Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Siapa Yang Melakukan Ini?



"Apa!"


"Maaf Tuan Muda jika Aku mengganggumu." Jefry seakan tahu jika Hasan sedang kesal.


Hasan menarik nafasnya, "Lupakan, katakan ada apa?"


"Bibi Ayu sakit, dan..."


Hasan tersentak, "Dan apa!" nada Hasan sedikit meninggi karena khawatir.


"Dan semalam ada yang membantai markas Tuan Besar, banyak anak buah kita yang terluka Tuan Muda." jelas Jefry.


"Bawa bibi dan anak buah kerumah sakit, Aku akan segera kesana." belum mendengar jawaban Jefry, Hasan mematikan ponselnya.


"Ada apa?" Mawar dapat melihat raut wajah suaminya yang terlihat sedih.


"Bibi sakit dan semalam katanya markas ada yang membantai, banyak anak buah Eyang yanh terluka, Aku harus pergi kesana." Mawar ikut sedih mendengar kabar dari Hasan.


"Aku ikut."


Hasan menyentuh pipi istrinya, "Dirumah saja bersama Mamah dan Eyang." pinta Hasan.


Mawar memajukan bibir bawahnya, "Jangan memasang wajah seperti ini." Hasan mencubit pelan bibir bawah istrinya.


Hasan mengecup kening dan bibir istrinya, "Tunggu Aku pulang." dengan wajah yang masih terlihat pias Mawar menganggukan kepalanya, Hasan tersenyum lalu mengambil jaketnya dan keluar dari kamarnya setelah mengucapkan salam kepada Mawar.


"Mau kemana San?" tanya Grissam yang juga sudah berpakaian rapi menggunakan jaket.


"Eyang sudah mendapat kabar dari Jefry?" Grissam menganggukan kepalanya.


"Sebaiknya Kamu dirumah saja San, biar Eyang saja yang kesana." usul Grissam.


"Hasan harus ikut, Eyang." Grissam terpaksa mengangguk.


"Baiklah, ayo kita pergi." Hasan dan Grissam dengan langkah cepat meninggalkan rumah.


¤


Melati melihak kesedihan diwajah suaminya setelah menerima telepon yang entah dari siapa, "Ada apa Mas? kok wajahmu sedih seperti itu." Melati berdiri dari duduknya lalu menghampiri suaminya.


Zaki menoleh kearah Melati, "Mamah sakit, Dek." lirih Zaki.


"Mamah? maksudnya mamah Ayu?" tebak Melati karena yang dia tahu ibunya baik-baik saja.


Zaki menganggukkan kepalanya, "Mas boleh melihatnya?" ijin Zaki, Melati menganggukan kepalanya.


"Tentu saja boleh, Mas. Pergilah."


"Makasih, Dek." Zaki memeluk istrinya lalu mengecup keningnya, setelah itu Zaki pergi tanpa istrinya.


Melati melihat kepergian suaminya dari balkon, Melati melambaikan tangannya kepada suaminya saat mobil suaminya telah bersiap pergi.


"Walau bagaimanapun dia tetap mertuaku, sembuhkan dia Ya Allah." doa Melati dalam hati.


¤


Dikantor milik Panji yang sekarang menjadi milik Zaki dan Putra, Putra sedang terduduk matanya fokus menatap layar laptop yang ada dimejanya sehingga Putra tidak menyadari jika Gina masuk kedalam ruangannya.


Gina memperhatikan Putra yang sedang fokus bekerja, entah mengapa senyum Gina tiba-tiba mengembang namun dengan segera Gina mengembalikkan raut wajahnya seperti biasa, "Aduh apa sih yang Aku pikirin?" Gina mengetuk-ngetuk kepalanya dengan pelan.


"Maaf Pak." Putra mendongak dan melihat Gina sudah berdiri didepan mejanya.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk?" tanya Putra.


"Aku sudah meminta ijin dari tadi tapi telinga Anda yang tuli pak!" kesal Gina dalam hati.


"Maaf Pak, Saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tapj tidak ada jawaban jadi Aku putuskan untuk masuk." Putra mengangkat kedua alisnya.


"Ada apa?" acuh Putra namun matanya instens melihat Gina.


"Ada berkas yang harus Bapak tanda tangani." Gina menyodorkan berkas yang dia bawa.


Putra mengambil berkas itu lalu membacanya sebentar, ketika dirasa semua benar Putra langsung menandatangani berkas itu.


"Kamu boleh pergi." kata Putra saat memberikan berkas itu kepada Gina kembali.


Gina mengambil berkas itu namun Gina belum beranjak dari ruangan Putra, Gina mengangkat tangan kirinya yang membawa kotak makanan, ada sedikit keraguan untuk memberikan kotak makanan itu kepada Putra, namun niat hatinya yang membawanya berani untuk memberikannya.


"Pak." Putra menoleh dan mengerutkan keningnya karena ternyata Gina belum beranjak dari ruangannya.


"Untuk Bapak." Gina berusaha menutupi kegugupannya, berharap Putra menerimanya tanpa banyak bertanya dan drama.


Putra melirik kotak makanan yang dibawa Gina, hatinya tersenyum namun rasa gengsinya menyuruhnya untuk tetap diam tanpa mengambil kotak makanan itu.


"Sudah Ku duga kan!" Gina menarik nafasnya.


