First Love To My Husband

First Love To My Husband
Halloween



Rencana telah disusun dengan rapi. Arman ikut andil dalam usaha untuk menjebak Hendra, sahabat lamanya yang sangat serakah.


Arman mengadakan pesta halloween kecil di sebuah ballroom hotel yang bahkan tidak seorang pun yang tahu kecuali Wawa bahwa hotel itu telah menjadi milik Arman sejak dua tahun yang lalu.


Menurutnya konsep halloween cocok untuk dunia bisnis. Karena dengan topeng sempurna kadang kita tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan sesungguhnya.


Tulisan makna halloween di dunia bisnis mengusik hati para koleganya, namun juga membuat semua tamu tak bisa menolak untuk menghadirinya. Mereka ingin menyakinkan Arman, bahwa mereka benar-benar kawan, bukan lawan.


Termasuk Hendra, ia tidak menyadari kalau Joko, pramusaji hotel yang pernah ia bayar dulu telah membuka kedoknya pada Arga, putra terkasih Arman. Sehingga, tanpa beban ia menghadiri acara yang dibuat Arman.


Semua undangan tertulis untuk membawa pasangan, karena nanti dalam pesta akan menunjukkan tarian erotis. Disebutkan juga dalam undangan tersebut, bahwa tarian itu untuk mempererat hubungan antara pasangan masing-masing. Dan Arman sudah menyediakan kamar untuk setiap tamunya.


Kecuali undangan milik Hendra. Tidak ada keterangan seperti itu, karena pesta ini memang untuknya.


"Selamat malam tuan Hendra. Kau tidak membawa istrimu?"


Meskipun memakai topeng, tapi Hendra hapal dengan suara bariton Arman. Apalagi dengan menggandeng Wawa yang memakai pakaian muslimah sempurna, membuatnya tampil beda diantara perempuan yang lain di tempat itu.


"Istriku itu sudah tua. Dia sudah tak pantas untuk pesta seperti ini."


Bisik Hendra lirih.


"Istri kita seumuran, paling itu cuma alasan kamu untuk mencari daun muda."


"Ssst, jangan keras-keras."


Bisik Hendra lagi.


"Ya sudah. Kami permisi dulu ya. Semoga kau dapat yang ranum."


"Pasti!"


Jawab Hendra percaya diri.


Arman sengaja menegurnya tentang pasangan, agar Hendra tak curiga karena semua tamu menggandeng pasangan kecuali hanya dirinya sendiri.


Tepat tengah malam tarian erotis dimulai. Arman sengaja menempatkan Hendra pada bangku paling depan. Sebenarnya Arga dan Aca yang punya niat, tapi Arman yang menyempurnakan.


Pramusaji kali ini juga bukan pramusaji hotel seperti biasa. Arman menyuruh beberapa penari itu untuk menjadi pramusaji, dan sebagian menari dengan pakaian yang cukup seksi.


"Mas..., aku malu liatnya. Aku masuk aja ya?!"


Pinta Wawa.


"Aku harus memastikan dia masuk perangkap sayang. Kamu masuklah dulu."


Arman meminta salah satu ahli beladiri wanita untuk menemani istrinya untuk berjaga-jaga.


Hendra mulai uring-uringan menyaksikan tontonan di hadapannya. Namun tidak satupun penari yang melihat ke arahnya supaya tidak ada kecurigaan.


Pramusaji berjalan lenggak-lenggok dengan keahliannya sebagai penari erotis mendekati para tamu dengan membawa minuman. Tujuan utamanya adalah satu gelas yang sudah dicampur perangsang untuk Hendra. Tapi ia tidak berhenti dan sengaja melewatinya. Ia memberikan minuman pada tamu di samping dan belakang Hendra. Membuat Hendra makin berdesir saat wangi tubuh pramusaji itu menyeruak di hidungnya. Terlebih gerak tubuhnya yang sangat menggoda. Namun Hendra berusaha menahan diri walau pusaka miliknya sudah menegang sejak awal pertunjukan.


Satu persatu tamu meninggalkan ballroom karena tak bisa menahan diri atas pertunjukan yang Arman suguhkan. Untung mereka membawa pasangan masing-masing sehingga bisa langsung ngamar. Beberapa pasangan mengucap syukur karena bisa kembali hangat dengan pasangannya. Hendra berpaling saat mendengar bisik-bisik mendesah di sampingnya.


"Kami masuk dulu tuan."


Sapa seorang di sampingnya yang ia tidak tahu siapa karena menggunakan topeng.


"Iya. Silahkan."


Hendra memahami kondisinya. Ia menoleh ke belakang dan hanya tersisa sedikit dari tamu yang masih mampu bertahan. Arman masih mengawasinya dari sudut ruangan ditemani ahli taekwondo wanita yang juga menggunakan topeng, agar tidak menimbulkan kecurigaan Hendra pada sosok yang tak mempunyai pasangan sepertinya.


Tarian semakin panas, mereka sudah menanggalkan pakaian tipisnya dan hanya menggunakan pakaian dalam saja


Hendra kembali menoleh ke belakang, hanya ada beberapa orang saja. Itu adalah Aca Reno, Arga Hana, Rendi Rara, Arman dan pendamping sewaannya. Namun ia tak tahu siapa mereka karena topeng di wajahnya.


