First Love To My Husband

First Love To My Husband
Warisan



Wawa dan Arman berunding untuk membagi warisan pada Febri dan Arga.


"Mas, apa ga sebaiknya kita bagi sekarang saham untuk Febri dan Arga?"


"Mereka sudah mapan sayang. Febri sudah punya butik dan laundry sendiri. Dia juga mengurus kanca kita."


Arman menjedah ucapannya


"Arga yang perlu kita bantu sayang. Dia belum mendapat apapun sejak dia pindah rumah. Dia membuka usaha dengan tabungannya dan tabungan Hana selama bekerja di Warna group. Mas juga malu sama mantu kita, karena masih harus kerja sana-sini, padahal ia sedang hamil."


"Hana itu memang anaknya aktif dan kreatif mas..., kalo pun disuruh di rumah, ga akan betah!"


"Tapi mas ingin ngasih kanca Medan untuk Arga. Dia yang bekerja dari awal proses sampai menempatkan Rendi yang juga dibimbing olehnya. Mas ga pernah ikut campur, semua sudah terhandle."


"Itu memang sudah tanggung jawabnya sebagai anak lelaki mas. Kalo harus mas juga yang terjun, apa dia tega liat mamanya ditinggal terus sendirian?"


"Nah, sekarang Arga yang harus pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil."


"Iya juga sih. Untung Hanum datang ya mas."


"Nah, jadi gimana? Buat Arga aja ya?"


"Bukannya ga boleh mas..., aku takut Febri dan Nina ga terima."


"Sayang... perusahaan ini milikmu. Bukan milikku ataupun Nina."


"Milikku adalah milikmu, dan Nina adalah bagian dari dirimu."


"Aku paham maksudmu. Kamu mencoba bersikap adil! Tapi, bukankan anak lelaki mendapat tiga kali lipat dari anak perempuan? Itu kalo hartanya milikku! Arga tetap lebih banyak! Dan mas ga mau memberikan warisan pada Febri karena mas ga punya apapun. Mas cukup memberikan pekerjaan untuknya."


"Kalo gitu saham di Warna Group kita bagi dua aja mas. Lima puluh persen untukku, lima puluh persen untukmu. Bagian ku dengan ahli waris Arga, dan bagian mu untuk Febri."


"Itu juga belum adil sayang. Bagian mu untuk Arga, dan milikku aku bagi empat. Tujuh puluh lima persen untuk Arga, dan dua puluh lima persen untuk Febri. Bukankah begitu ketentuannya?"


"Aku tau mas! Tapi apa Nina paham tentang hukum agama? Aku takut terjadi pertikaian di masa tua kita. Aku ga mau!"


"Arga membesarkan perusahaan kita sejak ia tamat SMA. Dia kuliah nyambi kerja. Bahkan sampai sekarang, setelah ia tidak mau menerima uluran tangan kita, ia tetap mengurus kantor cabang yang baru."


"Aku ngerti, aku paham! Arga juga anakku mas! Tapi apa Nina dan Febri bisa terima?"


"Mereka berdua urusanku. Kamu ga usah terlalu memikirkannya. Tanggung jawab mereka ada di pundak ku, aku tidak akan membiarkan pundak mu ikut menanggung beban yang bukan untukmu."


Arman mengusap punggung wanita yang sepanjang hidupnya hanya memikirkan orang lain. Mementingkan kebahagiaan orang lain di atas kepentingannya.


"Berdosa rasanya jika aku sampai mendzolimi mu sayang.... "


Batin Arman penuh kasih sayang. Lalu memutar lagu favorit istrinya, dengan suara merdu Chrisye.


Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu,


Ampuni aku yg telah memasuki kehidupan kalian,


Mencoba mencari celah dalam hatimu


Aku tau ku takkan bisa menjadi s'perti yg engkau minta,


Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba menjadi s'perti yg kau minta


Ampuni aku yg telah memasuki kehidupan kalian


Mencoba mencari celah dalam hatimu


...................


"Jadi, yang baru ini buat Arga ya sayang..."


Arman meminta persetujuan pemilik Warna Group untuk memastikan. Dan Wawa hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu suami yang sangat mengerti setiap yang tersirat dalam dirinya.


Tidak ada orang lain yang lebih memahami dirinya selain suaminya.


"Mas..., aku merasa beruntung bisa berada di sisimu."


"Mas juga jadi suami paling beruntung bisa bersamamu sayang."


Arman memeluk pinggang Wawa.


"By the way, sekarang sepi ya ga ada Arga."


"Hmm, apa lagi kalo mas lembur atau nginep di rumah Nina."


"Maafin mas ya sayang..., gimana kalo kita buat dedek buat Arga? Biar ga sepi!"


"Apaan sih mas?! Udah tua! Bentar lagi jadi kakek nenek!"


"Ya ga papa, biar cucu kita nanti bisa maen bareng sama si bungsu."


"Ga! Aku ga mau!"


Wawa segera masuk untuk mengindari rayuan suaminya. Arman pun menyusul. Saat Arman melihat Wawa berhenti di dapur, mengobrol dengan salah satu art. Arman pun minum untuk mendekati Wawa. Tapi di balik meja, tangannya sudah memegang pergelangan tangan istrinya.


"Mbok..., tolong buatkan saya pecel buat makan malam ya mbok. Saya lagi pengen."


"Baik tuan! Saya akan segera cari bahannya, Pumpung masih sore!"


Simbok pun pergi belanja.


Arman tersenyum penuh kemenangan sambil menatap istrinya. Tanpa kata ia menarik tangan Wawa menuju kamar dan Wawa hanya bisa menuruti kemauan suami tersayang.