Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Aku Tidak Akan Bodoh Lagi!



Selamat membaca kakak-kakak zeyeng ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


"Biar Aku yang menyetir Jef." kata Hasan yang langsung membuka pintu mobil bagian menyetir.


Jefry mengangguk dan duduk didepan bersama Hasan sedangkan Grissam sendiri dibelakang, Hasan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Saat sedang fokus menyetir Hasan menangkap sesuatu yang tidak beres ketika dia melihat spion mobilnya, ada tiga mobil sedan hitam yang seperti mengikuti mobil Hasan, Hasan mencoba memancingnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Grissam dan Jefry sedikit kaget dengan ulah Hasan yang tiba-tiba mengebut.


"Jangan mengebut San!" perintah Grissam.


"Maaf Eyang, tapi sepertinya ada yang mengikuti mobil kita." Grissam dan Jefry langsung memandang kebelakang dan benar saja mobil sedan hitam yang berjumlah 3 itu selalu mengikuti mobil Hasan.


"Tuan Muda, biar Saya yang menyetir." usul Jefry.


"Kalau kita berhenti mereka akan dengan mudah menyusul kita Jef." kata Hasan tanpa menoleh kearah Jefry karena dirinya sedang fokus melihat jalan agar tidak dikejar oleh mobil yang mengikutinya.


"Sepertinya tidak ada cara lain selain harus menghadapi mereka." mobil Hasan berhenti ketika mobil Hasan dicegat dari depan.


"Jef. huhungi anak buah! mereka banyak sekali." tanpa menunggu lama Jefry langsung menghubungi anak buahnya untuk datang.


Pintu mobil Hasan digedor-gedor dengan sangat kuat oleh seseorang yang berbadan besar, "Keluar kalian!" perintah orang berbadan besar itu.


"Tuan Besar dan Tuan Muda disini saja, biar Aku saja yang turun." usul Jefry.


"Tunggu sampai anak buah kita datang Jef, mareka banyak sekali." sergah Grissam.


"Tidak bisa Eyang, mereka akan semakin marah jika kita terus berada didalam." Hasan langsung membuka pintu mobilnya disusul dengan Jefry dan Grissam.


Mata Hasan menelisik satu-persatu orang-orang yang sedang mengepungnya, jika dihitung mereka ada 12orang bahkan lebih.


Orang-orang itu menyeringai meledek ketika melihat Hasan dan yang lain keluar, "Kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang, sebelum Aku membalas dendamkan kematian kakkakku." ucap seseorang ketika baru turun dari mobil sedan hitam itu.


"Harusnya Aku mencari dan membunuhmu juga Tuan!" geram Jefry yang sangat terkejut ketika melihat Pandu adik Panji keluar dari mobil itu.


Pandu berhasil melarikan diri saat Panji keluar dibantu dengan istrinya dan Panji menyuruh Pandu untuk pergi yang jauh agar tidak tertangkap lagi, Pandu pun menuruti perkataan Panji, darah Pandu mendidih ketika mendapat kabar dari anak buahnya jika Panji sudah dibunuh oleh Grissam. Dan kini Pandu kembali datang untuk membalas dendam atas kematian saudaranya.


"Paman, berhentilah untuk melakukan kejahatan, karena segala kejahatan yang Paman Pandu dan Paman Panji lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang tidak baik juga." penuturan Hasan hanya mendapat balasan senyum sinis dari Pandu dan anak buahnya.


"Anak ingusan sepertimu tidak akan tahu bagaimana keras hidup." Pandu menatap tajam Hasan.


Grissam maju kedepan, "Aku yang membunuh saudaramu bukan cucuku, jadi lampiaskan balas dendammu itu kepadaku dan perlu Kamu ingat, saudaramu memang pantas mendapatkan itu semua karena sudah menjadi manusia yang menjijikan!" mendengar kata-kata Grissam darah Pandu mendidih dan seketika tangannya ingin memukul lelaki yang tidak muda lagi itu namun dengan sigap Grissam berhasil menahan tangan Pandu lalu menendang perut pemuda itu hingga Pandu hampir terjatuh jika tidak ditangkap oleh anak buahnya.


Dengan kejadian itu anak buah Pandu langsung menyerah Grisaam, Jefry dan Hasan, dengan jumlah anak buah Pandu yang cukup banyak membuat mereka kewalahan namun tetap berusaha mengalahkan mereka.


"Beri tahu yang lain untuk fokus dengan Jefry dan Grissam, Aku yang akan mengurus Hasan." bisik Pandu pada anak buahnya, anak buah Pandu mengangguk dan menjalankan perintah tuannya.


