Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Ayah tetap Ayahku.



Sebelum membaca maafkan author dulu 😂😂


Mawar menoleh kearah Hasan, "Untuk apa Kamu meminta maaf?" tanya Mawar dengan wajah sedih.


Hasan mendekatkan wajahnya kewajah Mawar, "Untuk kesalah pahaman pikiranmu." Hasan tersenyum tipis, mata Hasan tak berkedip memandang Mawar.


Mawar tersenyum simpul, "Harusnya Aku tidak mencintai seseorang jika seseorang itu mencintai orang lain, mungkin Aku tidak merasakan sakit." mata Mawar menatap lurus kedepan.


"Aku tidak mencintainya, berhenti berpikir tentang itu, Aku hanya membantu bibi agar tidak khawatir." tutur Hasan dengan penuh penyesalan.


Mawar diam tidak merespon ucapan Hasan, "Katakan padaku, apa yang harus Aku lakukan agar Kamu mau memaafkanku." berharap Hasan.


Mawar melihat kembali kearah Hasan, Mawar terkekeh karena melihat wajah Hasan begitu memelas, "Apa Kamu selalu memasang wajah seperti itu untuk mendapat pengampunan, hem." Hasan tersenyum karena melihat Mawar tertawa kecil.


"Hanya Kamu yang tahu seperti apa wajah jelekku ini." Hasan membenarkan duduknya namun masih setia melihat Mawar.


Mawar tertawa mendengar ucapan Hasan, "Kau ini! hukumannya akan Aku beri tahu besok, sekarang pulang! Aku sudah lapar." perintah Hasan.


"Jadi Aku dihukum?" wajah Hasan terlihat bingung.


"Bukankah tadi Kamu yang bilang harus melakukan apa? ya sudah besok akan Aku beritahu! sekarang cepat pulang."


"Baiklah, Tuan Putri." Hasan langsung menyalakan mobilnya dan berjalan pulang.


^


"Apa arumanis segini banyak Kamu mau habiskan, Mel?" tanya Rumi yang duduk dibelakang bersama Melati, sedangkan Zaki didepan bersama Jefry.


Melati mengangguk sambil tersenyum senang, Rumi menggelengkan kepalanya, "Tapi Mamah tidak yakin?"


"Kan bisa buat besok lagi, Mah." tutur Melati, Zaki tersenyum mendengar jawaban Melati.


Rumi membelai kepala Melati, "Iya, iya...Anak Mamah ini sudah mau menjadi ibu." Melati terharu mendengar ucapan ibunya, Melati langsung memeluk ibunya tanpa terasa airmata keluar dari tempatnya.


"Jaga baik-baik calon cucu Mamah, jangan melakukan sesuatu yang bisa membahayakannya." Melati menganggukan kepalanya tanpa bersuara, pelukannya semakin erat karena Melati pun tidak menyangka bisa diberi amanah setelah bertahun-tahun mengharapkan kehamilan ini.


^


AAAAAAAAAAA Gina berteriak saat terbangun dan mendapati seorang lelaki tidur disampingnya, Putra mengerjapkan matanya karena mendengar suara teriakan yang sangat nyaring ditelinganya, "Apaan sih!" Putra langung terbangun karena kesal.


"Kamu yang apa-apaan! kenapa Kamu ada disini!" teriak Gina, Putra melihat sekeliling ruangan itu dan Putra baru ingat kejadian semalam yang membuat dirinya terpaksa tidur dengan Gina.


"Oh ya ampun." Putra menoleh kearah Gina yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut dan wajahnya terlihat ketakutan.


"He! Aku tidak apa-apakan Kamu! Kamu tidak ingat kalau Kamu yang menggodaku semalam!" Gina membelalakan matanya, apa katanya tadi? Aku menggodanya? pikir Gina.


"Siapa yang menggodamu! dasar lelaki!" kesal Gina.


Putra menelisik ruangan itu, "Sayang sekali tidak ada cctv." gumam Putra namun masuh terdengar ditelinga Gina.


"Cctv? untuk apa?"


"Untuk melihat kelakukan burukmu!" Putra langsung turun dari ranjang lalu menghampiri pintu.


"Shit!" kesal Putra karena baru ingat jika pintu terkunci dari luar karena ulah Adi dan Rio.


"Kenapa?" Gina turun lalu menghampiri Putra.


"Rio dan Adi mengunci dari luar karena semalam tanganmu tak mau lepas dari leherku ini!" Gina terkejut dan malu mendengar penuturan Putra.


"Kau tidak percaya! apa Aku perlu getok kepalamu agar Kamu sadar perbuatanmu semalam? Kamu itu seorang wanita, kenapa bisa melakukan hal bodoh seperti itu?" marah Putra.


Gina menunduk sedih dan merasa malu, "Maafkan Aku." lirih Gina, airmatanya menetes begitu saja.


"Ha, sudahlah lupakan! sekarang bagaimana kita bisa keluar dari sini." ucap malas Putra.


