Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Tak berkedip memandang



Dokter Nisa keluar dari ruangan ICU, "Bagaimana keadaan ibu saya Dokter Nisa?" tanya Melati yang sudah sangat kenal dengan Dokter Nisa karena dialah Dokter keluarga papahnya.


"Ibumu hanya kecapaian dan terlalu banyak pikiran Mel...Tante tahu.. ibumu pasti belum bisa berdamai dengan keadaannya saat ini, kamu harus berusaha agar ibumu bisa bangkit dari keterpurukan ini Mel." tutur Dokter Nisa.


"Melati akan berusaha Tante...Melati boleh masuk kan?"


Dokter Nisa mengangguk, "Kamu bisa menjenguknya diruang Mawar nanti ya, ibumu harus dirawat selama beberapa hari agar kondisinya membaik." ujar Dokter Nisa lalu pergi meninggalkan Melati dan yang lainnya.


"Kak...tadi Nadine dirawat diruang Mawar kan? ayo kita kesana sambil menunggu ibu Melati dipindahkan."


"Boleh kan Mas? kita jenguk Nadine dulu?" ijin Melati kepada Zaki.


Zaki mengangguk, "Tentu saja."


Jefry berjalan didepan Melati dan Zaki untuk menunjukan ruangan Nadine berada, "Silahkan Nona dan Tuan." Jefry membuka pintu ruangan Nadine.


Melati dan Zaki masuk kedalam, Melati tertegun ketika melihat Hasan sedang menyuapi Nadine makan, Nadine berhenti mengunyah dan melihat kearah pintu, Hasan mengikuti arah mata Nadine, "Kak Zaki..Melati." ucap Hasan sedikit terkejut.


"Anda benar Tuan, yang barusan dibicarakan oleh suster adalah Nyonya Rumi." Jefry membenarkan firasat Hasan.


Hasan mengangguk mendengar laporan dari Jefry, "Lalu keadaannya bagaimana sekarang." tanya Hasan sedikit cemas.


"Bibi hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran San." jawab Zaki yang sudah berdiri disisi ranjang Nadine berhadapan dengan Hasan.


Hasan menghembuskan nafasnya pelan, "Bibi pasti belum bisa merelakan Paman pergi, ini pasti berat buat Bibi." ucap Hasan sedih.


Melati memandang wajah Hasan yang terlihat begitu sedih dengan keadaan ibunya Melati, namun Melati jauh lebih sedih ketika Hasan begitu perhatian kepada wanita lain, padahal dulu Hasan tidak peduli dengan wanita, tapi sekarang? wanita itu? apa yang membuat Hasan begitu memperhatikannya sampai mau menyuapinya makan seperti itu.


Nadine melihat arah mata Melati yang selau memperhatikan Hasan, "Apa kamu lagi?" tanya Hasan yang saat itu makanan yang dimakan Nadine habis.


Nadine menoleh kearah Hasan dan memperhatikan Hasan sejenak, "Sepertinya Melati suka sama Hasan." batin Nadine.


"Nadine..." Nadine tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan terimakasih." ucap Nadine merasa gugup.


Zaki melihat perhatian Hasan kepada Nadine yang begitu besar, "Kenapa Nadine bisa begini San? bagaimana kronologinya?" tanya Zaki ingin tahu.


"Ada seseorang yang mau membunuhku dengan pisau dan Nadine menolongku jadi dia yang terkena tusukan pisau itu. untung dia mau bertahan dan bisa selamat setelah membuat aku jantungan karena tadi Dokter bilang Nadine sudah tidak ada."


"Tapi Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku dan mau menyelamatkan Nadine." lanjut Hasan membuat hati Melati merasa ngilu dan ingin menangis namun Melati berusaha menyembunyikannya dan menahannya.


Zaki mengerutkan keningnya, "Siapa yang ingin membunuhmu San?" tanya Zaki heran.


"Hasan juga tidak tahu siapa Kak...yang pasti orang itu mengincarku." tutur Hasan.


Zaki terdiam dan berpikir siapa gerangan yang ingin menyerang Hasan, "Kalau dia mengincarmu San, berarti dia sudah tau siapa kamu sebenarnya San. kalau sebenarnya kamu adalah orang yang berada dan anak dari perusahaan no 1 disini.


Penjelasan Zaki membuat Nadine tersedak saat sedang minum, "Kamu itu! pelan-pelan." Hasan menepuk-nepuk punggung Nadine.


"Jadi Tuan..." ucap Nadine dengan kaget.


"Apa?"


"Tuan pemliki HJ.GRUP!" teriak Nadine lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menutupi mulut dan hidungnya.


Hasan terdiam dan menatap Nadine, "Tidak usah berlebihan seperti itu." Nadine langsung mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Hasan.


"Tuan tidak pernah memberitahuku sebelumnya bahkan saat aku memberitahu Tuan bahwa aku bekerja di HJ.GRUP itu." kesal Nadine, Hasan terkekeh melihat Nadine kesal.


"Dia memang seperti itu Nadine...Hasan tidak mau dikenal orang." Zaki melirik Hasan lalu tersenyum.


"Tapi itu sungguh menyebalkan! dan kalau aku tahu Tuan ini adalah pemilik HJ.GRUP aku akan menjaga jarak darimu Tuan." Nadine membuang muka dan tidak melihat kearah Hasan.


Hasan mendelik kearah Zaki, Zaki hanya membalas dengan senyuman, "Hei! memang kenapa harus menjaga jarak denganku kalau aku ini pemilik HJ.GRUP? Kau tidak mau berteman denganku!" Nadine menoleh kearah Hasan dengan bibir atas yang dilipat kebawah.


