Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Cepat sekali kau Move on



Dikampus saat itu Nadine dan Hasan sedang makan bersama dikantin kampus, tiba-tiba Nadine dan Hasan mendengar keributan tidak jauh tempat duduknya.


"Hei cupu! minggir. Aku dan teman-temanku mau duduk sini." teriak salah satu wanita.


Lelaki cupu itu bernama Sahrul sedangkan wanita yang menyuruhnya untuk pergi adalah, Gina, Ayu dan Sasa wanita yang merasa populer dikampus.


Lelaki yang dibilang cupu itu pun berdiri dari tempat duduknya, dia akhirnya makan sambil berdiri karena kursi dikantin saat ini sedang penuh.


Sahrul menjadi bahan tontonan dan tertawaan seluruh Mahasiswa dan Mahasiswi yang berada dikantin.


Melihat itu Hasan berdiri dan menghampiri lelaki itu, "Ayo ikut denganku." Hasan mengajak lelaki itu untuk duduk ditempatnya.


"Duduklah, aku sudah selesai makan, Kau bisa duduk disini." lelaki itu pun duduk dengan tubuh yang gemetar karena bullyan yang dia dapatkan tadi.


Hasan menghampiri wanita yang tadi menyuruh Sahrul pergi, "Maaf Nona." mendengar suara didekatnya Gina, Ayu dan Sasa langsung menoleh keaarah Hasan.


Gina begitu terpukau dengan wajah Hasan yang membuat adem dimatanya, Gina menelisik penampilan Hasan dari atas sampai bawah, "Tampan sih tapi sayang miskin!" batin Gina menghina.


"Ada apa?" ketus Gina.


"Lain kali bisa kan kalian menyuruh seseorang untuk pergi dari kursinya saat orang itu sudah selesai dengan makannya?"


Nadine melihat Hasan yang sedang menasehati para wanita yang memang kurang sopan dan selalu mengandalkan kekuasaan orangtua untuk bertindak.


Nadine melihat Sahrul yang masih terlihat ketakutan, "Tenang lah..." ucap Nadine menenangkan.


Braaakkkk Gina menggebrak meja yang belum ada makanan diatasnya, "Apa urusanmu!" ucap Gina menatap Hasan dengan tajam.


"Urusanku karena kalian memperlakukan orang tidak sopan, kalian tahu apa yang kalian lakukan itu adalah salah? apa ini cara didik orangtuamu kepadamu? berlakulah sopan Nona jika anda ingin dihargai." nasehat Hasan kepada para wanita itu.


"Dihargai orang itu kalau kita punya kekuasaan dan harta, orang miskin tahu apa? lebih baik pergi sana!" usir Gina kepada Hasan.


"Seberapa kuasamu? dan seberapa banyak hartamu? sehingga kalian bisa memperlakukan orang seenaknya dan tanpa memikirkan perasaannya!"


"Harga diri itu bukan dinilai dari seberapa kuasa yang Kamu miliki dan banyaknya harta yang Kamu timbun."


"Tetapi dengan caramu memperlakukan orang lain!" perkataan Hasan membuat Gina, Ayu dan Sasa terdiam tidak bisa membalas Hasan.


Orang-orang yang berada dikantin pun tiba-tiba terdiam mendengar perkataan Hasan. Nadine melihat Hasan merasa kagum dalam hatinya, bagaimana bisa dirinya bertemu dengan laki-laki yang sebaik Hasan, tiba-tiba Nadine mengucapkan syukur kepada Allah didalam hatinya bisa dipertemukan dengan orang yang sangat baik seperti Hasan yang selalu peduli dengan orang lain.


Gina berdiri dari duduknya dan melangkah maju untuk berhadapan dengan Hasan, "Kamu mau tahu seberapa kuasanya Aku? Aku bisa mengeluarkanmu dari kampus ini saat ini juga! memang siap dirimu? tidak usah berlagak jadi pahlawan kalau Kamu tidak punya apa-apa untuk dibanggakan." ucap Gina memandang Hasan dengam sedikit menghinanya.


Hasan menatap wanita yang ada didepannya dengan tatapan biasa, "Coba saja! yang bisa dibanggakan itu kalau kita mempunyai akhlak yang baik, coba lihat dirimu? kamu mempunyai kekuasaan dan uang yang melimpah tapi aku yakin Kamu tidak mempunyai rasa kasih sayang dan itu akan membuat orang-orang tidak akan nyaman denganmu!" tegas Hasan.


"Selagi Aku mempunyai kuasa dan uang mereka akan nyaman denganku." ucap Gina kembali.


