
Sudah beberapa hari Nadine dirawat dirumah sakit, sudah beberapa hari juga Hasan dan Jefry setia menemani Nadine menunggunya sampai sembuh.
"Akhirnya Aku bisa pulang juga, aku senang sekali." ucap Nadine dengan wajah yang terlihat ceria.
Hasan memandang wajah ceria itu tanpa berkedip, hatinya ikut bahagia ketika melihat keceriaan diwajah Nadine, "Senang sekali." ucap Hasan sambil membantu Nadine turun dari ranjang.
"Tentu saja, Aku sudah tidak sabar ingin kuliah lagi Tuan."
"Kamu baru sembuh dan akan beristirahat dirumah beberapa hari sebelum masuk kampus." pernyataan Hasan membuat wajah ceria Nadine meredup.
"Aku sudah baik-baik saja Tuan, sungguh." Nadine berusaha meyakinkan Hasan.
"Jangan membantah!" seru Hasan dengan suara lembut.
Nadine melepaskan bantuan Hasan, "Aku bisa sendiri!" kesal Nadine.
Karena turun dengan perasaan kesal dan terburu-buru Nadine terjatuh, "Ahhh." namun tangan Hasan menangkap tubuh Nadine agar tidak jatuh kelantai.
Nadine menutup matanya karena berpikiran bahwa dirinya akan jatuh kelantai, dengan perasaan was-wasnya Nadine membuka matanya secara perlahan dan memperhatikan keadaan dirinya yang kini sedang berada dilengan kokoh seorang lelaki, Nadine mendongak dan bertemu dengan mata Hasan, pandangan mereka menyatu untuk beberapa saat.
"Ehm..ehm." Jefry berdehem, membuat Hasan dan Nadine mengakhiri pandangannya, Hasan membenarkan tubuh Nadine yang ingin terjatuh.
Hati Nadine berdebar-debar ketika tadi berdekatan dengan Hasan padahal sebelumnya Nadine tidak merasakan demikian kalau berdekatan dengan Hasan, tapi tadi? Nadine juga bingung menjelaskan perasaannya.
"Jangan berani dengan Tuan Muda, Nona. nanti kualat!" seru Jefry sambil menahan tawanya.
Nadine memonyongkan bibirnya kearah Jefry yang meledeknya, "Sudah ayo." Hasan kembali membantu Nadine, Nadine menatap lelaki yang akhir-akhir ini selalu bersamanya, ada perasaan tenang ketika berada didekat Hasan, tapi juga ada perasaan tidak enak karena ternyata Hasan itu adalah bosnya dikantor tempat dia bekerja.
Mengingat pekerjaannya Nadine langsung menepuk jidatnya sendiri membuat Hasan dan Jefry sedikit terkejut, "Kamu kenapa? perutnya sakit lagi?" tanya Hasan khawatir.
"Tuan..kalau perutku yang sakit berarti Aku pegangnya perut bukan jidat." pernyataan Nadine membuat Hasan ingin tertawa.
"Lalu kenapa?" tanya Hasan kembali.
"Aku teringat dengan pekerjaanku Tuan, aku tidak dipecat kan Tuan?" Nadine menggelayut lengan Hasan.
Hasan memandang lengannya yang sedang dipegang oleh Nadine, Nadine melihat arah mata Hasan dan ketika sadar Nadine langsung melepaskan gelayutannya, "Maaf Tuan." Nadine menunduk malu.
Hasan tersenyum tipis, "Jelas Kau dipecat karena tidak masuk dalam waktu cukup lama, Kamu tahu kan? kalau perusahaan itu sangat disiplin?" perkataan Hasan sukses membuat jantung Nadine maraton dengernya.
"Ya Allah...terus aku bekerja dimana lagi?" batin Nadine sedih.
Didalam mobil Nadine terdiam tidak banyak bicara, dirinya masih memikirkan perkataan Hasan tadi, Hasan sesekali memerhatikan Nadine dan Hasan menangkap kesedihan diwajahnya.
"Kamu bekerja denganku, jadi tidak usah khawatir." Nadine langsung menoleh kearah Hasan.
"Aku tidak jadi dipecat Tuan?" tanya Nadine antusias.
"Dipecat." jawab Hasan membuat wajah Nadine kembali bersedih.
"Lalu apa maksud Tuan bekerja dengan Tuan?" protes Nadine.
Hasan tersenyum kearah jendela dan tidak menjawab pertanyaan dari Nadine, membuat Nadine semakin penasaran.
Karena Hasan tidak kunjung menjawab membuat hati Nadine begitu dongkol rasanya, "Baik tapi kadang menyebalkan." batin Nadine.
Mobil yang mereka naiki tiba-tiba berhenti, Nadine melihat sekelilingnya dan merasa bingung karena itu bukan kerumah Hasan.
Hasan membawa Nadine kerumah yang dulu dia tempati bersama kedua orangtua Hasan, "Ayo turun." Hasan mengulurkan tangannya untuk membantu Nadine karena Nadine baru sembuh jadi ada rasa takut bagi Hasan kalau perutnya belum sepenuhnya sembuh.
