Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Cinta Luar Biasa



Satu-persatu para tamu undangan memberikan selamat kepada Hasan dan Mawar, Mawar menyenggol lengan Hasan, "Kamu tidak lupa kan dengan hukumanmu?" bisik Mawar didekat telinga Hasan.


"Astagfirullah, lupakan saja Sayang, ku mohon." mohon Hasan dengan wajah memelas.


Mawar memasang wajah cemberut, Hasan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Mawar menagih hukuman yang saat itu Mawar berikan kepadanya.


"Wajah Kakak kenapa cemberut seperti itu?" ucap Melati tiba-tiba.


"Kalian baru sah masa langsung berantem?" timpal Zaki.


Hasan tersenyum kearah Mawar lalu menggerakan bibir Mawar agar ikut tersenyum seperti dirinya, "Aku terlihat suami yang buruk jika wajahmu seperti ini." Mawar tidak peduli ucapan Hasan, dirinya tetap memasang wajah cemberutnya.


"Sebenarnya ada apa sih Kak?" tanya Melati penasaran.


"Iya, ada apa sih, San?" sambung Zaki.


Hasan menghembuskan nafasnya tidak menjawab pertanyaan Zaki dan Melati karena takut akan menjadi kesalah pahaman lagi, "Tidak apa-apa Kak, dia hanya menyuruhku bernyanyi disana." Hasan melirik panggung yang disediakan untuk penyanyi yang sudah diundang keacara Hasan dan Mawar.


"Oh...kalau gitu Melati juga setuju, Kak. Iya kan, Mas?" ucap Melati semangat sekali, Zaki terenyum dan menganggukan kepalanya.


"Turuti saja." Zaki mendekatkan bibirnya ketelinga Hasan, "Yang penting nanti malam pertama minta doubel." bisik Zaki meledek.


Hasan tersenyum geli mendengar perkataan Zaki, "Kakak ini!" ucap Hasan, senyum dibibirnya tidak meluntur karena perkataan Zaki.


Zaki tertawa, Melati dan Mawar melihat Zaki dengan penuh tanda tanya, apa yang sudah mereka bicarakan sampai wajah mereka sumringah seperti itu, pikir Mawar dan Melati.


Grissam dan Ellois sedang berbincang-bincang dengan para tamu undangannya yang tak lain adalah klien-klien Jacson dan kini menjadi klien Grissam dan Hasan. Ellois meninggalkan suaminya yang sudah mengobrol soal bisnis membuat dirinya bosan, Ellois menghampiri Rumi yang sedang mengobrol dengan para wanita-wanita yang diundang oleh Rumi, "Ada apa Tante?" tanya Rumi saat Ellois sudah sampai disampingnya.


"Hanya bosan karena Grissam kalau sudah mengobrol tentang bisnis dengan teman-temannya tidak akan ada habisnya." ucap Ellois malas.


Rumi terkekeh, "Disini saja tante." ucap salah seorang wanita.


Ellois menganggukan kepalanya, "Lebih baik seperti itu." ucap Ellois, wajahnya langsung berubah sumringah.


ยค


Dirumah kediaman Syam dan Hany juga Alin ibu dari Syam.


"Mah apa gaunku ini indah? Aku tidak mau kalah dengan wanita itu." ucap Hany kepada mertuanya.


"Gaunmu ini sangat bagus Sayang, para tamu pasti terpukau nanti saat Kamu datang." puji Alin.


Syam terdiam ditepi ranjang tidak memperdulikan omongan istri dan ibunya, hatinya kini semakin perih karena harus menghadiri pernikahan wanita yang sampai detik ini ada didalam hatinya.


Rasanya Syam tidak sanggup untuk melihatnya, andai dirinya tidak mempunyai nyali pengecut mungkin sekarang Mawar masih bersama dan mencintainya, tapi karena dirinya juga kini Mawar membencinya, harusnya Syam bisa mempertahankan cintanya, dan kini Syam sangat menyesal keputusannya meninggalkan Mawar saat tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya dan harus menikah dengan Hany karena bisnis orangtua masing-masing.


