Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Kematian Itu Takdir



Hasan duduk dikursi yang ada disamping ranjang Irma, "Bagaimana keadaanmu, Dek?" tanya Hasan sambil tersenyum.


Irma membalas senyum Hasan, "Alhmdulillah Mas." Hasan menganggukan kepalanya.


"Aku bawakan buah-buahan ini untukmu, nanti dimakan ya." hati Irma begitu senang mendengarnya.


"Makasih Mas, Irma seneng sekali Mas perhatian sama Irma." tutur Irma.


"Kamu sudah Aku anggap seperti adik sendiri, Dek." senyum Irma langsung hilang dari bibirnya dan menatap Hasan penuh tanda tanya.


"Aku tidak ingin menjadi adikmu Mas." Hasan menatap Irma.



Saat Lusi fokus menyetir kembali kerumah karena Mawar sudah selesai berbelanja tiba-tiba ponsel Lusi berbunyi dan mendadakan ada pesan masuk, Lusi meminta ijin kepada Mawar untuk melihat pesan yang masuk, Mawar pun mengijinkannya, "Nona." Lusi memperlihatkan pesan yang berasal dari Hasan kepada Mawar, Mawar melihatnya dan membelalakan matanya.


Mawar langsung mengambil ponselnya yang berada ditasnya, Mawar membelalakan matanya ketika melihat banyaknya panggilan dari Hasan, mungkin karena Mawar begitu asyik berbelanja dan ponselnya juga disilent jadi Mawar tidak mendengar ada panggilan masuk dari Hasan.


"Kita kepesantren Mbak, susul Hasan." Lusi menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan Mawar.


Mawar melihat jalanan dari jendela mobil, pesan Hasan yang memberitahu dirinya sedang menjenguk Irma yang sedang sakit tiba-tiba membuat kegundahan hatinya tambah dia rasakan, Mawar takut bila terjadi sesuatu.


Sampai dipesantren Mawar langsung turun, Lusi dan Mawar meminta bantuan kepada santriwati untuk menunjukkan tempat Irma dirawat dan santriwati itu pun menunjukkannya.


Lusi berjalan dibelakang Mawar, Mawar berhenti didepan pintu tatkala melihat suaminya sedang duduk disis ranjang sedangkan Jefry dan Pak Kyai duduk disofa tidak jauh dari mereka, "Awas Kamu Jef!" umpat Mawar dalam hati sambil melirik Jefry tajam.


Mawar ingin masuk dan mengucapkan salam namun perkataan Irma membuat dirinya tetap diam.


"Aku ingin menjadi istrimu Mas." lirih Irma, Mawar terkejut bukan kepalanya mendengar perkataan Irma, Mawar ingin pergi namun tatapan dan anggukan Lusi membuatnya tetap diam dan melihat suaminya sedang bersama seorang wanita yang dengan nyatanya menyatakan perasaanya kepada suaminya, jangan ditanya perasaan Mawar saat ini karena sudah pasti sangat sakit mendengarnya dan yang lebih Mawar takutkan adalah jawaban suaminya.


Pak Kyai menunduk malu sedangkan Jefry tidak menyangka bila tuan mudanya ditembak oleh wanita yang sudah tahu dirinya sudah beristri.


Hasan menunduk sejenak lalu dengan pelan menghembuskan nafasnya, Hasan menatap Irma lekat-lekat, "Maaf Dek." hanya ucapan itu yang terucap dari bibir Hasan.


"Maaf untuk apa Mas?"


"Untuk rasa dan keinginanmu yang tidak pernah bisa Aku wujudkan." jawaban Hasan meremukan perasaan Irma, sedangkan airmata Mawar tiba-tiba mengalir.


"Apa Kamu tahu Mas, selama ini Kamu yang Aku tunggu kedatangannya, Aku menunggumu sampai Aku tidak tahu lagi sudah berapa lama Aku menunggumu, dan Kamu tahu sakitnya Aku ketika Aku merasa bahagia bisa melihatmu kembali tapi disaat itu pula Aku tahu kalau Kamu tidak sendiri lagi?" Irma mengeluarkan keluhannya selama ini.


