
Mawar dan Hasan tersentak kaget dan langsung terbangun dari tidurnya, Mawar menutup mulutnya melihat jendela kacanya yang pecah, "Kamu tunggu sini." Hasan turun dari ranjang dan segera memakai pakaiannya.
Hasan mendekati jendela kaca yang pecah dengan berjalan hati-hati karena pecahan kaca itu menyebar dilantai kamar Hasan, Hasan menangkap sesuatu yang berbentuk bulat yang dibungkus dengan kertas, Hasan mengambil benda itu yang ternyata berupa batu, "Apa itu Sayang?" tanya Mawar yang sudah berada disamping Hasan dan sudah memakai pakaiannya.
"Jangan kesini nanti Kamu terkena pecahan kaca ini Cinta." Hasan menuntun istrinya agar menjauh dari lantai yang banyak sekali pecahan kaca itu.
Hasan dan Mawar duduk disisi ranjang, Hasan membuka kertas yang membungkus batu yang lumayan besar itu, Mawar begitu takut dan penasaran dengan kertas yang membungkus batu itu.
"BERSIAP-SIAPLAH UNTUK MENEMUI ORANGTUAMU DISYURGA HASAN ALFATAR" Mawar langsung merebut kertas itu dari tangan Hasan dan kembali membacanya, Mawar membacanya dengan suara serak menahan tangis.
"Siapa yang melakukan ini?" Mawar menatap Hasan takut dan khawatir.
Hasan mengambil kertas itu dari tangan istrinya, "Jangan dipikirkan, tenanglah." Hasan memeluk istrinya yang sudah menangis, Hasan mengusap-usap pundak istrinya untuk memberikan ketenangan walaupun sebenarnya hatinya sangat marah dan bertanya-tanya siapa pelaku semua ini.
"Aku heran kenapa batu ini bisa masuk kekamar kita." lirih Hasan.
"Maksudmu?"
"Coba Kamu lihat, jarak dari luar kekamar kita itu tidak dekat Cinta." Hasan menunjuk kearah luar jendela, Mawar mengikuti arah tunjuk Hasan dan benar apa kata sang suami jarak kamar dari luar pagar itu jauh dan jikalau ada seseorang yang mencurigakan diluar pagar pasti para penjaga sudah mengamankannya, tapi ini? Mawar bingung memikirkannya.
"Sudah jangan nangis." Hasan mengusap airmata istrinya dengan ibu jarinya.
"Aku khawatir denganmu, bagaimana kalau..."
"Hussssttt." Hasan menempelkan jari telunjuknya dibibir istrinya agar istrinya tidak berkata yang macam-macam.
"Ayo kita kebawah, biar Aku bicarakan dengan Jefry dan Eyang Kakung." Hasan menuntun istrinya dan menggandeng tangannya turun kebawah.
Sampai dibawah, Hasan dan Mawar melihat Grissam yang tengah memegang 2buah kalung, "Kalung untuk siapa Eyang?" tanya Hasan yang sangat tertarik dengan kalung putih yang Grissam pegang karena liontinnya yang indah yang berbentuk oval dan terlihat ada berlian warna merah didepannya.
"Eh Cucu Eyang sudah pada bangun, ini kalung untuk kalian, untuk hadiah pernikahan kalian. Kalung ini Eyang desain khusus untuk cucu Eyang yang tampan dan cantik ini."
"Untuk kita?" tanya Hasan memastikkan.
"Duduklah dulu cucu Eyang sayang." Hasan dan Mawar langsung duduk.
Grissam mendekatkan kalung itu kepada Mawar dan Hasan, "Kalung ini bukan sembarang kalung." Hasan dan Mawar saling pandang penasaran.
"Kalung ini Eyang desain untuk kalian karena Eyang tahu Eyang tidak akan bisa menjaga kalian selamanya dan hanya ini yang bisa Eyang lakukan untuk kalian ketika kalian dalam bahaya."
"Eyang ngomong apa sih? Eyang akan selalu bersama Hasan dan melihat anak Hasan kelak." Grissam tersenyum dan membelai kepala Hasan.
"Aamiin. kalian lihat ini." Mawar dan Hasan mengikuti perintah Grissam untuk melihat kalung itu.
"Kok bisa!" Mawar berdecak kagum melihat kalung itu.
Kalung liontin yang didesain oleh Grissam bisa menyala liontinnya saat liontin yang satu tergenggam, "Kalian tahu kenapa?" Mawar dan Hasan langsung menggelengkan kepalanya.
"Saat salah satu dari kalian dalam masalah, genggam liontin kalian maka liontin satunya akan menyala seperti ini." Grissam kembali mempraktekannya.
Hasan dan Mawar terkagum-kagum, saat Grissam memberikan kalung itu kepada Hasan dan Mawar, mereka segera mencobanya dan benar saja apa kata Grissam jika salah satu liontin itu digenggam maka liontin satunya akan menyala merah.