Saat Syam berubah pikiran dan ingin memperjuangkan cintanya Mawar sudah pergi entah kemana, Syam berusaha mencarinya setiap hari hingga setiap malam dirinya harus merasakan kerinduan yang sangat kepada wanita yang dicintainya.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, Syam masih tidak bisa menemukan Mawar dan akhirnya menyerah dan dengan berat hati mau menikah dengan Hany.


Dan tanpa diduga dirinya bisa bertemu Mawar dalam keadaan yang tidak tepat pada pernikahannya dengan Hany, sungguh ingin rasanya saat itu Syam kembali memeluk wanita yang sangat dia rindukan selama ini, tetapi keadaan tidak memihaknya.


Dering ponsel milik Syam berbunyi membuyarkan lamunan Syam, Hany melirik nama yang tertera dilayar ponsel, "Oh..Sandy." Hany kembali kedepan cermin untuk menata kembali riasannya, Hany hanya takut bila yang menghubunginya adalah wanita lain.


Sandy adalah sahabat Syam, dia adalah seorang penyanyi solo.


"Ada apa?" ucap Syam dengan malas.


"Tolong Aku!" ucap Sandy dibalik telepon.


"Tolong? tolong apaan?" Syam sedikit menaikan volume suaranya.


"Aku terjatuh dari tangga dan kakiku sepertinya terkilir." jelas Sandy.


"Maksudmu, Kau menyuruhku untuk mengurutmu begitu?" heran Syam, dia kira ada sesuatu yang penting.


"Bukan itu, tolong gantikan Aku menyanyi di acara pernikahan Direktur HJ.GRUP, Aku tidak bisa karena kakiku ini tidak bisa sembuh dengan capat kata dokter, ada pergeseran tulang katanya. Sungguh ini sakit sekali." keluh Sandy, Syam terdiam permintaan Sandy sungguh tidak bisa dia terima, dirinya saja saat ini tidak sanggup untuk melihat Mawar bersanding dengan orang lain sekarang suruh menyanyi diacara pernikahannya?


"Bagaimana Syam? bisakan? tolong lah, cuman Kamu harapanku saat ini, Aku tidak enak bila harus membatalkannya karena hari ini pernikahannya." mohon Sandy.


"Apa Kamu menyuruhku menyanyi dipernikahan wanita yang Aku cintai?"


"Apa! maksudmu?" teriak Sandy terkejut dibalik telepon.


"Yang menikah itu adalah Nadine, San." lirih Syam namun masih terdengar ditelinga Sandy.


Didepan cermin Hany mengepalkan tangannya mendengar Syam masih mencintainya.


"Apa? Nadine? Kamu bercanda? jelas-jelas nama yang tertulis diundangan itu adalah Mawar bukan Nadine, berhenti berhalusinasi Syam."


"Nadine ternyata adalah Mawar Putri dari Arman Putra Wijaksana yang hilang sejak bayi berumur 2tahun." jelas Syam, Sandy semakin terkejut mendengarnya.


"Benarkah apa yang Kamu bicarakan itu Syam?" Syam terdiam tidak menjawab pertanyaan Sandy, diamnya Syam membuat Sandy mengerti.


"Sudahlah lupakan Nadine, Kamu kan sudah beristri, biarkan dia bahagia bersama orang lain Syam." tutur Sandy, Syam masih terdiam.


"Kumohon sekali ini saja, tolong Aku, HJ.GRUP sudah banyak membantu perusahaan orangtuaku, mereka tidak enak hati jika membatal Aku menyanyi." pinta Sandy.


"Baiklah." dibalik telepon Sandy sangat senang dan mengucapkan terimakasih keapada Syam, Syam langsung menutup teleponnya dan kembali melamun.


^


"Kerjakan ini lagi! Aku ingin pulang karena harus menghadiri pernikahan sepupuku." Putra menaruh berkas-berkas dimeja Gina dengan kasar.


