Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Irma Sakit



Setelah bernegoisasi dengan Sony akhirnya Putra bisa membawa Gina pulang bersama dibantu dengan kedua teman Putra yang saay itu datang disaat waktu yang tepat.


"Kalian tunggu sini, Aku akan membawa Gina dulu kekamar." Rio dan Adi menganggukkan kepalanya, Putra menuntun Gina kedalam kamar Putra.


"Kayaknya Putra jatuh cinta sama Gina." lirih Rio, Adi menoleh kearah Rio.


"Bisa jadi, dia tidak pernah perhatian sama cewe selain Melati dulu." Rio mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Adi.


Dikamar Putra, Putra menuntun Gina untuk berbaring dikasur yang biasa dia tiduri karena Putra tinggal diapartemen yang hanya menyediakan satu kamar saja, simpel menurut Putra.


"Istirahatlah, jangan pikirkan apapun." tutur Putra, Gina menatap Putra dengan tatapan sendu, Gina tidak menyangka bila Putra mau melakukan persyaratan yang diberikan Sony untuk dirinya.


Setelah menarik selimut sampai keperut Gina, Putra beranjak berdiri namun Gina menahan tangan Putra, Putra menoleh kearah Gina, "Terimakasih." lirih Gina, "Kamu bisa menyuruhku apapun untuk membalas budi kebaikanmu." sambung Gina.


Putra tersenyum tipis, "Istirahatlah, akan Aku pikirkan tentang balas budimu." Gina menatap punggung Putra saat pergi.


Putra duduk disofa didekat teman-temannya sambil menyandarkan punggungnya karena merasa lelah, Putra memijit pelipis matanya, "Kamu baik-baik saja kan Put? apa sedang memikirkan tawaran Sony itu?" tebak Rio yang melihat wajah Putra begitu lelah.


Putra menarik nafasnya dalam-dalam, "Kita harus cari cara untuk melumpuhkan Sony, dan itu yang sedang Aku pikirkan saat ini." Adi menganggukan kepalanya sambil terus memasukkan makanan kering yang ada dimeja kedalam mulutnya.


"Pasti ada cara bro, yang terpenting sekarang kita bisa menyelamatkan pacarmu itu." celoteh Adi.


"Dia bukan pacarku!"


"Terus siapa? calon istri?" ledek Adi.


"His!" Putra memukul Adi yang masih mengemil dengan bantal sofa, Rio tertawa dan juga ikut memukul Adi.



"Assalamualikum, Mama..." Melati langsung memeluk ibunya saat pintu terbuka dan yang nembukanya adalah Rumi.


"Anak Mamah." Rumi mencium pipi Melati, Zaki menyalimi mertuanya, Rumi juga tidak lupa membelai kepala menantunya itu.


"Ayo masuk, kebetulan Hasan dan Mawar sedang sarapan." Rumi menuntun anak dan menantunya itu untuk masuk kedalam rumah Hasan.


"Jam segini baru sarapan?" celoteh Melati merasa heran.


"Biasa pengantin baru." Zaki dan Melati tertawa kecil.


"Wah ada tamu nih." Ellois langsung berdiri menyambut kedatangan Melati dan Zaki.


"Eyang..." Melati dan Zaki menyalimi Ellois dan Grissam.


"Mamah panggil Mawar dan Hasan dulu ya, siapa tahu sudah selesai makannya." Rumi berjalan keruang makan untuk menemui Hasan dan Mawar.


"Mawar, Hasan, diruang tamu ada Melati dan Zaki." kata Rumi lalu berjalan kearah dapur untuk mengambil minuman dan kue untuk anak dan menantunya.


"Iya Mah." Hasan dan Mawar langsung berjalan kearah ruang tamu.


"Melati..." Melati berdiri dan langsung memeluk kakaknya.


"Melati kangen sama kakak." Mawar mencubit pipi adiknya dengan gemas, "Kakak juga." mereka tertawa dengan ulah Mawar dan Melati.


"Maaf Kak, Hasan tidak bisa menjenguk bibi saat itu karena kita dihadang sama paman Pandu saat kita ingin kerumah sakit." Zaki dan Melati sedikit tersentak dengan pernyataan Hasan.


"Ya Allah, berarti benar kata Mamah kalian harus lebih hati-hati sekarang karena om Pandu ingin membalas dendam." Hasan menganggukan kepalanya yang juga diikuti oleh Grissam.


"Lalu bagaimana keadaan bibi Kak?"


"Alhamdulillah sudah boleh istirahat dirumah, San." Hasan mengangguk senang.


"tanganmu kenapa?" tanya Zaki yang tak sengaja melihat tangan Hasan diperban.


Hasan mengangkat tangannya, "Oh ini...biasa Kak jagoan, sudah mendingan kok, sudah Aku bawa olah raga dan mandi bersama istri tadi." wajah Mawar mendadak merah karena ucapan Hasan, Hasan melirik Mawar sambil tersenyum usil, Mawar membalasnya dengan tatapan tajam.


Gelak tawa memenuhi ruangan itu, "Cucu Eyang memang hebat." celoteh Grissam.


"Hasan." Mawar menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.