"Terima sajalah, ini semua sebagai tanda terimakasihku kepada Bapak, karena Bapak sudah menolongku kemarin malam." tutur Gina, Putra tersenyum simpul lalu mengambil kotak makanan itu dari tangan Gina.


Mata mereka saling pandang karena dengan tidak sengaja tangan Putra menyentuh tangan Gina yang sedang memegang kotak makanan, "Maaf, sekarang keluarlah." ucap Putra tanpa melihat Gina, entah mengapa jantungnya berdetak kencang saat ini.


Gina diam dan menundukkan kepalanya sedikit lalu pergi dari ruangan Putra, didepan pintu Gina memegang dadanya, "Kenapa dengan jantungku ini?" gumam Gina.


¤


Hasan dan Grissam sampai dimarkas Grissam, "Sepertinya kelompoknya banyak." Gumam Grissam saat melihat keadaan markasnya dari luar yang sudah terlihat berantakan dan banyak barang pecah didepan pintu.


"Maksud Eyang?" Hasan tidak begitu mengerti apa yang sedang Eyangnya bicarakan.


"Sepertinya yang menyerang tempat ini bukan cuman beberapa orang tapi banyak, Kamu bisa lihat sendiri kan? baru dilihat dari luar saja sudah berantakan seperti ini." Hasan menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan mengiyakan perkataan eyangnya.


"Sepertinya begitu, Eyang." Grissam dan Hasan masuk kedalam gedung.


Saat masuk kedalam gedung Grissam dan Hasan melihat Jefry dan anak buah yang lain yang Jefry bawa sedang membersihkan tempat itu, "Jef." seketika Jefry langsung beehenti dan menoleh kearah Grissam dan Hasan.


"Tuan." Jefry menundukkan sedikit kepalanya.


"Apa sudah ada petunjuk siapa yang melakukan ini semua? Jef." tanya Grissam melihat keadaan markas yang sangat berantakan itu.


Jefry menggelengkan kepalanya, "Cctv nya sudah dirusak semua, Tuan. Sehingga kami belum menemukan siapa pelakunya." tutur Jefry.


"Apa Bibi sudah dibawa kerumah sakit?" Jefry menganggukkan kepalanya.


"Sudah Tuan Muda, Aku sudah menghubungi Zaki agar dia bisa menemani ibunya." jelas Jefry, Hasan menganggukkan kepalanya.


"Apa ini ada hubungannya dengan kematian Panji?" tebak Grissam menatap Jefry.


Jefry diam sejenak, "Mungkin, kita akan mengetahuinya ketika keadaan ibunya Zaki membaik Tuan karena dia lebih tahu semua kejadian ini."


"Jangan beri ampun!" tekan Grissam.


Hasan terdiam berpikir, perasaan Hasan menjadi tidak tenang karena jika benar semua ini karena kematian Panji, berarti ada pembalas dendaman dan semua ini akan terus berlanjut sampai balas dendam mereka berhasil.


"Lebih baik kita kerumah sakit sekarang, lihat keadaan Ayu." perintah Grissam yang disetujui oleh Jefry dan Hasan.


¤


Dirumah sakit Zaki mondar-mandir didepan pintu ruang perawatan ibunya yang sedang diperiksa oleh dokter.


"Kak Zaki?" Zaki menoleh kearah seseorang yang memanggilnya.


"Lina?" Lina tersenyum lalu berjalan cepat menghampiri Zaki.


"Kakak sedang apa disini?" tanya Lina.


"Ibuku sedang sakit dan sedang diperiksa oleh dokter." jelas Zaki.


"Kamu sendiri sedang apa disini?" tanya Zaki.


Lina tersenyum, "Menjenguk temanku." Zaki menganggukan kepalanya.


"Putra tidak ikut?" Zaki menggelengkan kepalanya.


"Aku belum mengabarinya, nanti saja jika keadaan ibuku sudah membaik, Aku tidak ingin membuatnya khawatir." tutur Zaki.


Lina mengernyitkan keningnya, "Memang kalian tidak tinggal serumah?" tanya Lina bingung.


"Aku sudah tinggal sendiri dengan istriku." Deg jantung Lina seakan berhenti berdetak mendengar jawaban Zaki, apa menikah? jadi wanita yang bersama Zaki saat itu istrinya? bukan sepupu atau temannya?


"Berarti wanita yang dipesta itu istrinya Kak Zaki? bukan sepupunya?" ada nada kecewa saat Lina berbicara.


Zaki menganggukan kepalanya, "Iya."


"Aku kira dia sepupumu karena kelihatannya masih sangat muda."


"Istriku memang masih muda, dia seumuran dengan Putra." Lina mengangguk kecewa dengan jawaban Zaki.


Lina akhirnya pamit pulang kepada Zaki, didalam mobil Lina menangis karena ternyata Zaki sudah menikah, "Aku kembali untukmu Kak, tetapi kenapa Kamu tega melakukan ini." Lina menutup wajahnya dengan kedua tangannya.



#Maaf Kakak-kakak zeyeng, Ay masi agak sibuk hohoho


belum bisa balesin komen atau mampir 😑😑 maaf ya, Ay usahain uptadete karena karya author sudah kontrak dan tidak bisa hiatus, aslinya mau author hiatusin dulu heheh tapi karya karyanya sudah masuk kontrak jadi tetep usahain update walau jarang dan sedikit 😂😂😂


jangan marah ya kakak-kakak zeyeng 😚😚😚