First Love To My Husband

First Love To My Husband
Mulai Sibuk



Setelah diterima di UNIKOM Swasta di sekitar rumah sakit tempat Arga berbaring, Hana pun mulai masuk kantor di perusahaan tape industries milik keluarga suaminya.


Hari pertama, Arman sengaja mengajaknya berangkat bareng. Sehingga semua karyawan memperhatikannya. Karena baru sekali ini bos besar bersama perempuan muda. Ada yang langsung bergunjing, mengira Hana adalah simpanan bos mereka.


Arman langsung menghampiri meja Aca.


"Aca, jadikan dia asisten mu! Dia keponakan saya. Tolong kamu urus semuanya! Bisa?"


"Baik pak. Saya akan urus semuanya."


Arman masuk begitu saja tanpa basa-basi lagi.


Aca pun segera menghubungi HRD untuk mencatat keberadaan Hana di sana. Dan memberi meja tambahan di ruangannya. Padahal selama ini pekerjaannya aman-aman saja tanpa seorang asisten, tapi ya... kalau sudah maunya si bos, siapa sih yang bisa ngelarang?


Aca pun memulai obrolan.


"Kamu lulusan mana?"


"SMA XX kak."


"Loh, cuma tamat SMA? Pantes, keliatan masih muda banget. Kamu nanti kalau kakak suruh-suruh jangan marah ya..!"


Aca agak kesel karena diberi partner cuma tamatan SMA. Tapi ia juga senang karena bisa mulai dekat dengan salah satu keluarga Arga, orang yang ia cintai.


"Iya kak. Hana mohon bimbingannya."


"Aman itu. By the way, kamu tinggal di rumah pak Arman ya?"


"Iya kak."


"Mantap jiwa! Bisa ngorek keadaan di Arga dong." Batinnya.


"Oh..., kabarnya Arga gimana? Kok ga pernah ngantor lagi? Hpnya ga aktif lagi. Apa dikirim ke perusahaan cabang?"


"Bu-bukan kak. Mas Arga ... mas Arga lagi kuliah di luar negeri."


"Bahkan wanita ini memanggil bosnya dengan namanya begitu saja? Sedekat apa dia dengan Arga dulu?" Hana heran.


"Di luar negeri? Kok ga ngasih kabar ya? Apa ganti nomor ya? Kamu tau ga no hp Arga yang baru?"


"Ma-maaf kak, kata om Arman, untuk sementara waktu ga ada yang boleh ganggu mas Arga!"


"Protektif banget sih tu sih bos. Atau jangan-jangan dia lagi bulan madu ya? Kemaren-kemaren dia sempet bilang mau melepas masa lajangnya."


"Ya, harusnya kami sedang menjalani bulan madu sekarang. Mas... cepatlah sembuh!"


Hana teringat saat memadu kasih dengan Arga. Indah, nikmat, ia ingin mengulang kembali. Tersenyum sebentar lalu dan bulir bening itu pun menetes tanpa ia sadari.


"Iya.Kamu kenapa Hana?"


Tanyanya heran melihat ekspresi wajah Hana.


"Ga kak. Mas Arga ga lagi bulan madu kok. Dia sedang berjuang di sana, untuk hidup yang lebih baik."


"Syukurlah kalo belum marriage. Tapi kuliahnya berapa lama ya? Apa sanggup gue nunggunya?"


"Kak Aca kenapa?"


"Oh, ga ada apa-apa! Kamu pelajari berkas ini ya! Kalo ada yang ga tau tanya ke kakak."


"Baik kak."


****


Arman ingin mengenalkan Nina pada Wawa malam ini, ia menyuruh mang Didi untuk menjemput Hana dan mengantarnya ke kampus.


Sementara ia langsung menjemput Nina di apartemen yang dulu ditempati Febri sewaktu hamil. Kini Nina hanya ditemani asisten rumah tangga, karena Febri sudah ditempatkan di perusahaan cabang sebagai sekretaris di luar kota.


****


Febri kini bekerja dengan hati-hati. Ia tidak berani melirik bos-bos lagi, karena ancaman dari Arman cukup membuatnya ciut.


Dia juga dapat fasilitas rumah dan mobil di kantor barunya. Dan ia bersyukur, karena mamanya tidak lagi pernah meminta kiriman lebih darinya, jadi Febri bisa fokus bekerja tanpa tanpa harus merayu om-om tajir di sekitarnya.


Tentu saja Arman sudah mengancam Eva, mama angkat Febri. Eva yang sudah lama kenal Arman tak berani berbuat banyak. Ia bahkan rela menyerahkan rumah yang sudah bertahun-tahun ia tinggali tanpa diminta.


Dan kini, Arman sedang merenovasinya. Secepatnya ia akan memboyong Nina kembali ke rumah lama mereka.


****


Hana tidak langsung ke kampus, melainkan ke rumah sakit. Ia mandi dan ganti baju di rumah sakit yang memang sudah ada beberapa bajunya di sana.


"Assalamu'alaikum mas..., maaf ya baru bisa jenguk. Hari ini aku mulai kerja sama Aca mas. Keliatannya, dia suka tuh sama kamu. Tapi kamu sukanya cuma sama aku kan mas...."


Hana bicara sambil memegang tangan dan membelai rambut suaminya. Kemudian mencium keningnya dan pamit kuliah. Walau tanpa jawaban, namun Hana selalu mengajaknya bicara dalam setiap kesempatan.