"San, Kakak kesini untuk meminta ijin sama Kamu dan juga Eyang." Hasan dan Grissam saling pandang lalu kembali menatap Zaki.


"Ijin apa?" tanya Grissam.


"Tolong jangan penjarakan ibu Saya lagi Eyang, biarkan dia tinggal bersama kami." Zaki melirik istrinya dengan seketika Melati menatap kearah Hasan dan Grissam lalu menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan suaminya.


Hasan tersenyum dan mengangguk, "Iya Kak, Hasan ijinin, Hasan yakin kali ini bibi sudah berubah." Hasan menatap kakeknya berganti menatap nenek dan mertuanya.


"Mamah juga mengijinkan." Melati langsung memeluk ibunya, "Makasih Mah." Rumi mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu mau tidak mau Eyang juga setuju." ucap Grissam.


"Eyang juga." sambung Ellois.



Keesokan harinya, Hasan terpaksa harus berangkat kekantor karena ada pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh Jefry, "Maaf ya Cinta bulan madunya harus diundur lagi." kata Hasan kepada istrinya yang sedang memakaikan dasinya, setelah menikah Hasan meminta kepada Mawar untuk tidak lagi bekerja dikantor karena Hasan tidak ingin istrinya kelelahan nantinya.


"Iya." acuh Mawar, tiada senyuman dalam jawabannya, Hasan menaikan dagu istrinya.


"Marah?" Mawar langsung menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" Mawar menatap suaminya dalam-dalam.


"Aku pasti merasa bosan dirumah tidak ada pekerjaan." Hasan tersenyum sambil mencubit hidung istrinya dengan gemas.


"Kamu bisa keluar belanja atau apapun, Aku tidak melarangmu dengan catatan pergi dengan Mbak Lusi." Mawar mengangkat satu alisnya.


"Mbak Lusi?"


"Dia supir yang akan mengantarmu kemanapun Kamu pergi, Aku sudah menyuruhnya bekerja mulai hari ini." Mawar memajukan bibir bawahnya.


"Kenapa?" Hasan terkekeh melihat wajah istrinya.


"Kamu tidak bilang padaku kalau mau memberiku supir, dan supirnya wanita?" Hasan memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan istrinya.


"Apa Kamu pikir Aku akan membiarkanmu pergi bersama lelaki lain termasuk supir?"


"Hi posesif." Mawar mencubit hidung Hasan.


"Iya memang. karena Aku sayang sama Kamu." Hasan mencium seluruh wajah istrinya.


"Jangan salah, Mbak Lusi itu jago bela diri kata Jefry karena dia yang mencarikan supir wanita sekaligus untuk menjagamu." sambung Hasan.


"Hemmm..." Mawar hanya bisa bergumam dan menghembuskan nafasnya pelan.


Hasan mencium kening istrinya, "Assalamualaikum Cinta." pamit Hasan.


"Wa'alaikumsalam Sayang." jawab Mawar sambil menyalimi tangan suaminya.



Dikantor Hasan sangat fokus dengan pekerjaan yang ada dimejanya hingga Jefry masuk tanpa sepengetahuannya., "Tuan Muda." panggil Jefry yang sedang duduk disofa.


Hasan melihat kearah Jefry, "Jefry. Sejak kapan disini?"


"Sejak Tuan Muda fokus mengerjakan pekerjaan." Hasan terkekeh mendengar jawaban Jefry yang itu artinya sudah lumayan lama Jefry berada disitu.


"Ada apa?" tanya Hasan kembali melihat berkas-berkas diatas meja.


"Aku ingin meminta bantuan Tuan Muda." Hasan berhenti bekerja lalu menatap Jefry dengan penuh tanda tanya.


"Aku ing..." Jefry berhenti berucap karena tiba-tiba ponsel Hasan berbunyi, Hasan melihat layar ponselnya.


"Pak Kyai?" gumam Hasan, Hasan lalu menggeser tombol hijau.


"Assalamulaikum." salam Pak Kyai saat Hasan mengangkat teleponnya.


"Wa'alaikumsalam Pak Kyai." jawab Hasan.


"Ada apa Pak Kyai?" tanya Hasan.


"Irma sakit Nak Hasan dan dia ingin bertemu dengan Nak Hasan." tutur Pak Kyai dibalik telepon.


"Irma sakit?" Hasan menatap Jefry, sedangkan Jefry merasa terkejut mendengar Irma sakit.


"Iya Nak, Abah merasa tidak enak berbicara seperti ini tapi Irma...selalu menyebut nama Nak Hasan." penuturan Pak Kyai membuat hati dan pikiran Hasan bimbang, Hasan terdiam tidak tahu apa yang harus dia katakan.


"Apa Nak Hasan bersedia untuk menengok anak Abah walau sebentar."



#Ay mau pakai helm buat jaga-jaga kalau kalian bawa batu buat tipukin Ay 😂😂😂😂


#Maafkan daku yang pikirannya lagi butek 😂😂😂


*Apa itu butek Thor? 😯😯😯


# Gak tahu ya?? buat PR kalau begitu 😂😂😂😂


*Sue emang lu Thor 😬😬😬😬


#🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