
Pak Nanang kembali menemui calon besannya."Penghulunya sudah bersedia, ba'da
Ashar nanti insya Allah anak kita menikah di Masjid. Berkasnya menyusul. Bagaimana pak Arman?"
"Boleh! Tapi..., Ga, segera cari mahar untuk calon istrimu! Cepetan ya, waktunya mepet!"
"Tidak perlu om, yang ini aja jadi maharnya." Ucap Hana seraya mengambil salah satu bingkisan yang dibawa Arga untuknya, yaitu seperangkat alat sholat beserta kitab suci Al-Qur'an yang telah dikemas rapi.
Wawa memang menyiapkan banyak bingkisan untuk acara lamaran putra tunggalnya. Namun, ia juga tak menyangka kalau calon mantunya tidak memberatkan maharnya. Dia pun mengagumi sifat Hana yang mulia.
Arga tau, bahwa semakin banyak mahar untuk seorang wanita, maka wanita itu terlihat semakin berharga." Saya mau keluar sebentar mencari sesuatu untuk tambahannya." Ucap Arga kemudian.
"Jangan nak! Waktunya sudah mepet. Kamu harus tetap di sini. Sekarang lamarannya sudah saya terima, saya juga minta maaf karena meminta pernikahannya hari ini juga. Sekarang sebaiknya kita makan dulu. Hana, bentar lagi bidan desa akan kemari memeriksa kamu. Siapkan mental mu ya nduk. Bentar lagi mau jadi manten."
Hana mengangguk dan tersenyum, sementara Arga terus memperhatikan tindak tanduk Hana. Sampai akhirnya pandangan mereka bertemu beberapa detik, kemudian Hana tertunduk malu dengan wajah merona.
Menjelang Ashar, mereka menuju Masjid. Mang Didi dan kaum Hawa sibuk memasukkan camilan dan mahar yang dipilih Hana tadi ke dalam mobil untuk di bawa ke Masjid. Setelah selesai, mereka semua berjalan bersama. Hanya mang Didi dan nenek yang di mobil. Sementara Hanum setia mendorong kursi roda suaminya.
"Biar saya aja yang dorong buk." Pinta Arman pada calon besannya.
"Tidak usah pak, saya seneng bisa jalan lagi bareng suami. Ini momen yang luar biasa buat saya." Sahut Hanum sopan.
Rupanya sang penghulu sudah berada di Masjid. Ia sengaja ingin sholat berjamaah di kampung sahabatnya. Tapi tak kala melihat sahabatnya menggunakan kursi roda, dia segera menghampiri dan menahan tangisnya.
"Ustadz Nanang! Kenapa jadi begini?"
"Aku baik-baik saja ustadz Akmal, aku bisa berdiri. Hanya saja belum boleh capek."
"Oh... syukurlah. Mari, sudah waktunya sholat."
Ternyata dia adalah teman satu kelas Nanang saat di pesantren dulu. Namun nasibnya lebih mujur. Sedangkan Nanang hanya mengisi beberapa pengajian saja di sekitar kampungnya. Selebihnya ia adalah buruh bangunan sebelum kecelakaan itu terjadi.
Selepas Ashar, Nanang mengambil mikrofon dan meminta agar jamaah bersedia menyaksikan pernikahan anaknya.
Berbeda dengan pernikahan-pernikahan pada umumnya yang pengantin wanitanya dirias dan bergaun mewah, Hana hanya menggunakan mukena dan wajah yang tersapu wudhu karena habis sholat. Namun begitu Hana tetaplah gadis cantik dan lembut.
Arga mengucapkan kabul dalam satu tarikan napas. Setelah itu mereka bertukar cincin yang tadinya untuk sesi lamaran. Dan untuk pertama kalinya Hana mencium tangan Arga dan untuk pertama kali pula, keningnya dicium lelaki lain selain ayahnya.
Ayah yang luar biasa. Ayah yang ingin memuliakan istri tercinta, sampai-sampai Hana harus memanggil mama pada ibunya, karena ayahnya ingin istrinya terlihat mewah. Itu sebabnya Hanum juga sangat sayang dan hormat padanya. Sementara ia sendiri tak mau dipanggil papa, karena ia hanya seorang kuli bangunan. Ia juga selalu mengupayakan sandang yang pantas untuk anak dan istrinya. Dalam hal apapun, ia memprioritaskan orang-orang di sekelilingnya dibanding dirinya sendiri.
"Setelah ini, tolong diurus berkas-berkasnya ya nak Arga. Harus cepat! Biar buku nikahnya cepat keluar." Pesan penghulu pada Arga.
"Baik pak. Secepatnya akan saya urus."
Malam pertama...
Hana yang masih baru tamat SMA dan belum pernah pacaran sangat kaku berada satu kamar dengan Arga. Kamarnya tidak begitu luas, tidak juga terdapat kamar mandi di dalamnya. Di rumah Hana, hanya terdapat satu kamar mandi di dekat dapur.
"Jilbabnya kok ga dilepas sayang? Mas bantu buka, ya?"
"Em... anu. Kalo dingin aku emang tidurnya pakek jilbab mas. Kalo kupingnya ketutup jadi anget."
"Mas bisa ngangetin kok, bukan cuma kuping, tapi semuanya."
"Duh...mau ngelak kok jadi kenak sih?!" Batinnya. Hana mulai merinding saat tubuh Arga semakin mendekat. Ia tidak berani menatap netra yang kian mendekat. Hana semakin tertunduk.
Cup. Bibir Arga berhasil menyentuh bibir Hana yang terasa dingin. Hana mundur ingin melepaskan tautan itu, tapi ia malah terduduk di ranjang.
"Kamu sudah tidak sabar rupanya." Arga salah mengartikan pergerakan Hana yang sudah berada di kasur dan langsung membuka kemejanya.
Hana memalingkan wajahnya karena Arga membuka tepat di depannya. Bahkan kini ia hanya menggunakan bokser dan mendekati Hana.
"Jilbabnya mas buka ya..."
Hana tidak berani menjawab dan hanya tertunduk.
Lalu Hana tiba-tiba bergerak cepat hingga jari Arga tertusuk jarum.
"Aduh!" Arga tersentak.
Hana melihat tangan Arga dan mendekat. Ia meraih tangan Arga dan memencet sambil meniup jari Arga.
"Darahnya harus dikeluarin sedikit mas, biar sakitnya ilang."
"Darahnya emang keluar dek, tapi nanti kalau jarum mas udah dipake." Arga menyeringai sambil menikmati pemandangan di depannya. Jilbab Hana sudah terlepas, namun rambutnya masih tergulung rapi.
Hana melepaskan tangan Arga dan sedikit mundur. Arga menangkap gelagat Hana."Apa kamu belum siap honey?"
"Em... aku...aku.... kata orang sakit." Jawabnya lalu tertunduk.
"Mas akan melakukannya perlahan sayang. Kalo kamu takut, kamu merem aja. Biar ga malu juga."
Hana mengangguk dan memejamkan matanya.
Eh, kok gelap ya? Apa yang terjadi? Cuma Arga ya... yang bisa lihat.😅🙏