First Love To My Husband

First Love To My Husband
Perlahan



Mentari masih malu menampakkan dirinya. Namun Wawa dan Arman sudah memacu mobilnya ke rumah sakit.


"Arga beneran sudah sadar, Han? Mana?"


"Iya ma. Subuh tadi tertidur lagi. Kita tunggu aja ya ma."


"Pasti! Mama akan selalu menunggu. Arga sayang... bangun nak... Mama papa di sini..."


Wawa mengusap lembut lengan anaknya.


Perlahan Arga membuka mata dan menutup lagi. Respon yang luar biasa.


"Setelah sekian lama.., akhirnya kamu membuka mata lagi nak..." Wawa merasa sangat bahagia, walau hanya beberapa detik Arga membuka matanya.


"Pasien harus terus diajak bicara buk. Ia harus berada dengan orang-orang yang ia sayangi untuk beberapa saat."


"Kami akan terus di sini menemaninya dok."


Jawab Arman kemudian.


"Baiklah, saya tinggal sebentar. Bu Hana juga sudah begadang semalaman bersama kami. Menantu anda sangat luar biasa."


Ucap dokter sebelum berlalu.


"Mas.... bangun mas.... Mas mau minum..? Hana di sini...bangun mas...."


Hana terus mengusap rambut suaminya, memberi pijatan ringan di kening dan pelipis mata dengan penuh kelembutan.


Arga membuka mata kembali dan bersuara samar namun dapat didengar. Hana dan Wawa mengusap pelan tangan dan kaki Arman. Berharap bisa memberi sedikit refleksi untuk otot-otot yang sudah lama tidak digerakkan.


****


Setelah seminggu, akhirnya dokter mengizinkan Arga pulang ke rumah. Ia sudah bisa bicara dengan jelas, namun kaki dan tangannya belum bisa bergerak sempurna.


"Pa, Hana mau ngurus mas Arga dulu. Hana berhenti kerja sama kuliah ya pa?"


"Tidak Hana! Papa sudah semakin tua! Kamu harus tetap kuliah! Kalau kerjaan kantor kamu kerjakan saja dari rumah! Seminggu kamu datang sekali aja ke kantor. Kamu juga akan dibantu suster dan mama mengurus Arga di rumah."


"Iya Hana. Secepatnya kamu juga harus bisa menghandle urusan kantor. Ya..."


Sahut Wawa lembut.


Hanum dan Nanang segera pamit setelah Arga tertidur.


"Kami pulang dulu ya mbak... Semoga nak Arga bisa segera pulih seperti dulu..."


"Kok buru-buru Num..., ga ngobrol dulu...?"


"Kasian nenek di rumah sendirian mbak..., tadinya mau ikut, tapi motornya ga cukup."


Hanum kini mengajak ibunya tinggal bersama karena sekarang dia berada di rumah saja. Tidak jualan di pajak pagi lagi, jadi bisa mengurus ibunya yang mulai renta.


"Oh... ya sudah kalo gitu. Hati-hati di jalan ya Num..."


****


Hana merawat Arga dengan penuh kasih sayang. Ia sama sekali tidak menyentuh laptopnya saat Arga terjaga. Setelah Arga tidur barulah ia mengerjakan pekerjaan dari kantor.


"Untung... aku ga perlu ngerjain pekerjaan rumah kayak istri-istri yang lain! "


Syukur Hana di sela-sela kesibukannya.


Namun saat kuliah, ia dengan berat hati meninggalkan suami tercinta bersama suster dan mamanya.


Setiap hari Hana menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. Mang Didi dan Ronald yang mengangkat dan menurunkan Arga dari bathtub. Kemudian dengan telaten Hana menggosok tubuh suaminya.


"Sudah begitu lama, kenapa kau tidak menikah lagi dan malah tetap di sini?"


Pertanyaan Arga sontak membuat Hana kaget.


"Apa maksudmu mas...?"


"Hana, bagaimana jika aku lumpuh selamanya? Tidakkah kau berpikir untuk meninggalkanku? Aku lihat Ronald sering curi pandang padamu."


Ronald adalah satpam yang mengagumi Hana sejak lama namun tak berani mendekat. Semenjak dapat tugas baru untuk mengangkat tubuh Arga, ia jadi sering masuk ke kamar Hana.


Hana yang memang sudah nyemplung dalam bathtub seketika berhenti menggosok tubuh suaminya.


"Mang Didi... Ronald... kalian keluarlah dari kamar. Nanti kalo sudah selesai saya panggil lagi!


Teriak Hana dari kamar mandi. Mang Didi dan Ronald memang selalu menunggu di luar pintu kamar mandi, agar setelah selesai langsung bisa beraksi.


Hana gemas melihat tingkah suaminya. Cup.


Hana mengecup bibir Arga sebentar. Tapi Arga malah sedikit mundur mencoba menghindar.


"Kakiku belum bisa bergerak. Jika kamu memang sudah tak dapat menahannya, lakukanlah dengan pria lain. Aku ikhlas!"


Hana diam sejenak memperhatikan wajah suaminya yang tampak lesu.


"Ternyata benar kata dokter, Arga lebih sensitif dari sebelumnya. Tapi dokter juga bilang, bahwa *** bisa cepat membuatnya pulih."


Kemudian ia segera turun dari bathtub, mengunci pintu kamar mandi dan berendam kembali bersama suaminya.


"Ngapain kamu balik lagi?"


Tanya Arga agak ketus.


"Mau sekalian mandi, kan belum siap."


Jawab Hana santai.


"Panggil mang Didi dulu...! Aku mau keluar!"


"Emang mas ga pengen apa mandi bareng sama aku lagi?"


Hana mencoba menggoda suaminya dengan membuka baju dan melemparnya.


"Hana, lakukanlah dengan pria lain! Aku tidak akan mampu."


"Aku cuma mau mandi, dan... boleh pinjam tangannya?"


Hana meraih tangan Arga yang masih kaku karena hanya jari-jarinya yang bisa bergerak. Menaruh sabun cair dan menggosokkan tangan suami ke tubuhnya.


"Hana...."


"Ssst..., biar aku yang membimbing mu mas."


Hana malah duduk di pangkuan Arga sambil terus menggerakkan tangan suaminya ke segala arah, sesekali ia menoleh dan mencium bibir Arga.


Hingga ciuman ketiga akhirnya Arga membalas dan melum** bibir Hana. Mendapat respon itu, Hana pun berbalik mengarahkan bukit kembarnya pada wajah suaminya. Arga menatap wajah Hana sebentar dan melihat anggukan kecil di sana. Spontan tangan Arga memeluk tubuh istrinya erat dan semakin erat.


"Mas, tanganmu sudah bisa bergerak!"


Arga berhenti melakukan aksinya.


"Benar! Tanganku sudah bisa bergerak."


"Kata dokter, *** bisa membantumu lebih cepat pulih. Lakukan lagi mas. Ayo!"


"Tapi aku belum bisa mengimbangi mu. Kamu carilah pria lain!"


"Sensitif sekali!"


Gumam Hana.


"Sayangnya aku hanya tertarik padamu! Bukan Ronald atau pun pria lain!"


Hana kini mengarahkan tangan suaminya ke area intimnya. Dan Arga terjebak dalam permainan kecil.


Hana sudah berpakaian rapi dan memanggil mang Didi dan Ronald untuk mengangkat suaminya.


"Tumben, mandinya lama Nyonya?"


Tanya Ronald dok akrab.


"Bukan urusan kamu!"


Jawab Hana membungkam Ronald seketika sambil melirik respon suaminya.