
Mata Mawar berninar-binar, senyum dibibirnya seketika terlihat dimata ibu dan eyangnya, "Hasan..." Rumi dan Ellois saling pandang, mereka merasa lega mendengar Mawar menyebut nama Hasan.
Dipesantren Hasan menggelengkan kepalanya mendengar panggilan Mawar yang belum berubah kepadanya, "Yang sopan memanggil suami, Mas ke, Abang, Kakanda juga boleh." Grissam dan Jefry menahan tawanya mendengar percakapan Hasan dengan istrinya, sedangkan Irma terkejut karena ternyata Hasan sudah menikah. Hati Irma merasa ada yang terluka karena selama ini Irma selalu berharap teman masa kecilnya itu bisa datang dan meminangnya seperti yang dia baca dinovel-novel kesukaannya tapi takdir hidupnya ternyata berbeda dengan novel yang dia baca, Irma menunduk melihat lantai yang sedang dia pijaki dengan perasaan hampa sekarang.
Pak Kyai melihat anaknya yang sedang menunduk, dia dapat merasakan perasaan anaknya karena selama ini dia selalu bertanya keberadaan Hasan karena tidak lagi pernah berkunjung setelah orangtuanya meninggal.
"Abah. Irma pergi dulu ya, Assalamualaikum." Irma pamit pergi karena rasanya airmatanya akan segera turun dari tempatnya, Irma berjalan kearah kamarnya setelah sampai dikamarnya Irma duduk sisi ranjang dan membuka lemari kecil yang ada didekat keranjang tidurnya.
Irma mengambil sebuah foto kebersamaannya dengan Hasan saat sedang bermain masak-masakan ditaman pesantren dan foto itu diambil oleh Jacson dan Irma memintanya untuk dia simpan, "Ya Allah kuatkan hatiku, jika memang dia bukan jodohku berikan Aku pengganti yang terbaik." doa Irma dalam gumamnya.
"Suara siapa itu!" Mawar meninggikan suaranya karena terkejut mendengar suara wanita.
"Suara Irma anak dari Pak Kyai yang ada dipesantren Darur Qur'an, Sayang." jelas Hasan, Hasan melihat kearah Pak Kyai yang sedang berbicara kepadanya tanpa suara, Pak Kyai mengisyaratkan pamit pergi, Hasan menganggukkan kepalanya.
"Irma? Kamu sedang dengan wanita lain dan sedangkan Aku disini menjadi wanita bodoh yang sedang mengkhawatirkanmu begitu?" suara Mawar sudah mulai serak.
"Astagfirullah apa yang Kamu pikirkan Sayang? Aku disini bersama Jefry juga Eyang." Grissam dan Jefry hanya mengangkat bahunya saat Hasan melirik kearah mereka.
"Juga bersama wanita? sampai tidak memberi kabar istrinya, hingga istrinya khawatir tapi ternyata suaminya sedang asyik bersama wanita lain, Kamu sama saja dengan Syam!" tekan Mawar, Ellois langsung mengambil ponsel daru tangan Mawar, sedangkan Mawar langsung naik keatas dengan perasaan gundah, Rumi memanggil-manggil nama Mawar namun Mawar tidak mau mendengarnya.
"San, apa yang Kamu lakukan? lihat Mawar dia marah dan pergi kekamarnya tanpa menjelaskan apapun!" wajah Hasan langsung pucat ketika suara eyangnya yang terdengar apalagi pernyataan eyangnya membuat hati Hasan kini tidak tenang karena istrinya sudah salah paham.
"Maaf Eyang ini salah paham, Aduh bagaimana Hasan menjelaskannya."
"Jelaskan saja! Eyang tidak mau Kamu menyakiti Mawar, kalian baru menikah masa sudah begini!" Ellois meninggikan suaranya hingga Hasan menjauhkan ponselnya dari telinganya karena suara eyangnya yang begitu keras.
"Astagfirullah Eyang, demi Allah. Hasan tidak melakukan apapun yang menyakiti Mawar, percaya lah dengan Hasan, Mawar hanya salah paham, Eyang." Hasan akhirnya menjelaskan masalahnya sampai dengan keberadaanya dipesantren itu, Ellois mendengarkan cerita Hasan dengan fokus, setalah Hasan bercerita Ellois meminta maaf kepada Hasam karena sudah salah menuduh dan dirinya juga ikut geram dengan kelakuan Pandu dan anak buahnya.
"Ya sudah, Eyang akan bujuk Mawar. Kita akan kesana."
"Iya Eyang, bawa istri Hasan kemari Eyang, hati Hasan jadi tidak tenang kalau Mawar marah seperti itu." Ellois mengiyakan lalu mematikkan ponselnya.
Hasan menatap layar ponsel Irma betapa terkejutnya dia saat melihat foto masa kecilnya terpampang dilayar ponselnya, "Astagrirullah." Hasan langsung menutup ponsel Irma dan meletakkan disampingnya.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Jefry yang melihat kelagat aneh dari Hasan.
"Tidak apa-apa, tolong kembalikan ponsel itu kepada Irma, Jef." Jefry mengangkat alisnya karena merasa keberatan dengan perintah tuannya kali ini.
"Kenapa masih diam?" Jefry menghembuskan nafasnya, merasa berat dengan perintah tuannya kali ini, entah mengapa Jefry juga bingung.
