
Diamnya Hana membuat Arga merasa semakin bersalah. Apa lagi Isak tangisnya di tengah malam sering mengganggu tidur Arga yang langsung memeluk dan membelai istrinya, sebisa mungkin ia lakukan untuk menenangkan Hana. Hal itu membuat Hana terlihat semakin kurus dari hari ke hari. Arga juga terkadang merasa bosan dengan keadaan yang kian dingin. Ia pun teringat pada gadis kecil yang pernah ia nikahi sebulan yang lalu. Dialah Disti. Sosok kecil yang tangguh. Ia harus hidup mandiri di tengah himpitan ekonomi. Ditambah dengan beban ayah yang cacat, belum lagi uang kontrakan. Meski begitu ia selalu ceria. Arga ingat betul bagaimana ramahnya Disti saat pertama bertemu. Namun keesokan harinya gadis ceria itu pun berubah jadi gadis pendiam. Mungkin sama seperti Hana. Disti pun kecewa akan nasib hidupnya. Bahkan setelah menikah, Arga hanya bertanya kabar melalui chat. Tak pernah menelpon, apa lagi berkunjung. Sungguh kedua wanita telah tersakiti oleh salahnya arah nahkoda.
[ Ren, mulai besok kamu awasi Disti! Selalu kasih kabar tentang perkembangannya. Okey?]
[ Tapi saya kan punya istri mas... Masak mau ditinggal luar kota terus? Nanti kalo istri saya ngambek kayak mbak Hana gimana? Apa saya juga harus nikah lagi kayak mas?]
[ Ajak istrimu juga pindah! Kalian kan belum punya anak. Jadi tidak begitu repot.]
[ Terus perusahaan di sini ditinggal gitu mas?]
[ Kamu pantau dari jauh saja! Sebulan sekali kamu tengok. Inget, kamu hanya boleh pulang saat aku ada di sana.]
[ Berarti mas Arga sebulan sekali ke rumah Disti dong?]
[ Ya mau bagaimana lagi? Dia juga istriku!]
[ Udah dapat izin dari mbak Hana?]
[ Belum. Tapi insya Allah segera.]
[ Ya... do'a terbaik ajalah buat keluarga mas Arga. Minggu depan saya pindah ke kota Disti deh mas.]
[ Besok!]
[ Hah... besok?!! Sadis amat sih bos! Pindahan kan perlu waktu! Belum lagi ngerayu istri biar mau diajak. Please bosku yang ganteng.... jangan besok ya...!]
[ Itu derita lu! Aku ga mau tau!]
[ Hade... bos bermasalah, saya juga kena imbas. Iya deh, besok saya pindahan mas. Ga pake nego! Assalamu'alaikum. ]
[ E e e...,belum siap ngomong juga. Maen assalamu'alaikum aja!]
[ Mau packing mas! Kan mau pindahan!]
[ Ya udah, terserah lu! Wa'alaikumsalam!]
Arga menyudahi karena tidak mau mengganggu Rendi. Mereka sudah seperti saudara. Rendi selalu menuruti semua perintah Arga, walau sedikit bawel. Arga selalu bisa mengandalkannya.
[ Ca, ajak Reno bergabung ke Warna Group. Tempatkan ia di posisimu dulu. Kita akan buat perhitungan pada Hendra!]
[ Kenapa tiba-tiba gini Ga? Aku lagi hamil tua. Kalo semua kerja, kecapean, aku ga ada tempat bermanja dong..."
Aca sebenarnya senang mendapat tawaran itu, ia hanya sedang pamer pada mantan kekasihnya bahwa suaminya sangat memanjakannya.
[ Justru sebelum anakmu lahir, perusahaan Reno harus kembali padanya! Sehingga anakmu bangga pada ayahnya.]
[ Iya, tapi kok dadakan gini sih! Emang ada apa?]
[ Hendra membuat kesalahan lagi. Setelah kesalahannya pada kak Febri, lalu pada Reno sekarang dia berulah padaku. Warna Group bukan tempat bermain! Kita akan memberinya pelajaran!]
"Kesalahan apa yang dibuat om Hendra, sampai Arga begitu marah"
Batin Aca.
[ Tapi dengan cara apa kita bisa menjebaknya?]
[ Menurutmu cara terbaik apa untuk menjerat lelaki hidung belang seperti Hendra?]
[ Aku mengerti. Kapan kita mulai?]
[ Okey, besok aku akan angkat Reno jadi sekretaris ku. Aku tunggu langkah selanjutnya. See you.]
[ See you.]
Gambaran sudah terlihat. Tinggal bagaimana menjalankan hidup Arga kedepannya. Tetap bersama Hana, atau berbagi bersama Disti. Jebakan untuk Hendra pun sudah terencana.
Arga tersenyum sendiri, tanpa sadar Hana memperhatikan tingkah suaminya dari tadi.
"Abis nge- chat siapa? Seneng banget kayaknya!"
"Aca!"
Hana geram mendengarnya. Biasanya kalo ada urusan dengan Aca, Hana yang disuruh bilang, karena Arga menghindari yang namanya CLBK. Tapi kini justru dia yang mengatasinya sendiri sambil senyum-senyum ga jelas.
"Kamu mau balikan sama Aca?"
"Apa sih honey...Sensi banget! Aku cuma mau kerjasama buat menjebak Hendra! Dia telah membuat istriku selalu muram...."
Ia gemas melihat Hana marah dan mencubit dagu Hana dengan tangan yang lain di pinggang istrinya. Cemburunya kini terasa berlebihan.
"Maaf mas.., aku sudah mengacuhkan mu sebulan ini. Aku belum bisa menerimanya."
Arga menarik istrinya lebih dalam ke pelukannya.
"Tidak apa sayang... mas ngerti. Mas seneng sekarang kamu mau ngomong. Jangan diem lagi ya sayang..."
Cup. Bibir Arga mendarat di kening Hana.
"Tapi... bagaimana dengan Disti?"
"Mas kan udah bilang... mas ga akan menemuinya tanpa ridho darimu!"
Arga tidak ingin merusak momen yang sudah lama hilang dengan membicarakan Disti. Hana memang selalu melayaninya. Tapi tanpa suara manjanya terasa sangat berbeda dengan malam ini. Ia seperti menemukan Hananya yang hilang.
"Dia juga berhak bahagia mas! Dia juga istrimu!"
"Apa kau sudah ridho? Aku tidak ingin memaksamu."
"Temui dia. Tapi jangan sampai Agatha merasa kehilangan dirimu."
"Apa.... sebulan sekali boleh? Atau tiga bulan?"
"Mas tidak keberatan, kalo sebulan sekali?"
"Mas bahkan tidak akan menemuinya tanpa ridho mu honey..."
Arga memeluk semakin erat.
"Baiklah! Aku memberi waktu untuk Disti sebulan sekali selama tiga hari terhitung masa perjalanan."
"Terima kasih honey, I love you."
"I love you too. But I can't stop to jealous of you."
"I understand honey. I'm sorry."
Malam itu menjadi malam terindah buat Arga setelah bersabar selama sebulan. Belaiannya disambut baik oleh lembutnya cinta Hana. Kelembutan inilah yang takkan pernah bisa Arga tinggalkan demi apapun. Kelembutan hati dari seorang Hana mampu meluluh lantakkan seluruh dunia Arga.