Dengan tidak malu-malu lagi ia memanggil pramusaji yang masih berlenggak-lenggok dan meminta untuk duduk di pangkuannya.


Setelah memastikan Hendra minum ramuan pamungkas semua menghilang. Aca, Rara dan Hana sudah berada dalam kamarnya masing-masing. Sementara Arga, Arman, Reno dan Rendi berkumpul di suatu tempat. Menemui wanita-wanita cantik untuk membantu aksi mereka sesuai rencana.


Hendra semakin kacau akibat minuman yang ditenggaknya.


"Ayo, temani aku ke kamar! Aku akan membuatmu Kaya raya!"


Ucap Hendra sambil meraba paha pramusaji itu.


"Maaf tuan, saya ada janji dengan pacar saya. Sama mereka aja."


Pramusaji gadungan itu menolak secara halus tapi dengan bahasa tubuh menggoda. Arman tahu kalau hanya satu wanita tidak akan berhasil. Sesuai rencana, pramusaji itu mundur dengan aktingnya.


"Rupanya sudah pada ga tahan."


Batinnya senang karena bisa bebas mendekati para penari tanpa harus menjaga image.


Hendra berjalan dengan melepas kancing kemejanya.


"Mau ikut denganku?"


Tanyanya dengan senyum seringai.


"Apa tuan sanggup kami bertiga? Atau berlima? Kami masih punya dua teman di belakang. Ga adil kalau diantara kami ada yang ga dapat uang tips."


Sahut salah satu penari, membuat Hendra merasa tertantang. Setidaknya saat ini ia sudah benar benar gusar.


"Okey, let's go baby. Panggil juga temanmu. Kita pesta kecil di kamar."


Hendra berjalan siapit dua wanita cantik, sementara yang satu memanggil dua temannya di belakang.


"Ayo, sekarang!"


Arman dan rombongan melepas dua wanita cantik ahli taekwondo untuk menemani penari itu. Kemudian mereka memantaunya dari cctv.


"Tuan... apa tuan beneran mampu membayar kami berlima?"


Tanya seorang dengan nada manja.


"Emangnya berapa tarif kalian..."


Tanya Hendra sambil mendesah mereka terus melakukan aksi gila padanya.


"Kami berlima, apa seratus juta nilai yang pantas buat kami?"


" Tentu! Terus layani aku malam ini. Aku akan memberikan seratus juta dan bonus lima puluh juta untuk kalian berlima, jika pelayanan kalian memuaskan."


Dada Hendra sudah merah seperti kepiting rebus. Pemanasan kali ini, Hendra benar-benar pasif karena didominasi oleh kelima wanita cantik.


"Tapi kami tidak mau tertipu setelah melayani tuan. Ada baiknya tuan menandatangani ini dulu."


Kata seorang ahli taekwondo yang sangat cantik dengan pakaian minim.


Dengan hati gusar, Hendra sempat membaca nominal seratus juta. Hanya itu yang ia baca karena memang tulisannya ditebalkan. Ia tak pun menandatanganinya.


Kemudian wanita itu menyodorkan tanda tangan lagi tepat saat salah satu penari menghi**p paku bumi miliknya.


"Ini untuk berjaga-jaga kalau nanti tuan ingkar. Kami tidak mau rugi."


"Aaaah.... "


Hendra mendesah dan tak mau membaca lagi. Ia langsung menandatangani lembar bermaterai berikutnya. Ia ingin segera menaklukkan wanita-wanita liar yang mengelilinginya. Bukan baru pertama ia men**mati tubuh indah seperti ini. Tapi ini pengalaman pertamanya kencan dengan lima wanita cantik dan pandai beraksi.


Setelah menandatangani dua kertas itu, Hendra menarik wanita yang membawa kertas itu yang dari tadi belum ia sentuh.


"Aku ingin melakukan denganmu dulu."


Hendra mel**at bibir wanita itu dan menyobek baju bagian depannya. Sehingga menonjolkan buah kenyal yang nampak berbeda dengan tiga wanita lainnya. Ia lebih padat dan sintal. Hendra semakin hilang kendali namun ahli taekwondo yang satu sudah bersiap dengan bius di tangannya dan membekap Hendra dengan cepat menggunakan sapu tangan. Hendra perlahan lunglai tak sadarkan diri.


"Cih. Sudah tua, belagak!"


Kata wanita yang bajunya sudah sobek akibat ulah Hendra.


Mereka meninggalkan Hendra begitu saja dan menyerahkan kertas itu pada Arman.


"Tugas kalian selesai! Sesuai perjanjian, kalian akan dapat masing-masing lima puluh juta, termasuk teman kalian yang menjadi pramusaji tadi. Di mana dia?"


"I'm here sir."


"Jadi, totalnya tiga ratus juta tuan?"


"Ya. Ini!"


Arman menyerahkan enam lembar cek yang berisi masing-masing lima puluh juta pada mereka.


"Lumayan. Belum sempet unboxing juga. Terima kasih tuan. Lain kali panggil kami kalau perlu bantuan. Senang bekerja sama dengan anda."


Mereka berlalu dengan senyum mengembang.