
Hasan menjatuhkan pistolnya dengan wajah yang pucat namun juga bahagia, "Ayah." lirih Hasan.
Hasan seketika memeluk Ayahnya yang berada didepannya kini, airmatanya luruh seketika karena kerinduan yang sangat kepada orang yang menyayanginya tanpa kepalsuan, Jacson membalas pelukan anaknya, "Ini bukan tugasmu, Nak." Hasan semakin mengeratkan pelukannya.
"Hasan sangat merindukan Ayah dan Ibu." lirih Hasan.
"Ayah dan Ibu selalu ada didekatmu." Jacson melepaskan pelukannya, bibirna mengulas senyuman, tangannya bergerak menyentuh kepala Hasan, Hasan sangat bahagia bukan main.
Perlahan tapi pasti sentuhan dan bayangan ayahnya menghilang, Hasan merasakan ketakutan karena tidak mau kehilangan ayahnya lagi, "AYAHHHHH." teriak Hasan.
"Ayah! Ayah!"
"Astagfirullahaladzim." Hasan terbangun dan melihat dimana dirinya berada yang ternyata masih didalam mobil namun sudah berada didepan markas Jefry.
"Ya Allah..." Hasan mengusap wajahnya, Hasan dapat merasakan basahnya mata karena menangis membuat mimpi itu seperti kenyataan.
Hasan membungkukkan badannya dan menaruh keningnya disetir mobil, tubuhnya bergetar karena Hasan kini sedang menangis, "Ayah...Ibu." lirih Hasan.
Ketukan dicendela mobilnya membuat Hasan membenarkan duduknya lalu menyeka airmatanya, Hasan menoleh kejendela mobil, "Jefry." Hasan lalu membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil.
"Istirahatlah dirumah Tuan Muda." pinta Jefry.
"Apa seseorang yang membantu Paman lepas penjara sudah ditemukan?" Jefry mengangguk.
"Masuklah Tuan Muda, udara malam tidak baik untukmu." tangan Jefry mengarah kepintu masuk.
"Aku bukan anak kecil, Jef!" seru Hasan namun tetap mengikuti perintah Jefry.
Jefry memandang Hasan, airmata Jefry jatuh dari tempatnya namun dengan segera Jefry menyeka airmata itu, bagaimana Jefry tidak menangis, saat Hasan bermimpi dirinya berada didekat mobil Hasan dan mendengarkan Hasan menyebut orangtuanya, Jefry merasakan kerinduan yang sama dengan Hasan, Merindukan sosok orangtua yang sangat baik.
Jefry mengantar Hasan untuk kekamar yang berada dimarkas Jefry yang sering digunakan dirinya untuk mengistirahatkan tubuhnya saat berada disitu, "Aku ingin bertemu Paman, Jef!" Hasan menatap tajam Jefry karena membawanya kekamar bukan keruang penjara.
"Istirahatlah dulu Tuan Muda, besok pagi melihatnya." pinta Jefry.
Hasan menghembuskan nafasnya mendengar perintah Jefry, Hasan berjalan kesisi ranjang lalu membaringkan tubuhnya dikasur yang empuk itu. Pandangan Hasan menatap langit-langit kamar itu, Hasan masih teringat dengan mimpi yang membuat Hasan semakin merindukkan kedua orangtuanya, Hasan memejamkan kedua matanya bulir-bulir airmatanya pun menemani tuannya yang ingin beristirahat.
Jefry menutup pintu kamar dimana kini Hasan berada, dirinya berbaring dikursi kayu yang panjang yang berada tidak jauh dari kamar Hasan, "Aku juga merindukanmu, Tuan Besar." lirih Jefry lalu memejamkan matanya.
^
Melati mengerjapkan matanya, saat penglihatannya sudah sempurna Melati melihat sekelilingnya, "Mas..." panggil Melati yang melihat suaminya tertidur disisi ranjang sambil menggenggam tangannya.
Zaki mulai tersadar dari tidurnya dan melihat istrinya yang sudah sadar, Zaki langsung membenarkan tubuhnya, "Dek." bibir Zaki mengulas senyuman.
"Kenapa Melati ada disini, Mas?"
"Kamu pingsan, Dek. Dan Mas membawamu kesini, dan Kamu tahu apa yang dikatakan dokter kepada Mas?" pertanyaan Zaki membuat Melati penasaran.
"Apa Adek punya penyakit serius, Mas?" tebak Melati.
Zaki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Adek hamil." Melati membulatkan matanya tidak percaya.
"Adek hamil, Mas?" tanya Melati memastikkan, Zaki menganggukkan kepalanya, senyum dibibirnya tidak pernah pudar karena merasakan kebahagiaan yang ditunggu-tunggu.
Melati memeluk suaminya sambil menangis haru, Melati mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah, "Mas sangat bahagia, Sayang." ucap Zaki, Melati semakin mengeratkan pelukannya.
"Terimakasih." Zaki mengecup kening istrinya lalu menyeka airmatanya dengan ibu jarinya.
