First Love To My Husband

First Love To My Husband
Cemburu



Di kampus, Hana cukup populer. Selain cantik, berpenampilan sopan, lembut dan juga cukup pintar. Gimana ga pintar, kadang yang belum ia pelajari sudah diajarkan oleh Aca di kantor.


Hal itu membuat banyak cowok yang berusaha mendekatinya, namun tentu saja selalu dihindari karena Hana belum berani bilang kalau dia sudah menikah. Karena itu akan membahayakan keselamatan Arga, sesuai pemintaan Arman waktu itu.


Suatu hari ada yang nekad mengikuti Hana, karena memang ia terus menolak untuk diantar.


"Wah... ternyata Hana tajir melintir! Pantes aja ga mau ngelirik kita-kita! Tapi, kenapa mau kuliah di tempat biasa ya? Aneh! Mungkin... dia cuma anak pembantu di sini?!"


"Bisa jadi! Tapi, tampilannya ga kayak anak pembantu tuh."


Sahut Angga.


"Apapun latar belakang Hana, buat gue dia itu istri idaman. Gue akan kejar terus!"


"Dan Lo harus bersaing ma gue! Gue juga ga mau mundur!"


Ucap Leo mengimbangi.


Malam Minggu waktunya ngunjungi pacar bagi anak-anak muda tentunya. Begitu juga Angga dan Leo. Angga hanya mondar-mandir di depan rumah Arga tempat Hana tinggal, tetapi tidak berani mencet bel. Ia mencoba mengirim pesan namun hanya centang abu-abu. Tentu saja karena Hana sibuk bersama suaminya.


Tapi Leo langsung memencet bel dan berhasil masuk dengan mudah setelah menyampaikan niatnya pada Ronald, satpam yang juga menyukai Hana. Hal itu membuat Angga frustasi dan menenggak minuman keras bersama teman-temannya.


Ronald sengaja tidak memberi tahu pada Leo bahwa Hana telah menikah. Ia ingin meniru jurus Leo untuk menjemput Hana ke pangkuannya.


"Hana, ada yang cari kamu tuh! Katanya teman kuliah."


Wawa membiarkan Hana menerima tamunya, dan percaya pada menantunya.


"Iya ma. Hana segera ke bawah."


"Hana tinggal sebentar ya mas."


Pamitnya setelah mencium kening suaminya. Wawa pun menggantikan Hana menemani Arga di kamar.


"Cewek apa cowok tamunya ma?"


Tanya Arga kemudian.


"Cowok. Katanya sih temen kampus."


"Arga mau liat dari cctv ma. Suruh Ronald menghubungkan ke hp ku!"


"Arga, kamu harus beri kebebasan pada istrimu. Barang kali cuma nanya tugas!"


"Arga cuma mau nengok ma. Nanya tugas kok malam Minggu!"


"Kalau Hana memang niat..., ngapain dia bawa lelaki di rumah?! Dia selama ini leluasa di luar?"


"Arga cuma mau pastiin ma!"


"Ok. Tapi mama ga mau ada keributan. Mama sudah kenal Hana lama. Selama kamu berbaring, bahkan paramedis semua memujinya. Mama liat dengan mata kepala mama, bagaimana ia mengurusmu. Dia sangat mencintaimu Arga!"


"Iya-iya. Sekarang mantu mulu yang dibelain. Anak sendiri dilupain."


"Karena mama ga mau anak mama berbuat dzolim. Di rumah ini, Hana sebatang kara. Dia lebih butuh perlindungan dari pada kamu!"


Wawa berlalu dan segera menghubungi Ronald.


Setelah tersambung, Arga memperhatikan dari dalam kamar. Betapa geramnya ia saat melihat lelaki itu mencoba mendekati Hana, bahkan nyaris menyentuh tangan Hana. Untungnya Hana keburu menghindar. Terlihat Hana berpindah kursi untuk menghindar, namun lelaki itu malah bergeser pula.


Arga geram menyaksikannya. Dia menelpon mang Didi untuk mengusir tamu Hana dengan sopan.


