
Di jalan, Rendi mencoba menjelaskan tentang keinginan Arga yang mengajaknya bergabung. Ia sangat bersyukur punya bos Arga.
"Pantas mendiang ayah dulu tak mau berhenti kerja ya dek. Ternyata keluarga bos benar-benar orang baik."
"Iya bang. Tadi mbak Hana juga nawari Salma buat buka konveksi. Pantas saja kalau kekayaan mereka selalu bertambah. Mereka tidak pernah lelah untuk membantu yang lemah."
"Benar dek. Hartanya seolah menjadi berkah. Kita harus mencontoh mereka dek! Biar ketularan sukses."
"Kalo gitu, uang dari mas Arga kita sisihkan sepertiganya buat pengemis itu mas. Biar kerjaan mas nanti berkah."
"Iya deh. Makasih udah ngingetin ya dek."
"Iya bang. Kita memang harus saling mengingatkan, seperti mas Arga dan mbak Hana."
Bagai ketiban durian runtuh, pengemis itu begitu bahagia menerima sepuluh lembar uang ratusan yang jarang ia lihat bentuknya.
"Makasih tuan..., semoga tuan mendapat balasan baik setelah ini. Makasih nyonya..., semoga nyonya awet muda dan selalu disayang suami."
Pengemis itu tak henti-hentinya berterima kasih sampai mobil Rendi berlalu.
"Baru kali ini ya bang, ada yang manggil kita tuan sama nyonya. Ternyata kita juga bisa merasa senang dengan melihat orang lain senang. Mungkin itu yang membuat orang terus ingin berbuat baik.
"Iya, moga aja itu jadi do'a buat kita dek."
"Aamiin..."
Ucap mereka bersamaan dan tersenyum senang.
****
Arman dan Wawa sengaja tidak memberi tahukan tentang rencana kedatangannya. Ia ingin membuat kejutan untuk menantunya. Tetapi ternyata zonk. Sang menantu malah sedang study tour bersama Rara dan Salma. Karena Hana sedang hamil, Arga ingin Rendi yang mengantar mereka, demi keamanan dan kenyamanan istri dan calon bayinya.
"Mama kok ga ngomong dulu kalo mau ke sini? Hana lagi keluar tuh. Mungkin agak lama pulangnya.
"Loh emang Hana kemana? Bukannya lagi hamil? Kok kamu biarin pergi sendiri?"
"Sama Rendi, Rara dan satu pekerja laundry ma. Rendi bisa diandalkan kok ma."
"Emang ke mana mantuku itu?"
"Belajar. Katanya sih pengen buka konveksi."
"Sudah punya tenaga ahli?"
Tanya Arman kemudian.
"Belum pa. Ini mau mulai dari dasar."
"Kenapa tidak langsung pakai tenaga ahli? Atau mungkin bisa kerja sama dengan butik Febri?"
"Hana cuma pengen bantu orang laundry yang punya bakat jahit, pa. Itu aja."
"Itu akan lambat untuk berkembang."
Arman memberi penilaian berdasarkan pengalamannya.
"Benar pa. Aku juga udah bilang gitu. Tapi orang kecil juga pasti pengen maju, begitu kata menantu papa. Dia cuma ingin menolong. Masalah rejeki biar Allah yang mengatur."
"Hana selalu punya sudut pandang yang unik dalam berbisnis. Tapi papa yakin, setiap usaha yang dia rintis pasti akan berkembang."
"Mantu papa itu memang cerdas pa."
"Dah ah, jangan ngomongin bisnis terus! Mama jadi kayak sapi ompong di sini."
Wawa tak enak kalau hanya mendengarkan dua jagoannya.
"Mama ga pengen apa ikutan bisnis?"
Goda Arga.
"Ga! Mama cuma pengen bisa selalu do'ain kamu, papa dan Hana. Mama ga mau kehilangan momen itu dengan ikut menyibukkan diri seperti kalian."
"Makasih ma. Semua ini berkat do'a mama."
Arga memeluk mamanya dan Arman pun ikut memeluk.
"Makasih sayang... kamu memang the best."
