
Sampai dirumah sakit Zaki langsung berlari menuju ruangan dimana Arman dirawat "Mel..." panggil Zaki ketika melihat Melati sedang duduk bersandar didepan ruangan Arman.
Melati menoleh "Kak Zaki." Melati berdiri dan memberikan salam, Zaki menjawab salamnya lalu Melati mempersilahkan Zaki untuk duduk.
"Bagaimana keadaan Paman?" tanya Zaki.
"Masih kritis Kak," jawab Melati sedih.
Rasanya Zaki ingin sekali memeluk Melati dalam keadaan yang seperti, namun Zaki sadar belum pantas melakukannya.
"Bibi dimana?" tanya Zaki.
"Mamah didalam Kak, sedang melihat kondisi Papah,"
"Apa kamu sudah kasih tahu Hasan tentang Paman?" tanya Zaki.
Melati menggelengkan kepalanya "Mamah melarangnya Kak, karena tidak ingin membuat Kak Hasan khawatir disana," jawab Melati.
Zaki menganggukan kepalanya "Iya Mamahmu benar, kalau Hasan tahu mungkin Hasan akan khawatir dan pasti tidak mau melanjutkan pendidikannya disana," kata Zaki.
Melati tersenyum paksa "Makasih sudah mau datang Kak," ucap Melati.
Zaki menatap Melati dengan tatapan kasih "Aku bahagia bila ada disampingmu kapanpun itu," ucapan Zaki membuat hati Melati bergetar.
Melati menatap Zaki dan tersenyum, Zaki pun membalas senyuman Melati "Mel..." panggil Rumi menganggetkan Zaki dan Melati.
Melati dan Zaki melihat kearah Rumi "Iya Mah." saut Melati.
"Papah ingin melihatmu."
"Baik Mah," Maleti bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada Zaki untuk melihat kondisi Arman ayahnya.
Rumi melihat Zaki dengan seksama "Apa kamu mencintai anak ibu?" pertanyaan Rumi membuat Zaki sedikit terkejut.
Zaki menatap ibu Melati dengan penuh tanda tanya apakah pertanyaan itu dikatakan dengan serius "Ibu serius." kata Rumi seolah tahu arti tatapan Zaki.
Zaki menghembuskan nafasnya pelan lalu menganggukan kepalanya "Iya Bu, aku menyukainya sejak pertama kali melihat anak Ibu," ucap Zaki jujur.
Rumi tersenyum, namun senyuman itu juga terlihat kesedihan diwajahnya "Menikahlah dengan anak Ibu," ucap Rumi.
Zaki kaget lalu mendongak dan menatap ibu Melati dengan seksama "Ibu serius?" tanya Zaki penasaran.
Rumi menganggukan kepalanya dan airmata pun keluar dari pelupuk matanya, Zaki merasa ada sesuatu yang tidak beres "Kalau Ibu melakukannya dengan terpaksa, maaf Bu. Zaki tidak bisa," ucap Zaki tidak mau menerima dengan keterpaksaan.
Rumi menggelengkan kepalanya "Keadaan yang memaksa Nak," ucap Rumi sambil menangis tanpa suara.
Zaki menatap ibu Melati dengan haru, Zaki tidak tahu harus menjawab apa, disatu sisi Zaki ingin sekali memiliki Melati namun disisi yang lain Zaki juga tidak mau karena keterpaksaan.
^
Hasan mencoba menghubungi Melati karena rasa kekhawatirannya, Hasan mencoba menghubunginya berkali-kali namun tidak juga diangkat oleh Melati.
"Tidak diangkat Jef." kata Hasan.
"Coba aku hubungi Paman dan Bibi." Hasan lalu menghubungi Arman terlebih dahulu, karena tidak bisa dihubungi Hasan mencoba menghubungi Rumi namun hasilnya juga sama tidak diangkat.
"Mungkin mereka sibuk kali ya Jef," ucap Hasan putus asa.
"Mungkin Tuan Muda." jawab Jefry terpaksa.
Jefry menepuk pundak Hasan "Mereka akan baik-baik saja demi Tuan Muda," ucap Jefry tersenyum.
Hasan mendongak dan tersenyum kearah Jefry "Aku hanya memiliki Paman yang selalu baik dan sebagai pengganti orangtuaku Jef," ucap Hasan tersenyum kecut karena mengenang masa lalunya yang sangat pahit.
"Aku mengerti Tuan Muda," ucap Jefry tersenyum.
