
Sampai dirumah Putra, Gina mengompres luka Putra dengan air hangat, "Ah." rintih Putra saat Gina menempelkan kain lap kompres kewajah Putra.
"Maaf." lirih Gina, Putra memperhatikan wajah Gina yang terlihat sedih, entah mengapa Putra tidak tega melihatnya.
Cukup lama Putra menatap wajah gadis yang selalu membuatnya kesal akhir-akhir ini, tetapi kali ini justru Putra betah memandang wajah gadis itu dari dekat.
Gina mengompres luka Putra dengan jarak yang semakin dekat membuat jantung Putra tiba-tiba seperti lari maraton rasanya, tanpa disuruh tuannya tangan Putra melingkar dipinggang Gina, Gina tersentak kaget dan malah membuat wajah mereka semakin dekat, Putra dapat merasakan nafas Gina yang wangi begitu pula dengan Gina, hatinya kini dag dig dug rasanya.
"Katakan masalahmu." lirih Putra.
Gina menelisik mata Putra, entah mengapa justru Gina menangis, Putra langsung memeluk Gina, tangis Gina semakin pecah ingin rasany dia bercerita semuanya namun lidahnya saat ini terasa kelu untuk berbicara.
Hati Putra ikut teriris rasanya melihat Gina menangis dalam pelukannya, Putra hanya bisa menenangkannya dengan memeluk Gina dengan erat seolah-olah Putra ingin menyampaikan bahwa ada dia disini.
Cukup lama Gina menangis, saat isakan Gina sudah tidak terdengar, Putra mencoba membelai rambut Gina dan memanggilnya, "Gin." lirih Putra, tidak ada sautan dari Gina.
"Gina." karena masih tidak menyaut akhirnya Putra menyibakkan rambut Gina yang menutupi wajahnya, Putra tersenyum simpul karena ternyata Gina tertidur dipelukannya.
Dengan pelan Putra menggendong Gina dan menidurkannya dikamarnya, saat menidurkan Gina lagi-lagi wajah mereka berdekatan sangat dekat, Putra menyibakan rambut Gina yang basah karena airmatanya dari wajahnya, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis menyebalkan ini?" gumam Putra, matanya tak berhenti menatap Gina yang sedang tertidur pulas.
^
Setelah mengantar Lina pulang, walaupun tadi sempat Lina memaksa Zaki dan Melati untuk mampir namun Zaki menolaknya dengan alasan sudah larut malam, sampai dirumahnya Zaki turun dari mobil lalu membuka pintu mobil istrinya, Zaki dapat melihat wajah istrinya yang masih belum berubah dari sebelumnya.
Melati masuk kedalam kamar disusul dengam Zaki yang membawa 1gelas susu ibu hamil, "Minumlah dulu, Dek." Zaki memberikan susu itu kepada istrinya.
Melati hanya memandang malas susu yang dibawa Zaki, "Letakan saja dimeja." acuh Melati yang sedang duduk disisi ranjang.
Zaki meletakkan susu itu dimeja kecil dekat dengan tempat tidur, Zaki lalu bersimpuh didepan istrinya lututnya menjadi penyangga tubuhnya, "Marahnya jangan kelamaan, kasihan dedek bayinya." tutur Zaki sambil mengusap perut Melati.
Airmata Melati yang sedari tadi dia tahan kini jatuh membasahi pipinya, Zaki mengusap airmata itu dengan ibu jarinya, "Mas minta maaf sudah membuatmu seperti ini, Mas tidak mau Kamu berpikir macam-macam, percayalah Mas hanya mencintaimu, Dek." Zaki menggemgam tangan istrinya lalu menciumnya.
Melati diam tidak merespon perkataan Zaki, "Dia...masalalu Mas yang sudah Mas lupakan, Mas tidak bisa menghindar pelukannya karena itu terjadi tiba-tiba." jelas Zaki.
"Mas tidak mau menceritakannya disana karena Mas tidak mau ada masalah dalam pernikahan Hasan dan Mawar."
"Jangan marah lagi." Zaki mendongak melihat istrinya.
"Dek." lirih Zaki.
"Dia sepertinya masih mencintaimu." ucap Melati.
"Tapi Mas tidak, Mas hanya mencintaimu." tegas Zaki
"Sekarang, tidak tahu nanti jika Aku sudah tidak cantik lagi." Zaki tersentak dengan ucapan istrinya.
"Demi Allah Mas tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun." janji Zaki.
Melati menunduk sedih, Zaki berpindah duduk disisi istrinya lalu memeluknya, "Jangan ragukan perasaan Mas, Dek. Itu membuat Mas sakit." Melati tambah terisak mendengar ucapan suaminya.
♡
Hasan memeluk pinggang Mawar dan menaruh dagunya dipundaknya, "Aku mencintaimu sejak berjanji bahwa Aku akan membahagiakanmu disaat Kamu akan pergi meninggalkanku karena menolongku." Mawar meneteskan airmatanya, Mawar tidak menyangka bila banyak fotonya yang terpajang dikamar Hasan.
