
"Ma, siap-siap buat ngelamar ya. Arga mau mama semua yang handle."
"Emang kapan mau dilamar, nak?"
"Secepatnya, ma. Setelah ayahnya keluar dari rumah sakit."
Arga lalu menceritakan tentang Hana dan keluarganya. Dari mulai awal pertemuannya sampai kebohongannya pada nenek tentang kehamilan Hana.
"Nak, sebelum ngelamar nanti, mama minta kamu berterus terang pada neneknya Hana. Gadis seperti Hana tidak pantas mendapat fitnah seperti itu!"
"Habisnya, kalo Arga ga bohong waktu itu. Arga pasti langsung diusir. Arga kan capek ma! Malah kota tujuan Arga udah terlewat."
"Iya, mama paham. Tapi ga harus berkelanjutan bohongnya!" Ucap mama sambil menarik hidung anaknya.
Sementara di rumah sakit, nenek tidak mendapati Hana di sisi menantunya. Nenek dan Hanum memang bergantian menjenguk ke rumah sakit, untuk membawa pakaian ganti untuk Hana dan Nanang. Serta membawa bekal makan supaya lebih hemat.
"Kemana Hana, Nang?"
"Beli sabun katanya bu."
"Kamu udah mendingan?" Tanya nenek melihat wajah menantunya sudah nampak cerah, tidak pucat seperti sebelumnya.
"Alhamdulillah bu. Kata dokter, besok sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah..., ibu seneng dengernya. Nanti di rumah kamu ga boleh capek dulu, istirahat. Biar cepet pulih, ya?!"
Nanang hanya mengangguk dan tersenyum. Dalam hati ia bersyukur, karena Allah telah memberikan orang-orang terbaik dalam hidupnya. Baik anak, istri, ataupun mertuanya tidak pernah menuntut banyak darinya.
"Assalamu'alaikum. Eh, nenek udah dateng. Kebetulan, Hana udah laper." Hana meletakkan plastik yang ia tenteng di atas nakas. Sementara nenek terbelalak melihat pembalut ada di plastik itu.
"Hana, kamu beli ini untuk apa?" Nenek takut kalau Hana sedang keguguran.
"Biasa nek, tamu bulanan." Jawabnya enteng sambil membuka bungkusan yang nenek bawa.
"Hana, bisa bicara sebentar?" Nenek menarik lengan cucunya.
"Nanti aja napa, nek. Hana laper."
"Sebentar...!" Nenek terus menarik tangan cucunya.
"Apaan sih nek..." Hana merengek manja.
"Apa kamu pernah terlambat datang bulan?"
Hana menggelengkan kepala tanpa menyahut.
"Setiap bulan lancar?"
Hana mengangguk malas.
"Terus, dari mana Arga bisa menyimpulkan kalau kamu hamil?"
"Astagfirullah alazim. Hamil?!" Hana yang tadinya malas menanggapi neneknya, menjadi beringas mendengar kata hamil.
"Ssst, jangan keras-keras! Nanti ayahmu dengar!" Bisik nenek sambil membungkam mulut cucunya.
"I...iya nek. Siapa yang hamil? Aku? Sama siapa?" Tanya Hana masih kebingungan.
"Waktu di rumah nenek, Arga bilang. Mau cepet ngelamar kamu, karena kamu lagi hamil."
Di sisi lain, Arga yang sedang bercengkrama dengan mamanya tiba-tiba tersenyum saat melihat panggilan Vidio dari Hana. "Hana, ma."
"Assalamu'alaikum mas, ni nenek mau ngomong." Hana langsung mengarahkan kamera ke arah neneknya.
"Wa'alaikumsalam. Iya nek, ada apa? Nenek sehat? Ini mama Arga nek." Sahut Arga sambil merangkul pundak mamanya.
"Alhamdulillah nenek sehat. Mama Arga masih muda ya, cantik lagi." Nenek bingung mau mulai dari mana untuk menanyakan hal konyol itu.
"Nenek bisa aja..., oh iya nek, Arga tadi bilang sama saya kalau dia mau minta maaf sama nenek karena pernah bohongin nenek." Ucap mama Wawa tak mau dosa anaknya semakin banyak. Mama Wawa memang wanita yang bijak.
"Bohongin apa ya?" Nenek masih pura-pura tidak tau.
"Itu loh nek..., em...., sebenernya Hana tidak lagi hamil nek. Arga minta maaf ya, udah bohong sama nenek." Jawab Arga kemudian.
"Oh..., kalo itu nenek juga baru tau, kerena Hana baru aja beli pembalut. Tapi, kayaknya Hana ni yang lagi cemberut kerena dibilang hamil!" Ucap nenek sambil mengarahkan kamera ke arah Hana.
Nenek bahagia sekali karena ternyata cucu satu-satunya tidak melanggar norma yang ada.
"Maaf ya sayang..., mas harus bohong biar bisa dapetin kamu." Arga mulai merayu dan menjauh dari mamanya.
Hana yang sadar di kamera sudah tidak ada calon mertua, segera menjawab. "Ga lucu!" Kata Hana sambil cemberut. Dan anehnya Arga justru senang dengan jawabannya.
" Kamu makin cantik kalau cemberut gitu dek." Jawab Arga tersenyum.
"Maaf ya sayang...., lain kali mas ga bohong lagi. Ayah gimana? Udah mendingan belum?" Arga mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kata dokter besok udah boleh pulang." Jawab Hana seadanya.
"Wah..., kalo gitu lusa mas datang melamar ya sayang."
"Bodo! Paling juga lamar bo'ongan." Jawab Hana cuek.
"Kali ini beneran sayang..., atau mau langsung nikah aja?" Goda Arga.
"What?! Nikah itu ga ada yang bo'ongan Arga... !Ga bisa main-main kayak lamaran kemaren!"
"Ya kita nikah beneran honey. Masa bo'ongan sih?"
"Tau ah. Udah dulu deh. Hana laper. Assalamu'alaikum." Hana memutus sambungan telepon bahkan sebelum Arga menjawab salamnya.
Sementara Arga mendekati mamanya. "Ma, lusa kita lamar Hana ya. Arga mau cari cincin dulu. Yang lain mama yang siapin ya".
"Barengan aja yok nyarinya. Bentar, mama kasih kabar papa dulu."
"Papa kemana ma, pagi gini udah ngilang?"
"Katanya ada sedikit masalah yang harus diselesaikan. Yuk, kita berangkat sekarang."
Arga dan mama segera meluncur mencari berbagai perlengkapan.
Hana memberitahukan perihal penting pada mamanya melalui ponselnya.
"[Assalamu'alaikum ma, besok ayah sudah boleh pulang. Mama jemput ya, ga usah jualan! Dan lusa kata Arga dia mau datang melamar.] "
Terlihat centang dua dan belum terbaca. Hana tau, di jam segini mamanya pasti sibuk dengan pelanggannya. Dan ia kembali melanjutkan sarapan yang tertunda.