
Arga segera mengakhiri pertemuan dengan Aca. Karena sudah gemas melihat istrinya. Ia ingin segera memakannya. Namun Hana yang menyadari gelagat suaminya, sengaja mengulur waktu dengan meminta singgah ke mall untuk membeli beberapa keperluan.
"Belanjanya besok saja honey. Sudah sore nih!"
"Justru karena masih sore, aku ga mau pulang ke
rumah."
Hana sengaja menunda .
"Kenapa?"
Tanya Arga heran.
"Malu sama mama kalo masih sore maunya ngamar terus."
Hana terus menyibukkan diri memilih baju yang agak longgar, untuk menutupi perutnya yang mulai membesar.
"Awas aja nanti kamu ya... " Batin Arga geram.
Sesampainya di rumah mereka menunaikan sholat Magrib berjamaah, bersama seluruh asisten rumah tangga di mushola keluarga. Kali ini Arga yang menjadi imam, karena Arman sedang batuk.
Suara Arga begitu merdu saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Bayi Hana begitu aktif menendang sehingga Hana sering meringis menahan sakit di perutnya. Tapi ia selalu bahagia dengan respon bayi di perutnya.
"Mudah-mudahan kelak kamu tumbuh menjadi anak yang menyenangkan setiap mata memandang. Menjadi anak sholeh ataupun sholeha, menjadi kebanggaan mama papa ya nak."
Batin Hana dalam sholatnya.
Makan malam juga mereka lakukan bersama dengan para asisten. Kebiasaan ini terjadi semenjak Arman menemukan Nina. Saat ia bermalam di rumah Nina, Wawa tidak berselera jika hanya makan sendirian. Jadi Wawa mengajak mereka semua makan bersama. Dan hal itu justru menimbulkan kehangatan dan keharmonisan diantara mereka.
Namun saat sholat Isya, Hana memilih sholat berdua dengan suaminya di kamar.
"Mas istirahat duluan ya, aku masih pengen ngaji. Udah lama ga ngaji di kamar ini."
Arga mengangguk dan memilih duduk bersandar di ranjang sambil terus mantengin hape. Ia sangat menikmati suara Hana yang melantunkan surat Maryam.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
كۤهٰيٰعۤصۤ ۚ
k&f hā yā 'aīn ṣ&d
Kaf Ha Ya ‘Ain Shad.
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّا ۚ
żikru raḥmati rabbika 'abdahụ zakariyyā
Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,
اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا
iż nādā rabbahụ nid&`an khafiyyā
(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا
qāla rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu'&`ika rabbi syaqiyyā
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.
وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ
wa innī khiftul-mawāliya miw war&`ī wa kānatimra`atī 'āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā
Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu,
يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
yariṡunī wa yariṡu min āli ya'qụba waj'al-hu rabbi raḍiyyā
yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.”
يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
yā zakariyy& innā nubasysyiruka bigulāminismuhụ yaḥyā lam naj'al lahụ ming qablu samiyyā
(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”
قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَّقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا
qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī 'āqiraw wa qad balagtu minal-kibari 'itiyyā
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”
قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا
qāla każālik, qāla rabbuka huwa 'alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā
(Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةً ۗقَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا
qāla rabbij'al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” (Allah) berfirman, “Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat.”
fa kharaja 'alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥ& ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa 'asyiyyā
Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.
يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ ۗوَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّاۙ
yā yaḥyā khużil-kitāba biquwwah, wa ātaināhul-ḥukma ṣabiyyā
”Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak,
وَّحَنَانًا مِّنْ لَّدُنَّا وَزَكٰوةً ۗوَكَانَ تَقِيًّا ۙ
wa ḥanānam mil ladunnā wa zakāh, wa kāna taqiyyā
dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa,
وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
wa barram biwālidaihi wa lam yakun jabbāran 'aṣiyyā
dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka.
وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
wa salāmun 'alaihi yauma wulida wa yauma yamụtu wa yauma yub'aṡu ḥayyā
Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.
....................
Arga mendekati istrinya, karena sudah membaca surat itu berkali-kali.
"Sayang... baca surat Maryam bagus! Tapi bagus juga baca surat yang lain."
"Katanya biar anak kita tampan dan ayu mas."
"Tampan dan ayu itu bagian dari takdir honey. Kita berdo'a saja untuk segala kebaikan bagi calon debay. Inget, semua ayat suci Al-Qur'an itu adalah Kalam Allah. Jadi pasti bagus, dan harus dibaca. Jangan sampai amalan baik kita berbau musryrik! Nauzubillah min dzalik. Jangan sampek ya honey..."
"Astaghfirullah.... maaf mas. Hana terlalu senang dengan kehamilan ini. Hana terbawa mas...Makasih udah ngingetin."
Hana lalu melanjutkan surat yang lain. Dan Arga kembali menunggu di ranjang. Sebenarnya ia sudah tak sabar untuk makan istrinya, tapi Hana biasa mengaji berjam-jam dan tidak suka jika diganggu.
****
Kantor Cabang Medan sedang dalam pembangunan. Jika Aca tak mau, Arga akan mengirim Rendi dengan dampingan online padanya sebagai pimpinan cabang.
Rendi sudah mahir di distribusi, tapi untuk industri Rendi belum pernah terjun langsung. Tentu saja praktek kilat akan dilakukan di kantor pusat. Karena mereka akan mendirikan tape industries yang baru.
Menurut penilaian Hana, di Medan lebih tepat untuk mendirikan industri. Untuk distribusi bisa di kota lain di sekitarnya. Arman dan Arga langsung menyetujui pendapat Hana, karena memang Medan adalah salah satu kota terpadat di Sumatra.
****
Hana memberi kepercayaan pada Salma untuk seragam karyawannya. Bukan hanya itu, ia juga meminta Arga untuk menelpon papanya tentang seragam di seluruh perusahaan Warna group. Ia melakukan ini untuk mendongkrak Salma yang baru membuka konveksi.
Walau agak telat prosesnya, namun Hana puas dengan hasilnya. Hana ikut menyeleksi terlebih dahulu sebelum di kirim ke Warna group. Ia ingin memberi hasil terbaik.
Febri yang mendapat kiriman seragam pegawai dari konveksi Hana tak sabar membuka bersama dua designer butiknya yang ia banggakan.
"Jahitannya rapi. Cuma modelnya standard."
Kata Febri setelah melihat seragam untuk karyawan kantornya.
"Ya... namanya harga segitu non."
"Kalian mau ga jahit gini? Kalo mau, tahun depan kita jahit sendiri. Ga minta dari pusat!"
"Jangan deh non! Kita ngurusin butik aja."
"Kenapa?"
"Harganya non... Segitu mah cuma ongkos jahit doang ke kita! Belum bahannya."
"Tapi kenapa Hana bisa kasih harga segini ya?"
"Mungkin sengaja nyumbang non."
"Ga mungkin! Kata papa, Hana ingin bantu seseorang. Tapi.., apa kena harga segini?"
"Ya, namanya konveksi non. Cari barangnya setumpuk... bergulung-gulung. Mungkin karena itu jadi lebih murah."
"Iya non, kalo kita beli bahan menggunung, orang ga selera liat butik non! Butik tuh butuh variasi dan kualitas. Bukan kuantitasnya doang!"
Sahut designer yang lain.
"Atau jangan-jangan..., upah jahit kalian yang kemahalan?!"
Febri mengetes mereka.
"Ga non..., udah pasaran segitu! Coba non cek deh di butik lain..."
"Iya deh, saya percaya! Yang penting butik kita rame. Dan kalian harus selalu up date ya!"
"Siap non!"
Jawab mereka serentak.