"Kamu akan habis ditanganku keponakan Panji yang malang." Pandu menyeringai tajam, Hasan bersiap-siap memasang badan.


"Hasan mohon Paman, berhentilah dan hidup dengan baik." Pandu berdecak kesal karena lagi-lagi mendapat petuah dari Hasan.


ยค


PRANKKKKKK


Mawar kaget ketika gelas yang sedang dia genggam tiba-tiba terjatuh kelantai dan menjadi serpihan kaca yang menyebar dilantai.


"Ada apa?" susul Ellois yang langsung membelalakan matanya melihat gelas pecah itu.


Ellois berteriak memanggil pelayan yang sedang beristirahat untuk membersihkan pecahan gelas yang terjatuh, "Biar pelayan saja yanh bersihkan, ayo kita duduk." Ellois menarik tangan Mawar dan membawa pergi dari dapur, mata Mawar menatap nanar pecahan gelas itu entah mengapa perasaannya menjadi tidak tenang dan gelisah, rasanya Mawar ingin menangis entah mengapa.


Ellois mendudukan Mawar diruang keluarga disusul dengan Rumi, "Ada apa Sayang, apa Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Rumi membelai kepala Mawar.


Mawar menggelengkan kepalanya, "Perasaan Mawar tidak enak Mah." wajah Mawar terlihat sedih.


"Cuman prasangka Kamu saja, Nak." tutur Rumi menenangkan Mawar.


"Eyang, apa Eyang kakung sudah memberi kabar? mengapa mereka lama sekali pergi?" Mawar menatap Ellois entah mengapa airmatanya jatuh begitu saja, Rumi merasa heran dengan perilaku anaknya, dia pun mengusap airmata anaknya dengan ibu jarinya.


"Eyang Kakung belum memberi kabar dari tadi Sayang, coba Eyang hubungi mereka dulu ya." Ellois beranjak berdiri dan pergi kekamarnya untuk mengambil ponselnya.


"Mawar...jangan berpikir macam-macam, gelas pecah tadi mungkin karena Kamu tidak kuat mengenggamnya." Rumi membelai pipi Mawar.


"Tapi perasaan Mawar tidak enak sekali Mah, Mawar takut." Rumi memeluk anaknya sambil mengusap-usap kepalanya dengan lembut.


"Baru ditinggal suami sebentar masa cengeng begini anak Mamah." ledek Rumi.


"Mamah...Mawar serius." Rumi tersenyum melihat wajah anaknya yang seperti bayi menggemaskan ketika sedang cemberut.


"Kenapa mereka susah sekali dihubungi?" Mawar langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar suara Ellois.


"Bagaimana Eyang?" nada Mawar begitu khawatir.


Ellois menggelengkan kepalanya, "Mereka susah sekali dihubungi, Eyang sudah mencoba menghubungi Grissam, Jefry juga Hasan tapi tidak ada satu pun panggilan Eyang yang menyambung." Ellois berjalan mondar-mandir sambil terus menghubungi suami beserta cucunya.


"Mah..." airmata Mawar jatuh menandakan dirinya begitu merasa khawatir dengan keadaan suaminya, bayangan saat Hasan pergi pun terlintas didalam pikirannya disusul dengan kenang-kenangan yang mereka lalui.


"Husssstttt, jangan berpikir macam-macam." Rumi memeluk anaknya dan berusaha menenangkannya.


ยค


Hasan tersungkur dijalanan karena serangan Pandu dan anak buahnya yang bertubi-tubi, Hasan kewalahan karena Hasan harus melawan 4orang sekaligus, sedangkan Grissam dan Jefry juga sama, mereka sama-sama kalah karena lawan yang tidak sepadan, wajah Hasan kini penuh lebam, dia merasakan sakit disekujur tubuhnya karena tendangan pukulan yang dia terima dari Pandu.


"Kemana anak buah kita, Jef! mengapa mereka tidak juga sampai?" Jefry menggelengkan kepalanya.


Pandu dan anak buahnya tertawa mendengar perkataan Grissam, "Anak buah kalian akan datang terlambat, karena mereka juga harus menghadapi anak buahku terlebih dahulu." Pandu tertawa disusul dengan tawa anak buahnya.


Pandu mendekati Hasan lalu menginjak tangan Hasan, Hasan meringis kesakitan, "Aku tidak akan bodoh lagi!" Pandu semakin menekan kakinya hingga Hasan menjerit kesakitan.


"Tuan Muda!"


"Cucuku!"


โ™ก


#Jangan dibully authornya ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”


#Mau kabur aja authornya takut ditipukin ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