Hasan menatap Irma dengan lekat, "Dek, dari pertama kita bertemu, Aku hanya menganggapmu sebagai adikku tidak lebih." jelas Hasan, Irma menangis mendengar perkataan Hasan, Hasan mengusap wajahnya.


"Tapi Aku sangat mencintaimu Mas, Aku juga tidak apa-apa bila dijadikan istri keduamu Mas." Hasan mendongak kearah Irma, Hasan tidak menyangka bila Irma akan mengatakan hal semacam itu.


"Tapi Aku tidak bisa menduakan hatiku, mungkin Aku bisa mengadilimu dengan hartaku tapi Aku tidak akan pernah bisa mengadilimu dengan hati dan cintaku bahkan ragaku." tegas Hasan.


Dengan pelan Hasan berdiri, "Maafkan Aku, Dek. Cobalah untuk mengerti dan menerima semua ini dengan ikhlas Aku yakin Kamu pasti mendapatkan pengganti yang lebih baik." Hasan berbalik dan ingin pergi namun suara Irma menghentikan langkahnya.


"Tapi Aku hanya ingin Kamu Mas." lirih Irma.


Hasan kembali menoleh kearah Irma, "Jangan memaksakan sesuatu yang bukan menjadi milikmu, alangkah baiknya Kamu membuka hati agar hidupmu tidak sia-sia Dek." tutur Hasan.


"Tapi Mas..."


"Nak." Pak Kyai tiba-tiba sudah berdiri disamping anaknya.


Irma menoleh kearah ayahnya, "Benar apa kata Hasan, terimalah semua ini dan cobalah membuka hatimu untuk orang lain, terkadang takdir tidak seindah apa yang kita mau Nak." Irma menggelengkan kepalanya sambil menangis.


"Abah mohon..." Hasan menghembuskan nafasnya dalam-dalam melihat Pak Kyai yang mencoba menasehati anaknya.


"Jika Aku boleh melamarkan seseorang untukmu, Aku ingin melamarkan Jefry kepadamu." Jefry mendongak karena terkejut mendengar perkataan Hasan, sedangkan yang ditatapnya kini sedang tersenyum simpul kepadanya.


"Abah setuju." Jefry kini beralih kearah Pak Kyai.


"Bah..." Irma menegur ayahnya, Pak Kyai menatap anaknya dan menganggukan kepalanya.


"Tuan Muda, kenapa Saya?" Hasan memiringkan kepalanya.


"Kamu tidak mau?" tanya Hasan.


Jefry menghembuskan nafasnya dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Hasan, "Aku ada pilihan lain Tuan Muda." bisik Jefry.


"Benarkah?" Hasan merada terkejut mendengarnya, Jefry menganggukan kepalanya.


"Siapa?" tanya Jefry penasaran.


"Rahasia." sahut Jefry membuat Hasan menatapnya tajam.


Jefry terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang merasa tidak gatal, "Maafkan Saya, Tuan Muda." celoteh Jefry.


"Kau ini!" Hasan berbalik menghampiri Pak Kyai dan Irma diikuti oleh Jefry dibelakangnya.


"Maafkan Saya Pak Kyai, Dek. Saya pamit dan ucapan lamaran Hasan untuk Jefry lupakan saja Pak Kyai, biarkan Irma memilih yang lain." Hasan menyalimi Pak kyai, Pak Kyai menganggukan kepalanya walaupun sebenarnya sedih karena lamaran Jefry tidak jadi.


"Maaf." ucap Hasan sebelum pergi.


Hasan dan Jefry berjalan keluar ruangan, saat membuka pintu Hasan dan Jefry terkejut melihat Mawar dan Lusi berada didepan pintu dengan keadaan Mawar menangis tanpa suara, "Cinta." Hasan langsung memeluk Mamar, Mawar pun membalas pelukan suaminya.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Hasan saat melepaskan pelukannya dan mengusap airmata istrinya.


