Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Wanita ketakutan!



Hasan dan Jefry berhenti melangkah namun masih membelakangi ruangan Arman. Semua mata tertuju kepada Hasan dan Jefry yang sedang berdiri membelakangi ruangan Arman. Ruangan Arman saat itu terbuka hingga Putra dan yang lain dapat melihat Hasan dan Jefry.


Melati menatap punggung Hasan airmatanya mengalir begitu saja, Zaki melihat Melati yang menangis "Pergilah...temui dia." saran Zaki.


Melati menoleh kearah Zaki yang kini menjadi suaminya, Melati menggelengkan kepalanya "Aku sudah tidak punya hak untuk itu." ucap Melati berat.


Rumi berdiri dan menghampiri Hasan "San..." panggil Rumi lirih.


Dengan berat hati Hasan berbalik badan dan melihat ibu Melati yang memanggilnya diikuti oleh Jefry, Hasan mencoba tersenyum kepada ibu Melati.


"Maafkan Bibi dan Paman." ucap Rumi tulus airmatanya mengalir karena merasa bersalah.


Hasan mendekat kearah ibu Melati, semua mata yang berada didalam ruangan masih setia menatap keluar ruangan, Hasan tersenyum kepada ibu Melati "Selamat Bibi...semoga mereka bahagia." ucap Hasan berusaha kuat.


Rumi menangis "Maaf..." ucap Rumi lagi.


"Hasan baik-baik saja Bi. Kak Zaki memang cocok untuk Melati," ucap Hasan.


Melati dan Zaki melihat jari Arman bergerak-gerak, Zaki dan Melati langsung menghampiri keranjang Arman "Ada apa Pah?" tanya Melati cemas.


"Ha-san..." ucap Arman terbata-bata.


Ayu dan Panji berdiri dan keluar untuk menemui Hasan "Paman memanggilmu San." ucap Ayu yang sudah disamping Rumi.


Hasan langsung berjalan masuk kedalam ruangan didampingi Jefry, Hasan mendekatkan diri kewajah Arman "Paman..." panggil Hasan didekat wajah Arman.


Hasan menangis melihat kondisi Arman yang sangat memprihatinkan "Ma-af..." ucap Arman terbata-bata.


Hasan menyapu airmatanya lalu menggenggam tangan Arman "Tidak perlu meminta maaf Paman, apa yang Paman lakukan sudah benar," ucap Hasan serak.


"Berjanjilah untuk sembuh Paman," ucap Hasan.


Arman menangis ingin rasanya Arman memeluk Hasan, namun apa daya kondisinya sangat tidak memungkinkan, Arman menolehkan kepalanya pelan dan menatap istrinya "Ca-ri Ma-war." ucapan Arman membuat Rumi sedikit terkejut.


Setelah berbicara seperti itu kondisi Arman langsung menurun, semua panik Hasan segera memanggil dokter, dokter pun masuk dan menyuruh semua untuk keluar ruangan agar dokter bisa menanganinya.


Semua duduk termenung didepan ruangan, mereka khawatir dengan keadaan Arman, Melati tak henti-hentinya menangis Zaki memeluknya untuk menenangkan istrinya, Hasan melihatnya bohong jika hatinya tidak hancur namun Hasan berusaha untuk menutupinya.


Hasan hanya menundukkan kepalanya karena tidak mau melihat kemesraan mereka, Rumi termenung ditempat duduknya, kata-kata suaminya membuat hati Rumi bersedih, mengingat kembali apa yang sudah dia kubur karena harapan yang tak kunjung bertemu.


Kini wajah anak kecil itu teringang lagi dibenak Rumi karena permintaan suaminya, sekarang apa yang harus dia lakukan? haruskah mengharapannya lagi dan memulai mencarinya lagi setelah sekian lama Rumi mencoba menguburnya.


Pintu ruangan kamar perawatan Arman terbuka, semua beridir dan menghampiri dokter yang menagani Arman "Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Rumi cemas.


Wajah dokter terlihat mendung membuat orang-orang merasakan kecemasan "Maaf Nyonya...Tuan sudah tidak ada." ucapan dokter membuat Rumi dan Melati menangis.


Semua masuk kedalam ruangan, Rumi dan Melati memeluk Arman dengan tangisan yang membuat orang melihatnya merasakan pilu "Yang sabar Mba...Allah lebih sayang sama Mas Arman." Ayu memeluk besannya dan memberikan kekuatan.


"Sabar Dek...Papah pasti bahagia disurga-Nya Allah." ucap Zaki sambil memeluk istrinya.


Hasan menundukan kepalanya karena menangis, Jefry mengusap pundak Hasan karena tahu perasaan Hasan saat ini, Putra juga melakukan hal sama seperti Jefry membuat Hasan mendongak dan menoleh kearah Putra yang kini ada disampingnya.


