
Suami Aca bangkrut karena ulahnya sendiri. Ia memelihara ular berbisa di kantornya. Sekretaris cantiknya telah membuatnya mabuk kepayang. Padahal Aca bisa menghandle pekerjaan itu, tapi suami hidung belangnya tak membiarkan Aca bergabung, karena takut kedoknya terbongkar. Alhasil pernikahannya dengan Aca yang baru seumur jagung itu pun diterjang badai, dan hampir roboh.
"Coba saja aku yang jadi sekretaris mu a', pasti tidak ada yang menyabotase perusahaan mu."
Aca belum mengerti bahwa sekretaris yang menyabotase perusahaan adalah kekasih gelap suaminya.
"Nasi sudah jadi bubur neng. Lain kali aa' akan hati-hati."
"Lain kali gimana?! Udah ga ada yang tersisa!"
"Maaf neng..."
Dengan mimik melas Reno memegang kedua tangan istrinya.
"Sekarang gini deh a', kalo nanti aku yang duluan dapet kerja, aa' harus handle pekerjaan rumah. Kita ga bisa bayar pembantu! Atau... aa' harus cari kerja! Apa aja yang penting halal!"
"Kerja apa neng? Aa' juga udah tanya sama temen-temen aa', malah ada yang nawari jadi OB. Ga mungkin kan neng? Aa' ngaduk kopi aja ga bisa!"
"Mulai sekarang harus bisa! Besok, aa' harus bangun pagi. Ikuti semua kegiatanku dari mulai masak, bersih-bersih, apapun itu. Kalo nanti neng ga juga dapat kerja, aa' harus ambil tawaran jadi OB!"
"Jangan atuh neng... aa' malu...!"
"Terus kalo malu, kita mau tinggal di kolong jembatan? Mau makan, ngemis dulu di lampu merah, gitu? Dah gitu yang ngasih uang receh sekretaris mu, atau mungkin OB mu yang abis gajian. Aa' ga malu? Ga mikir sampek situ? Untung... kita belum punya anak a..' Satu lagi, neng masih muda dan cantik. Aa' ga takut, neng nyari cowok lagi yang lebih mapan gitu?"
"Neng kok ngomongnya gitu sih...!"
"Ini sangat logis a'..., makanya aa' harus bisa dan harus mau kerja apa aja! Semangat demi istri yang cantik!"
"Iya neng... aa' akan coba. Neng jangan cari yang lain ya?! Kita hadapi bersama-sama."
****
Arga mulai menyelidiki penyebab kebangkrutan Reno atas permintaan Hana. Ia tidak mau istrinya terus kepikiran tentang Aca dan mempengaruhi kandungannya. Mencari tau siapa yang ada di balik Clara. Mantan sekretaris Reno.
Setelah berunding dengan Hana dan papanya, Arga memutuskan untuk membuka cabang baru di pulau Sumatra. Ia akan menempatkan Aca jika mau berpindah domisili ke sana.
[ Assalamu'alaikum Ca. Gue sama Hana pengen ketemuan sama lu.]
[Wa'alaikumsalam ganteng. Kapan, dimana?]
"Dasar Aca! Masih aja ganjen!" Batin Arga.
[ Lusa, sekalian kami nganter mama.]
[ Tumben! Biasanya tante Wawa dianter om Arman?]
[ Sotoy lu. Tempat nanti gue share. Dan... jangan ajak suami lu! Ada yang mau gue bahas!]
Arman sudah menemani Wawa selama seminggu di rumah anaknya. Tapi Wawa belum juga ingin pulang. Karena tuntutan pekerjaan, Arman pun pulang lebih dulu. Tapi bukan tanpa alasan Wawa melakukan itu. Ia ingin Arman seminggu penuh bersama Nina. Suaminya harus bersikap adil.
[ Kalau mau bahas masa lalu, lu juga ga boleh ajak Hana dong! Biar mesra..]
