
Setelah menikmati keindahan King's College, Hasan, Jefry dan Albert pun pulang kerumah Grissam "Kamu habis minum?" tanya Hasan saat berada dimobil, Albert terkekeh dan menganggukan kepalanya.
Jefry menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Albert, sebab kelakuan Albert kini Jefry harus menyetir karena Hasan takut terjadi apa-apa jika Albert yang menyetir.
Hasan meninggalkan tempat itu, Hasan teringat Melati rasanya rindu sekali kepada gadis kecil yang selalu ada walaupun saat dirinya belum dikenal sebagai putra Jacson.
Hasan kembali mengambil ponsel dari saku celananya dan kembali menghubungi Melati "Assalamualaikum." salam Hasan ketika Melati mengangkat telponnya.
"Wa'alaikumsalam." jawab Melati menahan tangis.
"Dari siang Kakak menghubungimu tapi tidak diangkat-angkat," ujar Hasan sedikit cemas.
Airmata Melati mengalir mendengar suara Hasan, suara yang selalu dirindukannya "Melati baik-baik saja." kata Melati berbohong.
Hasan tersenyum mendengar jawaban Melati "Syukurlah jika Adek baik-baik saja, hati Kakak tenang sekarang," ucap Hasan tulus.
Airmata Melati tambah deras mengalir mendengar perkataan Hasan "Kakak belajar yang rajin ya agar segera pulang," ucap Melati lirih.
Senyum Hasan mengembang dibibirnya mendengar permintaan Melati "Apa Adek sudah merindukan Kakak?" ledek Hasan.
Hati Melati tambah pilu "He'em Adek sangat merindukanmu," setelah berucap, Melati menjauhkan teleponnya karena tangisan Melati tidak bisa ditahan lagi.
"Kakak akan segera pulang," janji Hasan. Hasan mematikan teleponnya dan senyumannya mengembang dibibirnya setelah berbicara dengan Melati.
Jefry mengamati Tuan Mudanya dari spion mobil "Bahagia sekali Tuan Muda." Hasan tersenyum kepada Jefry.
"Hatiku lega Jef setelah mendengar suara Melati," ujar Hasan.
"Semoga Tuan Muda dan Melati dapat bahagia bersama, aku senang melihat Tuan Muda bahagia seperti itu," ucap Jefry bahagia.
Hasan hanya menanggapi perkataan Jefry dengan senyuman "Makasih Jef." ucap Hasan lalu memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.
"Semoga keadaan Tuan Arman tidak terlalu parah." batin Jefry yang masih khawatir dengan keadaan Arman.
Hasan keluar dari mobil saat mobil yang Hasan tumpangi telah berhenti dihalaman rumah Eyangnya. Hasan menyuruh Jefry untuk mengantar Albert ketempatnya.
Seperti biasa kepulangan Hasan akan selalu disambut dengan para pelayan yang berjejer dibalik pintu, Hasan selalu mengucapkan terimakasih ketika melewati mereka.
Para pelayan pun sangat suka dengan sikap ramah Tuan Mudanya.
"Hai cucu Eyang! sudah jalan-jalannya?" sambut Elois langsung memeluk Hasan.
Hasan mengangguk "Sudah Eyang, dimana Eyang kakung?" tanya Hasan yang tidak melihat Grissam.
"Dia sedang pergi menemui teman bisnisnya, mungkin nanti malem baru pulang, kamu kekamar bersihkan badanmu terlebih dulu setelah itu istirahatlah," tutur Elois kepada cucunya.
"Iya Eyang." Hasan meninggalkan Ellois dan pergi kekamarnya. Sampai dikamar Hasan langsung pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Hasan keluar dari kamar mandi lalu berganti pakaian, Hasan bercermin "Aku tidak menyangka kehidupanku seperti ini sekarang." gumam Hasan berbicara dengan dirinya sendiri didepan cermin.
^
Melati termenung didalam kamarnya, perkataan kedua orangtuanya masih teringang jelas didalam pikirannya "Melati harus bagaimana Ya Allah." gumam Melati bingung.
Melati menyentuh kotak yang diberikan Hasan sebelum pergi ke London, airmata Melati megalir ketika melihat kotak yang Melatipun belum tahu isinya.
Melati lalu membukanya perlahan nampak kotak musik yang sangat indah, Melati lalu mengambil kotak musik tersebut dan menyalakannya, Melati menangis mendengarkan lagu yang sedang berputar dikotak musik tersebut.
Melati mematikannya lalu menaruh kembali kotak musik itu dalam boxnya kembali namun mata Melati menangkap sebuah surat didalamnya, Melati mengambilnya lalu membukanya.