Hasan tersenyum simpul, Hasan berpikir darimana wanita ini mendapatkan pemikiran yang seperti itu, sungguh menggelikan menurut Hasan, "Mereka yang berteman denganmu tidak tulus kalau begitu!" setelah mengucapkan kata-kata itu Hasan pergi dari situ, sedangkan Gina masih diam mematung.


Hati Gina merasa kesal karena ada yang berani menasehatinya didepan orang banyak seperti sekarang, Gina menatap kepergian Hasan dengan tatapan benci, "Awas kamu! Aku akan buktikan kepadamu siapa Aku!" gumam Gina dengan kesal.


Gina kembali duduk dengan hati yang masih dongkol karena ulah Hasan, "Parah Gin! berani sekali laki-laki itu menghinamu seperti tadi!" kompor Sasa yang melihat Gina sangat kesal.


"Keluarin saja Gin! biar tahu rasa!" timpal Ayu.


"Tapi Aku heran? kok dia bisa kuliah dikampus elit ini?" ucap Ayu.


Putra bersama Rio dan Adi baru sampai kantin, Putra dan teman-temannya merasa heran karena kantin yang biasanya riuh tapi kali ini cukup tenang padahal kantin sekarang sedang banyak orang.


"Gin..coba lihat kebelakang!" seru Sasa.


Gina langsung menoleh dan mendapati Putra, Rio dan Adi sedang berdiri didekat pintu masuk kantin.


Gina menoleh kearah meja disampingnya, "Kalian pergi!" perintah Gina yang langsung dituruti oleh 3orang wanita yang sedang duduk itu.


Gina melambaikan tangannya kepada Putra,Rio dan Adi, "Sini!" Gina menujuk meja kantin yang sudah kosong itu.


Putra berjalan kemeja yang kosong, saat Putra dan teman-temannya duduk Putra melihat Hasan, Nadine dan Sahrul yang sedang duduk dimeja samping Putra.


"Hasan." panggil Putra, Hasan menoleh dan tersenyum kepada Putra juga Rio dan Adi.


"Sudah selesai makannya? Aku saja baru sampai." ucap Putra yang melihat Hasan berdiri diikuti oleh Nadine dan juga Sahrul.


"Sudah. kami sudah dari tadi disini." saut Hasan.


"Oh...cepat sekali Kau move on San, Aku aja belum bisa." ucapan Putra sukses membuat Nadine penasaran.


"Apa maksudmu?" tanya Hasan yang tidak mengerti maksud Putra.


"Hehe...maksudku Kau itu cepat sekali move on dari Melati dengan wanita itu." Putra menunjuk Nadine.


Hasan menghembuskan nafasnya mendengar kata-kata Putra, "Kau ini!" Hasan mengajak Nadine dan Sahrul pergi dari kantin.


Nadine menjadi kepikiran tentang apa yang Putra katakan tadi, pikiran dan hatinya menerka-nerka sesuatu yang belum tentu kebenarannya tapi untuk bertanya kepada Hasan pun Nadine tidak enak.


Gina memanggil Putra dan bertanya kepadanya, "Kamu kenal dengannya?" tanya Gina kepada Putra.


"Ya kenal lah, diakan sepupu Putra." saut Rio yang menjawab pertanyaan Gina.


"Oh...cuma sepupu." ucap Gina yang terdengar ditelinga Adi dan Rio.


"Dia bukan orang biasa, jadi jaga sikapmu jika berhadapan dengannya." ucapan Adi membuat Gina, Ayu dan Sasa tersedak.


Setelah meminum air Gina menoleh kearah Adi, "Bukan orang biasa? maksudnya?" tanya Gina penasaran.


"Ha! sudahlah. wanita-wanita seperti kalian pasti akan jantungan kalau tahu siapa dia." Putra berdiri dan diikuti oleh Adi dan Rio.


"Ih maksudnya apa coba?" Gina langsung berdiri dan mengejar Putra dan yang lain diikuti Ayu dan Sasa.


"Tadi apa maksudmu?" tanya Gina lagi yang sekarang sudah berada disamping Putra.


"Cari tahu saja sendiri!" ketus Putra.


"Ha. menyebalkan!" Gina berhenti melangkah dan menatap kepergian Putra dengan hati dan pikiran yang masih penasaran akan kata-kata Putra tadi.


#telat sedikit 😂😂😂


*Sudah biasa thor 😕😕😕


hahahhahaha jangan lupa bahagia kakak-kakak 😄😄😄