Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Diamnya Hasan



Hasan dan Mawar pergi dari rumah Zaki setelah 2hari menginap dirumah Zaki, didalam mobil Mawar merasa heran karena Hasan tidak seperti biasanya apalagi saat mereka bangun pagi tadi, Mawar tidak mendapatkan sambutan bahkan morning kiss yang seperti Hasan lakukan selama ini.


"Sayang." panggil Mawar dalam suara sedikit lirih.


"Hem." Hasan tidak menoleh kearah Mawar sedikitpun.


Mata Mawar berkaca-kaca karena merasa bahwa Hasan cuek kepadanya, "Stop!" teriak Mawar tiba-tiba membuat Hasan langsung memberhentikannya mobilnya.


Airmata Mawar menetes saat melihat Hasan yang terlihat dingin sekarang dan itu sungguh membuat hati Mawar sakit. Hasan tetap melihat kearah depan menambah perih perasaan Mawar.


"Katakan apa salahku?" Mawar bersuara dengan serak.


Hasan terdiam menatap lurus kedepan, Hasan sebenarnya juga kasihan dengan istrinya tetapi melihat pesan yang masuk kedalam ponsel istrinya membuat hati Hasan merasa kecewa.


"Tolong bicara jangan diam seperti ini. Aku tidak mengerti salahku apa denganmu." Mawar menunduk mengusap airmatanya yang jatuh dari tempatnya.


Hasan menarik nafasnya dan kembali menjalankan mobilnya karena Hasan ingin segera sampai dimansionnya, lagi-lagi Hasan tak menjawab pertanyaan Mawar, Hasan menatap lurus kejalanan dan berpikir dengan pikirannya sendiri.


Mawar melihat perubahan Hasan dengan hati yang pilu, Hasan yang selalu perhatian dan selalu mengungkapkan kata-kata baiknya tetapi kini bagai tidak mengenal dirinya dan itu sangat menyakitkan.


Karena rasa sakit yang Mawar rasakan membuat airmatanya kini deras mengalir membasahi pipinya, Mawar menatap kejendela mobil melihat pemandangan yang sedang dilaluinya dengan deraian airmata yang tidak mau berhenti mengalir.


Entah mengapa rasanya begitu sakit melihat suaminya mengacuhkannya seperti itu mungkin dirinya bisa kuat jika diacuhkan orang diseluruh dunia ini tetapi tidak dengan suaminya sendiri karena itu sangat-sangat menyakitkan baginya.


"Tolong katakan apa salahku?" kini kata-kata itu hanya terlontar didalam hati saja.


Mawar segera mengusap airmatanya karena mobil Hasan sudah dekat dengan mansionnya. Mawar akan berusaha baik-baik saja saat dihadapan orangtua dan eyangnya.


Hasan memberhentikan mobilnya saat sudah sampai dimansionnya, Hasan berjalan kearah pintu mobil Mawar lalu membukanya, "Kamu masuklah dan bereskan pakaian kita untuk beberapa minggu, Aku akan pergi sebentar." perintah Hasan.


"Mau kemana?" Mawar menyentuh lengan Hasan.


"Ada urusan sebentar, nanti sore Aku akan pulang dan Aku akan membawamu berlibur." jelas Hasan.


"Untuk apa berlibur jika Kamu seperti ini?" protes Mawar.


"Turuti saja perintahku!" tekan Hasan yang kembali kepintu mobilnya dan langsung meninggalkan Mawar begitu saja dihalaman mansionnya.


Mawar menatap kepergian Hasan dengan tatapan nanar, dia berusaha untuk tidak menangis karena dirinya akan bertemu dengan keluarganya, jika dirinya menangis Mawar yakin mereka akan bertanya tanpa henti nanti.


Didalam mobil Hasan mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk dari Jefry, Hasan tersenyum melihat pesan itu, setelah membaca pesan itu Hasan memasukan kembali ponselnya kesaku celanannya.


*****


Disebuah restoran yang cukup ramai Syam sedang duduk seorang diri sambil memasang wajah bahagia, Syam beberapa kali menoleh kearah pintu restoran seperti menunggu seseorang datang.


"Ehm." deheman seorang lelaki membuat Syam terkejut, Syam menoleh kebelakang dan melihat Hasan sedang tersenyum kearahnya sambil memasukan tangannya kedalam saku celananya.


