
"Arga, kenapa baru pulang? Kemana aja kamu nak..?"
"Ma, Arga sudah menemukan calon mantu yang tepat buat mama sama papa. Mama harus siap-siap buat mbesan ya."
"Mama sama papa ngikut aja... Yang penting, kamu bahagia sama pilihan kamu."
"Tapi ma, dia dari kalangan biasa. Ga papa ya ma."
"Ya ga papa. Yang penting seiman." Jawab mama dengan senyum mengembang.
"Arga, kalau kamu sudah ingin menikah, itu berarti kamu juga sudah harus siap menjadi imam. Kamu harus bisa meluruskan akhlak istrimu kelak, jika ia bermasalah dengan itu. Kamu juga harus bisa membimbing anak-anakmu kelak ke jalan yang lurus. Apa kamu sudah siap dengan tanggung jawab itu?" Tanya papa mengingatkan.
"Insya Allah, pa. Arga akan selalu mengingat tauladan papa selama ini. Bantu do'a ya ma." Lanjutnya sambil mencium tangan mamanya takzim.
"Do'a mama selalu yang terbaik untukmu nak." Sahut mama sambil mengusap pucuk kepala putra semata wayangnya.
"Tapi..., ada satu masalah lagi nak." Wajah mama terlihat masam mengingat kejadian semalam.
"Masalah apa ma? Bukannya papa yang menghandle perusahaan selama kepergianku? Perusahaan cabang juga oke kan pa?" Tanya Arga pada papanya yang sudah memilih untuk tidak mengurusi perusahaan semenjak Arga tamat SMA delapan tahun yang lalu. Arga pun harus kuliah sambil mengurus perusahaan kala itu. Semua ia lakukan untuk menggembleng Arga dan juga ingin menghabiskan masa tua bersama istri tercinta. Tapi ia juga selalu siap membantu saat Arga sedang ujian dulu. Atau saat-saat lain yang memang Arga butuhkan.
"It's okey. Semua terhandle." Jawab papa santai yang memang belum mengetahui masalah yang dimaksud istrinya itu.
"Febri! Dia kemari semalam. Dia hamil. Dia minta tanggung jawab kamu nak!" Mama menatap sedih anaknya.
"Apa?! Kamu menghamili anak orang?!" Cecar papa seakan tak percaya.
"Lelucon apa ini ma? Arga ga pernah ngapa-ngapain dia. Ga level. Paling akal-akalan dia aja."
"Tapi..., dia membawa foto-foto kalian! Sebentar mama ambil."
Foto-foto itu memang menunjukkan seolah Arga bersalah.
"Pa, apa papa punya solusi? Ini murni jebakan pa. Arga ga se bejad itu!"
"Papa percaya sama kamu. Biar semua papa yang urus. Kamu fokus aja buat bawa calon istrimu ke rumah."
"Tapi Febri minta segera dinikahi, pa!" Sahut mama panik.
"Mama ga usah ambil pusing masalah ini. Inget, kesehatan mama lebih penting! Kalau Febri datang lagi ke mama, suruh aja dia nemuin Arga atau papa. Bereskan?" Jawab papa santai.
"Dia mana berani nemuin Arga. Dia tau betul kalau Arga ga pernah nyentuh dia. Tapi kalo beneran nekat sih..., enaknya diapain ya pa?"
"Ikutin aja dulu permainannya Ga, supaya dia ga berkoar di luar sana. Kita cantik main. Okey?"
"Terserah papa ajalah. Papakan paling jago urusan beginian. Arga ke kamar dulu ya."
"Sore nanti ada meeting sama klien, papa mau jagain mama." Teriak papa pada Arga yang tengah menaiki anak tangga.
"Siap bos!" Jawab Arga yang memang sudah lama cuti kerja.
Saat hendak ke kantor, Arga berpapasan dengan Febri. Ia menggunakan gaun tertutup tetapi super ketat, hingga mengekspos lekuk tubuhnya.
"Udah pulang Ga? Kemana aja sih? Kok ga ngasih kabar?" Cicit Febri.
"Aku buru-buru sayang, ada meeting. Kamu masuk gi. Udah ditunggu sama papa mama." Ucap Arga segera berlalu.
"Biar aja papa yang ngadepin." Pikirnya.
"Arga udah panggil gue sayang??? Udah biasain panggil papa mama lagi??? Segampang inikah?? Ah.. Arga. Kenak lu. Aca, gue udah menang." Batin Febri senang.
"Assalamu'alaikum. Mama dimana bik?" Tanyanya pada asisten rumah tangga.
"Mama siapa non?"
