Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Kalau Berani Lawan Aku Sini!



Syam turun dari panggung lalu berjalan kearah Mawar, Hasan pasang badan untuk Mawar, "Selamat untuk pernikahanmu." Syam mengulurkan tangannya kepada Hasan, Hssan menjawab uluran tangan Syam.


"Terimakasih, pergilah istrimu sudah menunggumu." Hasan menggerakan kepalanya mengisyaratkan Syam untuk pergi.


Syam terdiam karena dirinya ingin sekali berbicar kepada Mawar walau hanya sebentar, tetapi takdir semakin sulit untuknya.


Tiba-tiba Hany datang dan menarik tangan Syam dari hadapan Hasan dan Mawar, Syam tersentak kaget, "Apaan sih!" kesal Syam sambil melepaskan tangannya.


"Jangan bertengkar disini, selesaikan masalah kalian dirumah sana." ucap Hasan kepada kedua pengantin baru itu.


Hany kembali menarik Syam agar pergi dari hadapan Hasan dan Mawar, Syam menoleh kebelakang dan berharap jika Mawar memanggilnya namun nihil harapan Syam hanya dalam angan-angan saja.


Setelah Syam dan Hany pergi, Mawar menggeser tubuhnya, Hasan melirik Mawar yang kini berada disampingnya, "Tidak usah berpikir macam-macam." ucap Mawar.


^


Melati masih kecewa dengan suaminya hingga acara selesai pun Melati masih diam dan merasa kesal dengan suaminya, "Jangan marah terus, Dek. Nanti dedeknya ikutan marah loh." ucap Zaki saat berjalan disamping istrinya untuk berpamitan kepada Hasan dan Mawar.


Zaki menghembuskan nafasnya pelan karena tidak mendapat respon dari istrinya, Melati masih setia dengan diamnya jangankan menjawab menoleh pun tidak.


"Kak, Melati pulang dulu ya, Melati capek pingin istirahat." ijin Melati.


"Kita pulang dulu ya." sambung Zaki.


"Menginap saja dirumahku." saran Hasan.


"Iya benar, Dek. Mamah pasti juga mau menginap." sambung Mawar.


"Lain kali saja ya Kak." Melati menampilkan senyuman terpaksa.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati." Melati dan Zaki bersalaman dengan Hasan dan Mawar, setelah berpamitan dengan kedua pengantin, Melati menghampiri sang ibu dan berpamitan kepadanya, tanpa curiga jika Rumi mengijinkan Melati dan Zaki walaupun dia berharap bila anak dan menantunya mau menginap dirumah Hasan.


Grissam dan Ellois pun membujuk Melati agar mau menginap namun Melati tetap kekeh untuk beristirahat dirumah.


Zaki berjalan dibelang istrinya, saat sudah dekat dengan mobilnya suara Lina kembali terdengar, "Kak Zaki." tiba-tiba Lina sudah ada disamping Zaki, Melati membalikkan badannya dan melihat wanita itu dari dekat.


"Ada apa?" tanya Zaki.


"Apa Aku boleh pulang bareng Kakak? Aku tertinggal dengan keluargaku, mereka sudah pulang duluan." Zaki menatap Melati yang sedang memasang wajah masam.


Lina mengikuti arah pandang Zaki namun Lina tidak mau peduli dengan wanita yang ada didepannya kini karena Lina hanya ingin Zaki.


"Maaf Lin tapi Ak..."


"Masuklah." perkataan Melati membuat hati Zaki semakin tidak enak dan merasa akan ada bom yanh suatu saat siap meledak.


"Terimakasih." Lina tersenyum senang dan langsung naik kemobil Zaki, Lina duduk didepan itu berarti Zaki akan bersebelahan dengannya.


Melati membuang mukanya dan masuk kedalam mobil bagian belakang, hati Melati rasanya sakit sekali, tapi bukannya yang mengijinkan dirinya ikut adalah dirinya?


Dengan nafas dan langkah berat Zaki berjalan dan membuka pintu mobil, "Duduklah dibelakang." pinta Zaki kepada Lina.


Lina mengernyintkan keningnya, "Kenapa?"


"Tidak usah, tetap duduk saja didepan." Zaki menatap istrinya dengan tajam namun Melati membuang mukanya tidak mau melihat suaminya.


Zaki mengendarai mobilnya kearah rumah Lina, Zaki tahu karena dulu dua sering mengantar jemput Lina, Lina sangat senang dan sering melirik Zaki sambil tersenyum, bahkan Lina sering mengajak Zaki mengobrol seolah-olah Melati tidak ada.


^


Putra ingin masuk mobil namun matanya menangkap sesuatu didepan pinggir gerbang, saat itu keadaan sudah mulai sepi karena para tamu satu-persatu sudah pulang, Putra dan teman-temannya sengaja pulang lama agar bisa mengobrol dengan Hasan dan Mawar, Gina sedang berdiri disampinh gerbang tanpa ditemani teman-temannya, padahal Putra tadi sempat melihat Gina keluar bersama teman-temannya, Putra pikir Gina akan pulang bersama mereka.


"Mau pulang gak?" Rio membuka kaca mobilnya.


"Kalian duluan saja, Aku ada urusan." Rio menganggukan kepalanya lalu meninggalkan tempat pernikahan Hasan dan Mawar.


