
Aca dan Rangga sudah tidak sungkan lagi berbagi cerita, setelah berbagi ranjang waktu itu. Keduanya malah terlihat makin akrab.
"Ca, kita ga bisa gini terus. Kita harus nikah secepatnya. Aku ga mau nambah dosa. Kamu cepat gugat cerai Reno."
"Sedang aku urus, tapi prosesnya memang lama. Reno tidak mau tanda tangan."
"Kalo gitu ancam dia dengan vidio mesumnya itu."
"Itu cara terakhir nanti. Aku juga ga suka kalo ada yang menyebarkan berita mesum kita ke media. Kita juga bukan orang suci, Ngga!"
"Tapi sulit untuk menghindari mu Ca! Aku selalu ingin bersamamu."
"Istrimu gimana?"
"Aku akan berusaha untuk mendapat izinnya. Kalo pun dia tidak mengizinkan, aku akan tetap menikah siri dengan mu. Yang penting halal, Ca!"
"Entahlah Ngga, aku sebenarnya ga tega sama istrimu. Mungkin baiknya kita lupakan saja kejadian itu. Dan anggap tak pernah terjadi."
"Gimana bisa lupa? Kalo di kepalaku selalu ada kamu!"
Rangga mendekatkan wajahnya ke telinga Aca, mencoba mengendus di sana.
"Ini kantor Ngga! Kalau kamu melakukannya lagi, saya akan memindahkan mu ke kantor cabang!"
"Maaf Ca, aku ga bisa menahan diri."
"Keluarlah! Lain kali kalo mau masuk, ketok dulu!"
Aca mencoba memperlihatkan ketegasannya.
Aca merasa dirinya kotor, tak jauh berbeda dengan Clara, Reno ataupun art di rumahnya.
"Yaa Allah..., apa yang sudah aku lakukan?"
Aca menyesali perbuatannya. Tiba-tiba ia teringat Hana dan ingin berbagi cerita dengannya.
****
Hana dan Arga sedang menimang putri kecilnya. Agatha, nama yang mereka berikan pada buah hatinya. Lucu, imut, lincah, dan cerdas. Seperti boneka kecil yang dapat bersuara.
Hana segera mengangkat telpon dari Aca, sahabat yang pernah mengajarinya banyak hal tentang bisnis.
Begitupun Aca, selalu menganggap Hana sebagai sahabat yang selalu membuatnya tenang dalam setiap masalahnya.
"Assalamu'alaikum ante Aca..."
Hana mencoba menyapa dengan melambaikan tangan kecil putrinya di depan layar hape.
"Wa'alaikumsalam sayang..., uwuh... lucunya..."
Aca langsung tersenyum seolah lupa dengan masalahnya.
"Iya ante. Ante udah punya dedek bayi belum di peyut?"
Aca tersenyum kecut, dengan pertanyaan Hana kali ini.
Hana pun memahami raut wajah sahabatnya.
"Ga papa mbak. Mungkin nanti bisa barengan sama kak Febri hamilnya."
Han!"
"Kenapa? Ga baik mbak, ninggalin suami pas lagi terpuruk. Mbak harus menyemangatinya!"
"Bukan itu, Han! Penyakit lamanya kambuh lagi."
"Astaghfirullah... mbak yang sabar ya mbak, tega sekali mas Reno. Jahat!"
"Aku ingin bertemu denganmu Han. Besok aku akan ke kotamu. Apa kamu ada waktu?"
"Silahkan mbak. Sekarang aku cuma ngurus baby di rumah."
"Okey, see you tomorrow."
"See you.... ditunggu ya mbak, bye..."
****
Arga sengaja menyibukkan diri di kantor, ia berusaha menghindari Aca yang sudah berada di rumahnya. Ia hanya ingin menjaga perasaan istrinya.
Aca menceritakan semuanya pada Hana, termasuk tindakan kotornya pada Rangga. Aca merasa sangat malu.
"Mbak..., perselingkuhan mas Reno sudah mbak balas dengan melakukan hal yang sama."
Hana menjedah sejenak.
"Apa ga sebaiknya, mbak dan mas Reno saling memaafkan?"
"Iya Han, aku malu menuntut perselingkuhannya. Sementara aku juga sama bejatnya. Tapi aku malu menarik ucapan ku kembali! Reno juga selalu menolak untuk tanda tangan."
"Mbak..., jangan ego! Dengarkan kata hati mbak."
Tiba-tiba, Aca merasa mual dan segera menuju wastapel.
"Mbak kenapa?"
"Entahlah Han, belakangan aku sering pusing. Mungkin beban ku terlalu berat."
"Atau mungkin..., mbak lagi hamil?"
"Hamil??!"
"Iya. Kalo hamil, ga boleh cerai loh mbak! Mungkin ini jawabannya! Ayo ke dokter! Kita periksa sekarang."
Hana meninggalkan Aca sejenak yang sedang pusing dan lemas. Dia menuju kantor suaminya meminta izin sebentar.
"Agatha ditinggal aja ya honey. Pake supir! Kalo ada apa-apa di jalan, seenggaknya ada yang ngangkat Aca."
"Iya mas. Nanti tengokin Agatha ya mas, jangan dibiarin sama suster terus. Kasian."
"Iya sayang..."
Arga menyambar bibir Hana, yang selalu ia lakukan setiap Hana hendak pamit kemanapun.
Agatha tumbuh dengan berlimpah kasih sayang. Bukan hanya dari kedua orang tuanya, tapi juga dari karyawan di sekitarnya.
Sebulan sekali ia mengunjungi neneknya secara bergantian, baik nenek Wawa maupun nenek Hanum.