First Love To My Husband

First Love To My Husband
Reno Sadar



"Apa yang kalian inginkan? Kalau kalian ingin bersama, menikahlah! Aku tidak akan melarangnya."


Aca mencoba tenang.


"Tidak neng, aa' khilaf. Aa' minta maaf ya..."


Reno memeluk Aca didepan kekasih gelapnya yang menatap tak senang, namun tak mampu berbuat apapun.


Aca menepis pelukan Reno.


"Kamu! Apa kamu benar-benar mencintai Reno? Dan ingin menikah dengannya?"


"Ma- maaf nyonya. Saya tidak berani."


Perempuan itu kembali menunduk.


"Aku tanya sekali lagi, dan ini kesempatan terakhirmu! Apa kamu ingin menikah dengan Reno?"


Aca menekan suaranya. Perempuan itu membisu dan semakin tertunduk.


"Aku anggap 'ya' atas diam mu! Dan kamu Reno, tandatangani surat cerai kita segera, setelah itu kau bebas!"


Aca melenggang, namun Reno meraih tangannya.


"Neng... aa' cintanya sama neng. Bukan dia! Maafin aa' ya neng..."


Aca mengibaskan tangan Reno. Saat Reno hendak meraih kembali, tanpa di duga perempuan itu menyambar tangan Reno.


"Aa' ga cinta sama saya? Terus selama ini apa a'...?"


Aca muak dengan kelakuan mereka dan segera berlalu.


Beberapa saat kemudian, Aca muncul dengan membawa amplop coklat.


"Sudah selesai berunding nya?"


Tanya Aca lalu membuka kertas dalam amplop tersebut.


"Silahkan kamu tanda tangani."


Ia memberikan pena pada Reno.


"Maaf neng, aa' ga bisa."


Tangan Reno bergetar memegang pena itu. Air matanya berlinang seolah sangat berat melepas istrinya.


Aca juga meneteskan air mata, namun tetap berusaha tegar.


"Seandainya kamu tau kalau aku sedang hamil..."


Batin Aca.


"Ala... tinggal tanda tangan apa susahnya sih? A' kita udah ketahuan! Mau gimana lagi? Abis tu, urus harta gono gini! Selesai!"


Suara perempuan itu memecah keheningan. Reno menghunus tatapannya.Aca hanya tersenyum geli mendengarnya.


"Kamu hanya perempuan murahan yang gila harta!"


"Keluar kau sekarang juga! Aku tidak Sudi melihatmu lagi!"


Reno semakin marah.


"Apaan sih! Kemaren minta ini, minta itu. Sekarang malah ngusir! Aku bukan wanita bodoh ya! Aku ga mau keluar, sebelum aku bisa menguasai rumah ini!"


Jawabnya tak kalah kuat.


"Rumah siapa yang kau maksud? Hh, ini rumah dinas ku! Majikan dari supir yang kau rayu tadi, adalah pemiliknya. Harusnya kau meminta langsung padanya! Bukan pada Reno!"


Perempuan itu terkejut mendengar penuturan Aca.


"Kalau begitu, aku minta mobil saja!"


"Itu juga mobil dinas ku!"


Sahut Aca lagi.


"Aku Reno, tidak memiliki harta apapun! Bahkan pakaian yang melekat di tubuhku adalah pemberian istriku! Aku bahkan tidak bisa menghasilkan uang seperti supir yang kau rayu tadi. Apa lagi yang kau harapkan dariku? Pergilah! Tak ada wanita sebaik Aca, yang mau menampungku!"


Suara Reno bergetar.


"Apa??? Lebih baik aku pergi dari pada mengharap gembel sepertimu!"


Perempuan itu pergi sambil mengumpat tak jelas.


Reno berlutut di hadapan Aca, berharap dengan sangat.


"Hukumlah aa' sesukamu! Aa' akan terima. Asalkan jangan meminta cerai... Aa' ga sanggup neng...."


Reno memeluk kaki Aca sambil menangis.


Aca sedih mendengar pengakuan Reno yang merendahkan dirinya sendiri. Selama ini Aca tak pernah menganggap Reno serendah itu. Ia hanya tidak suka dengan penghianatan yang Reno lakukan. Meskipun ia juga sudah berkhianat. Aca limbung dan jatuh pingsan.


"Neng...!"


Reno berusaha menangkap tubuh istrinya, tapi tak berhasil sepenuhnya. Karena ia dalam posisi berlutut.


Ia menyesal dan segera membopong Aca ke kamar. Reno terus menangis menyesali perbuatannya. Selama ini Aca selalu terlihat tegar. Ini kali pertama ia melihat Aca jatuh pingsan.


"Yaa Allah..., begitu terpukulnya Aca sampai seperti ini... Maafin aa' neng.... Aa' janji ga akan selingkuh lagi...!"


Reno tak kuasa melihat keadaan Aca. Ia terus memijit tubuh Aca sambil menunggu dokter tiba.


Betapa terkejutnya Reno saat Aca dinyatakan hamil oleh dokter keluarga. Seandainya tadi ia menandatangi surat cerai itu, ia pasti takkan bisa menemukan jejak anaknya selamanya. Karena Aca pasti akan menutupi darinya.


"Hampir... aja aku berpisah dengan calon anakku."


Reno tidur menghadap Aca, memeluk tubuh Aca sepanjang malam.


Tragedi malam ini adalah hal terbesar dalam hidup Reno. Ia hampir kehilangan istri yang selalu mampu menerimanya apa adanya. Tanpa memandang materi, tanpa meminta nafkah, tanpa tuntutan apapun. Aca mampu menemani Reno dalam berbagai kondisi.


****


Reno... Reno. Kenapa baru nyadar sekarang coba?! Di mana lagi... cari istri kayak Aca?! Udah cakep, seksi, pinter, pekerja keras, tulus... pula! Jangan diulangi lagi ya Reno..!