[ Kepedean lu! Kalo masih ingin mengulang masa lalu sama gue, mending gue stop Hana biar ga care lagi sama lu! Gue mau bantu atas permintaan Hana! Inget itu!]
[ Iya... iya! Dasar bucin! Gue cuma becanda kale...!]
Arga langsung menonaktifkan ponselnya, membuat Aca memahami sesuatu, bahwa Arga memang bukan miliknya lagi.
"Kenapa dulu aku tak menuruti permintaanmu untuk berhijab sayang..."
Batinnya menyesal. Jauh di lubuk hati, ia masih sangat mencintai Arga. Rasa takut kehilangan membuat Arga semakin menjauh darinya. Pakaian yang dianggapnya menarik, terlihat menjijikkan di mata Arga.
****
"Mbak.., kami berencana buka cabang di Medan. Apa mbak berminat bergabung dengan kami?"
"Emang di sini lu beratin siapa sih Ca?"
"Ya ga gitu kale Ga! Secara di sini tanah kelahiran gue!"
"Sebagai bahan pertimbangan buat lu, di sana nanti lu yang bakal jadi pimpinan."
"Really? Tapi kalo pindah, gue juga harus minta persetujuan misua gue dong!"
"Halah, suami gitu diberatin! Lu tau yang bikin laki lu bangkrut?!"
"Mas..."
Hana mencoba mencegah Arga menyampaikan sesuatu yang mungkin belum siap Aca dengarkan.
"Ga papa Han. Mbak juga pengen tau."
"Mbak yakin...."
Aca mengangguk.
"Meski sangat menyakitkan?!"
"Katakan saja! Mbak akan menyiapkan hati."
Hana dan Arga memberitahu hal yang sebenarnya. Bahwa Clara adalah kekasih gelap Reno. Dan Clara anak dari Hendra, pengusaha licik yang mengantar Febri ke klinik aborsi sekaligus musuh lama ayah Reno. Sejak awal Clara mendekati Reno dengan satu tujuan, yaitu membuat Reno bangkrut. Walaupun sebenarnya Clara sempat jatuh cinta pada Reno, namun Reno yang mata keranjang melirik Clara yang masih ori dan menikah. Hal itu membuat Clara sakit hati dan segera melakukan perintah papanya.
"Jadi, sebelum menikah denganku, mereka sudah berhubungan? Begitu?"
"Ya! Dan lu juga bersalah dalam hal ini!"
"Salah gue dimana Ga?!"
"Gaya pakaianmu yang mini! Hanya lelaki hidung belang yang suka dengan itu! Bukankah lebih baik kalo lu pakai yang seksi di kamar? Berdua ma laki lu?!"
Arga mulai emosi teringat betapa keras kepalanya Aca yang tak juga mau menutup auratnya. Bahkan saat akan dihadiahi lamaran dari Arga. Aca lebih memilih tampil seksi ketimbang lamaran Arga.
"Itu lagi! Kapan sih lu berhenti urusin hidup gue. Gue seksi gini aja, laki gue masih kecantol ma orang laen! Lu ga bakal ngerti perasaan gue Ga!"
Aca menangis di depan mereka. Hana mendekat untuk menenangkan.
"Mbak..., maafin suamiku ya... Dia itu emang gitu kalo ngomong. Tapi sebenarnya maksudnya baik kok mbak..."
Hana menjedah ucapannya.
"Kalo mbak nutupin kulit mbak..., seenggaknya lalat yang kotor hanya nempel di baju mbak... Jadi kulit mbak tetap bersih ga kena kotoran dari lalat. Apa mbak paham?"
Aca memeluk Hana.
"Kamu pintar mengibaratkan sesuatu Han. Mbak ngerti maksudmu."
"Lah, giliran dibilang lalat, paham. Gue bilang lelaki hidung belang kagak ngerti! Heran gue sama lu, Ca."
Arga ngedumel.
"Makanya mas, kalo jelasin jangan pake emosi! Yang lembut..."
Jawab Hana.
"Yang lembut kan kamu honey..."
Arga lalu tersenyum gemas pada istrinya.