Putra tersenyum kepada Hasan "Kita berteman sekarang." ucap Putra membuat Hasan ragu namun Hasan juga melihat ketulusan dimata Putran, Hasan pun menganggukan kepalanya.


Putra langsung merangkul pundak Hasan, Hasan tersenyum simpul dengan tingkah Putra.


^


"Papah..." rintih Melati sambil menyentuh pusara sang ayah.


Hasan melihat ketulusan dari sikap Zaki untuk Melati membuat hati Hasan tenang dan ikhlas menerima kenyataan bahwa Melati memang bukan jodohnya.


"Bibi...ayo kita pulang hari sudah mulai sore," ucap Hasan mendekati dan bersimpuh disamping istri Arman.


"Iya Mba...kita pulang ya?" timpal Ayu.


Panji mendekati Zaki "Kita pulang dulu ya Zak? ajak istrimu untuk pulang," tutur Panji, Zaki menganggukan kepalanya.


Panji, Ayu dan Putra pulang lebih dulu dan meninggalkan putra sulungnya dan menantunya, Hasan mencoba membujuk Melati dan Rumi agar segera pulang karena hari sudah mulai sore "Kita bisa menjenguk Paman kapanpun Bi," bujuk Hasan.


Rumi mendongakan kepalanya melihat Hasan "Maafkan Paman ya San?" ujar Rumi sambil menangsi.


"Gak ada yang perlu dimaafkan Bi, apa yang paman lakukan itu sudah benar," ucap Hasan tulus.


Rumi berdiri dan yang lain pun berdiri "Jangan pernah membenci kami ya San?" ucap Rumi takut.


Hasan tersenyum "Hasan tidak akan pernah membenci kalian Bi, kalian sudah seperti keluarga bagi Hasan," Hasan memeluk ibu Melati untuk menenangkan.


"Terimakasih Nak," ucap Rumi.


"Kita pulang ya Bi?" pinta Hasan, Rumi pun mengangguk.


"Kak Hasan." panggilan Melati membuat langkah Hasan terhenti, Hasan berbalik badannya kembali.


"Maafkan Melati," ucap Melati lalu menundukkan kepalanya.


Hasan maju selangkah untuk mendekati Melati namun masih tersisa jarak karena Hasan tahu batasannya kini "Berbahagialah dan patuhi suamimu itu yang akan membuatku tenang," ucapan Hasan membius Melati, bagaiman dirinya bisa setegar itu disaat orang yang dicintainya kini bersanding dengan orang lain?.


"Hasan percaya Kak Zaki bisa menjaga Melati," ucap Hasan menatap Zaki.


"Insya Allah, Kakak akan berusaha untuk itu. Terimakasih atas keikhlasanmu San, Kakak bangga sama kamu." puji Zaki kepada Hasan.


Hasan tersenyum menanggapi pujian Zaki "Ayo kita pulang." ajak Hasan.


^


Melati dan Rumi pulang bersama Zaki dan Hasan seperti biasa dengan Jefry yang selalu berada dibelakang dan disampingnya, saat Hasan dan Jefry akan menjalankan mobilnya tiba-tiba kaca mobil Hasan digedor-gedor oleh seorang wanita "Tolong...tolong...tolong." teriak wanita yang kelihatan sangat panik.


Hasan dan Jefry terkejut "Buka Jef!" seru Hasan kepada Jefry.


"Aku takut kalau wanita itu sekomplotan para penjahat Tuan Muda," ujar Jefry.


"Kalau tidak? kita yang akan diminta pertanggung jawaban sama Allah Jef!" seru Hasan.


Mendengar ancaman tuan mudanya Jefry segera membuka mobilnya yang terkunci, wanita itu segera masuk dan duduk disamping Hasan, setelah wanita itu masuk kedalam mobil seketika para pria menggedor-gedor kaca mobil dan berteriak "Keluar kau!" teriak salah satu pria.


Hasan melihat wanita yang kini ada disampingnya, Hasan dapat melihat ketakutan diwajah wanita itu membuat Hasan bertanya "Ada masalah apa?" tanya Hasan.


Wanita itu terdiam lalu menggelengkan kepalanya takut, Hasan menghembuskan nafasnya "Bagaimana aku bisa membantumu kalau kamu tidak mau bercerita tentang masalahmu?" ujar Hasan.


"Tuan Muda tetaplah disini! biar aku yang hadapi mereka," Jefry langsung turun dari mobil karena para pria itu tidak mau berhenti menggedor-gedor mobil Hasan.


(besok lagi 😂😂)


Semangat kakak-kakak 😂😂