
Malam itu, Melati duduk melamun dibalkon kamarnya, pandangannya menerawang jauh entah kemana, hatinya juga entah merasakan apa, yang Melati tahu saat itu adalah ingin sendiri, dan kebetulan Zaki suami Melati lembur dan belum pulang.
Tangan Melati menggenggam kalung liontin miliknya, "Apa yang harus Aku lakukan Ya Allah, agar saudaraku cepat kembali." gumam Melati.
Melati tidak tega melihat ibunya selalu memandang foto Mawar bayi, hati Melati selalu rapuh ketika melihat ibunya selalu bersedih memikirkan Mawar.
"Apa Aku, pasang iklan saja ya?"
"Siapa yang mau pasang iklan, Dek?" tiba-tiba suara Zaki mengaggetkan Melati.
Melati memegang dadanya yang saat ini berdebar cepat karena kaget, Melati menoleh kebelakang, "Mas, ngaggetin." Zaki tersenyum lalu duduk disamping istrinya.
"Maaf Sayang, Mas gak sengaja." Zaki mencium kening Melati lalu tersenyum kepada istrinya, hati Melati berdesir ketika mendapatkan perlakuan romantis dari suaminya.
"Tadi siapa yang mau pasang iklan, Dek?" tanya Zaki lagi.
"Melati, Mas." Zaki mengernyitkan keningnya, Zaki menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.
"Aku ingin mencari saudaraku, Mas." ucap Melati lagi karena Zaki melihatnya seperti meminta penjelasan.
"Kamu punya saudara, Dek?"
Melati mengangguk, "Kata Mamah, dia beda 2tahun denganku dan dia menghilang ketika usianya juga baru 2tahun, Mas." Zaki tercengang mendengar penuturan istrinya.
"Dan sampai sekarang belum ditemukan?" Melati mengangguk.
"Apa waktu saudara Adek menghilang tidak ada yang meminta tebusan begitu? karena setahu Mas, kalau ada yang berniat menculik biasanya mereka meminta tebusan, Dek." penuturan Zaki membuat Melati terdiam dan berpikir.
"Iya ya Mas, kata Mamah tidak ada yang menghubunginya, bahkan sudah berusaha mencari bersama polisi selama bertahu-tahun dan mereka pun akhirnya menyerah."
"Melati hanya sedih, Mas. karena Mamah selalu sedih ketika mengingat Mawar saudaraku, sebelum Papah meninggal, Papah menyuruh Mamah untuk berusaha mencarinya lagi, siapa tahu dia masih hidup, Mas." Melati menundukkan kepalanya karena sedih.
Zaki memeluk istrinya dan mengusap kepalanya, "Insya Allah, kita akan menemukannya, Dek. Mas akan membantumu." Zaki mencium pucuk kepala istrinya.
Melati menangis dan mengeratkan pelukannya, "Makasih ya, Mas. Melati beruntung punya suami sebaik kamu Mas." ucap Melati yang merasa bersalah karena hatinya terkadang masih menyimpan perasaan kepada Hasan.
^
Sedang ditempat lain, setelah pulang kuliah, Jefry membawa Hasan dan Nadine kebandara Soekarno hatta, "Kenapa kita kesini, Jef?" tanya Hasan bingung.
"Iya. kenapa kita kesini, Tuan " timpal Nadine.
"Ada kejutan untuk Tuan Muda."
"Kejutan untukku?" Hasan tertawa kecil, "Pasti Eyang pulang ya?" Hasan yakin tebaknnya pasti benar.
Jefry tertawa karena kejutannya sudah tertebak dengan sangat benar, "Tuan muda memang pandai." celoteh Jefry.
Nadine hanya menjadi pendengar pembicaraan Jefry dan Hasan, pikiran Nadine saat ini sedang dipenuhi rasa penasaran tentang sindiran Putra dikampus "Siapa wanita itu ya?" batin Nadine.
Sampai dibandara, Hasan, Jefry dan Nadine duduk menunggu kepulangan Grissam dan Ellois, "Jef?" panggil Hasan.
"Iya.Tuan Muda."
"Kenapa Eyang pulang?"
Jefry terdiam berpikir untuk menjawab pertanyaan Hasan, "Kenapa diam?" tanya Hasan yang merasa ada sesuatu yang Jefry sembunyikan darinya.
Kedekatan Hasan dan Jefry yang sudah hampir 1tahun itu membuat Hasan cukup mengenal sifat-sifat Jefry, dan diamnya Jefry saat ini membuat hati Hasan merasakan sesuatu.
"Mereka hanya merindukanmu, Tuan Muda." jawab Jefry sedikit berbohong, karena tujuan pertama Grissam dan Ellois pulang bukan hanya sekedar rindu dengan Hasan, tetapi juga ingin melihat seseorang yang telah membunuh anak dan menantunya, bahkan Arman yang menjadi sahabat Jacson selama hidup.
"Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan, Jef?" tanya Hasan penuh curiga.
Jefry menggelengkan kepalanya dengan sedikit ragu, Hasan pun akhirnya menganggukan kepalanya karena tidak mau memaksa Jefry.