Nadine keluar dari mobil dan melihat sekeliling rumah yang saat ini Nadine lihat, "Kenapa kita kesini Tuan? dan rumah siapa ini Tuan?" tanya Nadine penasaran.
"Nak Hasan?" panggil Rumi dari depan pintu rumahnya.
"Hai Bibi..." Hasan melambaikan tangannya kepada Rumi, Rumi membalas lambaian tangan Hasan sambil tersenyum.
Hasan membuka pintu rumahnya dan terbukalah pintu rumah yang sudah lama tidak Hasan datangi ini, Nadine berjalan agak sedikit cepat agar bisa berada disamping Hasan, "Tuan ini rumah siapa?" tanya Nadine semakin penasaran.
"Rumahku." jawab Hasan saat menoleh kearah Nadine.
Nadine menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Jangan bercanda Tuan." ucap Nadine merasa kalau Hasan berbohong.
Hasan duduk diruang tamu yang sudah lama tidak dia duduki, Hasan menepuk kursi yang disebelahnya, "Duduklah." perintah Hasan.
Nadine mengikuti perintah Hasan, Nadine menelisik wajah Hasan siapa tahu semua yang dia dengar barusan itu adalah salah, Hasan memandang Nadine yang sedang memperhatikannya, "Jangan memperhatikanku seperti itu, nanti Kamu suka." mendengar perkataan Hasan, Nadine langsung membuang muka dengan wajah yang kesal.
"Assalamualaikum." salam seseorang wanita.
"Wa'alaikumsalam." Hasan berdiri dan menyambut tamunya yang tak lain adalah Rumi dan Melati.
"Silahkan duduk Bi, Dek." Hasan menunjuk kursi yang kosong.
"Makasih Kak." ucap Melati sambil tersenyum, Hasan membalas senyuman Melati.
Rumi melihat Nadine yan ada didepannya, "Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Rumi membuat lamunan Nadine buyar.
"Alhamdulillah Bu." jawab Nadine sedikit gugup.
"Dimana tempat tinggalmu Sayang." tanya Rumi lagi seakan ingin tahu lebih banyak tentang Nadine.
Nadine terdiam lalu memandang Hasan, Hasan menangkap kesedihan diwajah Nadine, "Nadine akan tinggal disini Bibi." ucapan Hasan membuat Melati dan Nadine sedikit terkejut.
Nadine menatap Hasan sambil mengerutkan keningnya ingin penjelasan atas apa yang tadi Hasan bicarakan, "Kamu akan tinggal disini, kurang jelas." Nadine menghembuskan nafasnya karena selalu mendapat kejutan dari Hasan yang tidak pernah dia bayangkan.
Wajah Rumi terlihat ceria, entah mengapa rasanya senang sekali bila berada dekat dengan Nadine, "Bibi akan sangat senang sekali." ucap Rumi dengan wajah yang penuh dengam senyuman.
"Memang Nadine tidak mempunyai tempat tinggal Kak?" tanya Melati menoleh kearah Hasan.
Hasan menggelengkan kepalanya, Melati mengangguk mengerti.
"Oh iya...ini ada makanan untuk kita makan siang bersama." Melati mengangkat rantang yang berisi makanan.
"Baiklah...ayo kita kemeja makan." seru Hasan.
Rumi menghampiri Nadine dan membantunya untuk berjalan, "Nadine sudah baik-baik saja Bu..." Nadine merasa terharu mendapatkan perhatian dari seorang ibu.
"Tidak apa-apa...Ibu hanya ingin membantumu." ucap Rumi sambil tersenyum kepada Nadine, Nadine pun membalas senyuman Rumi.
Hasan memilih duduk disebelah Nadine membuat Melati sedikit kecewa namun Melati berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
"Kamu mau ini?" Hasan menunjuk sambal goreng kentang kepada Nadine.
Nadine mengangguk, "Boleh. sepertinya enak." ucap Nadine.
Hasan mengambilkan makanan kepiring Nadine, awalnya Nadine menolak untuk diambilkan tapi Hasan tidak mau kalah dengan Nadine untuk memaksanya.
Melati memperhatikan keduanya dengan hati yang sedikit terluka mungkin, tapi harusnya tidak, karena dirinya juga sudah mempunyai suami bukan? tapi perasaannya memang tidak bisa berbohong. Kalau Melati sakit ketika melihat Hasan perhatian terhadap wanita lain.
Melati mencoba menahan airmatanya, sebisa mungkin, "Ya Allah kuatkanlah hatiku ini." batin Melati.
Rumi tidak sengaja melihat kearah Melati dan Rumi melihat kesedihan diwajah anaknya tersebut, Rumi tahu jika anaknya masih mencintai Hasan dan apa yang dia lihat sekarang pasti membuat hatinya terluka.
#besok lagi 😂😂😂
*bohong lu thor 😑😑
#kalau sempet maksudnya 😂😂😂