"Terimakasih Eyang." ucap Mawar dan Hasan saat selesai memakai kalungnya.
"Cantik sekali Eyang, Mawar suka." wajah Mawar seketika sumringah melihat kalung itu.
"Secantik cucu Eyang, ingat ya jika kalian dalam bahaya kalian genggam liontin itu." tutur Grisaam kembali, Hasan dan Mawar kompak menganggukan kepalanya.
"Wah..Wah..Anak Mamah sudah pada bangun? tumben pagi? biasanya kesiangan." ledek Rumi yang baru turun dari kamarnya.
"Mamah..." Mawar langsung memeluk ibunya.
"Loh anak Mamah ini kenapa kok nangis? berantem sama Hasan?" Mawar langsung menggelengkan kepalanya.
"Mawar takut Hasan kenapa-napa Mah." Rumi mengerutkan keningnya bingung karena Hasan terlihat baik-baik saja.
"Tadi ada yang melempar batu kekamar Hasan Eyang, Mah." kata Hasan.
"Dan ada tulisan yang mengancam Hasan Eyang." Mawar langsung menyambung.
"Lempar batu? ancaman?" ucap Grissam menahan marah.
"Coba Eyang lihat." Hasan memberikan kertas itu kepada kakeknya, Rumi terkejut ketika melihat tulisan yang ada dikertas putih yang sudah kusut karena untuk membungkus batu
Grissam meremas kertas itu dengan rahang yang mengeras, "Beraninya!" marah Grissam.
"Yang Hasan bingungin Eyang, jarak dari luar kekamar Hasan itu kan jauh dan tinggi? tapi batu itu bisa kekamar Hasan itu bagaimana caranya? harusnya dengan jarak dekat untuk bisa batu itu masuk kekamar Hasan." Grissam berpikir dan membenarkan perkataan cucunya.
"Apa tadi pagi ada yang datang kesini?" tanya Hasan kepada kakek dan mertuanya.
"Eyang rasa tidak ada San, tapi coba Eyang panggilkan Eyang Putri dulu ya." Grissam langsung kekamar Ellois.
"Mamah jadi ikut takut San, takut menantu Mamah ini kenapa-napa."
"Insya Alla, Hasan baik-baik saja Mah." ucap Hasan menenangkan mertuanya yang sudah mulai panik.
"Ada apa sih Sam?" tanya Ellois saat sudah sampai diruang keluarga.
"Eyang, apa Eyang tadi pagi menerima tamu?" tanya Hasan.
Ellois memutar bola matanya untuk berpikir, "Em...Iya Eyang menerima tamu karena dia bilang dia koki baru yang bekerja disini, kan disuruh Kamu katanya, San?"
Hasan membulatkan matanya, "Hasan sedang tidak mencari koki Eyang." penuturan Hasan membuat Ellois bingung.
"Lalu orang tadi?" Ellois menunjuk arah dapur.
"Sekarang Coba Kamu panggil kesini orangnya El." pinta Grissam.
Tanpa banyak bertanya Ellois pergi kedapur namun didapur Ellois tidak menumuinya, Ellois bertanya kepada para koki yang ada didapur dan mereka menjawab tidaj ada seseorang yang masuk kedapur. Ellois bingung dan mencari keseluruh ruangan dimansion Hasan dibantu dengan pekerja yang ada dimansion itu.
Ellois kembali keruang keluarga dimana Hasan dan yang lain ada disana, "Mana?" Grissam langsung bertanya saat Ellois sampai.
"Tidak ada!"
Grisaam dan Hasan saling pandang, hati mereka berbicara satu sama lain, "Memang ada apa sih!" Ellois merasa ada yang tidak beres.
Grissam menunjukan kertas ancaman, mata Ellois membelalak saat membaca tulisan itu, "Jadi? Ah...Kenapa Eyang bisa sebodoh ini!" umpat Ellois.
"Makanya kalau menerima tamu tanya Hasan terlebih dahulu jangan main dibawa masuk aja!" tegus Grissam.
"Maaf." lirih Ellois merasa bersalah.
"Sudahlah, sebaiknya kalian tenang saja, San. Panggil Jefry, Eyang tunggu diruang meting." perintah Grissam, Hasan menuruti perintah kakeknya, sedangkan Mawar, Rumi dan Ellois masuk kedalam kamar Ellois untuk menenangkan diri.
Didalam ruangan meting, mereka berpikir keras untuk menemukan siapa pelakunya, Jefry pun meradang ketika Grissam menceritakan kejadian tadi pagi yang membuat Hasan dan Mawar yang sedang tertidur jadi terbangun.
Mereka tidak bisa menerka-nerka siapa orangnya karena ciri-ciri yang diberikan Ellois tidak masuk dalam orang-orang yang mereka kenali.
"CCTV!"
#Besok lagi ya 😄😄😄 maaf yang belum Ay samperin dan balesin komennya, Ay lagi gak sempet 😄😄
#Bahagia selalu ya kakak-kakak 😚😚😚