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? sudah naksir?" Hasan berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa sekarang, Hasan mengaduk-aduk minumannya.


"Cih! Kau ini sangat menyebalkan, kenapa menerima permintaan ibuku dengan enteng seperti itu, Kamu kira pernikahan itu main-main apa?" seru Mawar.


"Apa Kamu tidak mau menikah denganku?"


hati ingin tahu isi hati Hasan dan kini malah berbalik dirinya yang sedang diselidiki, sangat menyebalkan, keluh Mawar dalam hati.


"Aku ini bertanya, kenapa malah balik bertanya?" kesal Mawar.


"Kamu tinggal jawab mau atau tidak." Hasan tidak mau kalah membuat Mawar semakin kesal.


Hasan memangku dagunya dengan tangannya menunggu jawaban Mawar, "Waktumu habis untuk menjawab, jadi terima saja bila besok Kau akan menjadi istri Hasan Alfatar."


"San! Kamu kira pernikahan tanpa cinta itu bisa membuat kita bahagia?" Hasan menatap Mawar dengan serius sambil melipatkan kedua tangannya diatas perut.


"Apa Kamu tidak mencintaiku?" lagi-lagi Mawar terjebak pertanyaan Hasan.


"Jawab pertanyaanku!" seru Hasan ketika melihat Mawar hanya diam.


Mawar menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan, "Lalu apa Kamu mencintaiku?" Mawar balik bertanya berharap mendapatkan jawaban yang akan memuaskan hatinya.


"Jawab dulu pertanyaanku!" lagi-lagi Hasan tidak mau kalah.


"Ha! Kau ini sungguh licik sekali ternyata." Mawar memalingkan wajahnya dari melihat Hasan.


Hasan tersenyum simpul, "Aku hitunh sampai 3 kalau tidak menjawab, Aku akan membatalkan niatku, 1...2..."


"Iya Aku mencintaimu! puas!" Hasan terkekeh mendengar pernyataan Mawar, sedangkan Mawar kini merasa malu, Mawar melempar potato yang sedang dia makan kearah Hasan karena kesal sudah meledeknya.


"Sekarang giliranmu!" seru Mawar, Hasan menautkan alisnya.


"Tidak perlu ungkapan cinta, yang pasti Aku akan menjagamu dengan ragaku." wajah Mawar langsung bersemu merah karena ucapan Hasan, hatinya berbunga-bunga saat itu, namun tetap saja dirinya ingin jawaban lebih.


"Kau ini! pandai sekali berkata-kata, tanya apa jawabnya apa!" Mawar berpura-pura kesal.


โ™ก


#Nah siapa yang mau ikut Aku melihat pernikahan babang Hasan sama Mawar ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


*Dimana tempatnya thor ๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜ฏ


#Di Pulau Kapuk kakak Zeyeng, ini Aku lagi mau ke Pulau Kapuk ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


*Rese emang lu thor ๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก


#Wkwkkwkwkwk datangnya lewat mimpi kakak Zeyeng ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„