"Mas, Melati ingin bertemu dengan Mamah." ucap Melati tiba-tiba.
Zaki sejenak terdiam, "Berjanji sama Mas untuk tidak bersedih berlebihan, karena itu bisa mempengaruhi pertumbuhan janin kita." Melati mengangguk mendengar perintah suaminya.
Zaki mengambil kursi roda untuk istrinya, "Melati kan bisa jalan, Mas." Melati mengerucutkan bibirnya melihat suaminya membawa kursi roda untuknya.
"Mas tidak mau Kamu kecapaian berjalan jauh keruangan Mamah." jelas Zaki, Melati turun dari ranjang lalu duduk dikursi roda.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mawar menoleh kearah pintu.
"Melati." Mawar berdiri dan menghampiri Melati dan Zaki.
"Bagaimana keadaan Mamah, Kak?" tanya Melati.
"Belum sadar, Dek." lirih Mawar.
Mawar duduk disofa diikuti oleh Melati dan Zaki, "Bagaimana keadaanmu?" tanya Mawar yang mengetahui jika adiknya jatuh pingsan saat itu, kemarin saat Zaki melihat keadaan mertuanya dan menjelaskan kepada Mawar jika Melati jatuh pingsan.
"Alhamdulillah, Melati baik-baik saja Kak." tutur Melati, Mawar tersenyum mendengarnya.
"Melati hamil, Kak." Mawar menatap Melati tidak percaya, Melati menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah Ya Allah, Kakak senang dengarnya." Mawar memeluk Melati.
"Melati juga sangat bahagia Kak, Melati juga ingin Mamah tahu." wajah Melati langsung menjadi pias.
Mawar menggenggam tangan Melati, "Kita berdoa sama-sama semoga Mamah cepat sadar dan kembali berkumpul bersama kita." Melati menganggukan kepalanya mendengar ucapan Mawar.
"Hasan mana, Kak." tanya Zaki yang tidak melihat Hasan berada diruangan itu.
"Aku juga tidak tahu, dia pergi tanpa pamit." ucap Mawar ada sedikit rasa kesal didalam hatinya.
Melati tersenyum melihat wajah kakaknya yang terlihat kesal, "Cieeee Kakak kesal ya kalau Kak Hasan pergi." ledek Melati.
Wajah Mawar merah karena malu, "Apaan sih, Dek." malu Mawar walaupun sebenarnya hati Mawar memang merasakan seperti itu.
^
Hasan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tembakan dan teriakan seorang wanita, Hasan langsung turun dari ranjang dan berlari kearah penjara yang Hasan yakini suara itu berasal dari sana.
Sampai didepan penjara, Hasan terkejut melihat pamannya sudah tergelatak dengan bersimbah darah, sedangkan bibinya sedang menangis meratapi kepergian suaminya, "Eyang." lirih Hasan, Grissam menoleh kearah cucunya yang berada dibelakangnya.
Grissam melihat anak buahnya, "Bereskan dia!" perintah Grissam yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya.
Grissam menaruh pistolnya lalu membuka sarung tangannya, "Kau pasti terbangun mendengar suara tembakan dan teriakan wanita itu." tebak Grissam acuh tanpa menoleh kearah Hasan, Grissam yakin cucunya kini mungkin akan membenci melihatnya, tapi Grissam tidak ada pilihan lain, sudah cukup Panji memakan banyak korban.
Jefry hanya menundukkan kepalanya, setelah menceritakan kejadian waktu itu, darah Grissam langsung mendidih dan tanpa banyak kata Grissam langsung menyelesaikan tugasnya tanpa mendengar ampunan Panji dan Ayu.
Hasan terdiam melihat pemandangan yang berada didepannya, sungguh badan Hasan terasa membeku saat ini, tidak mampu bergerak walau hanya sejengkal saja.
Grissam lalu menatap wajah cucunya, "Maafkan Eyang, hanya ini yang bisa Eyang lakukan untuk melindungimu." tutur Grissam.
Hasan melihat kakeknya, entah apa yang harus dia rasakan, banggkah? senangkah? atau harus bersedih? Hasan sendiri tidak tahu.
"Hasan, tolong Bibi, tolong jangan penjarakan Bibi, ampuni Bibi..." teriakan Ayu membuyarkan lamunan Hasan.
Hasan melihat kearah kakeknya dan Jefry, "Wanita itu harus diberi pelajaran, karena sudah bermain-main dan membantu seorang penjahat!" angkuh Grissam.
Ayu semakin berteriak, dirinya begitu menyesal telah membantu suaminya apalagi saat mengetahui jika suaminya telah melecehkan besannya sendiri, harusnya saat itu Ayu tidak mengikuti rayuan suaminya untuk membantunya keluar dari penjara.
Penyesalan kini tinggal penyesalan, itu takkan bisa mengubah hukuman yang sudah pantas dia dapatkan.
"Maafkan Hasan, Bi."
☆
#Besok lagi 😂😂😂😂
*Biasa lu thor, nunggu 24jam, update cuman 1kali 😬😬😬😬
#Wkwkkwwkwk