"Sayang..." lirih Mawar.


"Kamu dengar?" Mawar menganggukan kepalanya.


"Jangan dipikirkan, sekarang kita pulang." ajak Hasan menggandeng tangannya.


"Tapi..." Hasan menoleh kearah Mawar.


"Kenapa? jangan bilang kalau Kamu mau dimadu." Mawar langsung menggeleng kepalanya cepat.


Hasan terkekeh, "Ya sudah, ayo kita pulang." Hasan menggandeng istrinya saat berjalan membuat para santri dan santriwati yang melihatnya merasa iri dengan Mawar.


"Kamu pulang bersama Lusi, Jef." perintah Hasan yang mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Jefry.


Hasan membukakan pintu untuk Mawar, Hasan langsung menyalakan mobilnya dan pergi dari pesantren.


Mawar memandangi wajah tampan suaminya, "Jangan dilihatin nanti ketampananku hilang." Hasan melirik istrinya sambil mengedipkan satu matanya.


Mawar menahan tawanya, "Apa sih!" Mawar mencubit perut Hasan pelan.


Hasan tertawa lalu menggenggam tangan istrinya dan tersenyum kepadanya, "Sayang..." panggil Mawar.


Hasan menoleh sebentar lalu kembali fokus melihat jalan, "Ada apa?" tanya Hasan.


"Apa Irma sakit parah?" Hasan menaikan satu alisnya.


"Kenapa tanya seperti itu?"


"Kalau dia sakit parah terus meninggal gara-gara ucapanmu tadi bagaimana?" mendengar pertanyaan Mawar, Hasan menepikan mobilnya dan berhenti.


Hasan menatap istrinya, "Kematian itu takdir, Cinta. Banyak perantaranya menuju kematian, walaupun terkadang dimata manusia perantara itu menjadi penyebab mereka marah dan menyalahkan tetapi bagiku itu sudah garis takdir karena kita tidak tahu dengan cara apa kita akan kembali, Aku sudah tanggung resiko yang menjadi pilihanku. Jadi jangan cemaskan apapun." Hasan mengusap pipi istrinya.


Mawar menganggukan kepalanya, "Kamu harus ingat bahwa kematian itu tidak ada yang bisa memaju atau memundurkan waktunya walau dalam satu detik karena itu adalah kuasa Allah." sambung Hasan lalu mengecup bibir istrinya, Hasan tersenyum ketika melihat wajah istinya yang merah karena malu.


"Kita lanjutkan dirumah." celoteh Hasan.


"Apa sih!" Mawar kembali mencubit perut suaminya, Hasan tertawa.



Dikantor Putra, dia duduk dikursi kuasanya namun dirinya melamun entah apa yang sedang dipikirkan pria itu ditambah hari itu Gina tidak masuk kerja atas perintah Putra sendiri, Putra ingin Gina beristirahat, "Kamu kenapa Put?" tanya Zaki saat masuk kedalam ruangan Putra.


"Sedang memikirkan sesuatu." sahut Putra.


"Memikirkan apa?" Putra terdiam sejenak.


"Kak apa Kakak kenal dengan Sony anak dari Pak Slamet dan Ibu Leha?" mata Zaki berputar mengingat nama itu.


"Iya Kakak ingat, Sony itu..."



#Buat PR besok 😂😂😂


*Rese lu thor 😡😡😡


#Udah ya jangan di bully lagi babang Hasannya kasihan ntar sakit loh 😄😄😄😄


*Kan lu thor yang buat kita geretan kemarin 😈😈😈


#Oh iya ya, Ay lupa loh 😂😂😂😂😂


*Sue emang lu thor 😬😬😬


#Wkwkwkwk udah marahannya, sini ngopi bareng Ay 😄😄😄😄😄


Sudah jangan berantem



Jangan marah-marah lagi ya kakak-kakak seyeng