"Hasan! cucu Eyang!" teriak Ellois yang sudah keluar dan langsung memeluk Hasan.
"Ya Allah, Eyang." Hasan membalas pelukan Ellois.
"Eyang sangat-sangat merindukanmu, San." airmata Ellois turun begitu saja.
"Ehm..ehm..kebiasaan! jika sudah bertemu dengan cucunya, Kau tak ingat lagi dengan suamimu ini." ucapan Grissam membuat gelak tawa diantara mereka.
"Baru beberapa bulan tidak bertemu, Kau kelihatan semakin dewasa, San." ucap Grissam lalu memeluk cucu semata mayangnya tersebut.
Ellois melihat wanita yang berada disamping Hasan, "Cantik sekali, pacarmu San?" Nadine tersenyum canggung mendengar pertanyaan Ellois.
Hasan menoleh kepada Nadine lalu berpindah kepada Ellois, "Dia temanku, Eyang." jawab Hasan membuat Ellois dan Grissam mengangkat kedua alisnya karena tidak percaya dengan jawaban Hasan.
Nadine sedikit kecewa dengan jawaban Hasan, terlihat dari wajahnya yang terlihat meredup bagai sinar yang ingin tenggelam karena sang waktu sudah berakhir, "Kenapa aku harus sedih? kan memang benar aku hanya temannya." batin Nadine.
^
Sampai dirumah, Hasan masuk kedalam kamarnya karena hari sudah malam dan dirinya sangat lelah sekali, malam ini Nadine juga menginap dirumah Hasan karena permintaan Ellois yang ingin Nadine menginap disana.
Disebuah ruangan dua orang laki-laki duduk berhadap-hadapan, mereka memasang wajah seriusnya karena sedang membicarakan masalah yang sangat serius, "Hasan belum tahu kan?" tanya Grissam.
Jefry menggelengkan kepalanya, "Belum, Tuan."
"Aku ingin segera memberi pelajaran kepadanya! beraninya dia membunuh anak dan menantuku tanpa kesalahan." geram Grissam.
"Apa semua orang yang terlibat sudah Kau tangkap, Jef?"
"Adiknya masih dalam pengejaran, Tuan."
"Jangan buat dia lolos! Kau mengerti!"
Jefry mengangguk, "Akan Saya usahakan, Tuan."
Hasan yang saat itu turun karena merasakan kehausan mendengar percakapan Jefry dan kakeknya, betapa terkejutnya Hasan ketika mendengar percakapan mereka, "Orangtuaku dibunuh? bukan murni kecelakaan?" jantung Hasan terasa berhenti berdetak ketika mengetahui kebenarannya, bagaimana bisa? selama ini orangtuanya berlaku baik kepada siapapun. siapa yang tega melakukan itu?.
Tubuh Hasan terasa lemas, sungguh berita yang sangat menghancurkan hatinya, kenapa mereka begitu tega membunuh kedua orangtuanya dan membuatnya hidup dalam kesendirian tanpa kasih sayangnya.
Hasan kembali kedalam kamarnya, saat Hasan ingin membuka pintu kamarnya, suara Nadine memanggilnya, "Tuan."
Hasan menoleh kearah Nadine yang sedang berjalan kearahnya, "Wajah Tuan kenapa?"
"Kenapa dengan wajahku?" Hasan menyentuh pipinya dengan kedua tangannya.
Nadine terkekeh, "Tidak kenapa-napa, hanya saja kelihatan sedang sedih? memang apa yang sedang Tuan pikirkan?" tanya Nadine.
"Kau ini! tidak sedang memikirkan apa-apa. tidurlah, sudah malam." setelah menjawab, Hasan langsung masuk kedalam kamar tanpa mendengar Nadine bicara.
Nadine berdiam diri didepan pintu kamar Hasan, wajahnya terlihat kecewa dengan sikap Hasan yang tidak seperti biasanya, "Mungkin, Tuan ada masalah." pikir Nadine.
^
Setelah kuliah Melati dan Zaki mendatangi biro periklanan untuk mencari keberadaan Mawar, Zaki menggandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam.
Setelah berbincang-bincang dengan biro periklanan, Zaki mendapatkan telepon dari Putra, "Assalamualaikum, Put?" salam Zaki saat mengangkat teleponnya.
"Kakak! Papah belum pulang dari kemarin!" pengaduan Putra membuat Zaki kaget.
"Kakak akan segera pulang, jaga Mamah!" Zaki langsung mematikan teleponnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Melati yang melihat kecemasan diwajah suaminya.
"Papah tidak pulang dari kemarin, Dek. di Kantor juga tidak ada."
"Astagfirullah, pantes tadi Putra tidak masuk kuliah, Mas. pasti sedang mencari Papah." Zaki mengajak Melati untuk pergi kerumahnya, Melati dan Zaki pamit kepada biro jasa dan segera pulang kerumah Zaki.
#Maaf ya telat 😂😂😂
*sudah thor! aku tahu alasannya 😑😑
#hahahah berarti tidak perlu dijelaskan kan 😂😂😂
*tidak usah! basi thor 😡😡😡
#Hahahahah