Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Ma-mah



Ayo kita sukses sama-sama 😚😚😚


"Kalau Melati kenapa tidak masuk, San?" tanya Rio.


"Jangan-jangan mereka berantem ya?" sergah Adi.


"Mereka tidak kenapa-napa, Melati sedang sakit." jawab Hasan, Nadine merasa jika ada sesuatu rasa yang entah itu apa antara Hasan dan Melati.


"Sakit? kenapa? jangan-jangan belum bisa move on darimu kali, San!" seru Adi membuat mata Rio memelotot kearahnya.


Uhuk... Nadine tersedak mendengar perkataan Adi, Hasan segera menyodorkan airminum kearah Nadine, "Pelan-pelan." ucap Hasan.


Nadine meminum air yang Hasan berikan dengan perasaan sedikit galau setelah mendengar perkataan Adi, "Melati suka sama Hasan? lalu kenapa harus menikah dengan Kak Zaki?" tanya Nadine didalam hati, rasanya ingin sekali Nadine mangatakan itu langsung tapi sepertinya itu bukan urusannya.


"Melati sudah bahagia, Kak Zaki itu lelaki sempurna, jangan katakan itu lagi." Adi terkekeh karena merasa bersalah telah mengungkit masalalu Hasan.


"Kalau kalian saling suka kenapa kalian berpisah?" tanya Nadine karena rasa penasarannya yang sudah tidak terbendung lagi.


Hasan menoleh kearah Nadine, menatap Nadine dengan tatapan yang hanya Hasan yang tahu artii dari tatapan itu, "Aku hanya bertanya, tidak usah memandangku seperti itu." lirih Nadine lalu berpura-pura meminum minuman yang berada didepannya.


Hasan ingin menjawab pertanyaan Nadine namun kedatangan Jefry membuat Hasan tidak jadi menjawabnya, "Ada apa?" tanya Hasan merasa ada sesuatu yang ingin Jefry sampaikan.


Jefry mendekatkan mulutnya kearah Hasan, Hasan mendengar bisikan Jefry dengan serius, "Oke baiklah, kita akan segera kerumah Bibi." tutur Hasan ketika Jefry selesai berbisik.


"Ada apa?" tanya Nadine ingin tahu.


Hasan berdiri dari duduknya, "Rio, Adi, Aku pergi dulu, sudah Aku bayar semuanya, selamat makan." Hasan pamit kepada Adi dan Rio, tak lupa Hasan mengajak Nadine agar mau ikut bersamanya.


"Aku tidak tahu, kata Eyang, Aku disuruh kesana karena ada hal penting yang ingin mereka sampaikan." Hasan menjawab pertanyaan Nadine sambil berjalan kearah mobil.


^


Rumi menangis memegang kalung liontin milik Mawar yang tadi Grissam tunjukan kepada Rumi, ada rasa bahagia yang hadir didalam hatinya melihat petunjuknya ada didepan matanya sekarang, dan sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan anaknya, anak yang selama ini dia cari.


"Kenapa Mamah menangis?" tanya Melati yang baru turun kebawah, Melati ditemani sang suami. Zaki merasa takut meninggalkan istrinya hari itu karena kondisi istrinya yang sedang sakit, menjadikan dirinya meliburka diri dari kantornya untuk beberapa hari.


"Lihat ini Mel." Rumi memperlihatkan kalung liontin yang sama persis dengan dirinya.


Mata Melati membulat sempurna, dirinya begitu terkejut melihat kalung yang sama sepertinya berada ditangan ibunya, itu berarti kakaknya sudah ditemukan, bibir Melati mengulas senyuman, "Ini kalung Kak Mawar, Mah?" tanya Melati dengan wajah bahagia.


Rumi mengangguk, Zaki ikut merasa senang bila akhirnya kakak istrinya bisa temukan, "Lalu pemilik kalung itu siapa, Mah?" tanya Zaki.


"Untuk menjawab pertanyaanmu kita harus menunggu kedatangan Hasan, karena hanya dia yang tahu pemilik kalung itu." timpal Grissam.


"Apa itu berarti anakmu itu sudah ditemukan, Rum?" tanya Ayu yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan semuanya.


"Mamah, bikin kaget saja." ucap Zaki lirih, Ayu meminta maaf kepada mereka karena sudah membuat mereka terkejut.


"Doakan saja Yu, semoga anakku dalam keadaan baik-baik saja." doa Rumi.


"Aku akan selalu berdoa yang terbaik untukmu Rum." ucap Ayu tulus.


"Tadi Tuan bilang pemilik kalung itu hanya Hasan yang tahu? memang Tuan menemukannya dimana?" tanya zaki.


"Tadi Aku ingin menaruh album foto milik anak dan menantuku, dan Aku menemukan kalung itu dipinggir tumpukan album foto-foto, jadi kita segera datang kemari untuk memberi kabar bahagia ini, mudah-mudahan Hasan bisa memberi petunjuk dimana keberadaan Mawar itu dengan kita bertanya liontin itu milik siapa." jelas Ellois.


"Aamiin..." mereka dengan kompak mengucap.


"Assalamualaikum." salam Hasan dan Nadine didepan pintu.


Grissam berdiri lalu menyuruh Hasan dan Nadine duduk, Nadine duduk disamping Rumi, sedangkan Hasan berhadapan dengan kakek dan neneknya.


"Ada apa Eyang menyuruh Hasan kesini, Eyang? ada masalah lagi?" terka Hasan.


Hasan melihat kearah tangan Rumi, Hasan sedikit terkejut karena melihat kalung liontin yang Nadine berikan kepadanya ada ditangan bibinya, Nadine juga merasa kaget melihat kalungnya berada ditangan Rumi.


