First Love To My Husband

First Love To My Husband
Menunggu



Di kediaman keluarga Nanang, terlihat semua penghuninya sibuk. Nanang mengobati dirinya sendiri dengan berbaring di bed terapi di tunggu oleh nenek untuk mengawasi. Ia ingin lekas sembuh dan menyambut calon mantunya.


Hana bersih-bersih rumah. Cukup menguras tenaga. Ia juga mengganti gorden hingga mesin cuci terus berputar karena banyaknya cucian.


Hanum membuat berbagai camilan seperti bolu dan manisan. Tak lupa ia juga membuat rendang sebagai menu utama besok. Ia sengaja tidak memanggil tetangga, karena takut malu kalau calon besannya tidak jadi datang. "Sudah hampir rampung. Besok tinggal menu tambahan saja. Semoga Arga dan keluarganya bisa menyayangi Hana nantinya." Do'anya tak henti untuk anak tercintanya.


Keesokan harinya....


Pukul delapan pagi, mereka semua sudah bersiap menunggu kedatangan Arga dan keluarga. Hana terlihat cemas, dan ia pamit untuk ke kamar. "Hana nunggu di kamar aja ya ma." Ujarnya. Ia sengaja menghindar karena neneknya selalu menatapnya dengan senyuman yang mengejek menurutnya.


Tok tok tok


"Hana, udah jam sepuluh. Kok belum dateng ya?! Coba kamu telpon Arga nak..." Suara Hanum dari balik pintu.


"Ia ma, Hana juga ga nanyak kemaren, mau datang jam berapa." Sahut Hana sambil membuka pintu kamarnya.


"Kamu jangan rebahan, nanti baju kamu kusut!"


"Iya ma, Hana ganti kaos aja dulu. Biar ga gerah."


"Eeit, telpon dulu! Dah sampek mana?"


Hana masuk dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


[ Assalamu'alaikum, mas jadi ke rumah ga?]


[ Jadi dong sayang. Ni udah mau berangkat. Soalnya papa baru pulang. Tadi pagi ada kerjaan mendadak katanya. Maaf baru ngasih kabar. Kamu dandan yang cantik ya..]


[ Ih, salamnya belum dijawab malah panjang lebar.]


[ Oh iya, lupa! Saking semangatnya. Wa'alaikumsalam.... Besok jadi wa...cium sayang...]


[ Apaan sih mas?! Belum resmi, tau!]


[ Eh iya, belum boleh ya! Ya udah, mas berangkat dulu. Dua jam lagi nyampe. Do'ain mas, biar ga terkendala macet. Bye.. honey...]


[ Bye. TTDJ ya.]


[ Thank's honey, mmuah.]


Arga duduk di sebelah mang Didi. Sementara mama dan papa di belakang.


"Mas, tadi kok lama banget sih? Emang ada urusan apa? Kasihan keluarga besan mas, nunggunya lama."


"Febri ma, dia aborsi. Dan hampir nyawanya tidak tertolong."


"Aborsi? Nekat banget ya." Jawab Wawa tak habis pikir.


" Ma, Febri itu sebenarnya cerdas. Sayang aja salah pergaulan." Sahut Arga menimpali percakapan orang tuanya.


"Mungkin orang tuanya tidak mengajarnya dengan baik. Kamu mau ga, ngajarin Febri jadi wanita yang lebih baik?" Tanya Arman pada istrinya. Tentu saja ia belum berani bilang kalau Febri adalah anak kandungnya dengan Nina.


"Insya Allah mas, tapi aku bingung mau mulai dari mana."


"Nanti saja kita pikirkan caranya. Oh iya ga, berapa umur Hana sekarang? Barang kali ia bisa jadi teman yang baik buat Febri."


"Baru sembilan belas pa...Kalo dideketin, takutnya Hana kena terkam terus sama Febri. Aku aja bisa dijebak, apa lagi Hana. Ga ah pa! Aku ga mau ambil resiko!"


"Febri harus dikelilingi orang yang baik, untuk merubah karakternya. Tapi ya..., memang tidak mudah. Seperti papa. Mama sudah berhasil merubah papa jadi seperti sekarang ini. Mas yakin, kamu juga bisa merubah Febri sayang."


"Insya Allah mas..."