Β
Kakak mencintamu
Hasanπ**
Β
Tangan melati bergetar membaca isi surat yang sangat singkat namun membuat Melati begitu bahagia namun juga sedih.
Bahagia karena rasa itu sama, sedih jika kenyataannya kini tidak bisa bersama-sama.
Melati menjatuhkan tubuhnya diranjang sambil memeluk surat itu, airmatanya seakan tidak ada habisnya dikeluarkan oleh Melati.
Zaki termenung didepan pintu kamar Melati yang tidak tertutup sempurna hingga Zaki melihat apa yang dilakukan Melati, Zaki terlihat kecewa saat Zaki tahu kenyataanya Melati mencintai Hasan.
Zaki lebih terpukul ketika melihat airmata Melati yang tidak henti-hentinya mengalir dari matanya "Aku ingin memilikimu tapi bukan cara seperti ini, cara seperti ini hanya akan membuatku memiliki ragamu tapi bukan hatimu." gumam Zaki didepan kamar Melati.
Zaki menghembuskan nafasnya kasar lalu pergi dari kamar Melati, Zaki turun dengan terburu-buru lalu keluar dari rumah Melati tanpa pamit, sebelumnya Zaki pun tanpa pamit masuk kedalam rumah Melati karena ingin memastikan keadaan Melati.
Zaki menjalankan mobilnya kerumah sakit kembali "Aku tidak mau pernikahan ini menjadi beban untuknya." gumam Zaki.
Zaki turun dari mobil saat sudah sampai dirumah sakit tempat Arman dirawat.
"Assalamualaikum..." salam Zaki ketika masuk kedalam ruangan Arman dirawat.
"Wa'alaikumsalam." Rumi melihat kearah pintu.
"Nak Zaki?" panggil Rumi.
Zaki tersenyum dan menyalimi tangan Rumi "Zaki ingin berbicara dengan Ibu," pinta Zaki.
Rumi mengangguk dan meninggalkan suaminya yang sedang tertidur "Ada apa Nak?" tanya Rumi penasaran setelah duduk dan menghadap Zaki.
Zaki menundukkan kepalanya "Maafkan Zaki Bu. Sepertinya Zaki tidak bisa menikahi Melati," ujar Zaki sedih.
"Kenapa?" mata Rumi berkaca-kaca mendengar perkataan Zaki.
"Melati mencintai saudara Zaki yaitu Hasan Bu, Zaki tidak bisa menikahinya karena keterpaksaan seperti ini, ini akan membuat hati Melati sakit," ujar Zaki.
Rumi meneteskan airmatanya mendengar alasan Zaki "Ibu tahu Melati mencintai Hasan," mendengar perkataan ibu Melati, Zaki mendongak dan menatap ibu Melati dengan penuh tanda tanya.
"Tapi Ibu juga tidak punya pilihan lain untuk memutuskan ini semua, kamu lihat kondisi suami Ibu? keadaanya semakin parah Nak, dan Ibu tidak tahu harus dengan cara apa untuk membantah permintaanya disaat seperti ini, dia ingin melihat Melati menikah untuk menjaga Melati,"
"Suami Ibu juga sebenarnya tidak mau menikahkan Melati dalam usia dini seperti ini, tapi firasatnya menjadikan alasan untuk merubah semuanya," ucap Rumi sambil menangis.
"Kenapa Ibu tidak coba untuk berbicara kepada Hasan? siapa tahu dia akan pulang setelah mendengar kabar ini?" timpal Zaki.
Rumi menggelengkan kepalanya "Suami ibu yang melarangnya Nak, dia tidak mau membuat cemas Hasan, apalagi dia baru belajar di London, suami Ibu ingin Hasan tenang menjalani masa-masa belajarnya disana," ujar Rumi menjelaskan.
Zaki menundukkan kepalanya lalu mendongak kembali "Apa Ibu yakin Melati akan bahagia setelah pernikahan ini?" tanya Zaki dengan serius.
Rumi tersenyum dalam tangisnya "Cintamu akan menjadi alasan untuk itu, karena Ibu yakin cintamu tidak akan membuat anak Ibu terluka," ucap Rumi tersenyum.
"Tapi Zaki tidak yakin Bu, karena cinta hanya dengan 1pihak itu hanya akan membuat terluka 1pihaknya lagi, Zaki mungkin bisa memiliki raga Melati tapi hatinya? Zaki tidak yakin Bu," Zaki menggelengkan kepalanya.
Rumi tersentuh dengan kebijakan dan kedewasaan Zaki "Ibu yakin! Melati juga bisa mencintaimu!" ucap Rumi tegas.
(besok lagi πππ)
Vot dan like ya biar author semangat 45 πππ