"Maaf den, hari ini akan ada tamu agung yang akan menemui non Hana. Aden datangnya lain waktu aja ya. Non Hana harus segera bersiap."


"Baik pak. Saya pulang dulu. Hana, lain kali aku ke sini lagi ya."


"Jangan! Jangan kesini lagi. Aku takut kekasihku salah paham nanti."


" Oh... kamu sudah punya kekasih. Kapan-kapan kenalin ke saya ya."


"Iya, next time saya kenalin. See you."


"See you too."


"Mang, emang siapa tamunya?"


Kata Hana berbisik.


"Tuan muda ingin bersama nyonya."


"Hmm cemburu kayaknya mang."


Tanpa mereka sadari kalau Arga masih memantau di cctv.


"Siapa yang datang honey?"


"Temen kampus mas."


"Cewek atau cowok?"


"Kalo cewek kenapa? Kalo cowok kenapa?"


"Ditanya malah ganti nanya!"


"Iya dong... namanya juga istri, nanyaknya harus dobel."


Hana segera menghampiri suaminya yang terlihat ngambek.


"Maaf ya mas... banyak fans di kampus."


Hana mencoba menggoda.


"Nekad tu anak! Berani bener datang ke rumah suamimu! Apa karena aku cacat, jadi mereka menyepelekan ku?"


"Jangan suudzon. Mereka bahkan ga tau kalau aku sudah menikah."


"Oh... jadi di luaran sana kamu ngaku gadis ya? Biar leluasa, gitu?!"


"Papa yang minta mas! Bahkan di kantor, aku cuma jadi ponakan, bukan mantu."


"Papa kek gitu?"


"Hmm."


Hana mengangguk mengiyakan.


"Sepertinya mama harus tau hal ini!"


"Mama juga sudah tau! Dan semua demi kebaikanmu mas. Percayalah, semua penghuni rumah ini sangat menyayangimu."


Arga hanya diam seribu bahasa. Ia belum mengerti sepenuhnya. Tapi sejauh ini, setiap tindakan papanya pasti punya alasan yang kuat.


Lalu Hana mulai menggoda suaminya dengan mengganti pakaian di depan suaminya. Sengaja ia menggunakan lingerie yang tipis, dan setelah itu tidur tanpa selimut membelakangi suaminya.


Dag dig dug


Jantung Arga berdetak kencang. Walau sudah lama menikah, namun malam pertamanya sudah terlalu lama dilewati. Waktu itu Hana masih malu-malu. Tapi sekarang ia sudah sering memandikan Arga, dan kini malah lebih berani.


"Sebenarnya aku malu tampil seperti ini mas. Tapi mungkin sedikit rangsangan bisa mendorongmu untuk bergerak lebih."


Tanpa menghiraukan perasaan suaminya, Hana mencoba memejamkan mata.


"Han... Hana... hadap sini dong..."


"Aku ga suka dengan cemburu mu mas!"


Hana pura-pura ngambek.


"Ya udah, mas minta maaf. Hadap sini dong..."


Hana masih bertahan pada posisinya. Arga yang masih duduk bersandar mencoba merosot kan diri untuk tidur di samping Hana.


Ia menarik bahu istrinya, sehingga Hana kini telentang di sebelahnya.


Arga menelan saliva menyaksikan pemandangan di depan matanya.


Hana yang menyadari hal itu langsung pura-pura cemberut dan mencoba membalikkan badan kembali. Tapi Arga berhasil mencegahnya dengan memiringkan tubuhnya ke arah Hana dan memeluk tubuh istrinya.


"Maafkan aku sayang..."


Arga terus memeluk Hana dengan erat.


"Akhirnya kamu bergerak juga mas."


Hana membiarkan saja tangan suaminya yang mulai nakal. Dan tanpa diduga, Arga sudah menimpanya.


"Kamu berhasil mas!"


Tanpa kata, Hana hanya menikmati cumbuan suaminya yang memang telah ia rindukan.