Gina terdiam karena dirinya juga ada undangan hari ini, Gina berdiri lalu menundukkan kepalanya, "Maaf Pak, apa boleh Aku mengerjakan ini dirumah? karena Aku juga ada undangan hari ini Pak." ijin Gina tak berani menatap Putra karena takut.


"Undangan apa Kamu?" entah mengapa pertanyaan itu yang keluar dari bibir Putra.


"Undangan pernikahan Direktur HJ.GRUP Pak."


Putra tersentak kaget, "Hasan dan Mawar maksudmu?" Gina mendongak lalu menganggukan kepalanya.


"Kenapa Kamu bisa diundang?" tanya Putra heran.


"Kakak Saya bekerja disana Pak, jadi keluargaku diundang." jelas Gina.


Putra terdiam sejenak, "Oke kalau begitu, ayo Aku antar pulang dan datang kepesta bersamaku." Gina membelalakan matanya terkejut dengan penawaran Putra.


"Kenapa tidak mau? kalau begitu tidak usah pulang." Putra melangkah pergi namun suara Gina menghentikkannya.


"Aku mau Pak." setuju Gina, mereka langsung bergegas keluar dari kantor dan pulang bersama-sama.


ยค


Hasan naik keatas panggung lalu meminta seseorang mengambilkan gitar untuknya, semua mata memandang kearah Hasan, "Mau apa cucuku ini?" gumam Grissam yang terdengar ditelinga teman-temannya.


"Biasa pengantin baru, mungkin mau menyanyikan lagu untuk istrinya." Grissam tersenyum mendengar tebakan seseorang disampingnya.


Saat gitar sudah ada ditangannya, tangan kiri Hasan menyentuh mix yang ada didepannya, Mawar tersenyum ketika melihat suaminya diatas panggung, itu adalah hukuman yang Mawar kasih untuk Hasan saat itu.


"Aku disini untuk..." Hasan meliirk Mawar lalu kembali melihat kedepan.


"Untuk menyanyikan sebuah lagu yang sangat pas menggambarkan isi hatiku untuk istriku." Hasan melirik Mawar kembali kali ini sambil tersenyum, Mawar tersanjung dan penasaran lagu apa yang ingin dia nyanyikan.


"Cieeeee." Melati menyenggol lengan Mawar.


Suara tepuk tangan meriahkan acara pernikahan itu, teriakan demi teriakan terlontar dari bibir mereka yang ingin Hasan segera bernyanyi.


Saat Mawar memberikan hukuman ini kepadanya, dirinya terus berlatih bernyanyi agar tidak terlihat jelek nanti, untungnya Hasan bisa bermain gitar yang sering dia mainkan saat sendiri didalam kamarnya.


Hasan membenarkan mixnya lalu memangku gitarnya.


*Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Oh-ho huu


Terimalah lagu ini


Hm-mm


Dari orang biasa


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Terimalah cintaku yang luar biasa


Hm-mm


Tulus padamu*


Semua orang menghayati lagu yang sedang Hasan nyanyikan, airmata Mawar tak tertahan karena pernyataan cinta yang Mawar tunggu-tunggu terjawab oleh lagu yang Hasan nyanyikan, mata Mawar tak berkedip melihat Hasan yang sedang bernyanyi untuknya, Hasan pun dengan senyumnya selalu melirik Mawar dengan cinta.


Putra dan Gina yang baru datang langsung terpukau melihat penampilan Hasan, "Beruntung sekali Mawar." gumam Gina, Putra melirik Gina karena merasa bahwa Gina seperti ingin mendapatkan lelaki seperti Hasan.


"Aku juga bisa bernyanyi seperti itu." ucap Putra, Gina melirik Putra dengan penuh tanda tanya.


โ™ก


#Hayyyyyyyyy ๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹


*Apaan lu thot telat mulu kerjaannya ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ


#Hahahha iya kaka, jangan dihukum ya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


*Harus dihukum lu thor ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ


#Ampunnnnnmmm ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