"Sejak kapan foto-fotoku terpajang?" Mawar menoleh kearah suaminya.
"Sejak Akad terucap dari bibirku." suara Hasan yang terdengar sangat dekat telinganya membuat hati Mawar dag dig dug tidak jelas.
"Berarti baru dong." celoteh Mawar kurang puas.
Hasan membalikkan badan Mawar agar berhadapan dengannya, "Karena terkadang Aku takut bila orang yang kucintai tidak bisa kumiliki lagi, kata Ayah, Cintai istrimu karena dia milikmu." Hasan menatap lekat-lekat istrinya.
Wajah Mawar merah merona seperti tomat, melihat wajah istrinya memerah Hasan tersenyum lalu melepaskan jilbab yang Mawar kenakan jantung Mawar semakin tidak karuan rasanya.
"Dan Aku hanya ingin mencintai istriku." Hasan melepaskan ikat rambut Mawar lalu merapikan rambut Mawar yang panjang.
Hasan membalas pelukan istrinya, "Kenapa tidak mengatakannya dari dulu." tanya Mawar sambil terisak.
"Kan Aku sudah bilang, Aku hanya ingin mengatakannya pada istriku." Mawar melepaskan pelukannya.
"Berarti kalau Aku bukan istrimu Kamu tidak mencintaiku." ucap Mawar sambil mengerucutkan bibirnya.
Hasan terkekeh melihat wajah istrinya yang terlihat lucu, "Terpaksa harus melupakanmu." Mawar mengigit bibir bawahnya karena tidak tahu apa yang harus dia jawab mendengar perkataan Hasan.
"Jangan melakukan itu, Aku takut Aku tidak bisa tahan untuk..." Hasan mengedipkan satu matanya.
"Apa?" Mawar berjalan mundur sambil tersenyum malu.
"Untuk..." Hasan tersenyum usil.
Hasan menarik tangan Mawar dengan seketika Mawar memeluk Hasan, Hasan tersenyum beda dengan Mawar yang terlihat malu dan tegang.
"San..." lirih Hasan.
Hasan mengernyitkan keningnya, "Bilang apa tadi?" Hasan memiringkan kepalanya.
"Ha...san." ulang Mawar.
Hasan langsung menggeletiki Mawar, "Berani ya panggil suami dengan sebutan nama, hem." Mawar tertawa dengan ulah Hasan.
"Ampun...maaf." Hasan langsung berhenti menggelitik.
"Panggil yang benar, apa mau dihukum lebih dari ini hem." Mawar mundur kebelakang namun malah terpental kekasur hingga Mawar jatuh tertidur.
"Berarti Kamu mau hukuman yang lain ya?" Hasan menindih Mawar sambil tersenyum senang, matanya tak berkedip memandang wajah istrinya.
Mawar menggelengkan kepalanya, "Sayang..." Hasan tersenyum senang mendengar panggilan Mawar untuknya.
"Iya Cinta." balas Hasan.
"A..." belum sempat Mawar melanjutkan kata-katanya Hasan sudah membungkam bibir Mawar dengan bibirnya.
Hasan mencium bibir Mawar dengan lembut, tangannya menuntun tangan Mawar kelehernya, nafas Mawar memburu karena perlakuan Hasan begitu juga dengan Hasan yang sudah tidak bisa lagi menahan godaan istrinya.
Hasan melepaskan ciuman itu lalu menatap wajah istrinya, Hasan menyibakkan sedikit rambut yang menutupi wajah istrinya, "Terimakasih sudah mau menjadi istriku." lirih Hasan, jari telunjuknya bermain diwajah istrinya.
Mata Mawar terpejam karena sensasi yang dibuat Hasan sungguh membuat jantungnya kini kuat berpacu, "Aku juga berterimakasih karena Kamu juga mau menjadi suamiku." ucap Mawar saat membuka matanya.
Hasan tersenyum, jari telunjuknya mengusap pipi Mawar dengan lembut, Hasan mendekatkan bibirnya kembali menyatukan perasaan mereka, Hasan semakin tidak bisa menahan perasaannya saat mendengar desahan lirih dari bibir mungil istrinya.
♡
Dan akhirnya mereka pun...(bayangkan sendiri saja, author nulisnya cukup sampai sini 😂😂😂😂)
*Sial lu thor, nanggung atuh 😡😡😡😡
#Hahaha nanti kalau dijabarin semua nanti kalian khilaf kan nanti author yang dosa 😂😂😂😂
*Banyak alesan emang lu thor, lagi tegang juga 😬😬😬
#Apanya yan tegang kakak? tiang listrik??😅😅
*Bukan! tapi hati kita thor 😴😴😴
#Oh hati...hati ayam apa hati kambing? 😆😆
*Kurang asem lu thor! 😠😠😠