
5tahun kemudian...
Seorang lelaki gagah sedang menduduki kursi kuasa dikantornya, dia begitu fokus dengan pekerjaannya, kefokusannya pula membuat Nadine alias Mawar begitu betah memandangnya. Seperti sekarang, dia menggantikan posisi ayahnya dikantor Hasan, dan itu sangat menguntungkan bagi Mawar karena bisa melihat orang yang dicintainya setiap saat, walaupun rasa itu masih tersimpan rapi didalam hatinya.
Sejak mengetahui bahwa adiknya dan Hasan pernah memiliki rasa, Mawar memendam perasaan itu dalam hatinya, karena Mawar pun tidak tahu bagaimana perasaan Hasan kepadanya, yang Mawar pikir tentang Hasan adalah bahwa dia berbuat baik dan perhatian kepadanya karena dirinya telah menolong Hasan saat itu.
Saat selesai menandatangani berkas-berkas yang dibawa Mawar, Hasan mendongak dan tidak sengaja melihat Mawar sedang memperhatikannya, Hasan tersenyum sambil memangku dagunya dengan tangannya, "Apa Kau sudah naksir kepadaku sampai melihatku tak berkedip seperti itu?" ucapan Hasan membuat Mawar menjadi salah tingkah.
"Aku melihat interior ruanganmu, bukan Kamu!" ucap Mawar sedikit gugup, kini Nadine tidak lagi memanggil Hasan dengan sebutan Tuan, karena perjalanan waktu yang sudah merubah semuanya. Mereka yang selalu bersama membuat mereka cukup dekat namun hati mereka? tidak ada yang tahu seperti apa rasa mereka masing-masing.
Hasan terkekeh, "Benarkah? terus kapan Kau akan mulai menaksirku?" pertanyaan Hasan membuat wajah Mawar merah.
"Sini berkasnya!" seru Mawar.
Hasan memberikan berkas itu kepada Mawar dengan senyuman, Mawar ingin melangkah pergi namun suara Hasan menghentikannya, "Mau makan siang?" ajak Hasan.
"Aku masih ada pekerjaan, pergi saja bersama Jefry." saut Mawar.
"Aku maunya bersamamu." sergah Hasan.
Mawar menoleh kearah Hasan, "Baiklah." Hasan langsung berdiri mendengar persetujuan Mawar.
Terkadang Mawar begitu bingung dengan sikap Hasan, apa dia baik kepadanya hanya karena balas budi? atau ada rasa lain? rasanya Mawar ingin memastikan itu, tetapi untuk berbicara kepadanya saja terkadang dirinya begitu gugup karena dia adalah lelaki yang berhasil masuk kedalam hatinya setelah dia.
BUUUGGGHHH "Auh!" teriak Mawar karena menabrak seseorang, Hasan menoleh kebelakang dan langsung menolong Mawar.
"Kamu tidak apa-apa? maaf Mawar." ucap Hasan merasa bersalah karena tadi dirinya berjalan begitu keras dan akhirnya Mawar tertinggal.
"Tidak apa-apa TUAN!" kesal Mawar, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Nadine?" Nadine menoleh kesumber suara yang berasal dari orang yang nenabraknya tadi.
Mawar membelakakan matanya dan menutup mulutnya karena terkejut melihat seseorang yang berada didepannya kini, "Abang!" teriak Mawar.
Lelaki itu tersenyum dan ingin memeluk Mawar namun dengaj segera Mawar menghindar karena dirinya yang sekarang sudah jauh sangat berbeda. Hasan menarik nafasnya melihat pemandangan yang ada didepannya kini, terlihat sekali wajah Hasan begitu tidak suka melihatnya.
"Maaf...maaf Abang terlalu senang Nad, tidak menyangka bila bisa bertemu denganmu lagi." lelaki itu memandang penambilan Mawar yang sudah sangat jauh berbeda. Lelaki itu melihat Hasan lalu menoleh kembali kepada Mawar.
"Pacar?" Mawar menggelengkan kepalanya.
"Suami?" Mawar kembali menggelengkan kepalanya.
Mawar mengangkat bahunya, lelaki itu menatap bingung Mawar, Hasan mendelik kearah Mawar namun Mawar hanya memajukan bibir bawahnya kepada Hasan.
"Dia Hasan, Bang."
"San, dia Abang Azka." mereka berdua saling menjabat tangan, Hasan berusaha tenang dan tersenyum walau hatinya entah kenapa yang pasti rasanya begitu panas saat ini.
"Azka."
"Hasan."
"Kok Abang bisa disini?" tanya Mawar.
"Abang mau bertemu dengan direktur perusahaan ini, Nad. bisa tunjukan Abang dimana ruangannya?" pinta Azka.
"Ini orangnya." Mawar melirik Hasan, Hasan tersenyum kepada Azka.
"Maaf Tuan, Maaf sekali." Azka membungkukkan setengah badannya.
"Aku utusan dari perusahaan AT.GRUP, Tuan." jelas Azka.
"Kalau begitu kita bicarakan sambil makan siang, bagaimana?" usul Hasan.