"Mama Wawa. Sebentar lagi aku akan jadi menantunya. Jadi bibi harus nurut perintah saya. Ngerti?!"
"Injih non, maaf. Mari saya antar." Mereka menuju taman belakang.
"Kok Tante sih...? Mama aja ya? Biar lebih akrab." Jawab Febri dengan nada manja. Wawa melirik suaminya. Dan ia pun tersenyum setelah melihat suaminya mengangguk.
"Iya-iya. Panggil mama juga boleh! Ada perlu apa kesini? Arga baru aja keluar."
"Iya, ma. Tadi udah ketemu kok di luar. Ituloh ma. Febri pengen cepet-cepet nikah. Sebelum perut Febri semakin besar. Mama udah bilang, sama Arga?"
"Ehem. Nak Febri..., bisa om bicara sebentar?" Arman sengaja mengucapkan kata om, dan benar saja. Febri tidak berani memanggilnya papa. Pria paruh baya ini memang selalu menjaga jarak dengan orang-orang seperti Febri.
"Duduk." Katanya kemudian diikuti oleh Febri. Sementara Wawa tetap menyibukkan diri dengan ikan dan bunga-bunga kesayangannya.
"Kamu yakin, ini anaknya Arga?"
"Yakin seratus persen om."
"Mengapa bisa seyakin itu?"
"Ya... karena saya hanya melakukannya dengan Arga om."
"Berapa kali?"
"Sekali om."
"Dan langsung jadi?"
"Anak om itu memang tokcer om! Pasti menurun dari om!"
"Tapi..., om punya bukti loh. Kalau kamu sering bersama sama kolega om. Berbeda-beda orang pula. Kamu mau, om hadirkan mereka semua di sini. Kebetulan om kenal dekat dengan mereka."
"Apa-apaan ini om?! Om jangan coba jebak saya!"
"Bukannya kamu yang coba menjebak Arga?"
Febri bingung harus menghadapi macan dengan cara apa lagi. "Ternyata lelaki tua ini lebih berbisa dari Arga." Pikirnya.
"Tapi om..., saya yakin ini anak Arga..." Suaranya memelas.
"Really? Gini aja, kita bisa buktikan setelah kelahirannya. Tes DNA. Gimana?"
"Tapi om, bagaimana saya menjalani kehamilan saya tanpa suami..?"
"Om punya apartement di sekitaran sini. Kalau kamu mau, kamu bisa menyembunyikan diri di sana. Semua keperluanmu akan diurus oleh asisten rumah tangga. Om juga akan memberikan uang bulanan untukmu. Tapi, hanya sampai kamu melahirkan. Setelah itu, semua fasilitas terhenti untukmu. Itupun kalau kamu mau."
"Lalu, bagaimana nasib bayi ini setelah lahir om?"
"Menurut agama kita, bayimu tidak memiliki hak nashab, wali nikah, waris, dan nafkah dari lelaki manapun. Dia bernashab padamu, sebagai ibunya. Jadi, kamu tidak berhak menuntut apapun dari om Hendra, om Rangga, om Radit, apalagi Arga. Kamu paham?"
"Sekejam itukah hukum agama? Mengapa selama ini aku tidak tau?" Febri mulai terisak.
"Bukan kejam, tapi tegas. Itu sebabnya, Islam menyuruh kaum hawa menutup auratnya dengan rapi. Bukan memamerkannya. Apalagi sengaja menggunakan tubuhmu untuk menggoda lelaki hidung belang."
"Tapi om, Arga harus tetap menikahi saya! Kalau tidak, saya akan menyebarkan foto-foto itu dan menjatuhkan nama baik keluarga om."
"Foto yang terdapat beberapa editan? Om bahkan sudah tau foto aslinya! Silahkan kamu sebarkan. Dan om juga akan menyebar foto mesummu dengan om Hendra. Yang tentunya asli, tanpa editan. Dia kan, yang menyuruhmu untuk menjebak Arga?
"Duh... gawat! Gimana om Arman bisa tau semuanya?! Mampus gue!" Umpatnya dalam hati.
"Sekarang gini aja, kamu mau terima tawaran om pertama tadi? Atau mau ngajak perang?"
"Iya deh om. Febri nyerah. Febri pilih yang pertama aja."
"Lumayan dapat fasilitas mewah sembilan bulan." Pikirnya.
"Lain kali, jangan coba bermain api. Om tidak suka dengan gayamu!" Arman lalu pergi meninggalkan Febri dan menghampiri istri tercinta.
"Bagaimana pa? Beres?" Bisik sang istri yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan. Arman hanya mengangguk dan tersenyum.