First Love To My Husband

First Love To My Husband
Ban Serep



Selain Hana, Disti juga pasti merasa diabaikan. Walau belum ada rasa cinta di hatinya, namun rasa untuk sekedar dihargai oleh seorang yang menyandang status suaminya, tentu sangat ia harapkan. Terlebih ayahnya yang tinggal serumah dengannya, sering bertanya 'kapan Arga kembali'. Meskipun ayahnya tau statusnya sebagai istri kedua yang belum resmi di badan hukum, namun ayahnya tetap mengharap yang terbaik untuknya.


"Masaklah yang enak! Barang kali nanti suami mu datang ke sini."


Begitulah ucapan ayah Disti yang sering membuatnya semakin pilu. Meskipun di rumah sudah disediakan pembantu, tapi ayahnya selalu meminta Disti untuk memasak sendiri. Agar ia bisa melayani suaminya dengan baik, termasuk dengan masakannya sendiri.


[ Aku akan datang! Bersiaplah! ]


[ Apa istri tuan sudah mengizinkan?]


[ Istriku orang baik. Dia selalu yang terbaik.]


[ Bagaimana saya bisa bersaing dengan orang terbaik seperti itu? Lepaskan saja saya tuan. Aku ingin bebas seperti dulu. Aku tak ingin terkurung dalam sangkar emas mu!]


[ Kamu tidak perlu bersaing dengannya. Kamu cukup mendampingiku saat ia tak ada.]


[ Itulah yang tidak kusukai. Hanya seperti ban serep saja tuan menganggap ku.]


[ Jangan bawel! Kamu belum berhak menuntut apapun dariku! Bersiap saja! Aku semakin dekat.]


Disti menaruh ponselnya. Ia segera memasak sesuai instruksi ayahnya. Menyiapkan berbagai hidangan dibantu dia asisten rumah tangganya agar semua bisa tersaji cepat. Setelah semua tersaji, terdengar suara mobil di depan rumah.


"Ya ampun, aku belum mandi!"


Batin Disti bingung.


"Mbok, tolong nanti bukain pintu untuk tuan ya!Saya mau mandi dulu."


"Baik non."


Disti mengambil langkah seribu untuk memasuki kamarnya. Tak sempat berendam untuk menambah aroma tubuhnya. Mandi kilat, hanya untuk menghilangkan bau bawang. Mungkin seperti itu perumpamaan nya.


"Disti mana mbok?"


"Lagi mandi tuan."


"Jam segini baru mandi? Apa setiap hari seperti itu mbok?"


"Tadi non Disti masak dulu untuk menyambut tuan."


"Masak? Untuk saya?"


"Iya tuan! Non Disti masak banyak hari ini."


"Oh... baguslah! Bapak mana mbok?"


"Lagi belajar jalan tuan. Nyoba kaki barunya. Katanya harus sering dilatih jalan, biar ga kaku."


"Syukurlah kalo bapak seneng. Bikinin jus mangga ya mbok! Sekalian sama supir di luar."


"Baik tuan."


Arga langsung masuk ke kamar hendak meregangkan ototnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Ia berbaring dengan kedua kakinya masih menjulur ke bawah,


Disti membuka pintu kamar mandi perlahan, mengintip sosok Arga yang terlihat sudah tidur. Ia ragu untuk keluar dari kamar mandi, karena hanya mengenakan handuk saja.


Berjalan berjingkat mendekati lemari bajunya. Tapi aksinya justru membuat Arga meremang saat melintas dengan lilitan handuk. Arga memperhatikan Disti yang membelakanginya saat mengambil baju ganti. Menutup lemari perlahan dan hendak ganti di kamar mandi.


Disti berbalik, Arga pura-pura memejamkan mata kembali. Saat Disti mendekat hendak melintasinya, kaki Arga sengaja direntangkan sehingga Disti terjatuh. Dan tangan Arga sudah siap menyambut insiden itu, sehingga Disti kini berada tepat di atasnya. Arga tersenyum penuh kemenangan. Sementara Disti merasa malu dengan keadaan itu.


"A- apa yang tuan lakukan?"


"Aku hanya ban serep!"


Disti hendak melepaskan diri namun hal itu justru membuka lilitan handuk di tubuhnya. Dan Arga tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Tidak mau memberikan kesempatan untuk Disti ngambek seperti Hana. Ia langsung menarik tubuh polos istrinya.


"Inikah persiapan mu untuk menyambut kedatanganku?"


"Lepaskan!"


Disti menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun Arga juga ikut menyusul, sehingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.


"Jangan berontak! Nikmati saja!"


"Aku baru saja mandi tuan!"


"Tenang! Aku nanti yang akan memandikanku."


" Mmmmp.... "


Disti ingin membuka suara namun bibirnya telah dirampas. Arga terus menghujani tubuh polos Disti dengan lumatannya. Berhenti pada buah ranum yang kenyal. Bermain dengan mulut dan tangan. Hingga Disti tak bisa lagi menolak. Tubuhnya sudah memberi sinyal positif untuk menerima setiap tindakan Arga.


Selongsong yang baru sekali dipakai masih terasa begitu sempit, membuat Arga juga mengerang menahannya. Merasakan sensasi luar biasa Arga pun akhirnya melepaskan cairan kental itu. Namun tetap berada di atas Disti sampai beberapa saat.


"Terima kasih tuan."


"Untuk apa?"


"Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk merasakannya."


Arga menarik Disti kembali dalam pelukannya.


"Maaf ya... kamu harus berada pada posisi ke dua. Kamu harus lebih sabar. Ini memang sulit. Tapi pasti indah. Akan kuberi semua yang kau mau. Kita harus menjalani ini dengan cinta."


Arga mengecup kening Disti.


"Jangan memanggilku tuan lagi. Aku suamimu. Panggil mas atau bang aja ya."


Arga mengecup kening Disti.


"Jujur, aku belum bisa mencintai tuan! Tapi aku ingin perhatian dari tuan."


"Kau pasti akan segera jatuh cinta padaku nona cantik. Sampai kapan kau memanggilku tuan?"


"Sampai aku bisa mencintaimu seperti istri pertamamu tuan."


" Baiklah terserah kamu saja. Ayo kita mandi!"


"Tuan duluan saja. Saya masih lelah."


"Aku sudah bilang, kalau aku yang akan memandikan mu!"


Arga segera membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.


"Tuan, lepaskan! Aku bisa mandi sendiri!"


"Sudahlah nona, sekarang waktunya relaksasi. Aku juga akan memberikan pijatan untukmu."


Pengantin baru mandi berdua? Sudah pasti mandinya akan sangat memakan waktu. Apalagi dua buah ranum itu semakin lembut dan halus saat berbalut sabun. Mmmmm makin gemas deh.