"Masih memandangi foto istri orang?" ucap Hasan sambil menarik kursi yang ada dihadapan Syam.


Syam terdiam karena terkejut kenapa Hasan yang datang bukan Mawar? dirinya sudah sangat bahagia mengharapkan kehadiran seseorang yang sangat dirindukannya tetapi kini yang datang justru bukan orang yang diharapkan.


"Dimana Nadine?" pertanyaan Syam membuat Hasan tersenyum simpul.


"Dia Mawar bukan Nadine."


"Bagiku dia tetap Nadine."


Hasan menarik bahunya lalu duduk tegak dengan tangan yang dia lipat diatas meja, "Dan dia istriku!" tegas Hasan membuat Syam bungkam seketika.


Apa yang harus Syam katakan karena ucapan Hasan sudah sangat benar, Mawar adalah istrinya, dan Syam? dan yang Syam heran kenapa Hasan terlihat baik-baik saja? bukan kah Om Pandu sudah membereskan Hasan? harus menemui Om Pandu nanti, pikir Syam.


"Masih banyak didunia ini wanita yang lebih baik dan cantik, bahkan istrimu juga sangat cantik, kenapa harus mencintai istri orang? tidak bisakah Kamu bersyukur dengan apa yang sudah Kamu miliki sekarang? Aku tahu mencintai seseorang adalah hak setiap manusia tapi bisakah simpan itu dalam hatimu saja? saat Kamu mencintai seseorang yang sudah tidak berhak untuk Kau cintai." Syam membuang wajahnya mendengar penuturan Hasan.


"Aku mengenalnya lebih dulu darimu bahkan Aku memilikinya lebih dulu!" ketus Syam.


Hasan menunduk tersenyum lalu kembali melihat Syam, "Tetapi takdirnya bersamaku, jadi kumohon jangan ganggu istriku lagi, jangan buat Aku melakukan hal yang sama seperti apa yang Aku lakukan kepada Sony dan Paman Pandu, Kau mengerti?" tatapan Hasan sangat mengancam Syam.


Mendengar nama Om Pandu disebut membuat Syam melihat kemata Hasan dan mereka saling pandang dengan pandangan yang sama-sama mengancam.


Pikiran Syam bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Om Pandu dan tadi siapa Sony? siapa lagi dia? dia lelaki yang sama dengannya kah? sama-sama inginkan Mawar? pikiran Syam benar-benar kacau membayangkan dan memikirkannya.


Hasan berdiri setelah beradu pandang dengan Syam, Hasan rasa cukup untuk memberikan pengertian kepada Syam dan berharap Syam mau mengerti dan mencoba menerima kenyataan bahwa tidak selamanya bisa mencintai seseorang dan memilikinya, "Pikirkan baik-baik perkataanku." ucap Hasan saat berdiri disamping Syam.


Syam diam terpaku saat mendengar kata-kata Hasan yang kini sudah pergi dari restoran itu, Syam mengusap wajahnya kasar penyesalan demi penyesalan dia rasakan kini karena sudah menjadi lelaki pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cintanya dulu dan kini saat dia ingin memperjuangkannya wanita itu kini sudah menjadi milik orang lain, bisa bayangkan bagaimana rasa penyesalan yang Syam alami saat ini? sungguh sangat menyakitkan bukan?


****


Gina dan Putra datang kegedung yang terlihat sudah kusam dan seperti gedung tak terpakai, Gina dan Putra datang ketempat dimana Sony dan yang lain dipenjara oleh Grissam dan Putra sudah meminta ijin untuk menemui Sony kepada Grissam demi memenuhi rengekan Gina yang meminta melihat kakaknya, Putra sempat menolak namun melihat Gina yang memohon dan menangis membuat hati Putra merasa iba hingga pada akhirnya dirinya mau mengantarnya.


Putra dan Gina tiba diruang penjara setelah melewati para penjaga yang menunjukan jalannya keruang penjara itu, mata Gina mengitari satu-persatu penjara yang ada disitu, terhitung ada sepuluh penjara dan masing-masing penjara berisi 5 sampai 6orang.


Pandangan Gina terhenti ketika melihat seseorang sedang duduk menunduk dan dia sendiri didalam penjara itu, Gina mendekat kepenjara itu.


"Kak Sony."


*******


#Jangan marah-marah ya kakka-kakak seyeng nanti cepet tua 😂😂😂😂