Arman selalu bangga dengan keberadaan Wawa yang selalu bisa menguatkan dan menghiburnya dengan perhatian yang luar biasa dan tidak bisa ia dapatkan dari Nina.
Dan itu semua hanya Wawa yang bisa melakukannya. Bahkan sepanjang pernikahannya yang bukan seumur jagung lagi, ia belum pernah mendapat penolakan untuk urusan ranjang, kecuali saat Wawa memang sedang haid atau nifas.
Bahkan dulu, saat di kampung. Walau lelah seharian di sawah, ia tetap bersedia melayani Arman. Menurut penuturan Wawa, ia tidak mau dilaknat malaikat sepanjang malam. Yang Wawa inginkan hanya ridho suaminya.
"Udah..! Mama ga bisa napas nih!"
Wawa mencoba meloloskan diri dari pelukan dua lelaki yang sangat ia sayangi.
"Mama mau masak buat Hana."
"Biar mbok Ginem aja ma! Mama pasti capek abis perjalanan jauh!"
"Tenang! Mama masaknya sama mbok Ginem kok. Biar ga capek."
Wawa beranjak ke dapur. Disertai senyum dari anak dan suaminya.
"Ayo Ga, papa pengen liat kantormu."
"Mari pa. Lewat pintu belakang aja. Kebetulan lagi banyak yang musti di packing."
"Sudah berapa banyak armada untuk pengantaran Ga?"
"Baru Lima pa! Satu armada untuk satu kota. Jadi, ga bisa libur armadanya pa."
"Itu ga baik buat kesehatan supir, Ga. Mereka harus punya waktu juga untuk keluarganya!"
"Yang ga libur armadanya pa! Kalau supirnya libur setiap Selasa karena pesanan agak sepi dari hari yang lain. Diganti supir cadangan alias keneknya. Dan supir cadangan libur hari Sabtu, karena banyak kantor yang libur. Jadi pengantaran hanya di pusat perbelanjaan saja. Di sana selalu ada orang yang bersedia membantu mengangkat barang, jadi supir ga terlalu capek."
"Oh gitu! Baguslah kamu bisa ngaturnya. Semenjak kamu buka kantor distribusi ini, produksi kita bertambah pesat. Bahkan sampai enam puluh persen dari tahun-tahun sebelumnya. Apa sebaiknya kita buka distribusi lagi ya?"
"Cari daerah yang pas dulu pa. Beda pulau mungkin?!"
"Ya, nanti kita pikirkan sama-sama setelah Hana pulang. Dia selalu punya ide brilian. Papa suka!"
Tok tok tok
Tiba-tiba seseorang masuk sebelum dipersilahkan, terlihat sedang panik.
"Pak, ada kecelakaan kerja! Bu Rara dan pak Rendi tidak ada! Jadi saya langsung menemui bapak."
"Kenapa Rara dan Rendi?"
Tanya Arman tak mengerti.
"Rara mengepalai laundry, dan Rendi mengurus kantor pa. Arga sedang mempersiapkannya. Tapi Rendi belum menyadarinya."
"Good job nak."
Mereka keluar mengikuti orang yang memberitahukan kejadian tadi.
"Pak, kaki Rudi tertimpa barang tadi dan kini tidak bisa digerakkan."
"Segera antar ke rumah sakit! Ayo, angkat!"
Arga mengangkat Rudi dibantu karyawan yang lain.
"Tapi, mobil sedang di bawa pak Rendi, pak."
"Pakai mobil saya! Nanti saya menyusul. Hubungi juga pihak keluarga!"
Arga memberikan kunci mobilnya.
"Baik pak."
Mereka bergerak cepat menyelamatkan rekannya.
"Pa, nanti pinjam mobilnya ya?"
"Iya, papa nunggu Hana di rumah aja ya sama mama."
"Iya pa. Jangan buat mama bosan sendirian di rumah."
"Siap..! Itu memang tugas papa untuk selalu menyenangkan mamamu!"
Keduanya melempar senyum. Arga mencoba memahami kesibukan anak dan mantunya. Walaupun kedatangannya kali ini benar-benar zonk. Tanpa tuan rumah.