"Namun dengan itu semua Tuan Muda sekarang bisa menjadi sosok yang kuat bukan," Jefry menatapa lurus kedepan.
Hasan menundukkan kepalanya lalu tersenyum "Iya Jef. aku bangga dengan kedua orangtuaku yang bisa mendidikku sejak kecil," ucap Hasan membayangkan kedua orangtuanya.
Jefry melirik Hasan "Kamu tahu Tuan Muda, dulu aku juga sepertimu," mendengar ucapan Jefry Hasan melirik kearah Jefry.
"Dulu aku menjadi anak jalanan," Jefry tersenyum kecut mengenang masa lalunya.
"Aku menjadi anak jalanan yang malang saat itu hingga akhirnya kedua orangtua Tuan Muda menolongku, bahkan Tuan dan Nyonya menyekolahkan aku hingga aku bisa sampai seperti sekarang," lanjut Jefry.
"Hingga hari dimana kabar buruk Tuan dan Nyonya tiba membuat duniaku terasa runtuh bukan hanya aku bahkan seluruh anak-anak yang sudah ditolong oleh Tuan dan Nyonya, kami kehilangan sosok pahlawan dalam hidup kami," Jefry menatap langit dan membayangkan kedua orangtua Hasan dalam angannya, mata Jefry pun berkaca-kaca mengenangnya.
"Kami hadir kepemakaman saat sehari setelah pemakaman Tuan dan Nyonya karena itu perintah dari ketua Yayasan yang menampung kami, karena ketua Yayasan tahu bahwa Tuan dan Nyonya merahasiakan privasinya,"
"Tuan Muda tahu? bukan hanya yayasan saya saja yang saat itu datang, tapi banyak, bahkan mereka rela mengantri hanya untuk menabur bunga dan mendoakan Tuan dan Nyonya," airmata Jefry tidak terbendung lagi untuk jatuh.
"Mereka sama sepertiku Tuan Muda, sama-sama kehilangan sosok pahlawan dalam hidup. Tuan dan Nyonya membawa kami kepada masa depan yang lebih cerah, berkat kebaikan Tuan dan Nyonya kami bisa menuai pendidikan dan menjadi orang didunia ini," mendengar cerita Jefry airmata Hasan ikut mengalir.
"Hanya aku yang tidak tahu apa yang dilakukan kedua orangtuaku," Hasan menunduk malu.
"Tepatnya belum Tuan Muda, mereka ingin memberitahu Tuan Muda saat usia Tuan Muda matang, namun takdir berkata lain, Allah lebih sayang kepada Tuan dan Nyonya," Jefry melirik Hasan lalu tersenyum.
Hasan tersenyum simpul menanggapi perkataan Jefry, dalam hati Hasan merasa kagum kepada kedua orangtuanya namun disisi lain Hasan merasa sangat bodoh saat tidak tahu apa-apa tentang kedua orangtuanya.
"Saat Tuan Muda selesai belajar disini, akan aku tunjukan yayasan-yayasan yang ada dalam naungan HJ.GRUP," janji Jefry.
Hasab tersenyum dan menganggukan kepalanya "Aku akan menunggu waktu itu," kata Hasan antusias.
Setelah mengobrol Hasan dan Jefry berkeliling King's College, Hasan dan Jefry mengabadikan sesuatu yang berada disana. Sedangkan Albert dia lebih memilih untuk pergi keclub dan akan kembali ketika mendapat kabar dari Hasan dan Jefry.
^
Melati keluar dari ruangan papahnya dengan mata yang sembab karena menangis, Rumi dan Zaki berdiri saat melihat Melati keluar "Nak..." Melati langsung memeluk ibunya dan menangis.
Rumi tahu apa yang terjadi kepada anaknya, Rumi tidak bisa berkata apa-apa dan hanya memberikan usapan lembut dipunggung Melati untuk memberikan kekuatan.
"Melati harus bagaimana Mah?" ucap Melati semakin mengeratkan pelukannya.
Rumi melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Melati dengan penuh kasih sayang "Kamu tahu? Papah pasti hanya ingin terbaik untukmu," ucap Rumi tersenyum dibalik tangisnya.
"Tapi dengan siapa Melati akan menikah Mah?" Melati menutup wajahnya sedih dengan kenyataan yang saat ini menimpa hidupnya.
"Dengan Zaki." ucap Rumi membuat Melati dan Zaki melihat Rumi dengan tatapan terkejutnya.
(besok lagi 😂😂)
#maaf telat dan sedikit 😅😅
*keterlaluan lu thor 😕
#maafkan daku 😂😂😂