Putra berjalan menghampiri Gina, "Kamu ngapain disini?" Gina terkejut lalu menghapus airmatanya dan menghadap Putra.


"Bukan urusanmu, sebentar lagi juga pulang." celoteh Gina.


"Bukannya tadi Kamu mau pulang bersama teman-temanmu?" tanya Putra lagi.


"Aku sudah bilang bukan urusanmu!" teriak Gina lalu pergi dari hadapan Putra dengan berjalan kaki.


"Cewe aneh, ditanya malah marah-marah gak jelas." umpat Putra lalu kembali menghampiri mobilnya.


Putra kemudian menjalankan mobilnya, belum berjalan jauh Putra melihat Gija sedang diseret-seret oleh dua orang pemuda, Putra langsung memberhentikkan mobilnya.


"Tolong!" teriak Gina sambil meronta-ronta tangannya yang dicengkram erat oleh dua orang pemuda itu.


"Lepaskan Aku Tuan, Aku mohon." mohon Gina.


"Kamu harus ikut Kami, karena bos Kami sudah menunggu kedatanganmu." ucap sala satu pemuda itu.


"Aku tidak mau!"


BUUUGGGGHHH Putra menendang perut salah seorang pemuda itu dan beralih menendang temannya, mereka tersungkur kebawah karena tendangan Putra sangat kuat hingga mereka meringis kesakitan.


"Putra." gumam Gina.


"Kalau berani jangan sama wanita lawan Aku sini." tantang Putra.


Mereka berdiri sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit, "Hey anak muda, jika tidak tahu urusan Kami lebih baik diam dan pergilah." ancam pemuda itu.


"Ha! enak saja, urusan wanita ini menjadi urusanku juga, sini maju kalau kalian mau mati sia-sia disini, ayo!" Putra menggerakkan kelima jarinya mengisyaratkan agar mereka maju dan melawannya.


"Cih! menantang Kau, Kamu yang akan mati!" teriak pemuda itu dan langsung maju kedepan untuk menghajar Putra.


Sekali dua kali Putra bisa menghindar namun serangan terduga dari samping membuat Putra lengah dan kena pukul dipipinya, "Putra!" teriak Gina yang melihat Putra jatuh karena pukulan itu.


"Brengsek!" Putra memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.


Melihat lawannya lemah dua orang pemuda itu langsung mengambil kesempatan untuk segera melumpuhkan Putra, namun baru satu pukulan tiba-tiba pemuda itu tersungkur jatuh karena mendapat tendangan dari seseorang.


"Apa Tuan tidak apa-apa?" Jefry membantu Putra untuk berdiri.


"Makasih, Jef." yang membantu Putra adalah Jefry yang saat itu tidak sengaja melihat keramaian saat dirinya keluar untuk menghirup udara segar karena tugasnya sudah selesai hari itu.


Melihat Jefry dua orang pemuda itu ketakutan dan langsung berlari, Putra bingung dan mengernyitkan keningnya, "Kenapa mereka takut denganmu." Jefry hanya mengangkat bahunya tidak mengerti.


"Putra apa Kamu tidak apa-apa?" tanya Gina yang terlihat sangat khawatir.


^


Sampai dimansion Hasan.


"Selamat istirahat Sayang dan..." ucap Rumi membuat Mawar penasaran karena ibunya memotong perkataannya.


"Dan apa Mah?"


"Dan selamat membuat cucu untuk Mamah." lirih Rumi, Grissam dan Ellois langsung tertawa.


"Benar itu, Eyang juga tidak sabar untuk menggendong cicit." timpal Ellois.


Wajah Hasan dan Mawar langsung memerah karena malu, "Mamah apaan sih!" lirih Mawar.


"Doakan saja ya Eyang, Mamah, kita hanya berusaha." ucap Hasan sambil tersenyum usil kepada istrinya.


"Usahanya harus giat ya Sayang." ledek Rumi lagi, tawa Grissam dan Ellois pecah kembali.


"Siap Mah." Mawar kesal karena Hasan selalu menanggapi ledekan ibunya.


"Ya sudah kita istirahat dulu ya Mah, Eyang." pamit Hasan, Hasan menggandeng tangan istrinya untuk naik keatas kekamarnya, yang juga sekarang menjadi kamar istrinya juga.


"Selamat datang dikamar barumu Nona, semoga Anda menyukainya." ucap Hasan saat membuka pintu kamarnya.


Mawar tersenyum malu, dirinya masuk perlahan dan langsung takjub dengan apa yang dia lihat dikamar itu, pemandangan yang tidak pernah Mawar bayangkan, jantungnya terasa lari maraton saat ini karena ada sesuatu yang melingkar dipinggangnya saat ini.



#Jangan panas dulu orang bersambung 😛😛😛😛


*Kurang asem emang lu thor 😡😡😡😡


#Hahaha dimanisin aja pakai gula 😂😂😂😂


*Gak lucu thor 😈😈😈😈


#Lucuin aja pakai tiktok 😜😜😜😜


#Maafkan author kalau mulai besok jarang atau tidak balesin komen karena author akan berubah menjadi buk tani 😂😂😂😂


*Terserah lu thor lah 😕😕😕😕