First Love To My Husband

First Love To My Husband
Berkunjung



Di kediaman Hanum, pembeli mulai sepi saat menjelang Maghrib. Hanum duduk santai bersama Nanang sambil menunggu kedai di depan rumah.


"Mas, nanti pas acara tujuh bulanan Hana, kita dateng ya."


"Emang mertua Hana ngizinin bikin acara tujuh bulanan? Mbak Wawa itu orang yang paham agama loh dek!"


"Emang menurut Islam ga boleh ya mas?"


"Yang jelas itu bukan dari ajaran Islam. Tapi sebagian ulama juga membolehkan, asal acara nujuh bulannya meliputi kegiatan yang baik. Seperti dzikir bersama, membaca Al-Qur'an, ataupun menyantuni anak yatim. Ga usah pake yang kejawen."


"Maksudnya mas?!"


"Ya kalau abis belah kelapa muda itu kan orang-orang langsung berasumsi jenis kelamin anaknya, berarti mendahului Allah, terus kalo dimandiin rame-rame, kan buka aurat. Malah kalau menurut Islam para suami ga boleh membawa istrinya ke pemandian umum. Ya..., tau sendirilah dek."


Hukum diperbolehkannya melakukan tradisi baik, kata Ustaz Arrazy, juga tertuang dalam hadits yang bersumber dari sahabat Nabi Muhammad SAW, Ibnu Mas'ud.


مَا رَآَهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَآَهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّءٌ.


Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tradisi yang dianggap baik oleh umat Islam, adalah baik pula menurut Allah. Tradisi yang dianggap jelek oleh umat Islam, maka jelek pula menurut Allah.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan al-Hakim).”


"Terus kalo mbak Wawa ga ngizinin buat acara tujuh bulanan gimana?"


"Ya ga papa! Toh juga bukan hal wajib!"


"Tapi mas... aku kangen sama Hana...!"


"Ya kita tinggal maen ke sana. Kenapa harus nunggu acara nujuh bulanan?"


"Terus kedainya ditutup?"


"Ya ga papa. Biar beli di tempat lain. Biar yang lain juga dapat rejeki. Rezeki itu..., kita cari pun ke ujung dunia, kalo belum saatnya bertemu ya ga kelar juga. Tapi kalo memang udah hak kita, kedip mata aja udah nemu."


"Iya deh. Kapan kita ke sana mas?"


"Besok juga bisa."


"Ya udah deh, mas pesenin tiket kereta. Aku mau packing."


Hanum masuk meninggalkan suaminya.


"Jangan lupa kabarin Hana biar jemput di stasiun!"


Nanang mengingatkan.


"Iya..."


****


"Rend, besok kamu udah harus berangkat ke Medan loh! Kamu udah bilang sama Rara?"


Arga menatap Rara dan Rendi setelah meletakkan piring dan Hana mengisinya.


"Udah mas. Tapi..., saya belum paham bener masalah industri mas."


"Nanti kalo di sini ga sibuk, saya temani kamu beberapa hari. Selebihnya online ya. Usahamu nanti bisa lebih berkembang dari punya kak Febri loh. Soalnya, kita berencana buka distribusi juga di sana."


"Waduh mas..., dua-duanya nanti saya yang pegang?"


"Gimana baiknya ajalah mas. Pokoknya kalo ada masalah, saya langsung telpon mas ya!"


"Ya..., kamu abis ni jemput ayah mertua di stasiun ya."


"Iya mas."


Rendi segera menyelesaikan sarapannya.


"Nanti di sana, saya ga punya kerjaan dong mas?!"


Sahut Rara.


"Kalo mau buka laundry bisa. Minta modal suamimu. Mau dijadiin nyonya bos kok pengen kerja! Kayak Hana juga!"


"Malu sama mbak Hana mas, kalo cuma ungkang-ungkang."


"Kenapa malu? Saya gini happy aja kok. Malahan seneng. Boring kalo cuma duduk doang."


Ucap Hana sambil tersenyum.


"Tapi tetep ga boleh terlalu capek ya honey..., kasian dedek bayinya."


Arga mengusap perut Hana yang mulai menonjol.


****


Setelah tiba di rumah mendiang ibunya, Hanum takjub dengan renovasi yang Arga lakukan. Berkeliling sejenak dan mandi. Lalu mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Mama dateng tepat waktu ma!"


"Kenapa nak?"


"Mas Arga mau nemenin Rendi ke Medan. Buka cabang baru."


"Oh... Rara juga ikut?"


"Iya ma. Mereka harus menetap di sana. Karena tanggung jawab penuh ada di pundak Rendi."


"Selamat nak Rendi, semoga berkah dan sukses ya Rend."


"Makasih buk. Semoga mas Arga juga tak bosan membimbing saya nanti."


Ucap Rendi sambil tersenyum menatap Arga.


"Iya, asal jangan tengah malem telponnya ya! Ganggu!"


Sahut Arga asal.


"Kalo tengah malam saya juga punya kesibukan sendiri mas."


Sahut Rendi tak mau kalah.


"Ssst, saya biar tua begini juga sibuk kalo malem."


Nanang ikutan nimbrung obrolan para lelaki. Sontak semua tertawa dengan candaan mertua Arga ini.