"Bukan seperti itu maksudku tapi...aku tidak pantas berteman denganmu Tuan.Tuan itu adalah bosku." Nadine menundukan kepalanya.


"Ah sudah lah lupakan, kita akan tetap berteman jadi tidak usah berkata macam-macam." tegas Hasan, Nadine melirik Hasan sebentar lalu menunduk kembali.


Melati menyentuh pundak Nadine, "Kak Hasan orang yang baik...jadi tenang saja." ucap Melati mencoba menenangkan Nadine.


"Dek...kita keruangan Mamah dulu takut nanti Mamah mencari kita." ucap Zaki.


"Kakak...Adek yang akur ya kalian, aku kalau punya saudara pasti sangat senang bisa punya saudara seperti kalian." Zaki dan Melati saling pandang, sedangkan Jefry menahan senyumnya mendengar perkataan Nadine.


Hasan menatap Nadine sambil menahan tawanya, "Mereka itu suami istri." Nadine membelalakan matanya terkejut dengan apa yang Hasan katakan.


Nadine melihat kearah Zaki dan Melati, "He...maaf Nona...Tuan, aku tidak tahu." ucap Nadine malu.


Zaki dan Melati tersenyum, "Tidak apa-apa." Zaki dan Melati berpamitan kepada Hasan,Jefry dan Nadine.


Melati dan Zaki keluar dari ruangan Nadine dan berjalan kearah rangan Rumi yang tidak jauh dari ruangan Nadine, hanya berjarak 3kamar dari ruangan Nadine.


Zaki dan Melati masuk kedalam dan melihat Rumi yang sudah membuka matanya, "Maaf Mah..kita habis menengok teman Kak Hasan yang sedang sakit." ucap Melati lalu duduk disamping ranjang ibunya.


"Teman Hasan siapa?" tanya Rumi.


"Namanya Nadine Mah." jawab Zaki.


"Memang dia sakit apa?" tanya Rumi pelan.


"Dia terkena tusukan pisau karena menyelamatkan Kak Hasan Mah." ucap Melati menjelaskan.


"Astagfirullah...memang siapa yang mau mencelakakan Hasan?" tanya Rumi.


Zaki dan Melati kompak menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu Mah...masih diselidiki." ucap Zaki.


Rumi terdiam setelah mendengar kabar dari Zaki dan Melati tentang Hasan, hati Rumi menjadi merasa khawatir terhadap Hasan.


Melihat ibunya terdiam dan seperti berpikir sesuatu, "Kak Hasan baik-baik saja Mah...jangan terlalu dipikirkan." ucap Melati yang mengerti diamnya ibunya.


"Mamah hanya khawatir Mel...kalau kelak orang-orang itu datang dan akan mencelakakan Hasan lagi." ucap Rumi sedih.


"Jefry pasti akan menjaga Hasan Mah." ucap Zaki.


Rumi mengangguk, "Iya..Mamah hanya merasa khawatir saja Nak."


"Nanti anterin Mamah keruangan teman Hasan dirawat ya? Mamah ingin mengucapkan terimkasih kepadanya." Melati dan Zaki mengangguk.


"Yang penting Mamah harus sembuh dulu." ucap Melati lalu memeluk ibunya.


"Berjanji untuk kuat Mah...Papab sudah bahagia disana." Rumi menangis mendengar perkataan anaknya.


"Melati tidak mau melihat Mamah sakit lagi." Melati menatap ibunya, Rumi mengangguk dan mengusap airmatanya.


"Mamah akan berusaha untuk kuat sayang...terimakasih Mel." Rumi mengusap kepala Melati dengan kasih sayang.


^


2hari kemudian Rumi sudah terlihat membaik dan meminta kepada Zaki dan Melati untuk mengantarnya keruangan Nadine.


"Assalamualaikum." salam Rumi,Melati dan Zaki saat masuk kedalam ruangan Nadine.


"Wa'akaikumsalam." Hasan langsung berdiri ketika melihat Rumi yang datang.


Hasan menyalimi tangan Rumi dan membantu Rumi berjalan, "Terimakasih Nak, masih memperlakukan Bibi dengan baik setelah apa yang Bibi dan Paman lakukan kepadamu." ucap Rumi membuat yang berada diruangan Nadine terdiam termasuk Nadine yang tidak tahu apa-apa.


"Bibi...Hasan kan sudah bilang jangan berkata seperti itu lagi, Hasan baik-baik saja Bi." ucap Hasan walau hatinya sebenarnya masih terasa sakit.


Rumi menoleh kearah Nadine, "Siapa namamu?" tanya Rumi.


"Nadine Bu." Nadine mengulurkan tangannya kepada Rumi.


Rumi membalas uluran tangan Nadine, Rumi terdiam ketika menjabat tangan Nadine, ada rasa yang tidak bisa diutarakan lewat kata-kata, "Terimakasih sudah menolong Hasan." ucap Rumi tersenyum.


Nadine tersenyum kepada Rumi, "Apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya Bu kalau dibandingkan dengan kebaikan Tuan Hasan kepadaku." ucap Nadine melirik Hasan, Hasan tersenyum kepada Nadine saat Nadine melihat kearahnya.


Rumi menatap Nadine tanpa berkedip ada sesuatu yang membuat dirinya seakan betah memandang wajah gadis yang ada didepannya kini padahal ini baru pertama kalinya Rumi bertemu dengannya. Aneh mungkin tapi itulah yang Rumi rasakan saat ini.


(besok lagi 😂😂)


#semangat kakka-kakak 😄😄😄😄


#nih aing kasih visual lagi


#Hayo mau pilih mana 😂😂😂😂



Mawar



Melati


Hasan