"Baik, Tuan." Hasan melanjutkan langkah kakinya, namun Hasan teringat dengan Mawar dan menghentikkan langkahnya lalu menjadi penengah antara Azka dan Mawar.
Mawar berdecak kesal dengan ulah Hasan, karena kesempatan untuk mengobrol dengan teman lamanya yang sangat dekat dengannya jadi terganggu, dalam hati Azka pun merasa kesal.
Setelah beberapa puluh menit mereka sampai disebuah tempat makan yang tidak jauh dari kantor, dan yang pasti Jefry sudah lebih dulu memesan tempat itu untuk tuan mudanya, Ha! sungguh manusia itu selalu mengerti apa yang tuan mudanya inginkan.
"Makan saja dulu." perintah Hasan, mereka bertiga pun makan dengan keadaan canggung satu sama lain.
Setelah selesai makan, Azka memberikan sebuah undangan untuk Hasan, "Kami mengundang Tuan untuk datang keacara pernikahan anak laki-laki pimpinan kami.
Hasan mengambil surat undangan itu dan membukanya, "Syam dan Hany." Mawar mendongak kearah Hasan karena mendengar nama yang tidak asing ditelinganya.
"Siapa tadi?" Hasan memandang Mawar.
"Syam dan Hany, Mawar!" seru Hasan.
Mawar menoleh kearah Azka dan menatapnya dengan tatapan ingin jawaban, Azka mengangguk "Nikah juga mereka, lucu sekali." Mawar tersenyum sinis, Hasan melihat perilaku Mawar dan merasa ada sesuatu yang belum dia ketahui.
^
Hasan membaringkan tubuhnya ditempat tidur yang selalu menjadi tampet dirinya melepas lelah, Hasan menatap langit-langit kamarnya sambil memegang dadanya, "Ya Allah...kenapa tadi hatiku begitu panas melihat Mawar akrab dengan lelaki lain." gumam Hasan membayangkan kedekatan Mawar bersama Azka saat berada direstoran tadi.
Hasan bangkit dan langsung kekamar mandi, didalam kamar mandi, dibawah guyuran air Hasan berpikir tentang perasaannya kepada Mawar, Hasan terkadang merasa sayang dan berusaha untuk berbuat baik dan membahagiakannya sesuai janjinya dulu saat nyawa Mawar hampir pergi dan itu semua karena dirinya.
Namun kebersamaan selama 5tahun ini, sungguh membuat hatinya mulai bimbang dengan perasaannya sendiri, Hasan memang sudah merelakan Melati hidup bersama Zaki, dan entah mengapa kenyamannya dengan Mawar terasa bahkan rasa ingin selalu membuatnya tersenyum selalu muncul dalam hatinya, tapi untuk mengartikan itu cinta? Hasan belum siap karena pernah mencintai namun kesakitan yang dia dapati.
Dan akhir-akhir ini waja Mawar sering terlintas dalam pikirannya, wajah saat dia tersenyum, tertawa dan bermain bersama anak yatim yang selalu Hasan kunjungi setiap bulan. Dan terkadang pula bayangan itu yang membuat Hasan tersenyum sendiri.
^
"Mah..." panggil Mawar, Rumi tersenyum dan membelai kepala anaknya yang sekarang sedang tertidur dipangkuannya.
"Mawar ingin menanyakan ini dari dulu tapi Mawar merasa tidak enak dengan Mamah dan Melati." Rumi menautkan alisnya.
"Bertanya saja merasa tidak enak, memang mau bertanya soal apa, hem."
"Mamah tahu kan kalau Melati dan Hasan itu saling mencintai? lalu kenapa Melati bisa menikah dengan Zaki?" pertanyaan Mawar membuat Rumi sedikit terkejut karena kejadian itu sudah cukup lama, bahkan sampai sekarang rumah tangga mereka baik-baik saja walaupun belum dikaruniai anak.
"Kok diem Mah?"
Rumi tersadar lalu tersenyum kepada anaknya, "Dulu Papahmu kecelakaan, dan merasa bahwa hidupnya tidak lama lagi sehingga Papahmu ingin agar Melati bisa menikah, dan saat itu Hasan sedang berada di London jadi Papahmu tidak mau mengganggunya, dan akhirnya Mamah menyuruh Zaki untuk menikahinya, lagian pilihan Mamah dan Papah itu tepat karena Zaki sangat mencintai Melati."
"Tapi perasaan Hasan pasti sakit Mah, melihat orang yang dicintainya bersanding dengan orang lain." tutur Mawar yang ikut merasakan sesak dalam dadanya mendengar apa yang ibunya utarakan.
"Justru itu Papahmu menyuruh Mamah agar kembali mencarimu saat itu, agar engkau menjadi obat untuk Hasan." Rumi tersenyum.
"Mawar tidak yakin, Mah." pandangan Mawar menerawang jauh.
#Udah dulu ya, author mengantuk dan lapar sekali 😥😥😥
*alesan lu thor 😡😡
#kok tahu 🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