Jefry celingukan saat dipersimpangan kamar-kamar para santri, Jefry menggarukkan kepalaya yang tidak gatal, "Aku harus kemana? banyak sekali kamarnya?" Jefry semakin bingung karena tidak ada seorangpun yang lewat untuk sekedar dirinya numpang bertanya, karena para santri sedang mengikuti pelajaran malam dikelasnya masing-masing yang tidak ada kelas biasanya mereka ada yang belajar dan ada juga yang sedang mengaji dimasjid yang ada dipesantren.
Akhirnya Jefry masuk kedalam lorong kamar-kamar yang dia yakini disalah satu kamar itu adalah milik Irma, Jefry kadang-kadang berusaha mengintip apakah benar dirinya berada dilorong kamar santri wanita, "Ya Allah yang mana ini!" karena hatinya was-was akhirnya Jefry berbalik arah hendak kembalikan ponsel itu kepada tuannya, biar Irma sendiri saja yang mengambilnya, pikir Jefry.
"Mas Jefry!" baru 2langkah Jefry berhenti karena mendengar namanya dipanggil seorang wanita.
Jefry berbalik badan dan melihat wanita berpakaian tertutup namun semakin memancarkan kecantikkannya sedang berjalan kearahnya, "Kenapa ada disini, Mas?" tanya Irma yang sudah berdiri tidak jauh dari Jefry.
Sejenak Jefry terbengong, Jefry memandang Irma dengan tatapan dalam, "Mas?" Jefry menggelengkan kepalanya tersadar dari lamuannya.
"Oh...Terimakasih Mas." ucap Irma yang semakin membuat Jefry hilang fokus.
"Sama-sama, A-ku pergi dulu." pamit Jefry yang langsung berjalan pergi.
"Assalamualaikum." salam Irma membuat langkah Jefry terhenti, dirinya merasa malu karena lupa memberi salam.
"Assalamualaikum." salam jefry yang langsung mendapatkan jawaban dari Irma.
Irma berjalan kearah dapur untuk menyiapkan makanan yang akan dia berikan kepada Hasan, Grissam dan Jefry sesuai perintah Abahnya saat menemuinya yang sedang menangis dikamar, abahnya menyuruhnya bersabar dan percaya bila Allah akan memberikan pengganti yang terbaik.
Irma membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untui diantar keruang Hasan, "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Hasan, Grissam dan Jefry mejawab dengan serempak.
Irma berjalan kearah Grissam dan Jefry yang sedang duduk berhadapan, "Maaf menunya apa adanya seperti ini, semoga Kakek dan Mas suka." Grissam mengucapkan banyak terimakasih saat menerima makanan dari Irma, sedangkan Jefry diam terpaku melihat wanita yang sedang menaruh makanan dimejanya.
Setelah memberikan makanan itu kepada Grissam dan Jefry, Irma berjalan kearah Hasan yang masih duduk bersandar diranjang kecil yang hanya bisa untuk tidur seorang saja, "Mas, makan dulu." Irma melatakkan makanan Hasan dimeja kecil.
"Terimakasih." lirih Hasan sambil menatap Irma, Hasan dapat melihat raut kesedihan dari wajah Irma, Hasan memang tidak pandai mengerti akan wanita tapi hatinya berkata bahwa Irma habis menangis karenanya.
Irma melihat luka ditangan kanan Hasan yang masih belum sembuh dan mungkin akan susah jika untuk makan, "Apa mau Aku suapi Mas, tanganmu pasti masih sakit." tawar Irma.
Hasan menggelengkan kepalanya, "Tidak usah, Aku akan makan sebentar lagi." Irma mengangguk mengerti, Hasan memalingkan wajahnya kearah eyang dan Jefry yang sedang asyik makan.
"Biar Irma bantu Mas untuk makan, menunggu Jefry pasti akan lama, Mas harus makan biar cepat sembuh." Irma mengambil makanan yang dia taruh dimeja.
Irma menyendokkan makanan lalu mengarahkannya kepada Hasan yang sudah kembali melihat Irma, Hasan memandang sendok yang sudah ada didepan mulutnya, Hasan ragu-ragu untuk membuka mulutnya karena Hasan tahu ini bukanlah hal yang pantas untuk dirinya yang sudah menjadi suami wanita lain, "Makan lah walau sedikit Mas." bujuk Irma yang masih berharap Hasan membuka mulutnya.
"Aku akan makan dengan tangan kiriku." ucapan Hasan membuat Irma sedikit kecewa, dengan pelan dia menaruh kembali makanan itu dipiring lalu meletakkan piring makanan itu dipangkuan Hasan.
Hasan mencoba mengambil makanan dengan tangan kirinya namun terasa susah karena tidak ada kuah yang bisa memudahkannya untuk menyendok makanannya, Irma mengambil piring itu kembali dari pangkuan Hasan karena melihat Hasan yang kesusahan.
"Biar Irma saja." Irma kembali mengarahkan sendok yang berisi makanan itu kemulut Hasan, dengan terpaksa Hasan membuka mulutnya dan makanan itupun masuk kedalam mulut Hasan.
"Hasan..."
♡
#Pingin sih Crazi up tapi.......
*Tapi apa thor 😯😯😯
#Tapi tangaj author pegel 😂😂😂
*Sue lu thor emang 😈😈😈😈
#Hahahaha jangan marah-marah Zeyeng, dari pada marah-marah lebih baìk baca karya-karya author yang baru siapa tahu bisa meredam kemarahan kalian 😄😄😄😄😄