"Aku akan menghubungi Kak Herri."


"Cepatlah!" Putra melihat wajah Gina yang terlihat sedih, seperti sedang menyimpan luka yang tidak diketahui oleh mata dan hanya hati yang bisa melihat itu.


^


"Tadi katanya lapar, Aku ingin makan berdua denganmu." wajah Mawar langsung memerah karena tersanjung.


Hasan melirik Mawar sambil mengumbar senyuman yang selalu membuat Mawar betah memandangnya, Hasan memberhentikan mobilnya didepan restoran milik orangtuanya yang sudah menjadi miliknya, Hasan pun baru tahu jika orangtuanya memiliki bisnis kuliner 5tahun lalu saat dirinya resmi menjadi direktur muda diperusahaan orangtuanya.


Hasan membuka pintu mobil Mawar, "Ayo turun, Tuan Putri." Mawar turun dari mobil, dalam hati Mawar sangat bahagia namun wajahnya berpura-pura seperti biasa.


Hasan dan Mawar berjalan beriringan, Hasan menyiapkan kursi untuk Mawar, melihat pemilik restotan datang ketua pelayan langsung menghampiri Hasan dan Mawar, "Tuan." pelayang itu memberi hormat kepada Hasan.


Hasan tersenyum kepada ketua pelayan direstoran itu dan menyuruhnya untuk mempersiapkan makanan untuknya dan Mawar, ketua pelayan langsung melakasanakan perintah Hasan.


"Silahkan makan, Tuan Putri. semoga setelah ini Anda tidak marah-marah lagi." Hasan tersenyum dengan manis.


Mawar tersenyum tanpa menjawab permohan Hasan, saat makan Mawar sering melihat Hasan yang sedang fokus makan, "Aku ingin kamu mengatakan mencintaiku." kata-kata itu hanya terucap dari hati Mawar.


Hasan mendongak dan mendapati Mawar sedang memperhatikannya, "Apa Kamu ingin memakanku?" Mawar langsung salah tingkah.


"Gak lucu!" Mawar mendelikkan matanya karena melihat Hasan sedang tertawa.


Mawar kembali makan, sedangkan Hasan yang sudah selesai makan berganti memperhatikan Mawar, "Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia dan bahagiamu adalah bahagiaku." batin Hasan.


^


"Mas..." panggil Melati saat masuk kedalam kamarnya, untuk beberapa hari Melati dan Zaki menginap dirumah orangtua Melati karena Rumi yang memintanya.


"Mas dikamar mandi, Sayang!" teriak Zaki.


Melati tersenyum lalu berjalan menuju lemari dan mengambilkan pakaian untuk suaminya, Melati duduk disisi ranjang menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


Zaki keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan dipinggangnya, Zaki menghampiri Melati lalu mencium kening istrinya, Melati tersenyum selalu mendapatkan perhatian dan perlakuan istimewa dari suaminya, "Adek gak mandi?" tanya Zaki yang melihat Melati tidak beranjak dari duduknya.


Melati menggelengkan kepalanya, "Tidak mau." Melati langsung berbaring dikasur.


Setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambut Zaki menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, "Adek tetep wangi kok walaupun tidak mandi." goda Zaki.


Melati tersenyum malu, "Mas ini!" Melati mengeratkan pelukannya, pelukan suaminya selalu membuatnya nyaman dan merasa dilindungi.


^


Setelah selesai makan, Hasan dan Mawar keluar dari restoran dan menghampiri mobilnya, Hasan membukakan pintu untuk Mawar.


"Nadine." Mawar dan Hasan menoleh kesumber suara.


"Ayah!" teriak Mawar, Mawar langsung berlari dan memeluk ayahnya.


"Nadine sangat merindukan Ayah! Ayah kemana saja? Nadine mencari Ayah selama ini." tanya Mawar saat melepaskan pelukannya, Hasan kagum dengan Mawar yang masih memikirkan orangtua yang tidak memperlakukannya dengan baik sejak kecil, Hasan berjalan menghampiri Mawar dan ayahnya.


"Apa Kamu masih merindukan Ayah setelah Kamu sudah mengetahui kebenarannya?" ucap Lois penuh penyesalan.


"Ayah ini bicara apa? jelas Nadine merindukan Ayah, karena Ayah yang sudah membesarkan Nadine."


"Tapi Ayah tidak memperlakukanmu dengan baik." ucap Lois


"Itu menjadikan Nadine dewasa." Lois memeluk Mawar, rasanya tidak percaya bila anak yang selama ini dia perlakukan tidak baik masih menganggap dirinya seorang Ayah walaupun sekarang dirinya sudah menjadi anak orang kaya.


Hasan terharu melihat pemandangan yang ada didepan matanya.


♡


Maafkan Author ya karena sok sibuk😂😂😂



Maafkan Author ya kakak-kakak zeyeng 😂😂