Keluarga Arga sampai di depan rumah Hana saat lima menit sebelum adzan Dzuhur. Nanang yang masih menggunakan kursi roda, karena belum boleh terlalu capek mempersilahkan tamunya masuk dan meminta untuk sholat bersama dulu sebelum memulai acara lamaran. Karena waktunya sudah tiba. Hana menunjukkan kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu ia mengambil dua mukena miliknya, untuknya dan calon mertua. Sementara Hanum dan menggelar sajadah di ruang keluarga. Satu-satunya ruangan yang terlihat agak besar dibanding ruangan lainnya.


Nanang mempersilahkan Arga untuk mengumandangkan adzan, dan calon besannya untuk menjadi imam karena kondisinya belum fit. Bukan tanpa tujuan, ia belum mengenal keluarga calon besannya. Setidaknya ia bisa tenang melepas putrinya jika calon suaminya mengerti agama.


Setelah sholat berjamaah, Nanang meminta hal yang di luar dugaan.


"Maaf sebelumnya. Saya belum mengenal nak Arga. Apa nak Arga mau mengaji di depan saya? Setidaknya saya tau, siapa calon suami anak saya."


"Maaf pak Nanang. Saya juga ingin mendengar Hana mengaji. Bagaimana kalau mereka berdua ngaji bareng di sini?" Pinta Arman yang juga mengenali calon mantunya.


Nanang tersenyum puas melihat permintaan calon besannya, dan menyuruh Hana mengambil dua kitab suci Al Qur'an.


"Ayah pengen denger Ar-Rahman nak. Beriringan saja bacanya biar enak di dengar."


Hana dan Arga membuka surat tersebut. Nanang memperhatikan cara Arga membukanya. Dan Arga bisa menemukan surat itu dengan cepat."Alhamdulillah, berarti calon mantuku sering buka Al-Qur'an." Batinnya.


Audzubillahiminasyaithonirrajiim


Bismillahirrahmanirrahim


Mereka membaca bersama.


Arrahman


'Allamal Qur'an


Kholaqol ingsan


'Allamahul bayan


Asy-syamsu wal qomaru bi husban


Wan najmu wasy- syajaru yasjudan


Was sama 'arafa 'aha wa wadho al mizan


Alla tat ghaufil mizan


Wa aqimul wazna bil qisti wala tukhsirul mizan


Wal ardho wadho aha lil anam


...................................................................


Suara mereka bergantian. Mang Didi merinding, awalnya hanya menitikkan air mata, tapi kemudian ia pun terisak saat pasangan mengaji itu menyelesaikan ayat terakhir.


"Kenapa mang?" Tanya Arman pada supirnya.


" Mang terharu den..., dulu mang menikahkan anak perempuan mang dengan seorang pemabuk. Mang cuma liat dia dari luar.... Mang ga ngetes dia ngaji ataupun adzan. Sekarang mang menyesal den...Nasi sudah jadi bubur..."


Mang Didi masih saja terisak. Dan Arman merangkulnya untuk menenangkannya. Dalam hati ia pun ingin mengetes calon suami Febri kelak. Tapi apa Febri juga bisa mengaji? Entahlah, tapi yang jelas, ini sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Sudah mang. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang anak dan mantunya dido' akan biar bisa jadi lebih baik." Sahut nenek menimpali.


Arman segera memulai obrolannya perihal meminang Hana untuk putranya. Dua keluarga ini seakan sudah akrab dengan pemanasan sholat bersama tadi. Tapi, lagi-lagi di luar dugaan. Nanang malah meminta keduanya untuk segera menikah.


"Saya sudah sakit-sakitan. Saya ingin menjadi wali anak saya, mumpung masih diberi waktu. Apa tidak sebaiknya kita nikahkan saja anak kita?" Katanya pada calon besannya.


"Saya juga maunya gitu, pak Nanang. Tapi kami belum mengurus berkas-berkasnya." Jawab Arman.


"Sebentar ya, saya telpon teman saya sebentar."


Nanang mendorong kursi rodanya menjauh, dan menelepon seorang sahabat yang juga seorang penghulu. Ia bilang kalau kondisinya sudah tidak fit lagi dan ingin segera menikahkan anaknya. Serta menanyakan apakah dokumennya bisa menyusul atau tidak.


Ya, namanya sama sahabat. Di iya kan saja. Padahal jadwal penghulu padat. Tapi ia mewakilkannya pada teman yang lain. Sekalian ia ingin menjenguk sahabatnya yang katanya baru operasi.