"Kenapa kalung itu bisa ada di Bibi?" tanya Hasan.


"Eyang yang mengambilnya dikamar Kamu San." Hasan menoleh kearah neneknya yang berbicara.


"Lalu kenapa Eyang memberikannya kepada Bibi? itu milik orang lain, Eyang."


"Justru itu kita ingin tahu siapa pemilik kalung itu, San." timpal Grissam.


Hasan memandang Nadine, Rumi mengikuti arah mata Hasan, tiba-tiba Rumi memeluk Nadine sambil menangis, Nadine terkejut namun tidak bisa menolak pelukan Rumi karena selama ini dia tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu, Hasan begitu bingung melihat keadaan yang ada didepan matanya kini.


"Kak, apa kalung itu milik Kak Nadine?" tanya Melati dengan mata yang berkaca-kaca.


Hasan menganggukan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Melati, Melati langsung menangis dan ikut memeluk Nadine.


"Mawar..." ucap Rumi dengan isakan seorang ibu yang sangat merindukan anaknya.


"Mawar anak Mamah." Hasan mendongak kaget mendengar panggilan bibinya kepada Nadine.


"Kakak..." Melati pun tak kalah harunya bisa bertemu dengan kakaknya yang ternyata selama ini tidak jauh darinya.


Nadine meneteskan airmata tanpa mengeluarkan sebuah kata-kata, rasanya lidahnya kelu untuk berbicara saat ini, pelukan Rumi dan Melati membuatnya merasakan kebahagiaan yang selama ini dia idam-idamkan walaupun dirinya tidak tahu alasan mereka memeluknya, dan apa tadi? Mawar? mereka memanggilnya Mawar? sungguh Nadine tidak mengerti apa maksud semuanya.


Rumi melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Nadine, "Selama ini Kamu berada didekat Mamah, tapi Mamah tidak menyadarinya, Maafkan Mamah." Rumi mencium pipi dan kening Nadine lalu memeluknya kembali.


Semua yang berada diruang tamu menyaksikan keharuan seorang ibu yang sudah bertahun-tahun menantikan pertemuan dengan anaknya, Ellois meneteskan airmatanya karena teringat dengan anaknya Jacson, tidak jauh dari Ellois, Ayu juga ikut menangis karena merasakan kerinduan seorang ibu bila lama tidak bertemu anaknya.


Dan Hasan, dia sama sekali tidak menyangka bila Nadine adalah Mawar, "Bibi..." Rumi melepaskan pelukannya karena mendengar panggilan Hasan.


Rumi mengarti maksud Hasan, "Dia Mawar, San. anak Bibi, anak Bibi yang hilang sejak bayi." mata Hasan berkaca-kaca mengetahui kenyataan itu.


"Mamah akan tunjukan sesuatu kepadamu." Rumi mengusap pipi Nadine lalu pergi kekamarnya.


"Kalung yang Kakak punya itu seperti kalung Melati, lihat ini." Melati melepaskan kalung itu dari lehernya dan memperlihatkan kepada Nadine.


Nadine dan Hasan terkejut melihat kalung Melati sama dengan kalung milik Nadine, "Lihat gambar liontin ini, ini adalah bunga Mawar dan Melati, nama yang Papah berikan kepada kita." Melati membuka liontin itu, walaupun Nadine sudah mengetahui isi liontin itu, tapi dirinya begitu tidak percaya bila dirinya selama ini hidup bukan dengan orangtua kandungnya, apa ini alasannya? alasan mengapa ayahnya tidak pernah berlaku baik kepadanya? karena dirinya bukan anaknya? sungguh sulit sekali menebak takdir-Mu Ya Allah.


"Kalung itu Papahmu yang memesannya langsung kepadaku dan kalung itu juga didesain langsung oleh Papahmu, karena dia sangat suka sekali dengan bunga Mawar dan Melati, dan saat mengetahui Mamah kalian itu mengandung anak perempuan, Papahmu langsung memesan kalung itu, dan kalung itu tidak ada yang bisa memilikinya selain kalian berdua." ucapan Grissam membuat airmata Nadine semakin deras mengalir.


Melihat Nadine menangis, Melati kembali memeluk kakaknya, "Melati tahu ini mungkin membuatmu terkejut Kak, tapi percayalah kita selalu mencarimu, terimalah kami sebagai keluargamu lagi Kak." Nadine semakin menangis.


"Apa kalian benar-benar keluargaku? apa Aku tidak sedang bermimpi? apa semua ini kenyataan?" apa yang selama ini tertahan akhirnya Nadine ucapkan juga.


"Tentu Sayang, kami adalah keluargamu, lihat ini." Rumi memperlihatkan foto-foto Nadine saat kecil, dan memperlihatkan foto Nadine yang terlihat sangat jelas dirinya memakai kalung liontin itu.


"Kamu anak Mamah, Nak." Nadine melihat kearah Rumi, benarkah dia memiliki seorang ibu?


"Panggil Mamah." pinta Rumi kepada Nadine.


"Ma-mah." Rumi menangis bahagia mendengar Nadine memanggilnya mamah.


"Mulai sekarang dan seterusnya panggil Mamah, Mawar anak Mamah...makasih Ya Allah." Rumi sangat bersyukur sekali.


#Itu sudah tak panjangin loh, walau sedikit 😂😂😂😂


*Masih kurang 😡😡😡


#Iya sabar kakak Zeyeng kan biar kangen 😄😄😄


*PD banget lu thor 😉😉😉😉😉